NovelToon NovelToon
Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.

Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.

Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.

Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.

Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.

Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?

Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17 : Terbangun

Suasana kamar masih dipenuhi rasa canggung.

Erica berdiri di samping ranjang dengan wajah memerah, sementara Risa memegang nampan dengan ekspresi serba salah.

“Aku benar-benar hanya—” Erica mencoba menjelaskan lagi.

Namun—

Jari Ferisu bergerak pelan.

Sangat pelan.

Risa yang pertama menyadarinya.

“Nona Erica…”

Erica menoleh cepat.

Dan saat itulah—mata Ferisu terbuka perlahan.

Pupilnya menyesuaikan cahaya. Pandangannya masih kosong beberapa detik. Tangannya terangkat lemah, memegang kepalanya.

“Ugh…”

Ia meringis pelan.

Kepalanya terasa berat. Seperti baru saja kembali dari tempat yang sangat jauh.

Erica membeku. “Ferisu…?”

Ia mencoba duduk. Gerakannya masih goyah. Saat itu juga, tanpa berpikir panjang—Erica langsung memeluknya.

Memeluknya erat. Sangat erat.

“Idiot…!” suaranya bergetar. “Kau membuat kami khawatir!”

Ferisu terdiam.

Tubuhnya masih lemah, tapi ia bisa merasakan kehangatan itu.

Erica gemetar.

Dan untuk pertama kalinya sejak tadi, bukan karena malu. Melainkan karena lega.

“Aku pikir…” suaranya mengecil. “Aku pikir kau tidak akan bangun.”

Ferisu mengedip pelan. Ingatan tentang ruang gelap itu masih samar di kepalanya. Energi kegelapan. Percikan roh. Dan sensasi kekuatan yang kembali.

“Aku… cuma tidur,” gumamnya pelan, meski suaranya serak.

Erica makin mengeratkan pelukannya.

Risa yang masih berdiri di sana memalingkan wajahnya pelan, telinga kelincinya sedikit bergerak.

“Aku akan memanggil yang lain,” katanya pelan, lalu buru-buru keluar kamar.

Kini tinggal mereka berdua.

Ferisu perlahan mengangkat tangannya. Sedikit ragu. Lalu ia membalas pelukan itu. Meski lemah.

“Maaf,” ucapnya lirih.

Erica terdiam beberapa detik. Lalu ia menyadari sesuatu. Posisinya. Ia memeluk Ferisu. Sangat dekat. Sangat erat. Wajahnya yang tadi lega kini kembali memanas.

Ia buru-buru mundur sedikit, tapi masih memegang bahu Ferisu.

“K-kau tidak boleh membuatku khawatir seperti itu lagi!” katanya cepat, mencoba menyembunyikan rasa malunya.

Ferisu menatapnya. Tatapannya sudah lebih fokus sekarang. Dan untuk sesaat, Erica merasa jantungnya kembali tidak stabil.

“Erica,” panggil Ferisu pelan.

“A-apa?”

“Aku merasa… sedikit lebih ringan.”

Erica mengernyit.

“Ringan?”

Ferisu menatap telapak tangannya. Ia bisa merasakannya. Percikan kecil itu masih ada. Energi kegelapan yang bercampur dengan roh. Tidak liar. Tidak menyakitkan. Terkendali.

“Sepertinya… sedikit kekuatanku kembali,” katanya pelan.

Mata Erica membesar.

“Benarkah?”

Ferisu mengangguk pelan.

“Tapi aku tidak tahu kenapa.”

Ia mengerutkan kening.

“Aku merasakan energi kegelapan dan roh… mengalir dalam diriku.”

Erica membeku sesaat. Kegelapan. Roh. Kejadian kemarin terlintas cepat di pikirannya. Namun ia menahannya. Untuk sekarang—yang terpenting adalah satu hal.

Ferisu sudah bangun.

Erica tersenyum kecil. Tipis. Tulus.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “kita akan cari tahu bersama.”

Dan di luar kamar, langkah kaki tergesa terdengar di lorong istana.

Risa berlari kecil sambil menahan nampan yang hampir saja jatuh dari tangannya. Telinga kelincinya bergerak-gerak gelisah setiap kali ia berbelok di sudut koridor.

“Dia bangun… dia benar-benar bangun…” gumamnya pelan.

Tak butuh waktu lama.

Berita itu menyebar cepat di dalam istana.

...----------------...

Di ruang santai—

Noa masih duduk bersama Licia dan Eliza. Pembicaraan mereka sebelumnya masih menyisakan suasana yang sedikit tegang.

Terutama setelah kejadian kemarin.

Reliza. Ciuman itu. Dan fakta bahwa mereka semua menyaksikannya.

Noa masih memijat pelipisnya pelan. “Aku masih tidak percaya dia benar-benar—”

Pintu tiba-tiba terbuka.

Risa berdiri di sana dengan napas sedikit terengah.

“Yang Mulia Ferisu sudah bangun!”

Ruangan langsung hening.

Beberapa detik.

Lalu—

“Apa!?”

Licia berdiri paling cepat. Kursinya bahkan hampir terjatuh ke belakang.

“Kau serius!?” tanya Noa.

Risa mengangguk cepat.

“Iya! Dia baru saja sadar!”

Ekspresi Noa langsung berubah lega.

“Syukurlah…”

Eliza yang sejak tadi duduk tenang tiba-tiba berdiri dengan mata berbinar.

“Ferisu-sama bangun!?”

Ia langsung berlari menuju pintu tanpa menunggu jawaban.

“Hei tunggu!” seru Noa.

Namun Eliza sudah lebih dulu menghilang di lorong.

Noa menghela napas panjang.

“Anak itu…”

Licia sudah berjalan cepat menuju pintu.

“Ayo.”

Tanpa perlu berkata lagi, mereka semua segera menuju kamar Ferisu.

Sementara itu—Di kamar.

Ferisu masih duduk di tepi ranjang dengan punggung bersandar pada sandaran tempat tidur.

Erica duduk di kursi dekat ranjang, mencoba terlihat tenang meski pipinya masih sedikit merah.

Ferisu menatap ke arah jendela.

Sinar matahari siang masuk melalui tirai tipis, membuat ruangan terasa hangat.

Ia menutup matanya sejenak. Merasakan aliran energi di dalam tubuhnya. Masih kecil. Masih jauh dari kekuatan lamanya. Namun—Itu ada. Percikan itu nyata.

“Aneh…” gumamnya pelan.

Energi kegelapan itu tidak terasa asing. Justru terasa… cocok. Seolah bagian dari dirinya. Padahal—tak satu pun dari tunangannya memiliki afinitas dengan atribut kegelapan.

Langkah kaki terdengar di lorong.

Cepat.

Lalu—

Pintu kamar terbuka.

“Eliza datang—”

Sebelum kalimatnya selesai—

Eliza sudah berlari masuk.

“FERISU-SAMA!”

Ia langsung melompat memeluk Ferisu tanpa ragu.

“Ugh—”

Ferisu hampir kehilangan keseimbangan.

“Pelan… pelan…” katanya sambil menahan tubuh Eliza yang menempel erat.

Eliza memeluknya kuat sekali.

Matanya sedikit berkaca-kaca.

“Aku pikir Ferisu-sama tidak akan bangun…” gumamnya pelan.

Ferisu tersenyum kecil.

“Aku tidak selemah itu.”

Tak lama kemudian—

Noa dan Licia masuk.

Noa menghela napas lega saat melihat Ferisu benar-benar sadar.

“Baguslah,” katanya.

“Kalau kau mati, aku yang harus mengurus semua pekerjaan istana.”

Ferisu terkekeh pelan.

“Jadi kau khawatir soal pekerjaan?”

“Tentu saja.”

Licia berjalan lebih dekat. Langkahnya lebih pelan dibanding yang lain. Ia berhenti di samping ranjang. Menatap Ferisu. Matanya yang biasanya tenang kini sedikit lembut.

“Syukurlah,” ucapnya pelan.

Hanya satu kata. Namun cukup untuk menjelaskan semuanya.

Ferisu mengangguk kecil. “Maaf membuat kalian khawatir.”

Noa menyilangkan tangan. “Kalau kau tahu itu, lain kali jangan melawan makhluk aneh dari retakan dimensi sendirian.”

Ferisu tersenyum tipis.

Namun di dalam hatinya—Ia tahu. Pertarungan itu belum benar-benar selesai.

Makhluk seperti Aries… Tidak muncul begitu saja. Dan tangan raksasa yang mengambilnya… Itu bukan sesuatu yang bisa dianggap enteng.

Ferisu menatap telapak tangannya lagi. Energi kecil itu masih berputar pelan di dalam tubuhnya. Ia mengerutkan kening. Jika kekuatan ini benar-benar kembali sedikit… Maka sesuatu pasti telah terjadi saat ia tidak sadar. Sesuatu yang bahkan ia sendiri belum pahami.

Dan jauh di suatu tempat—retakan kecil di ruang dimensi kembali bergetar. Sangat pelan. Seolah sesuatu sedang mengamati dunia ini.

Dan menunggu.

1
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
kli ini kalajengki ya? bner2 deh...
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
hmph 🙄....elf jg sama ternyata
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya: iya Thor
total 2 replies
Frando Wijaya
elf td....blg manusia pembawa mslh...tpi kenyataan elf jg sama aja
Frando Wijaya
ekhem! next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
awal Dr konflik? gw punya firasat yg sgt buruk
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan
Luthfi Afifzaidan
up
Luthfi Afifzaidan
lg
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
boneka Bru? atau robot Bru??
Frando Wijaya
mata 1 raksasa itu apa sih???
K_P
😓
angin kelana
visual keren👍
angin kelana
karakter baru
angin kelana
wah kemaren2 op.skarang lemah..
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
cih 😒...msh blom berakhir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!