NovelToon NovelToon
Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Istana/Kuno / Fantasi Isekai
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Hz. ceria

Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.

ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.

Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.

tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. ibu dan anak

Malam itu, hujan deras mengguyur atap-atap genteng di Distrik Elit. Di dalam ruang kerja pribadi Menteri Vane, udara terasa pengap dan berat, berbau parfum lavender yang menyengat dan asap rokok halus dari pipa panjang yang diletakkan di atas meja mahoni.

Julian berdiri di tengah ruangan. Dia tidak dipanggil sebagai penasihat sihir kerajaan, melainkan sebagai "anak". Panggilan itu datang melalui pelayan pribadi ibunya, sebuah perintah yang tidak bisa ditolak tanpa menimbulkan skandal publik.

Vane duduk di belakang mejanya yang besar, wajahnya diterangi oleh cahaya lilin yang bergetar. Matanya, yang biasanya licik dan penuh perhitungan politik, kini menatap Julian dengan campuran kemarahan, kekecewaan, dan rasa kepemilikan yang toksik.

"Duduk," perintah Vane tajam.

Julian tetap berdiri. Posturnya tegak, meski jantungnya berdebar kencang di balik dada. "Saya lebih memilih berdiri, Ibu."

Vane mendesis, meletakkan pipanya dengan kasar. "Kau berani membantah ibumu? Setelah semua yang kulakukan untukmu? Aku memberimu pendidikan terbaik, koneksi, nama besar! Membantu mu masuk Harem, Dan sebagai balasannya, kau menjadi... anjing peliharaan ratu gila itu?"

"Saya adalah seorang guru," koreksi Julian tenang. Suaranya tidak gemetar seperti dulu. Dulu, setiap kali Vane meninggikan suara, Julian akan mengecil, merasa kecil dan tidak berharga. Tapi malam ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada fondasi baru di dalam dirinya, dibangun dari kepercayaan Floren, persahabatan dengan Arsen dan Caspian, serta tujuan mulia mengajar di Sekolah Pria.

"Seorang guru?" Vane tertawa sinis, tawa yang dingin dan mengerikan. Dia berdiri, berjalan mengelilingi meja hingga berdiri tepat di depan Julian. Tinggi Vane hanya mencapai bahu Julian, tapi aura dominasinya masih mencoba menekan. "Kau hanyalah alat. Alat yang berguna, tapi tetap saja alat. Dan alat harus mengikuti kehendak pemiliknya."

Dia meraih lengan Julian, kukunya yang panjang dan runcing menusuk kulit lengan baju Julian.

"Dengar baik-baik, anakku," bisik Vane, matanya menyala dengan ancaman nyata. "Aku tahu kau punya akses ke jadwal pribadi Ratu Floren. Jadwal patroli, jadwal pertemuan rahasia, rute perjalanannya. Berikan padaku."

Julian menatap ibunya lurus-lurus. "Untuk apa?"

"Untuk menghentikannya!" seru Vane, suaranya naik. "Reformasi-reformasinya menghancurkan tatanan lama! Dia merusak keseimbangan kekuasaan, merusak budaya! Jika dia lengah... jika ada 'kecelakaan'... maka kekacauan ini akan berakhir. Dan kau, anakku, akan menjadi pahlawan yang memulihkan ketertiban. Kau akan menjadi figur berkuasa yang sesungguhnya, bukan sekadar pengajar bagi kaum rendahan."

Julian merasakan dingin merayap di tulang belakangnya. Ibunya tidak hanya ingin menjatuhkan Floren. Dia berencana membunuhnya.

"Dan jika saya menolak?" tanya Julian pelan.

Wajah Vane berubah menjadi topeng kemarahan murni. Dia melepaskan lengan Julian dan menunjuk jendela, ke arah kejauhan di mana siluet gedung Sekolah Pria terlihat samar-samar di balik hujan.

"Maka aku akan memastikan sekolah haram itu terbakar habis malam ini juga," ancam Vane, suaranya rendah dan berbisa. "Seratus anak laki-laki . Guru-guru lain yang mengajar. Semua akan menjadi abu. Kecuali... kau memberikan apa yang kuminta. Pilihannya sederhana, Julian. Nyawa mereka, atau loyalitas butamu pada wanita gila itu."

Ancaman itu menghantam Julian seperti pukulan fisik. Bayangan api membakar buku-buku, teriakan anak-anak, wajah Caspian yang ketakutan—semua itu berputar di kepalanya.

Namun, alih-alih merasa takut, Julian merasakan amarah. Amarah yang panas, murni, dan membebaskan. Sekolah itu bukan hanya tempat dia mengajar, tapi di sanalah dia menemukan jiwanya.

Dia melangkah maju, mengurangi jarak antara dia dan ibunya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Julian menatap mata Vane tanpa rasa gentar. Tanpa rasa bersalah. Tanpa keinginan untuk menyenangkan.

"Anda salah paham, Ibu," kata Julian, suaranya datar namun bergema dengan kekuatan yang tak terbantahkan.

Vane mundur selangkah, terkejut oleh perubahan sikap anaknya. "Apa?"

"Saya bukan alat Anda lagi," lanjut Julian, setiap kata diucapkannya dengan penekanan yang tajam. "Saya bukan extension dari ambisi Anda. Saya bukan wayang yang talinya bisa Anda tarik sesuka hati."

Dia mengangkat dagunya, menatap Vane dengan harga diri yang utuh.

"Saya adalah seorang guru bagi masa depan Mobelle. Saya adalah pelindung bagi mereka yang selama ini dibuang, dilupakan, dan dihina. Saya berjuang untuk masa depan semua orang. Untuk menggapai kesetaraan yang adil. Sebuah dunia di mana nilai seseorang tidak ditentukan oleh darah atau gender, tapi oleh kontribusinya, oleh kemampuan masing-masing."

Vane tercengang. Mulutnya terbuka sedikit, lalu menutup kembali dengan geraman marah. Wajahnya memerah karena penghinaan. Baginya, penolakan Julian bukan hanya pembangkangan. Itu adalah pengkhianatan terhadap kodrat seorang anak terhadap ibunya.

"Kau... kau durhaka!" teriak Vane.

Dengan gerakan cepat dan kasar, Vane mengangkat tangannya dan menampar wajah Julian sekuat tenaga.

PLAK!

Suara tamparan itu keras, bergema di ruangan yang sunyi. Pipi kiri Julian memerah instantly, garis bekas jari-jari Vane terlihat jelas di kulitnya. Kepala Julian sedikit miring ke samping akibat benturan.

Hening.

Vane napasnya tersengal-sengal, tangannya masih terangkat, gemetar karena adrenalin dan kemarahan. Dia menunggu Julian jatuh. Dia menunggu Julian menangis, meminta maaf, atau lari keluar seperti anak kecil yang dimarahi.

Tapi Julian tidak bergerak.

Perlahan, sangat perlahan, Julian mengembalikan kepalanya ke posisi semula. Dia menatap ibunya lagi. Matanya tidak berkaca-kaca. Tidak ada air mata. Hanya ketenangan yang mendalam. Rasa sakit fisik di pipinya terasa jauh dibandingkan dengan rasa sakit emosional yang telah dia tanggung selama bertahun-tahun. Dan sekarang, rasa sakit itu sudah mati. Digantikan oleh kepribadian baru yang kuat.

Julian mengusap sudut mulutnya yang sedikit berdarah dengan ibu jarinya. Dia menatap darah itu sekilas, lalu menatap Vane.

"Apakah itu membuat Anda merasa lebih berkuasa, Ibu?" tanya Julian lembut. Pertanyaan itu lebih menyakitkan daripada tamparan tadi.

Vane gemetar. "Keluar," desisnya. "Keluar dari rumahku. Kau bukan anakku lagi. Jika kau tidak memberiku informasi itu, aku akan menghancurkan semuanya. Aku bersumpah."

Julian merapikan kerah jubahnya. Dia membungkuk sedikit, bukan sebagai tanda hormat seorang anak, tapi sebagai sopan santun formal antar dua orang dewasa yang jalannya telah berpisah.

"Lakukan apa yang harus Anda lakukan, Ibu," kata Julian. "Tapi ketahuilah ini: Saya tidak berada di sisi Floren karena saya mencintai dia secara romantis. Saya tidak berada di sana karena saya diperintah. Saya berada di sana karena itu adalah pilihan saya. Pilihan yang telah saya ambil sejak awal. Dan saya tidak akan pernah mundur."

Dia berbalik, membuka pintu ruang kerja, dan melangkah keluar ke dalam koridor yang gelap.

Di belakangnya, Vane terjatuh ke kursinya, napasnya berat, matanya penuh dengan kebencian yang tak berdaya. Dia menyadari, untuk pertama kalinya, bahwa dia telah kehilangan kendali sepenuhnya atas putra satu-satunya.

Julian berjalan menyusuri koridor menuju pintu keluar utama. Hujan di luar masih deras, membasahi wajahnya yang panas. Dia menyentuh pipinya yang sakit, lalu tersenyum tipis. Senyum yang sedih, tapi bebas.

Dia mengambil payung hitam dari stand di dekat pintu, membukanya, dan melangkah ke dalam hujan. Menuju istana. Menuju Floren. Menuju takdirnya sendiri.

1
Musim
Menarik dan menginspirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!