Black Rose julukannya, ada tatto mawar hitam di punggungnya. Dia agen rahasia XpostOne 06 yang paling ditakuti. Sepak terjangnya terdengar sampai belahan dunia. menyamar sebagai jurnalis dan presenter hot news di sebuah televisi swasta milik ayahnya.
Kini ia ditugaskan untuk menangkap seorang pemb*nuh bayaran yang lari ke luar negeri. Konon pemb*nuh ini sangat licik dan dilindungi oleh sindikat bawah tanah.
Mampukah dia menangkap pemb*nuh itu atau dia malah terb*nuh?
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.01. QAiSERA WIJAYA.
Qaisera Wijaya adalah seorang agen rahasia XpostOne number 06. Menyamar sebagai jurnalis profesional yang mengumpulkan, menilai, dan menyajikan berita dan informasi kepada publik
Orangnya cantik, sexy, cerdas dan fasih lima bahasa. Umurnya dua puluh lima tahun. Berwawasan luas dan menjunjung tinggi keadilan.
Tidak pernah terlintas dalam benaknya akan bergabung dengan XpostOne. Bukan terpaksa atau korban penculikan yang dipaksa menjadi agen rahasia. Keinginan ini murni panggilan jiwa. Tentu ada hubungan dengan tujuan hidupnya yaitu balas dendam.
Perjalanan asmaranya gelap gulita seperti nyepi di pulau Bali, bukan tidak laku tetapi menjauhi asmara. Sengaja menghindar dari hingar bingar masa remaja.
Perasaannya sudah lama mati bersamaan dengan kem*tian ibunya. Kisah masa lalu yang menggores jiwanya, menyeret jauh kedalam kehidupan keras seorang agen rahasia. Semboyannya hanya satu,
"Kill or be killed"
Kisah memilukan itu terjadi saat umurnya lima belas tahun. Sumiati nama Ibunya, ia salah satu pelayan dan ayahnya sopir keluarga Raharja.
Mereka tinggal di mess keluarga Raharja. Kehidupan mereka normal saja, sebagai bawahan mereka sangat patuh, apapun yang di perintahkan oleh keluarga Raharja ibu dan ayahnya selalu menurut. Tidak ada yang aneh.
Kakek Raharja seorang konglomerat yang dihormati dan ditakuti, ia juga mendidik anak cucunya otoriter dengan disiplin tinggi. Keluarga Raharja sangat terkenal, asetnya ada dimana-mana. Mereka orang terkaya di pulau ini. Punya beberapa hotel, villa, privat jet dan kekayaannya tidak akan habis tujuh turunan.
Qaisera Wijaya sangat beruntung bisa hidup di keluarga Raharja. Dia menjadi putri kesayangan dan tumbuh besar bersama ke dua putra Flores Raharja tapi beda umur. Qai juga bersekolah di tempat yang sama.
Kebersamaan mereka belasan tahun berubah menjadi dingin, ketika ibunya Qai men*nggal dunia. Apalagi setelah tahu rahasia kelam keluarga Raharja.
Qaisera masih ingat saat kakek Raharja datang tergopoh-gopoh mencari ibunya dan membawanya ke rumah sakit. Waktu itu ayahnya kebetulan tidak ada di mess, jadi kakek bebas membawa ibunya.
"Sumiati ikut aku ke rumah sakit." perintah kakek setengah berlari.
Sumiati keluar dari kamar dengan kaget, ia berpikir kalau suaminya kecelakaan.
"Ada apa tuan, siapa yang kecelakaan?"
"Aku butuh pertolongan mu, cepat ikut aku."
"Kakek aku juga ikut...." rengek Qaisera mendekati kakek.
"Qai, kau tidak boleh ikut, pergilah bersama Berlin membeli pakaian." ucap Emely istri sah Flores Raharja.
Emely menarik tangan Qai menjauhi Sumiati. Kakek mengeluarkan kartu hitam dan diserahkan kepada Qai.
"Ada seratus juta disini, pakailah untuk membeli keperluanmu." ucap kakek mengelus rambutnya.
"Terimakasih kakek..." ucap Qai senang dan menghampiri Berlin yang berdiri kaku saat Qai mengajaknya pergi.
"Kakak, ayo kita pergi..." ajak Qai manja menggandeng tangan Berlin.
"Kakek boros sekali, kau tidak curiga di kasi black card?" tanya Berlin ketika mereka sudah berada di mobil.
Qai memandang kartu hitam di tangannya lalu tersenyum menatap Berlin.
"Tidak, kakek sering memberi orang tua ku uang walaupun ini yang paling banyak. Kakek memang sayang padaku."
"Ya sudah, pergunakan dengan baik." ucap Berlin pelan.
Pemuda sembilan belas tahun itu memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, sepanjang jalan ia tidak bicara, sehingga Qai berpikir kalau Berlin iri padanya.
Kenangan itu sudah sepuluh tahun berlalu waktu itu umurnya lima belas tahun dan Berlin sembilan belas tahun. Sekarang dia baru mengerti ternyata Berlin sudah tahu rencana kakek, tapi takut membuka rahasia itu.
Kedatangan ibunya ke rumah sakit untuk transplantasi Ginjal untuk menyelamatkan Flores Raharja, putra tunggal kakek Raharja, suaminya Emely atau papanya Rio dan Berlin.
Walaupun Sumiati menolak dengan alasan ginjalnya cuma satu, tapi kakek sudah hilang akal dan tetap memaksa transplantasi Ginjal.
"Kapan kau bisa balas budi, Flores tidak boleh mati, dia penerus tunggal bisnis Raharja!!" bentak kakek bengis seraya mengangkat Sumiati ke Stretcher.
"Tuan, ginjal ku hanya satu." rintih Sumiati memohon dilepaskan.
"Sudah telat, tidak ada jalan lain. Ingat, nasib keluargamu ada ditangan ku." ancam kakek dingin.
Sumiati merelakan hidupnya berakhir di meja operasi. Dia tahu tidak mungkin bisa selamat dari tangan kakek, walaupun bumi runtuh.
Kesembuhan Flores berkat ginjal Sumiati, itu sangat jelas. Kejadian lni dirahasiakan oleh keluarga Raharja. Mereka kompak tutup mulut mengatakan Sumiati meninggal ditabrak mobil ambulans saat turun dari mobil kakek.
*****
Qaisera Wijaya.