Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.
“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”
Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.
Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trimester Pertama
Hanif malah tertegun. Ia menggeleng, "emangnya Neng kemana?"
"Dia gak kemana-mana, Bang. Teteh daritadi di kamar, semenjak Abang pergi kerja tadi dia langsung muntah-muntah," ucap Seyila menyelanya.
Hanif berlari ke kamarnya. Terlihat, istrinya yang meringkuk dengan matanya yang terpejam, tetapi tangan yang terus mengelus perutnya.
Hanif duduk pada tepian kasur—tepat di samping istrinya yang terbaring.
"Sayang!?" panggilnya dengan usapan lembut pada kepalanya.
Riyani perlahan bangun, "Aa!? Udah pulang ternyata."
Wanita itu berusaha untuk bangun, bersandar pada ranjangnya dengan wajah pucat.
"Kata Yila, kamu muntah-muntah?"
Riyani mengangguk.
"Tadi waktu Aa pergi sempet muntah-muntah, sampe ngerepotin ibu sama Yila."
"Kenapa gak bilang sama Aa? Tadi sore Aa tanya kamu gimana, kamu bilangnya baik-baik aja."
"Neng cuman gak mau Aa khawatir," ucap Riyani. Tangannya menggenggam tangan hanif untuk membujuknya.
"Lain kali bilang aja, Neng. Aa gak tenang sepanjang kerja tau gak,"
Riyani mengangguk, "lain kali Neng bakal bilang."
"Sekarang udah makan malam belum? Minum vitamin? Sama susunya?" tanya Hanif beruntun.
Riyani menggeleng. "Tadi sempet mau makan, tapi tetep gak kuat sama baunya. Apalagi kalau liat ayam."
"Terus mau makan sama apa? Ikan, mau?"
"Ikan nila goreng kayaknya enak. Ada gak di rumah?" tanya Riyani.
"Kayaknya gak ada. Kita coba pesen online aja, gimana?" tawar Hanif.
Riyani mengangguk mengiyakan. "Tapi kalau gak ada gak apa-apa. Besok lagi aja, A."
"Iya, sebentar ya!!"
Riyani mengangguk.
Untungnya, masih ada yang bersedia mengambil pesanan Hanif. Butuh waktu untuk pesanan itu matang dan sampai ke rumahnya.
Hanif kembali ke kamar. "Mau makan di kamar atau di meja makan?"
"Di meja makan aja. Neng gak apa-apa kok," jawab Riyani.
Hanif mengangguk, ia bantu istrinya untuk berjalan ke dapur—di meja makan, makanan pesanan Hanif sudah tersaji. Keduanya menikmati makan malam bersama, sedangkan orang rumah lainnya sudah masuk ke kamar masing-masing.
Tidak ada rasa mual yang sejak tadi mengganggu, padahal ada sambal dan lalapan yang juga membuatnya mual tadi siang.
Anehnya, jika itu didampingi Hanif, Riyani sama sekali tidak merasakan hal apapun.
Riyani terdiam setelah meminum susu untuk penutupnya.
"Sayang kenapa? Mual lagi?" tanya Hanif.
Riyani menggeleng, "justru Neng pengen nambah lagi. Padahal perut aku udah gak muat rasanya."
Hanif terkekeh pelan. "Makan lagi aja. Kan masih ada ikannya, yang buat besok itu."
"Enggak deh. Neng mau ke kamar aja habis ini,"
"Gak jadi nambahnya?"
Riyani menggeleng. Wanita itu beranjak mengambil sesuatu di kulkas lalu pergi ke kamar.
Hanif terkekeh pelan melihatnya. Istrinya lebih banyak memakan mangga muda dibanding nasi dan lauk yang diinginkannya.
Lelaki itu menyusul istrinya ke kamar. "Kamu gak asem makan mangga muda gak digadoin sama sambel?"
Riyani menggeleng, "ini enak tau, A. Seger."
(Malah merinding liatnya juga)
Hanif memilih berbaring lebih dulu dibanding istrinya yang masih menikmati potongan mangga muda yang dibawanya.
...----------------...
Jam menunjukkan pukul 4 dini hari, Riyani terbangun setelah merasa gerah. Ia buka selimut yang menutupi tubuhnya, lalu pergi ke kamar mandi.
Riyani duduk pada lantai dekat ranjangnya. Hanif yang tersadar istrinya tidak lagi berbaring di sampingnya langsung terbangun. "Sayang!?"
"Iya Aa? Neng di sini," jawab Riyani.
"Kamu lagi ngapain duduk di lantai begitu, dingin Sayang,"
"Gerah, Aa."
"Ya ampun. Gerah sih gerah, tapi gak diem di lantai begitu. Nanti kamu masuk angin," ucap Hanif, "sini duduk di atas kasur. Biar Aa bawa kipas di ruang tengah."
Lelaki itu beranjak, mengambil kipas di ruang tengahnya untuk dipindahkan ke kamar.
Sekalipun terasa cukup dingin bagi Hanif, lelaki itu memilih untuk membiasakan diri dibanding istrinya harus gelisah karena hormon kehamilannya.
...----------------...
Keesokan paginya, Riyani mengajak suaminya untuk berjalan santai di kompleks perumahan mertuanya itu. Sembari membeli beberapa sayuran dan lauk yang akan dimasaknya nanti. Belum lagi beberapa bungkus bubur dan nasi kuning yang dibelinya untuk sarapan.
Seyila yang baru saja bangun dan kesiangan untuk bekerja memilih membawa bungkusan nasi kuningnya ke rumah sakit. Sedangkan ayah dan ibu mertuanya sarapan bersama dengan pasutri itu.
"Neng pagi ini masih mual juga?" tanya Ibu Nur.
"Enggak, Bu. Malahan sejak Aa pulang, Neng gak ngerasain mual sama sekali."
"Oh manja berarti anaknya. Pengen deket sama ayahnya terus, kayak ibu waktu hamil ayahnya begitu tuh," timpal Pak Yahya.
"Iya emang, Bu?"
Ibu Nur mengangguk. "Sampe ayah waktu itu beberapa kali pulang kerja setengah hari, bahkan cuti juga pernah karena ibu sering mual kalau gak ada ayah."
"Terus gimana? Masa Neng nanti ganggu kerjaan Aa," tanya Riyani merasa tidak enak.
Hanif menggenggam tangannya. "Gak apa-apa, Sayang. Aa juga kan harus bertanggung jawab atas dia."
"Ya bertanggung jawab sih iya, A. Tapi kan kalau begitu tersiksa dua-duanya."
Ibu Nur mengangguk. "Coba kalau mau kerja atau pergi tanpa istri tuh bilang dulu. Elus dulu perutnya, bujuk biar anaknya ngerti."
"Emang ngaruh ya, Bu?" tanya Riyani.
"Ngaruh, Neng,"
"Nanti cobain sama kamu, Bang. Dia pasti ngerti kok. Kasian istri kamu kalau tiap kamu kerja dia muntah-muntah kayak kemarin," ucap Ibu Nur membuat anak sulungnya mengangguk.
...----------------...
Siang ini, Riyani akan pergi ke rumah nenek sebentar sekedar untuk memberitahu kabar bahagia ini.
Tapi..... toko kuenya terlihat tutup. Riyani memilih untuk pergi ke rumahnya. Ada Pak Imran di sana.
"Assalamualaikum Pak, nenek sama kakek kemana? Kok sepi banget kayaknya."
"Waalaikumsalam. Iya Neng, nenek sama kakek pergi ke Bandung 2 hari lalu."
"Gak sama bapak perginya? Biasanya kakek selalu sama bapak,"
"Enggak, Neng. Soalnya naik bis. Biasa, liburan sama orang tua lainnya, gengnya nenek," jawab Pak Imran.
Riyani sempat terkekeh. Wanita itu paham jika neneknya memang memiliki beberapa teman yang masih sering mengajaknya bermain keluar kota atau bahkan sekedar bertemu dan mengobrol.
"Ya udah kalau gitu, Pak. Neng balik lagi aja."
"Nanti kalau udah pulang, tolong sampaikan ke nenek kalau Neng datang ya."
Pak Imran mengangguk mengiyakan.
Riyani kembali pulang dengan suaminya.
...----------------...
Di pertengahan jalan, Riyani meminta suaminya untuk berhenti sebentar. Ia ingin membeli es krim kesukaannya.
"Aa bawa uang gak? Neng lupa kalau cuman bawa hp aja."
"Coba tanya si amang nya bisa pake qris gak," goda Hanif.
"Ih ngeledek banget. Masa bisa bayar pake qris, emangnya di toko."
Hanif terkekeh mendengarnya. "Ya lagian suruh siapa pengen jajan tapi gak bawa uang. Ngutang aja ke si amang nya, nanti kalau ketemu lunas gitu bilang."
"Ih Aa. Jadi bawa uang gak?"
Hanif mengeluarkan uang lembaran dari sakunya, "berapa Sayang?"
"5 ribu aja," jawab Riyani.
Belum memberikan uangnya pada riyani, lelaki itu mendongak kembali pada istrinya yang masih menunggu.
"Pengen dibujuk dulu ah! Minta uangnya yang lucu gemes coba."
"Ih ribet banget. Gak usah, gak jadi aja deh," ucap Riyani malah pergi begitu saja berjalan kaki.