NovelToon NovelToon
The Blackstone: The Indentity Agent'S War

The Blackstone: The Indentity Agent'S War

Status: tamat
Genre:Action / Penyelamat / SPYxFAMILY / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Iris11

Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.

Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.

Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Aku membelah pekatnya malam dan puluhan hektar menggunakan KLX 230ku hanya untuk segera sampai pada Ghea. Kacamata nightvision yang menghiasi kepala dan mataku membantuku untuk berkendara yang hanya ditemani temaramnya bulan sabit malam itu. Tempat pesawat cessna itu mendarat hingga Galaxy Residen berjarak hanya sekitar 3 km, 3 km jika biasanya hanya hitungan menit malam ini bagiku bagaikan ribuan jam hanya untuk sampai kesana.

Kupasang telinga, mata, dan fokusku untuk mewaspadai apabila suruhan Marko berada di sini. Untungnya hingga pemberhentianku di 100 meter dari pagar beton belakang Galaxy Residen masih bersih.

Aku turun dari trail itu, senyap, tanpa suara. Dengan menggunakan fusion binokular aku memindai lingkungan sekitar Galaxy Residen, dan ternyata mereka sudah ada disini. 2 orang ada di sekitar rumah Ghea, 1 orang di mobil SUV yang terparkir agak jauh dari gerbang utama dan 1 orang sedang berbicara dengan satpam.

Kuhentikan langkahku di bawah bayangan pohon angsana, sekitar lima puluh meter dari tembok pembatas Galaxy Residen. Di atas tiang beton yang kokoh, bertengger sebuah trafo distribusi satu fasa, kotak logam abu-abu yang mendengung rendah.

Aku butuh kegelapan untuk melumpuhkan mereka, dan akupun juga butuh alasan yang tak terbantahkan agar Ghea mau ikut denganku tanpa bertanya-tanya. Trafo ini akan menjadi 'kecelakaan' yang sempurna.

Aku tidak menggunakan batu atau benda kasar yang akan menimbulkan suara gaduh. Aku merayap mendekati pangkal tiang, memastikan posisiku tak terlihat dari pos satpam di kejauhan. Dari saku jaket taktisku, kukeluarkan sebuah ketapel profesional dengan peluru gotri baja seukuran kelereng.

Aku mendongak. Targetku bukan tangki trafo yang tebal, melainkan bushing isolator porselen yang menghubungkan kabel tegangan menengah ke transformator tersebut. Satu hantaman tepat pada isolator akan menciptakan arus pendek yang terlihat seperti kegagalan teknis akibat hewan atau korosi udara laut. Cepat, efektif, dan sulit dibuktikan sebagai sabotase dalam waktu singkat.

Kutarik karet ketapel hingga maksimal. Aku menahan sejenak, menstabilkan denyut jantungku di tengah keheningan malam Tora-Tora.

Crak!

Sentakan baja itu menghantam porselen dengan akurasi tinggi. Isolator itu pecah seketika. Sebuah kilatan biru keputihan memercik di udara, diikuti suara pop keras dari fuse cutout yang memutus aliran listrik secara otomatis sebagai sistem perlindungan. Seketika, dengungan trafo berhenti. Lampu-lampu jalan di sekitar komplek meredup lalu padam total. Rumah-rumah mewah di dalam residensial itu, termasuk rumah Ghea, tertelan kegelapan pekat dalam hitungan detik.

Aku mendarat di atas rumput Zoysia tanpa suara, setelah melompati pagar beton yang membentang setinggi 1,5 meter. Aku bisa melihat cahaya kecil di dalam rumah dari layar ponsel Ghea yang menyala di area dapur. Mungkin Dia sedang meraba-raba mencari lilin atau senter.

Kegelapan ini adalah sekutu bagiku, karena aku tahu benar setiap jengkal anatomi teras itu, sementara dua penyusup itu masih berkedip-kedip mencoba menyesuaikan pupil mata mereka dengan kegelapan yang mendadak.

Dua pria itu berdiri mematung di dekat pintu kaca geser. Pria pertama memegang alat peretas kunci yang sementara pria kedua meraba pinggangnya, merasa tidak nyaman dengan keheningan yang tiba-tiba.

Aku punya sekitar empat detik sebelum mereka mengaktifkan senter taktis. Ghea ada di balik kaca itu, hanya berjarak dua meter dari mereka. Tidak boleh ada suara benturan keras. Tidak boleh ada teriakan.

Aku merangsek maju. Tidak berlari, hanya menerjang dengan langkah yang diredam. Sebelum pria pertama sempat menoleh, aku menghantamkan pangkal telapak tanganku ke dagu pria itu yang merupakan sebuah serangan chin jab yang mengirimkan guncangan langsung ke batang otak. Pria itu lemas seketika. Akupun menangkap kerah bajunya dengan tangan kiri, menuntun tubuh itu turun ke lantai sesunyi mungkin.

Pria kedua menyadari ada pergerakan. Ia mulai menarik pistol dari sarungnya, tapi aku sudah memutar tubuh. Dengan gerakan melingkar, aku menangkap pergelangan tangan pria itu, memelintirnya ke bawah dalam kuncian joint lock yang menyakitkan, dan di saat yang sama, tangan kananku membekap mulut pria itu rapat-rapat.Aku menekan arteri karotis di leher pria itu dengan siku. Dalam hitungan detik, oksigen ke otak terhenti. Pria gempal itu jatuh lunglai. Aku menyandarkan keduanya di balik sofa rotan teras, tersembunyi sepenuhnya dari pandangan mata jika seseorang melihat dari dalam rumah.

Aku menyeka setetes keringat di dahi dengan punggung tanganku. Aku sibuk mengatur nafasku agar kembali ke ritme normal, lembut dan tenang. Aku kemudian memeriksa kemeja flanelku, tidak ada darah, tidak ada robekan. Akupun kembali menjadi Ghani yang hangat.

Kuketuk pintu itu sebanyak empat kali dan kudengungkan kata "Ghea" beberapa kali.

Tak berapa lama pintu di depanku terbuka. Wajah Ghea tampak terkejut, seakan tak percaya jika aku ada di hadapannya.

"Ghani!" serunya.

"Boleh aku masuk?" Tanyaku dengan sebuah senyuman yang sebenarnya menyembunyikan keteganganku.

Dia mengangguk. "Diluar mati lampu. Aku belum sempat mencari lampu emergensi."

"Mumpung mati lampu, dan diluar juga bulan sabit, sepertunya enak jika Camping." ujarku sambil tersenyum.

"Kita berdua?"

"Ya, hanya berdua."

"Baiklah. Tunggu dulu ya, aku bersiap." katanya

Sementara Ghea bersiap, aku menuju lemari es yang berada di ujung dapur, untuk melihat apakah ada logistik yang bisa kubawa. Ada roti dan juga air mineral. Cukup setidaknya untuk bertahan hingga bantuan muncul. Aku juga mempersiapkan tenda kecil yang pernah kubeli saat kami memiliki rencana untuk camping berdua di pulai Re.

Aku menuntun tangan Ghea keluar rumah dan berjalan perlahan menuju pagar belakang Galaxy Residen yang tembus dengan ladang jagung.

"Kenapa kita lewat sini, Ghan?" tanya Ghea, tapi wajahnya menunjukkan bahwa dia percaya sepenihnya terhadapku.

Aku memaksa matanya menatap mataku, sebagai tindakan paksaan untuk percaya padaku. "Tadi sebenarnya aku baru turun dari pesawat perintis dan mendarat disana." kutunjuk arah barat tempat aku mendarat. "Kesini aku naik motor trailku agar aku bisa cepat bertemu denganmu Ghe. Aku merindukanmu" delapan puluh lima persen benar, sisanya tidak sepenuhnya salah.

Derap langkah kami berdua akhirnya mengantarkan kami ke motor trailku yang sedang parkir. Segera aku melompat ke jok motor dan membantu Ghea naik ke motor. Motor kamipun membelah kesunyian malam, salah satu malam terpanjang yang pernah aku rasakan bersama Ghea.

Aku mengemudikan motorku setenang mungkin, dengan sesekali tanganku membelai dan menggenggam tangannya, seandainya dia tahu jantungku seperti gemuruh yang bersiap untuk perang. Setidaknya aku mencipatakan ilusi bahwa aku merindukannya, bahwa aku mencintainya. Itu semua benar. Dan aku juga ingin.. Melindunginya. Melindungi dengan segenap jiwaku, segenap ragaku.

1
Wawan
Satu iklan buat intelejen Rusa 💪👍
Iris Aiza: terima kasih 😍
total 1 replies
Wawan
Uhuuuuy... lope... sekuntum mawar terkirim buat Ghea 😍
Iris Aiza: terima kasih 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal "Sam" 😍
Iris Aiza: Terima kasih Kak /Smile/
total 1 replies
Mh_adian7
semangat terus kaka💪
Iris Aiza: Terima kasih ^_^
total 1 replies
T28J
hadiir kakk 👍
Iris Aiza: Terima kasih sudah menemani perjalanan Ghani dan Ghea sampai di sini Kak 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!