"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Akar Baru dan Rencana Seratus Kehidupan
Matahari perlahan tergelincir di ufuk barat Karangbanyu, meninggalkan semburat warna jingga dan ungu yang melukis langit sore. Bayangan Taman Bacaan Akar Pelangi yang baru saja rampung itu memanjang di atas tanah pekarangan belakang rumah Gani, menciptakan siluet megah yang meneduhkan.
Keramaian warga yang merayakan 'kemenangan' atas orang-orang ibu kota perlahan menyurut. Anak-anak desa telah dipulangkan oleh ibu mereka masing-masing karena waktu Magrib sudah dekat. Kang Ujang dan para pemuda Karang Taruna juga pamit setelah menghabiskan teko teh manis terakhir dan setoples rengginang yang dibawa Bibi Ratna.
Kini, hanya tersisa Gani dan Kirana di dalam paviliun bambu tersebut.
Gani duduk bersandar pada salah satu pilar bambu petung utama, meluruskan kedua kakinya yang terasa kebas setelah seharian berdiri dan berdebat. Di sebelahnya, berjarak hanya satu jengkal, Kirana duduk memeluk lutut. Gadis itu menatap deretan buku yang kini tersusun rapi di rak-rak bambu dengan mata yang masih memancarkan binar ketakjuban tak berujung.
Keheningan di antara mereka terasa sangat nyaman, diisi oleh suara jangkrik yang mulai bernyanyi dan semilir angin sore yang menyapu lantai pelupuh bambu.
"Kau tahu," Kirana membuka suara, memecah kesunyian dengan nada yang sangat pelan dan reflektif. "Dulu, nenekku selalu bermimpi punya tempat yang layak untuk menyimpan buku-buku ini. Beliau bilang, buku yang ditumpuk di dalam kardus itu seperti burung yang dikurung dalam sangkar. Ilmu di dalamnya mati."
Kirana menoleh, menatap profil samping Gani yang sedang memejamkan mata menikmati hembusan angin.
"Kau tidak hanya membuatkan sangkar yang indah, Gani. Kau membuatkan sebuah langit untuk mereka terbang," lanjut gadis itu tulus.
Gani membuka sebelah matanya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang hangat. "Dan kau yang mengumpulkan buku-bukunya, Tiran Kecil. Bangunan ini hanya akan menjadi tumpukan bambu mati kalau tidak ada anak-anak yang datang membacanya."
Gani mengubah posisi duduknya, menumpukan sikunya di atas lutut dan menatap Kirana sepenuhnya. "Tapi, kita harus bicara serius. Aku telah menghibahkan tanah pekarangan ini menjadi milik desa dan mendaftarkannya sebagai yayasan atas namamu. Artinya, secara hukum, kau adalah ketua yayasannya."
Kirana mengangguk pelan. "Pak Kades sudah menjelaskannya padaku tadi. Tapi... apakah itu benar-benar cukup untuk menghentikan pengacara sombong berkacamata emas tadi?"
Raut wajah Gani sedikit mengeras saat nama Surya Dirdja diingat kembali. Ia tidak ingin merusak momen bahagia Kirana, tapi ia juga harus realistis.
"Untuk saat ini, ya. Langkahku tadi adalah sebuah manuver checkmate untuk rencana jangka pendek mereka," jelas Gani dengan nada seorang strategis bisnis. "Mereka datang dengan niat menyita tanah kosong untuk dijual ke developer. Tapi sekarang, tanah ini memiliki status wakaf sosial dan di atasnya berdiri fasilitas pendidikan. Bank tidak berani mengeksekusi aset beracun yang memiliki risiko konflik sosial."
"Tapi?" Kirana menangkap nada menggantung di akhir penjelasan pria itu.
"Tapi firma hukum Bratasena & Partners bukan kumpulan pengacara amatir," Gani menghela napas, menatap lurus ke arah jalanan desa yang mulai gelap. "Mereka akan mundur untuk mengevaluasi ulang. Mungkin mereka akan mencoba menyerang dari sisi perizinan IMB, atau mencoba mencari celah untuk menyita rumah utamaku yang ada di depan, memisahkannya dari pekarangan belakang ini. Perang ini belum selesai, Kirana."
Kirana terdiam. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh lengan Gani yang berbalut kaus abu-abu kotor. Sentuhan itu ringan, namun mampu meredakan ketegangan di otot-otot pria itu.
"Kalau begitu, biarkan mereka datang lagi," ucap Kirana mantap, tidak ada keraguan di sepasang mata sabitnya. "Tadi siang kau melihatnya sendiri, kan? Seluruh warga desa berdiri di belakangmu. Kau tidak lagi bertarung sendirian, Gani. Jika mereka mencoba menyentuh rumahmu, mereka harus berhadapan dengan barikade manusia Karangbanyu."
Dada Gani berdesir hebat mendengar kalimat itu. Ia menatap gadis di hadapannya, lalu menunduk menatap tangan kecil yang sedang menggenggam lengannya. Ya, dia tidak lagi sendirian. Ia memiliki tempat untuk pulang, dan ia memiliki seseorang untuk dilindungi. Itu adalah pelindung paling kuat dari segala bentuk keputusasaan.
"Hari sudah mulai gelap," Gani berdiri, menepuk sisa debu dari celana jinnya, lalu mengulurkan tangan untuk membantu Kirana bangkit. "Waktunya pasien keras kepala sepertimu kembali ke rumah dan beristirahat. Berdiri terlalu lama di luar ruangan saat peralihan cuaca tidak bagus untuk paru-parumu."
Kirana menerima uluran tangan itu dengan senyum tertahan. "Siap, Komandan Medis."
Gani mengantar Kirana pulang. Sepanjang perjalanan singkat menyusuri jalan setapak desa, mereka tidak banyak bicara, namun genggaman tangan Gani di jemari Kirana tidak pernah terlepas hingga mereka tiba di depan pagar rumah gadis itu.
Malam itu, saat Gani kembali ke rumah limasan tuanya yang gelap, ia tidak merasa kesepian. Ia menyalakan lampu teplok, meletakkannya di ruang tengah, lalu duduk di kursi rotan. Ia menatap dinding rumahnya yang kusam. Rumah ini mungkin akan menjadi target Surya Dirdja berikutnya, namun Gani sudah bersiap. Ia akan melindungi setiap jengkal kayu dan bata di tempat ini, sama seperti ia akan melindungi detak jantung Kirana.
Keesokan paginya, Karangbanyu diselimuti oleh kabut tipis yang dingin.
Gani sudah terbangun sejak Subuh. Setelah membersihkan halaman depan rumahnya dan menyapu sisa-sisa pembangunan di paviliun belakang, ia memutuskan untuk berkunjung ke rumah Kirana. Ia mampir ke warung Bibi Ratna terlebih dahulu untuk membeli sebungkus roti tawar dan teh celup, tahu bahwa gadis itu sering kali malas membuat sarapan yang layak.
Saat Gani tiba di rumah pot bunga itu, pintu depannya sudah terbuka. Ia melangkah masuk ke teras dan menemukan Kirana sedang duduk di kursi rotan, mengenakan sweter rajut kebesaran berwarna krem yang menenggelamkan tubuh mungilnya. Di atas pangkuan gadis itu, terdapat sebuah buku catatan kecil bersampul kulit kusam.
"Pagi," sapa Gani, meletakkan bungkusan roti dan teh di atas meja kecil di hadapan Kirana. "Kau sedang menghitung inventaris bukumu atau sedang menulis puisi?"
Kirana mendongak, menyunggingkan senyum cerah yang membuat pagi yang berkabut itu terasa jauh lebih hangat. "Pagi, Komandan. Bukan keduanya. Aku sedang mengecek daftar kontrak kita."
Gani menarik kursi kayu di seberang Kirana lalu duduk. Ia mengangkat sebelah alisnya. "Kontrak?"
"Tujuh permintaanku," Kirana mengetuk-ngetuk halaman buku catatan itu dengan ujung pulpennya. Ia membalik buku itu agar Gani bisa melihatnya.
Di atas kertas bergaris itu, tertulis deretan kalimat dengan tulisan tangan yang sangat rapi, namun empat di antaranya telah dicoret dengan garis tinta hitam yang tegas.
Mencuri mangga Pak Kades.
Memperbaiki atap Balai Desa.
Membuat layang-layang pemenang untuk Udin.
Melihat kunang-kunang di Rawa Hitam.
"Ah," Gani menyandarkan punggungnya, melipat lengan di dada dengan gaya angkuhnya yang khas, meski matanya memancarkan kelembutan. "Jadi kau memanggilku ke mari pagi-pagi untuk menagih sisa hutangku?"
"Tentu saja. Waktu adalah uang, dan waktuku... yah, kau tahu sendiri, sangat berharga," Kirana membalas dengan nada ringan, meskipun Gani bisa menangkap sedikit kegetiran di balik lelucon itu.
Gadis itu mengambil pulpennya, bersiap menulis di baris kelima. Matanya menatap Gani dengan kilatan antusiasme yang selalu membuat jantung pria itu berdetak lebih cepat.
"Sejauh ini, kinerjamu sebagai staf khususku cukup memuaskan, Gani Raditya," Kirana menggunakan nada formal yang dibuat-buat. "Kau selamat dari amukan sapu lidi Pak Kades, kau berhasil membuat bangunan anti badai, dan kau menang telak melawan anak Sukatani."
"Jangan lupa, aku juga menyelamatkanmu dari badai hujan di rawa dan mengusir pengacara berengsek dari Jakarta," tambah Gani dengan seringai arogan.
"Poin ekstra untuk aksi heroik dan kecerdasan emosional yang terlambat datang," Kirana tertawa pelan. Tawanya terdengar jauh lebih sehat hari ini, tidak diiringi bunyi napas yang berat. "Mengingat semua pencapaian itu, aku rasa kau sudah siap untuk naik ke level berikutnya. Permintaan Kelima."
Gani menegakkan tubuhnya, mencondongkan badan ke depan. "Baiklah, Bos. Apa yang harus aku curi, perbaiki, atau bangun hari ini?"
Kirana tidak langsung menjawab. Ia menatap bungkusan roti tawar di atas meja, lalu mengalihkan pandangannya jauh melewati pagar rumahnya, menatap ke arah perbukitan yang mengelilingi desa Karangbanyu di kejauhan.
"Kau tahu Bukit Wadas di ujung utara desa?" tanya Kirana tiba-tiba.
Dahi Gani berkerut. Ia mencoba memanggil ingatannya tentang geografi desa ini. "Bukit kapur yang tandus itu? Yang tanahnya pecah-pecah kalau musim kemarau dan sering bikin debu masuk ke desa kalau angin utara bertiup?"
Kirana mengangguk. "Tepat sekali. Dulu, bukit itu hijau. Kakekku bilang bukit itu penuh dengan pohon rindang yang menahan air tanah. Tapi puluhan tahun lalu, sebuah perusahaan tambang kapur skala kecil datang, menebangi pohonnya, mengeruk batunya, lalu pergi begitu saja saat izinnya habis, meninggalkan bukit itu mati dan gersang."
Gani mulai memiliki firasat yang sangat, sangat buruk tentang arah pembicaraan ini. Ia tahu Kirana adalah tipe gadis yang memiliki kepedulian sosial yang tidak masuk akal tingginya, tapi jika permintaannya berkaitan dengan sebuah bukit kapur yang mati...
"Kirana," Gani memotong dengan nada curiga. "Jangan bilang kau menyuruhku pergi ke bukit itu dan..."
"Permintaan kelimaku," Kirana menatap tepat ke dalam mata Gani, senyumnya melebar memamerkan deretan giginya yang rapi. "Kita akan menanam seratus bibit pohon beringin dan trembesi di Bukit Wadas. Dan kita akan memulainya besok pagi."
Keheningan yang pekat dan canggung langsung turun menyelimuti teras tersebut. Gani menatap gadis di hadapannya seolah Kirana baru saja menyuruhnya membangun Candi Prambanan dalam waktu satu malam.
"Seratus pohon?" ulang Gani, suaranya naik satu oktaf, nyaris memecahkan ketenangannya. "Di Bukit Wadas? Bukit yang tanahnya sekeras beton dan jaraknya tiga kilometer dari sini?"
"Seratus bibit," ralat Kirana dengan tenang. "Dan jangan berlebihan, jaraknya hanya dua setengah kilometer. Pak Yono punya keranjang dorong yang bisa kita pinjam untuk membawa bibitnya."
Gani mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya secara kasar. Frustrasinya memuncak, namun kali ini bercampur dengan kepanikan atas kondisi fisik gadis itu.
"Kirana, dengar," Gani mencondongkan tubuhnya melintasi meja, tatapannya menajam. "Aku tidak masalah jika kau menyuruhku menjadi kuli bangunan, atau memotong bambu sampai tanganku hancur. Tapi menanam seratus pohon di tanah kapur yang tandus adalah pekerjaan fisik yang sangat ekstrem. Kau baru keluar dari masa kritis! Jantungmu baru saja terendam cairan beberapa hari yang lalu! Kau pikir Pak Mantri akan mengizinkanmu naik ke bukit tandus itu?!"
Mendengar rentetan omelan yang dipenuhi kepanikan protektif itu, Kirana justru tersenyum semakin lembut. Ia tahu Gani marah bukan karena malas, melainkan karena sangat mengkhawatirkannya.
"Aku tidak bilang aku yang akan menggali lubangnya, Gani," Kirana menjelaskan dengan sabar, menopang dagu dengan kedua tangannya. "Aku tahu batasan fisikku. Aku tidak akan memegang cangkul. Tugasku hanya menunjuk lokasi, meletakkan bibitnya, dan mengawasimu."
"Dan siapa yang akan menggali seratus lubang di tanah kapur yang mengeras itu? Aku?!" Gani menunjuk dadanya sendiri dengan mata terbelalak.
"Tentu saja. Kau kan punya otot yang sangat dibanggakan," Kirana mengedipkan sebelah matanya. "Lagipula, kau tidak akan sendirian. Udin dan teman-temannya sudah setuju untuk membantu. Mereka libur sekolah karena guru-gurunya sedang penataran di kabupaten selama tiga hari. Pasukan kecil kita siap dikerahkan."
Gani bersandar lemas di kursinya. Gadis ini benar-benar tidak bisa dihentikan. Ia telah merencanakan semuanya, merekrut pasukan anak kecil, dan tinggal melemparkan komando eksekusi padanya.
"Kenapa, Kirana?" Gani bertanya, suaranya melembut, mencari alasan filosofis di balik tugas gila ini. "Kenapa harus seratus pohon di bukit yang tandus? Kita sudah membangun taman bacaan. Jejakmu sudah abadi di desa ini."
Senyum usil di bibir Kirana perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi kedewasaan yang melampaui usianya. Ia menunduk menatap buku catatannya, mengusap pelan kertas yang bertekstur kasar itu.
"Taman bacaan itu adalah bangunan yang sangat indah, Gani," bisik Kirana. "Bangunan itu akan bertahan lama. Tapi kayu dan bambu pada akhirnya akan menua dan rapuh dimakan zaman. Mereka benda mati."
Kirana mengangkat pandangannya, menatap jauh ke arah bukit kapur yang memutih di kejauhan.
"Aku ingin meninggalkan sesuatu yang hidup," lanjut gadis itu, suaranya mengalun seperti melodi yang melankolis. "Sesuatu yang bernapas, tumbuh, dan mengakar semakin kuat seiring berjalannya waktu."
Kirana menoleh kembali pada Gani. Sepasang matanya memancarkan kerinduan yang sangat dalam akan sebuah masa depan yang mungkin tidak akan pernah ia saksikan.
"Beringin dan trembesi itu... mereka akan hidup ratusan tahun. Jauh, jauh melampaui usia kita berdua. Saat seratus pohon itu nanti tumbuh besar, akar mereka akan memecah batu kapur, menyimpan air, dan mengubah bukit gersang itu menjadi hutan kecil yang sejuk."
Kirana mengulurkan tangannya, menyentuh punggung tangan Gani yang kasar akibat kapalan.
"Aku mungkin tidak akan pernah melihat mereka tumbuh tinggi, Gani," suara Kirana mulai bergetar pelan. "Aku mungkin tidak akan pernah bisa berteduh di bawah bayang-bayangnya. Tapi membayangkan bahwa di masa depan, saat desa ini kepanasan, ada seratus pohon yang meneduhkan mereka... dan membayangkan bahwa pohon-pohon itu ditanam oleh tanganku dan tanganmu... itu membuatku merasa bahwa hidupku tidak akan pernah benar-benar berakhir."
Dada Gani serasa diremas kuat. Tenggorokannya tercekat oleh sebongkah emosi yang begitu pekat.
Gadis ini tidak sedang menanam pohon. Gadis ini sedang merancang seratus perpanjangan nyawanya. Ia sedang menciptakan sebuah garansi bahwa meskipun jantung aslinya berhenti berdetak, seratus pohon di atas bukit itu akan terus bernapas untuknya, memberikan keteduhan bagi generasi yang akan datang.
Sebuah permintaan yang begitu murni, begitu agung, dan sekaligus begitu mematahkan hati.
Gani membalik tangannya, menggenggam erat jemari Kirana. Ia menelan ludah, berusaha keras menahan rasa perih di sudut matanya. Di Jakarta, orang berlomba-lomba mendirikan menara beton untuk memamerkan kekayaan. Di Karangbanyu, seorang gadis yang sekarat meminta ditanamkan pohon agar orang lain bisa berteduh.
"Seratus pohon terlalu sedikit untuk meredakan panasnya desa ini, Tiran Kecil," ucap Gani akhirnya, suaranya parau namun dipenuhi oleh tekad baja.
Kirana mengerjap, sedikit terkejut dengan respons itu.
Gani menatap gadis itu dengan sorot mata yang menyala terang. "Jika kau ingin mengubah Bukit Wadas menjadi hutan, kita akan menanamnya. Besok pagi. Aku akan meminjam cangkul terbesar milik Kang Ujang, dan kita akan mulai menggali bumi sampai tangan kita kapalan. Aku yang akan menjadi ototnya, dan kau yang akan memberikan nyawanya."
Senyum yang luar biasa rupa-rupanya merekah di wajah Kirana, sebuah senyum yang membuat cahaya matahari pagi yang menembus kabut terasa kalah terang.
"Janji?" Kirana mengacungkan jari kelingkingnya yang bebas.
Gani tidak ragu sedetik pun. Ia menautkan jari kelingkingnya yang besar dan kasar pada kelingking gadis itu. Sebuah ikatan janji yang tidak membutuhkan materai atau segel pengadilan, namun bernilai ribuan kali lipat lebih berharga dari kontrak bisnis mana pun.
"Janji," Gani menegaskan. "Kita akan menanam seratus kehidupan baru di atas bukit itu, Kirana. Aku pastikan itu terjadi."
Hari itu, di bawah kabut pagi Karangbanyu, sepasang manusia yang sama-sama pernah hancur oleh kejamnya dunia, baru saja menyepakati sebuah proyek yang akan menjadi warisan abadi mereka. Bukan warisan berupa uang atau bangunan, melainkan warisan berupa kehidupan yang akan terus mengakar, jauh melewati batas senja yang akan segera pamit.