Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Mimpi itu datang seperti badai yang menghancurkan kedamaian malam.
Gayuh merasa dirinya berada di sebuah aula megah, namun yang ia lihat justru dunianya runtuh seketika.
Di sana, di bawah gemerlap lampu kristal yang menyilaukan, Jati berdiri dengan setelan jas pengantin, berdansa dengan anggun bersama Tryas yang mengenakan gaun putih menjuntai.
Wajah Jati tampak begitu dingin, menatap Gayuh dengan pandangan merendahkan seolah Gayuh hanyalah debu yang tidak berarti.
"Kenapa, kalian jahat?" rintih Gayuh dalam tidurnya.
Air matanya mengalir deras dari sudut matanya yang terpejam.
"Kenapa kamu membuangku, Jati? Bukankah kamu bilang kamu mencintaiku?"
Napas Gayuh semakin sesak, dadanya naik turun dengan cepat.
Tubuhnya mulai gemetar hebat, dan keringat dingin membanjiri sekujur kulitnya, membuat gaun tidurnya terasa basah dan lengket.
Di sudut ruangan, Jati yang sebenarnya tidak bisa tidur jauh dari Gayuh dan memutuskan beristirahat di sofa—agar tetap bisa menjaga wanitanya tanpa mengganggu tidurnya—terbangun seketika.
Suara rintihan pilu itu langsung menariknya kembali ke kesadaran penuh.
Tanpa membuang waktu, Jati melompat dari sofa. Ia berlari kecil menghampiri ranjang, wajahnya diselimuti kepanikan yang luar biasa melihat kondisi Gayuh yang tampak sangat tersiksa dalam mimpi buruknya.
"Gayuh! Sayang, bangun!" seru Jati dengan nada suara yang cemas.
Ia duduk di tepi ranjang, lalu dengan gerakan cepat namun tetap berhati-hati, Jati menangkup wajah Gayuh dengan kedua tangannya.
Ia menepuk-nepuk pipi wanita itu dengan lembut, mencoba menariknya keluar dari alam bawah sadar yang mencekam.
"Gayuh, lihat aku! Ini aku, Jati. Kamu mimpi buruk, Sayang. Bangunlah..."
Kelopak mata Gayuh tersentak terbuka. Matanya yang merah dan basah menatap liar ke sekeliling ruangan, lalu berhenti tepat pada wajah Jati yang kini berada hanya beberapa senti di depannya.
Napasnya masih terengah-engah, dan tangannya secara refleks mencengkeram kerah kemeja Jati dengan sangat erat, seolah pria itu akan menghilang jika ia melepaskannya.
"Jati?" bisik Gayuh dengan suara parau yang penuh ketakutan.
"Kamu, tidak akan menikah dengan Tryas, kan? Kamu tidak akan pergi meninggalkanku?"
Hati Jati mencelos mendengarnya. Ia segera menarik tubuh Gayuh ke dalam dekapannya, mendekapnya sangat erat hingga kepala wanita itu terbenam di dadanya yang bidang.
Jati mengusap punggung Gayuh dengan penuh kasih sayang, mencoba menenangkan degup jantung wanita itu yang masih berpacu kencang.
"Ssshh... tenang, Sayang. Itu hanya mimpi. Hanya mimpi buruk," bisik Jati dengan nada suara yang menenangkan, berulang kali mengecup puncak kepala Gayuh.
"Aku milikmu. Hanya milikmu. Tidak ada pernikahan dengan siapa pun selain denganmu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Gayuh. Tidak akan pernah."
Melihat tubuh Gayuh yang masih sedikit gemetar akibat sisa ketakutan dari mimpi buruknya, Jati tahu pelukan biasa tidak akan cukup untuk menenangkan badai di dalam dada wanita itu.
Ia tidak bisa lagi membiarkan ada jarak di antara mereka malam ini.
Jati akhirnya memutuskan untuk naik ke atas tempat tidur berukuran king size tersebut.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak menyenggol luka di punggung Gayuh, Jati memosisikan tubuh tegapnya di belakang tubuh wanita itu.
Ia melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Gayuh, menarik tubuh mungil itu mendekat hingga tidak ada lagi celah di antara mereka.
Jati memeluk tubuh Gayuh dari belakang, menyelimuti wanita itu dengan kehangatan dan rasa aman yang mutlak.
"Aku di sini, Sayang. Tidak akan ada yang bisa menyakitimu lagi," bisik Jati lirih di dekat telinga Gayuh, memberikan kecupan-kecupan kecil di bahunya.
Tangan Jati yang bebas kemudian bergerak ke atas, menepuk-nepuk punggung Gayuh dengan gerakan yang sangat lembut, berirama, dan penuh kasih sayang—seperti sedang menidurkan seonggok berlian yang paling berharga di dunia.
Ia memastikan tepukannya sama sekali tidak mengenai bagian yang terluka, melainkan hanya memberikan sensasi menenangkan yang konstan.
Perlakuan hangat dan dekap erat dari Jati perlahan-lahan mulai bekerja.
Deru napas Gayuh yang tadinya memburu dan tidak teratur, berangsur-angsur menjadi lebih tenang dan halus.
Rasa hangat dari tubuh Jati yang menyalur ke tubuhnya membuat dinginnya ketakutan dalam mimpi itu menguap tanpa sisa.
Dalam dekapan protektif sang CEO J-Corp, Gayuh akhirnya kembali memejamkan matanya dengan nyaman.
Rasa kantuk dan damai menyergapnya, hingga akhirnya ia tertidur pulas dengan senyuman tipis yang kini menghiasi bibirnya.
Jati yang merasakan tubuh wanitanya sudah sepenuhnya rileks tidak lantas melepaskan pelukannya.
Ia justru semakin mempererat dekapan itu, ikut memejamkan mata dan menyusul Gayuh ke alam mimpi, berjanji dalam hati bahwa besok, ia akan mengubah status wanita di pelukannya ini menjadi istrinya yang sah.
Sinar matahari pagi yang hangat perlahan menerobos masuk melalui celah-celah gorden satin, menerangi kamar utama mansion yang megah.
Gayuh melenguh pelan saat kesadarannya perlahan kembali.
Hal pertama yang ia rasakan adalah sepasang lengan kekoh yang masih melingkar erat dan protektif di pinggangnya, serta embusan napas hangat yang teratur di tengkuknya.
Gayuh terbangun dan menyadari ia masih berada di dalam dekapan erat Jati.
Rasa takut dari mimpi buruk semalam sepenuhnya hilang, digantikan oleh rasa aman yang begitu membuncah di dalam dadanya.
Berada di pelukan pria ini membuat semua kecemasannya menguap tanpa sisa.
Sebenarnya, Jati terbangun lebih dulu sejak satu jam yang lalu. Namun, ia sengaja tidak bergerak sedikit pun atau mengubah posisi lengannya agar tidak membangunkan Gayuh yang terlihat sangat nyenyak.
Begitu merasakan pergerakan kecil dari wanita di pelukannya, Jati membuka mata dan tersenyum sangat tampan.
"Selamat pagi, calon Nyonya Aditama," bisik Jati dengan suara khas bangun tidur yang serak dan terdengar begitu seksi di dekat telinga Gayuh.
Pipi Gayuh seketika merona merah mendengar sapaan itu.
Ia membalikkan tubuhnya perlahan agar bisa menghadap Jati.
"Selamat pagi, Jati. Kamu sudah bangun dari tadi?"
"Sudah, tapi memelukmu seperti ini jauh lebih menyenangkan daripada melakukan aktivitas apa pun di dunia ini," goda Jati sambil mencubit lembut hidung Gayuh.
Terjadi percakapan pagi yang manis di antara mereka.
Jati berulang kali mengecup dahi dan puncak kepala Gayuh, sementara Gayuh hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada bidang Jati, merasa sangat dimanjakan.
"Aku ke kamar mandi dulu," ucap Gayuh kemudian, mencoba melepaskan diri karena merasa harus segera membersihkan diri.
Namun, baru saja Gayuh hendak bangkit, Jati sudah menahannya dengan lembut dan mendudukannya kembali di atas tumpukan bantal yang nyaman.
"Jangan buru-buru. Kamu tunggu di sini, oke? Aku turun ke bawah sebentar," ujar Jati misterius sebelum mengecup pipi Gayuh dan melangkah keluar kamar.
Tidak butuh waktu lama, Jati kembali masuk ke dalam kamar. Namun kali ini, ia tidak lagi mengenakan kemeja kusut semalam, melainkan sudah berganti pakaian santai, dan kedua tangannya membawa sebuah nampan perak yang mengeluarkan aroma sangat harum.
Jati bersikeras membawakan sarapan langsung ke atas tempat tidur untuk Gayuh.
Di atas nampan itu, tersaji semangkuk bubur ayam cina yang lembut dengan taburan suwiran ayam, cakwe, dan sedikit minyak wijen yang menggugah selera, lengkap dengan segelas air putih hangat.
"Jati, aku bisa makan sendiri di meja makan bawah..." protes Gayuh merasa tidak enak hati melihat seorang CEO J-Corp kini beralih profesi menjadi pelayan pribadinya.
"Tidak ada bantahan, Sayang. Tugasmu sekarang hanya duduk manis dan membuka mulut," potong Jati dengan senyum manis yang mutlak.
Jati duduk di tepi ranjang, meniup sendok berisi bubur lembut itu dengan sangat sabar agar tidak terlalu panas, lalu menyuapi Gayuh sendiri dengan penuh kasih sayang.
Setiap suapan yang diberikan Jati terasa begitu hangat, menegaskan bahwa mulai hari ini dan seterusnya, pria itu akan memperlakukan Gayuh layaknya ratu yang paling berharga di hidupnya.