Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.
Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.
Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.
Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.
Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Gudang Produksi Obat
Setelah dua orang itu berjalan tertatih-tatih ke kantor polisi, Pak RT dan yang lain datang karena suara teriakan barusan.
“Dok, ada apa? Tadi sepertinya ada suara teriakan." Kang Ujang bertanya.
Alvian belum sempat menjawab, saat melihat dari ujung jalan sebuah taksi berhenti dan dari pintu belakang, turun Clarissa dan dokter koas, Maya. Masing-masing mengenakan sweater krem, rambut diikat asal, mendekat sambil menenteng buah tangan.
"Eh, Dok Clara. Khawatir ya Dok suaminya ronda malam-malam?"
Clarissa tak mengatakan sesuatu saat Pak RT dan Kang Ujang berusaha menggodanya. Dia hanya tersenyum ramah pada mereka, sebelum berjalan ke Alvian.
"Papa tahu kamu ikut ronda malam ini, jadi suruh kirimkan martabak manis."
Alvian menatap dua kantong kresek yang dibawa Clarissa. "Dari Papa? Dari istri mana?"
Pak RT dan Kang Ujang tertawa cekikikan saat mendengarnya. Clarissa langsung mendorong siku, memukul perut Alvian sambil berusaha menyembunyikan perubahan ekspresi di wajahnya.
"Jangan cerewet. Itu juga sama saja."
Clarissa hendak mengajak Maya kembali karena mereka harus jaga shift malam. Tapi indra penciuman yang tajam membuat Clarissa mulai memperhatikan ruko di belakangnya.
"Bau ini ...." Ekspresinya berubah. Dia tak lagi mempedulikan Alvian, atau bapak-bapak ronda. Dia berjalan ke arah ruko yang ada di belakangnya, dan terus mendekat hingga sampai di pintunya.
Alvian bahkan masih memikirkan cara untuk menutupi masalah tersebut, tetapi masih tidak lebih dapat dari Clarissa yang sudah terlebih dahulu menyadarinya.
"Mungkinkah... Mungkinkah ini tempat produksi obat palsu?" Dia langsung mendorong pintu dan masuk. Meninggalkan orang-orang di belakang yang terkejut mendengar hal tersebut.
"Apa? Tempat produksi? Obat palsu?"
Semua langsung berkumpul di sekitar pintu. Bahkan Maya yang semula berdiri agak memisah, ikut berdempetan karena rasa penasaran.
"..."
Alvian tak bisa berkata-kata. Segera masuk ke dalam ruko, mendampingi Clarissa dari samping, takut terjadi sesuatu.
"Foto foto... Semua harus difoto." Clarissa mengambil gambar semua bahan dan peralatan yang ada di sana. Dia Kemiri masuk ke salah satu ruangan, dan dirinya langsung terpaku saat melihat ribuan pil siap edar di dalam kardus. Itu masih dari kardus yang terbuka. Sedangkan di sana ada lebih dari puluhan kardus yang tersusun di pojok ruko.
Ratusan ribu pil siap edar. Entah berapa jumlah orang meninggal yang mereka harapkan. Yang pasti, orang-orang di balik tempat produksi itu benar-benar biadab.
Clarissa tak tunggu waktu dan mengirim foto tersebut ke Pak Dimas BPOM. Dan sekitar satu jam kemudian, petugas BPOM datang bersama dengan satu tim kepolisian. Langsung menyegel tempat tersebut.
"Dok Clara! Saya sungguh terkejut saat menerima pesan itu. Tak menyangka Anda akan menemukan lokasi tempat produksi obat palsu. Bagaimana Anda melakukannya?" tanya Pak Dimas begitu datang.
Namun Clarissa hanya melirik Alvian, membuat Pak Dimas ikut memperhatikannya.
"Lagi?" Tatapan Pak Dimas menyimpan maksud tertentu. Masalahnya, setiap ada petunjuk tentang kasus obat palsu selalu menyeret nama Alvian.
Satu kali itu wajar, tapi jika berkali-kali... Itu perlu dipastikan.
Alvian yang menyadari tatapan tersebut segera mengangkat kedua tangan dan mengedikkan bahunya. "Kebetulan. Ini sungguh kebetulan," ucap Alvian sambil tertawa.
Di sisi lain, karena temuan kasus tersebut, bapak-bapak ronda memutuskan mengakhiri shift lebih awal. Mereka pulang ke rumah masing-masing, sementara tempat produksi obat palsu diamankan oleh tim kepolisian.
Alvian juga pulang, tapi dia terlebih dahulu harus memberikan keterangan. Clarissa juga memberikan penjelasan, dan mereka masuk ke dalam taksi.
Clarissa duduk di belakang bersama Maya, sedangkan Alvian duduk di samping pak sopir.
"Aku heran. Kenapa setiap kali aku datang selalu ada masalah. Ini aku yang sial, atau kamu yang bawa sial?"
Alvian hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuknya, sedangkan Maya tertawa kecil melihat interaksi pasangan suami istri itu.
__
Pukul 02.00 WIB taksi sampai di depan rumah. Alvian membuka pintu dan turun, tetapi tidak langsung menutupnya, malah menjulurkan kepala masuk ke belakang. "Jangan capek-capek. Nanti kalo sakit lagi, siapa yang harus rawat ...."
Maya cekikikan, sedangkan Clarissa langsung mendorong kepala Alvian keluar. "Bah! Siapa yang butuh kamu rawat. Masih ada Maya, dia yang akan merawatku saat sakit."
"..."
Alvian tak mengatakan apa-apa lagi. Tersenyum, melambaikan tangan sebelum masuk ke rumah.
___
Pada waktu yang sama, sebuah apartemen di SCBD.
Sebuah telpon darurat masuk ke ponselnya. "Tuan! Gudang produksi kita digerebek BPOM dan polisi! Semua barang diambil, tidak ada yang selamat."
Mendengar ini ekspresi Tuan Keempat langsung berubah suram. "Bagaimana bisa? Bukannya sudah kubilang hentikan semua distribusi?! Kenapa mereka sampai tahu?"
"Betul, Tuan. Itu yang kami lakukan. Kami tidak melakukan distribusi apapun, tapi tadi ada bapak-bapak ronda yang datang dan melihat isi di dalam ruko ...."
Pyar!!
Gelas kristal di tangan Tuan Keempat pecah. Darah menetes, tapi itu tidak seberapa jika dibandingkan gudang produksinya yang digrebek.
"Tuan, saya juga melihat putri Hendra Amartya ada di lokasi. Suaminya, dr. Alvian Wira ikut dengan bapak-bapak ronda, dan dia yang pertama melihat ke dalam ruko."
"..."
Tuan Keempat diam beberapa lama. Mengambil cerutu di meja, menghisapnya perlahan. "Lagi-lagi mereka. Mungkin karena kehidupan mereka terasa sangat nyaman, hingga terus-terusan mencari masalah. Sudah waktunya, memberi mereka sedikit peringatan."