Dia memulai perjalanannya dari dasar Akademi Master Jiwa Junior dengan tongkat besi biasa yang dianggap sampah. Bertahan hidup dalam diam, dia menunggu saat yang tepat untuk memicu sistemnya. Kini, setiap langkah yang ia ambil adalah bayangan kegagalan bagi musuhnya—karena apa yang mereka miliki, akan menjadi miliknya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15.Bayangan Satu Tahun, Ikatan yang Tak Terucap
Di dalam ruangan asrama yang berbau kayu tua dan debu halus itu, keheningan sejenak pecah oleh suara tawa rendah yang santai. Saat itu Xiao Wu sedang berdiri dengan wajah memerah padam karena malu, jari-jari kakinya seolah ingin menembus lantai kayu yang kasar itu, sementara di sudut tempat tidur, Xiao Xuan duduk bersila, bahunya bergetar pelan menahan geli. Senyum di bibirnya tenang, namun matanya berkilat jenaka, seolah sedang menonton pertunjukan lucu yang paling ia nikmati.
Mengingat kembali kejadian beberapa saat lalu, rasa malu Xiao Wu semakin memuncak, namun rasa percaya dirinya perlahan kembali saat ia mendengar suara Xiao Xuan yang menopangnya. Gadis kecil itu langsung mengangkat kepala, matanya berbinar antusias seolah menemukan jalan keluar terbaik.
"Benar sekali! Xiao Xuan benar sepenuhnya!" serunya lantang, suaranya bergema di ruangan itu, berusaha meyakinkan semua orang sekaligus dirinya sendiri. "Aku, Saudari Xiao Wu, hanya belum sempat mengambil uangnya saja! Kalian semua tunggu di sini, jangan ke mana-mana.
Begitu aku dapat uangnya dan kembali, aku pasti akan mentraktir kalian makan sepuas hati! Makanan paling enak, paling lezat, semuanya ada! Dan khusus untukmu, Xiao Xuan... aku pastikan memesan dua paha ayam besar yang paling gemuk dan paling gurih, sebagai ucapan terima kasih!"
Setelah berjanji dengan penuh semangat, Xiao Wu melompat turun dari tempat tidurnya dengan lincah, mengenakan sepatunya terburu-buru, lalu berlari kecil keluar pintu menuju arah cabang Aula Roh di pusat kota. Langkahnya ringan, seolah rasa malu tadi sudah hilang ditelan angin.
Melihat sosoknya yang menghilang di balik pintu, para penghuni Asrama 7 saling berpandangan satu sama lain. Di mata mereka tampak kebingungan yang mendalam. Perlahan namun serempak, kepala mereka semua berputar ke satu arah—ke arah sosok pemuda yang masih duduk tenang di tempat tidurnya.
"Hah? Kenapa kalian semua menatapku seperti ini?" tanya Xiao Xuan, sedikit mengerutkan kening seolah tak paham, meski di dasar hatinya ia sudah tahu apa yang sedang mereka pikirkan.
Wang Sheng menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya berbicara dengan nada sungguh-sungguh. "Bukan apa-apa... cuma, aku tiba-tiba merasakan sesuatu yang sangat aneh. Begini lho... dibandingkan dengan Saudari Xiao Wu, kau... kau justru terlihat lebih seperti pemimpin, lebih seperti kepala Asrama 7 kita yang sesungguhnya."
Mendengar itu, yang lain langsung mengangguk berbarengan, seolah mendapat pencerahan besar. Ekspresi wajah mereka menunjukkan pemahaman yang mendalam, seolah hal itu adalah kebenaran yang sudah lama tersembunyi dan baru terungkap saat ini.
Memang, apa yang dikatakan Wang Sheng bukanlah omong kosong belaka. Semua orang di sini sudah merasakannya selama ini. Sikap Xiao Wu terhadap mereka—penuh semangat, lincah, kadang kekanak-kanakan, dan bertindak berdasarkan perasaan—sangat berbeda jauh dengan cara Xiao Xuan bersikap.
Meskipun Xiao Xuan juga selalu memanggilnya 'Saudari Xiao Wu', namun kata-katanya selalu memiliki bobot yang berbeda. Ia mampu menasihati, mengingatkan, atau bahkan mengatur gadis itu dengan cara yang halus namun tegas, seolah-olah Xiao Wu tanpa sadar selalu menuruti kemauannya.
Contohnya sederhana saja: saat Xiao Xuan sedang berlatih atau bermeditasi, tak ada satu pun yang berani mengganggunya, bahkan Xiao Wu sendiri sekalipun. Gadis itu tahu betul kapan ia boleh mendekat dan kapan harus menjauh, seolah ada aturan tak tertulis di antara mereka.
Saat berbicara atau berinteraksi, Xiao Xuan tidak pernah menunjukkan rasa hormat berlebihan seperti yang mereka lakukan pada sang pemimpin. Di matanya, terlihat pandangan lembut dan mengerti, persis seperti seorang kakak yang sedang mengawasi adik kecilnya yang sedang bermain riang.
Dan ada satu hal lagi: meski Xiao Xuan selalu datang dan pergi sendirian, selalu tenang dan menyendiri, tak ada yang berani atau berusaha memerintahnya. Ia hidup di dunianya sendiri, namun keberadaannya justru menjadi penopang hening bagi semua orang.
Melihat kerumunan itu yang semakin yakin dengan pandangan mereka, Xiao Xuan terdiam sejenak. Apakah aku sejelas itu? Apakah karakterku begitu mudah terbaca sampai anak-anak ini pun bisa melihatnya? batinnya bergumam.
Ia kemudian menghela napas pelan, lalu sedikit mengerutkan kening, menatap mereka satu per satu dengan tatapan yang sedikit serius namun tetap tenang.
"Apa yang kalian bicarakan ini? Bos dan pemimpin kalian tetaplah Saudari Xiao Wu, bagaimana mungkin itu aku?" suaranya rendah namun tegas. "Ingat baik-baik siapa aku: aku hanyalah seseorang yang dikatakan Guru Yu Xiaogang sebagai 'sampah'—seseorang dengan tingkat kekuatan spiritual bawaan tingkat satu. Jangan mengarang cerita yang tidak-tidak."
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih berat, penuh penekanan agar mereka paham konsekuensinya.
"Jangan sampai kata-kata macam ini terdengar oleh telinga orang lain, apalagi oleh mereka yang punya niat tersembunyi. Kalian tahu betapa rumitnya keadaan di akademi ini. Kalau hal ini menyebar, masalahnya bisa jadi sangat besar.
Bahkan bisa menghancurkan apa yang sudah Saudari Xiao Wu bangun dengan susah payah—'Dinasti Notting' kita. Bisa saja nanti terpecah lagi jadi dua kubu: bangsawan melawan siswa kerja paruh waktu, persis seperti dulu lagi."
Wajah anak-anak itu seketika berubah pucat, rasa takut mulai menyusup ke mata mereka.
"Kalau sampai hal buruk itu terjadi," lanjut Xiao Xuan perlahan, "bukankah segala perjuangan dan kemenangan yang diraih Saudari Xiao Wu kemarin jadi sia-sia belaka? Bagaimana kita bisa membalas kebaikannya, yang sudah berjuang mati-matian demi kita semua?
Dan yang paling penting... kalian tentu tidak ingin kehidupan nyaman ini hilang begitu saja, bukan? Keadaan di mana kita tidak perlu bekerja berat tapi tetap menerima gaji penuh... kalau itu hilang karena mulut kalian yang lepas, kalian akan menyesal seumur hidup."
Mendengar penjelasan itu, ketakutan semakin terlihat jelas di wajah mereka. Mereka sadar betul betapa beruntungnya mereka saat ini, dan betapa rapuhnya keberuntungan itu jika diganggu.
Dunia kaum bangsawan itu kejam dan penuh intrik, sesuatu yang belum sepenuhnya mereka pahami tapi sudah cukup membuat mereka bergidik ngeri. Dan yang terpenting dalam pikiran sederhana mereka: gaji tanpa kerja adalah nikmat terbesar yang tak boleh hilang.
"Baiklah, kalau kalian semua sudah mengerti betapa seriusnya konsekuensi dari bicara sembarangan, ingat pesanku ini: jaga ucapan kalian. Jangan pernah membicarakan hal macam ini lagi di depan siapa pun, apalagi orang luar. Mengerti?"
"Siap! Kami mengerti, Kak Xiao Xuan!" jawab mereka serempak, kepala mereka mengangguk cepat seperti burung pipit.
"Bagus. Sekarang, bubar. Kembali ke tempat tidur masing-masing, istirahatlah. Simpan energi kalian untuk nanti malam, saat jamuan makan besar yang disediakan Saudari Xiao Wu."
Xiao Xuan menatap kepergian mereka yang bergegas, wajahnya kembali santai, tersenyum lega melihat mereka akhirnya diam dan patuh.
Dasar anak-anak nakal, batinnya bergumam sambil menggeleng pelan. Mudah sekali ditakuti hanya dengan beberapa kata saja. Tapi memang, kalau tidak ada iming-iming keuntungan itu, mungkin aku tidak bisa meyakinkan mereka secepat ini...
Setelah ruangan kembali hening, ia pun menutup matanya kembali, masuk ke dalam ketenangan dirinya sendiri, melupakan segala kegaduhan sejenak.
Sementara itu, di jalan menuju Aula Roh, langkah cepat Xiao Wu terhenti saat ia berpapasan dengan sosok yang ia kenal baik—Tang San. Pemuda itu baru saja selesai membantu Guru Yu Xiaogang mengurus beberapa hal di perpustakaan akademi. Melihat satu sama lain, keduanya tertawa riang, lalu berjalan beriringan pulang, bercerita ini dan itu dengan akrab.
Tak lama kemudian, Xiao Wu kembali ke Asrama 7 dengan wajah berseri-seri, koin emas yang berkilau tersimpan aman di saku bajunya. Ia langsung menepati janjinya: membawa seluruh penghuni asrama ke kantin terbesar di kawasan akademi dan memesan hidangan berlimpah.
Di tengah keramaian dan aroma makanan yang menggugah selera, ia dengan sengaja memesan dua paha ayam ukuran paling besar dan paling gemuk, lalu meletakkannya tepat di depan piring Xiao Xuan. Sementara Tang San, yang dikenal memiliki hubungan paling dekat dan akrab dengannya, hanya mendapatkan satu paha ayam biasa saja.
Pemandangan ganjil itu menarik banyak pandangan penasaran dari teman-teman sekelas mereka. Semua orang bertanya-tanya dalam hati: jelas-jelas Tang San adalah sahabat karib, saudara angkat, dan orang yang paling dekat dengan Xiao Wu, tapi mengapa saat membagi rezeki dan perhatian, Xiao Xuanlah yang mendapat bagian istimewa?
Meski penuh tanya dan kebingungan, mereka semua memilih diam dan berpura-pura tidak melihat. Ingatan akan peringatan Xiao Xuan tadi siang masih terngiang jelas di telinga mereka.
Demi kestabilan 'kerajaan' kecil ini, demi keuntungan nyaman yang mereka nikmati, hal-hal kecil seperti ini dianggap rahasia kecil yang tak perlu dibahas.
Waktu pun berjalan mengalir tenang seperti air sungai. Sejak hari itu, kehidupan Xiao Xuan di Akademi Notting menjadi benar-benar stabil dan teratur, persis seperti yang ia rencanakan.
Pagi hari ia habiskan dengan duduk tenang di kelas, mendengarkan teori roh dan sejarah dunia dengan penuh perhatian, menyerap setiap informasi berharga yang ada. Siang hari ia gunakan untuk makan dan beristirahat sejenak.
Dan begitu sore tiba, waktu itu sepenuhnya menjadi miliknya—bebas, tak terganggu, dan penuh kesempatan. Hal ini membuat kemajuannya berlatih meningkat drastis. Energi di dalam tubuhnya berputar semakin kuat, dan meski tak terlihat jelas oleh orang lain, tingkat kekuatannya perlahan namun pasti melesat naik seiring berjalannya hari.
Seperti alur takdir yang tetap berjalan, Tang San setiap sore pergi ke bengkel pandai besi kota untuk menempa barang-barang, mengasah kemampuan tangan dan kekuatan fisiknya. Hal ini justru menguntungkan bagi Xiao Xuan. Dengan sepi dan sepi di asrama maupun di sekitar bukit belakang,
ia bisa pergi ke sudut paling tersembunyi di lereng bukit itu, menyalurkan dan melatih teknik Tubuh Roh Mistik—seni bela diri yang ia miliki, yang sangat halus, rahasia, dan tidak boleh diketahui siapa pun.
Adapun teknik bertandanya yang bernama 'Tongkat Besi Penghancur Langit', ia terpaksa menunda pengembangannya. Gerakan-gerakannya terlalu mencolok dan mudah dikenali, sehingga demi keamanan, ia hanya mengasah dasarnya saja dalam diam.
Satu tahun berlalu dalam sekejap mata. Dua belas bulan penuh latihan, persahabatan, dan kedamaian yang damai kini sampai di penghujungnya.
Di dalam Asrama 7 yang mulai terasa kosong, Tang San sedang sibuk mengemas barang-barang miliknya. Wajahnya tampak penuh kerinduan dan kegembiraan. Akhirnya tiba masa liburan tahunan, saat para siswa boleh pulang ke rumah masing-masing.
Di dalam bungkusan kainnya tersimpan sebotol anggur berkualitas dan satu palu tempa buatan tangan sendiri—hasil karya setahun terakhirnya. Ia mengelus benda-benda itu pelan, menghela napas panjang. Ayah pasti akan sangat senang melihat ini... Sudah lama sekali rasanya aku tidak pulang, batinnya penuh rindu.
"Hei, San Kecil!"
Suara ceria memecah lamunannya. Tang San menoleh, melihat Xiao Wu sedang berbaring malas di atas tempat tidur, kedua kakinya yang mungil dan putih kemerah-merahan menjuntai ke udara, bergoyang-goyang santai. Wajah gadis itu sedikit cemberut.
"Kenapa kamu juga harus pulang? Tidak bisakah kamu saja tinggal di asrama menemaniku? Di sini kan sepi kalau kamu pergi," keluhnya.
Tang San tersenyum kecut sambil melanjutkan melipat bajunya. "Xiao Wu, jangan manja lagi. Aku benar-benar harus pulang. Ayahku ada di rumah, beliau pasti sudah menunggu lama. Bagaimana denganmu? Sudah satu tahun penuh kita di sini... apakah kamu tidak rindu rumah? Tidak rindu pada keluargamu di desa?"
Senyum di wajah Xiao Wu perlahan memudar. Di matanya yang indah berwarna merah muda, sekelebat bayangan sedih melintas. Ia teringat kembali pada sosok wanita lembut yang membesarkannya, tempat tinggalnya yang sederhana namun hangat...
namun rasa sedih itu ia sembunyikan secepat kilat. Tang San yang sedang sibuk mengemasi barang tak menyadari perubahan kecil itu.
"Ah... begitu ya..." gumamnya pelan, lalu tiba-tiba matanya berbinar, sengaja mengalihkan topik pembicaraan agar kesedihannya tak tercium. Ia menoleh ke arah sudut ruangan.
"Eh, ya ngomong-ngomong! Di mana Xiao Xuan? Bukankah kalian berdua berasal dari desa yang sama? Dia juga akan pulang kan? Apakah dia akan pergi bersamamu, San Kecil?"
Begitu nama itu disebutkan, Tang San tanpa sadar menghentikan kegiatannya. Ia mengerutkan kening sedikit, pikirannya berputar mengingat sosok sahabat sekamarnya itu.
Selama satu tahun ini, ia sudah melihat dan merasakan banyak hal tentang Xiao Xuan. Ia melihat ketekunan yang tak pernah luntur, ketenangan yang jarang dimiliki anak seusianya, dan kecerdasan yang tajam namun tersembunyi rapat.
Ada rasa hormat, namun juga ada rasa penasaran yang semakin besar. Selama setahun ini, Xiao Xuan seolah berjalan di jalurnya sendiri, diam-diam tumbuh, diam-diam menguat, dan entah kenapa... semakin lama, sosoknya terasa semakin sulit dipahami sepenuhnya.
"Aku belum bertanya padanya," jawab Tang San pelan, matanya menatap pintu ruangan yang masih tertutup rapat. "Tapi... aku rasa, rencananya mungkin berbeda dengan kita."
Di luar jendela, angin musim panas berhembus lembut, membawa aroma rumput kering dan kenangan satu tahun terakhir. Di sudut yang paling gelap dan tenang di asrama itu, Xiao Xuan masih duduk diam, matanya tertutup, seolah tak terganggu oleh keramaian atau perpisahan yang akan datang.
Di dalam hatinya, ia tahu: liburan ini bukan sekadar pulang kampung, tapi awal dari langkah yang lebih jauh dan lebih berat lagi di dunia ini.