Menjadi satu-satunya manusia tanpa kemampuan sihir di Akademi Hunter membuat Axel sempat merasa pasrah dengan nasibnya. Namun, sebuah sistem misterius tiba-tiba menyingkap kenyataan tak terduga bahwa ia adalah satu-satunya penjinak yang mampu meredam amarah para wanita terkuat di dunia saat kadar kewarasan atau sanity mereka mencapai titik kritis dan memicu mode berserk.
Sialnya, kemampuan istimewa ini justru menjadi sumber petaka baru. Para wanita berbahaya tersebut, mulai dari Paladin Suci hingga Ratu Penyihir, kini menjadi sangat obsesif dan posesif karena ingin memonopoli dirinya seorang diri. Tanpa modal kekuatan fisik yang berarti, Axel terpaksa harus memutar otak dan lihai memanipulasi emosi. Ia harus pintar membagi perhatian dengan adil agar dunia tidak hancur berantakan, sekaligus berjuang keras demi mempertahankan kebebasannya dari kepungan wanita-wanita mematikan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: DIPLOMASI DARI BAYANGAN
Rumah persembunyian itu kini dikepung oleh pasukan elit kerajaan. Suara langkah kaki berderap di luar pintu, diikuti teriakan perintah untuk menyerah.
Namun, di dalam ruangan, Axel justru terlihat tenang, sedang menyesap teh dingin sementara ketiga wanita di sampingnya bersiap dengan senjata mereka.
"Host, deteksi radar menunjukkan 40 personel elit di depan pintu utama. Sektor belakang sedang dipasang bom penghancur dinding. Mereka tidak berniat menangkap Anda hidup-hidup lagi. Mereka ingin meratakan bangunan ini."
"Elysia," panggil Axel pelan. "Bisa kau pindahkan frekuensi ledakan bom itu?"
Sang peri mengangguk mengerti.
Dia merapalkan mantra tak kasat mata, memutarbalikkan polaritas sihir pada bom yang menempel di dinding belakang rumah.
Udara di sekitar dinding berdesir tipis, menciptakan semacam distorsi ruang yang akan membelokkan energi ledakan kembali ke sumbernya.
"Reynarda, Valeria," perintah Axel. "Kita tidak keluar lewat pintu. Kita akan 'menyambut' mereka melalui lubang yang akan mereka buat sendiri."
BOOM!
Dinding belakang rumah meledak.
Namun, bukannya meruntuhkan rumah, ledakan itu justru memantul dan menghantam barisan pasukan kerajaan yang sedang bersiap menyerbu di sisi belakang.
Asap mengepul tebal, menciptakan kekacauan instan di luar. Jeritan dan dentang zirah yang beradu memenuhi udara.
Di tengah kepulan asap, Axel tidak berlari menjauh.
Dia justru melangkah keluar dengan tenang, didampingi Reynarda yang pedangnya sudah diselimuti aura hitam-emas, Valeria yang meluncur seperti bayangan di atas tanah, dan Elysia yang menciptakan badai angin untuk memisahkan barisan ksatria.
Axel berhenti tepat di depan komandan pasukan elit yang terengah-engah karena ledakan tadi.
Komandan itu tampak bingung melihat target yang seharusnya terperangkap di dalam, justru kini berdiri dengan wibawa seorang pemimpin di hadapannya.
"Katakan pada atasanmu," suara Axel dingin namun bergema, menembus riuh rendah suasana hutan yang mencekam, "bahwa kami tidak akan lari. Jika kalian terus memburu kami dengan kebohongan, kami akan membeberkan setiap dokumen rahasia gereja yang kami curi tadi malam ke setiap penjuru pasar kota."
Komandan itu tertegun. "Dokumen... rahasia?"
"Ya. Tentang Proyek Kebangkitan. Tentang bagaimana Uskup Agung mencoba merasuki tubuh Kaisar," Axel memajukan langkahnya, membuat sang komandan refleks mundur meski tangan kanannya memegang gagang pedang dengan erat. "Apakah kalian benar-benar ingin menjadi pelindung bagi monster yang akan melahap kerajaan kalian sendiri? Kalian adalah perisai kekaisaran, bukan boneka untuk ambisi para pendeta sesat."
"Host, retorika Anda sangat efektif. Moral pasukan menurun drastis. Tingkat keraguan mereka naik 60%."
"Pilih jalan kalian," lanjut Axel, suaranya kini merendah namun tajam seperti silet.
"Kalian bisa menyerang kami sekarang dan menjadi kaki tangan penghancur kerajaan, atau kalian bisa mundur dan membiarkan kami menyelesaikan apa yang harus diselesaikan. Pikirkan keluarga kalian yang tinggal di balik tembok kota itu—apakah mereka akan aman jika entitas yang diinginkan gereja itu bangkit?"
Suasana mendadak hening.
Sang komandan melihat ke arah katedral yang masih berasap di kejauhan, lalu ke arah Axel yang tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.
Dia melihat wajah Reynarda—ksatria legendaris yang mereka kenal—yang berdiri teguh di samping Axel.
Keraguan merayap di mata para prajurit.
"Mundur," perintah komandan itu tiba-tiba, suaranya parau.
"Komandan?!" salah satu anak buahnya protes, bingung dengan perubahan sikap atasannya.
"Aku bilang MUNDUR! Kita punya prioritas lebih penting dari sekadar menangkap buronan!" komandan itu menatap Axel sekali lagi dengan tatapan penuh tanda tanya, rasa hormat yang terpaksa, dan ketakutan akan kebenaran.
Ia memberi isyarat agar pasukannya menarik diri, menghilang ke dalam kegelapan hutan dengan langkah yang tidak lagi secepat saat mereka datang.
Mereka pergi, meninggalkan Axel dan kelompoknya di tengah jalan yang sepi.
Angin malam berhembus, menerbangkan abu sisa ledakan tadi.
Reynarda menatap Axel dengan tatapan kagum. "Bagaimana kau bisa begitu yakin mereka akan mundur? Mereka hampir saja melumpuhkan kita."
"Karena mereka ksatria, Rey," jawab Axel.
"Setiap ksatria punya kode etik. Begitu mereka tahu bahwa ada ancaman lebih besar terhadap Kaisar, loyalitas mereka akan goyah. Ketakutan akan kehancuran negara selalu lebih besar daripada ketakutan akan perintah atasan yang korup."
Valeria muncul dari bayangan, menyeringai lebar hingga menampakkan taring kecilnya. "Kau baru saja memenangkan hati mereka tanpa perlu menumpahkan darah, Axel. Itu jauh lebih menyeramkan daripada menggunakan pedang. Kau memenangkan perang tanpa harus mengangkat senjata."
"Host, peringatan! Meski mereka mundur, Grand Inquisitor akan segera menyadari manuver Anda. Dia tidak akan membiarkan retorika Anda menyebar luas. Segera setelah ini, mereka akan memutus jalur komunikasi kita."
"Aku tahu," Axel menatap langit yang mulai cerah, warna jingga fajar mulai mengintip di balik puncak pohon.
"Tapi sekarang, kita punya napas. Kita harus mencari tahu di mana Kaisar disembunyikan. Jika ritual itu akan dimulai bulan depan, dia pasti sudah ditahan di suatu tempat tersembunyi yang jauh dari jangkauan publik."
Elysia mendekat, memegang lengan Axel. "Aku tahu satu tempat. Sanctum of Silence di puncak pegunungan utara. Tempat itu adalah tempat pertapaan Kaisar sebelum penobatan. Jika mereka ingin melakukan ritual tanpa gangguan, itu tempat yang paling logis. Energinya sangat murni namun tertutup oleh kabut magis."
"Utara," Axel mengangguk, sebuah keputusan bulat terpancar di matanya. "Kalau begitu, kita berangkat sekarang."
Dalam sekejap, mereka menghilang ke dalam hutan, meninggalkan jejak yang sengaja dibuat memutar untuk mengecoh pengejar yang mungkin datang menyusul.
Axel tahu, permainan baru saja dimulai. Dia bukan lagi staf kebersihan, dia adalah dalang yang sedang menggerakkan bidak-bidak catur di papan yang sangat mematikan.
Dia tidak lagi takut pada sistem, dia kini adalah sistem itu sendiri.
"Host, apakah Anda sadar? Dengan menyelamatkan Kaisar, Anda secara otomatis menjadi musuh publik nomor satu yang sebenarnya. Apakah Anda siap untuk perang skala penuh? Setiap langkah Anda kini dipantau oleh sejarah."
Axel menatap horison di utara.
Puncak gunung itu tertutup awan, terlihat angkuh dan tidak tersentuh. "Jika itu satu-satunya cara untuk menghentikan monster itu dan menjaga dunia ini tetap berdiri, maka biarlah sejarah mencatat bahwa kita adalah monster yang menyelamatkan mereka."
"Ayo," panggil Axel pada ketiga wanita itu. "Kita pergi menjemput Kaisar. Jangan biarkan siapa pun mendahului kita."
Reynarda, Elysia, dan Valeria mengangguk serempak.
Mereka bergerak seirama, membentuk formasi pertahanan di sekitar Axel.
Di dalam hutan yang luas itu, di bawah lindungan takdir yang mereka ciptakan sendiri, mereka melangkah maju menuju takdir yang penuh darah dan kehormatan.
Bagi Axel, ini adalah tugas baru—tugas yang jauh lebih besar daripada sekadar menjaga kebersihan, namun dia yakin, dengan bantuan AI dan kesetiaan mutlak dari ketiga rekannya, tidak ada rintangan yang tidak bisa mereka bersihkan.
Angin berhembus kencang, seolah alam pun mengakui kehadiran mereka.
Axel tidak menoleh ke belakang.
Dia menatap ke depan, ke arah masa depan yang akan mereka tulis sendiri dengan kekuatan dan keberanian yang tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh gereja mana pun.
Pertarungan sebenarnya menanti di puncak gunung, dan dia akan datang sebagai pemenang.