NovelToon NovelToon
THE ARCHIVIST

THE ARCHIVIST

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Spiritual / Time Travel
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memutar Balik Kosmos & Titik Nol Peradaban

Lokasi: Ruang Komando Astrometri, Markas Bawah Tanah BPCBAN, Jakarta.

Waktu: 20.00 WIB (Tiga Hari Pasca Insiden Papua).

Ruangan berbentuk kubah itu dipenuhi pendaran cahaya biru dari sebuah meja hologram bundar raksasa di tengah ruangan. Suhu di dalam markas dijaga pada 20 derajat Celcius yang nyaman, namun Dimas masih sesekali mengusap lengannya—sisa trauma dingin hipoksida dari Puncak Jaya belum sepenuhnya hilang.

Sarah berdiri mengelilingi meja hologram tersebut. Ia mengenakan kemeja flanel yang lengannya digulung asal-asalan, kacamata anti-radiasi bertengger di hidungnya. Di tangannya terdapat secangkir kopi hitam yang sudah dingin.

Di atas meja, proyeksi tiga dimensi dari Gerbang Eden berputar lambat. Sarah telah merekonstruksi ulang gerbang itu dari pemindaian LIDAR (Light Detection and Ranging) yang ia rekam secara diam-diam saat waktu dibekukan oleh Sang Arsitek Langit.

“Masalah terbesar dari artefak ini bukan umurnya, Dim,” kata Sarah, memecah keheningan ruang kontrol. Jari-jarinya menari di atas layar sentuh transparan, memperbesar ukiran rasi bintang di pintu emas tersebut. “Masalahnya adalah referensi ruangnya.”

Dimas duduk bersila di atas kursi ergonomis di seberang Sarah. Di pangkuannya, terbentang salinan digital dari Codex kuno Lemuria yang berhasil mereka ekstrak dari sisa-sisa Gunung Padang.

“Maksudmu soal Peta Pangea?” Dimas menatap titik-titik cahaya di hologram terbang.

“Tepat,” Sarah menekan sebuah tombol. Hologram gerbang itu memudar, digantikan oleh proyeksi bola bumi. “Bumi kita dinamis. Benua bergerak beberapa sentimeter setiap tahun. Tapi yang lebih penting… bintang-bintang di atas kita juga bergerak.”

Sarah mengetikkan serangkaian kode algoritma astrofisika yang sangat rumit.

“Rasi bintang Orion yang kita lihat malam ini di Jakarta, bentuknya sama sekali berbeda dengan Orion yang dilihat oleh dinosaurus jutaan tahun lalu,” Sarah menggeser sebuah slider waktu virtual di layarnya. “Kalau kita mau tahu di mana letak Delapan Kunci Konstelasi itu dikubur, kita nggak bisa pakai peta bintang tahun 2026. Kita harus memutar balik kosmos.”

Di atas meja hologram, proyeksi bola bumi mulai berubah dengan kecepatan ekstrem. Benua-benua modern (Eropa, Asia, Amerika) perlahan menyatu mundur, menabrak satu sama lain sehingga membentuk satu daratan raksasa: Superbenua Pangea.

Di saat yang sama, langit malam di atas proyeksi bumi itu berputar liar. Bintang-bintang bergeser dari posisinya, membentuk rasi-rasi bintang kuno yang asing dan aneh.

Algoritma Sarah sedang memutar waktu galaksi Bima Sakti sejauh 250 juta tahun ke belakang.

BIP. Simulasi berhenti.

Hologram kini menampilkan bola bumi dari era Permian-Trias, dengan delapan titik merah yang menyala terang di atas daratan Pangea. Posisi titik-titik itu sangat presisi, membentuk geometri sakral yang sama persis dengan delapan lubang kunci di Gerbang Eden.

“Aku berhasil memetakan titik aslinya,” Sarah tersenyum lelah, namun matanya berkilat penuh kemenangan. “Sekarang, bagian tersulitnya. Kita harus men-fast-forward (memutar maju) simulasi ini kembali ke tahun 2026, dan melihat ke mana delapan titik tanah Pangea itu tergeser oleh pergerakan lempeng tektonik selama ratusan juta tahun.”

Dimas mencondongkan tubuhnya ke depan, napasnya tertahan. “Lakukan, Sar.”

Sarah menarik slider waktu itu kembali ke titik nol modern.

Bola bumi hologram itu kembali retak. Superbenua Pangea pecah berantakan. Delapan titik merah itu ikut terseret oleh pecahan benua yang menjauh, menyebrangi samudra yang baru terbentuk, hingga akhirnya benua-benua itu menetap pada posisinya seperti peta dunia saat ini.

Delapan titik merah itu kini tersebar di seluruh penjuru dunia modern.

Titik pertama berkedip terang di benua Asia.

Titik kedua di dasar Samudra Atlantik.

Titik ketiga di Amerika Selatan.

Titik keempat di Afika Selatan.

Dan seterusnya.

Skala perburuan mereka kini terpampang nyata. Ini bukan lagi misi lokal BPCBAN. Ini adalah Global Scavenger Hunt (Perburuan Harta Karun Global).

Dimas segera berdiri, matanya tertuju pada titik merah pertama yang berkedip paling terang, seolah memberikan sinyal prioritas. Titik itu berada di wilayah Timur Tengah. Tepatnya berada di perbatasan Anatolia Selatan (pesisir selatan Turki).

“Turki,” gumam Dimas. Ia segera membuka database arkeologi di tabletnya, menyilangkan koordinat titik merah hologram itu dengan peta situs prasejarah modern.

Mata Dimas membelalak saat ia menemukan kecocokan absolut (100% Match).

“Sar… titik kunci pertama nggak jatuh di sembarang gunung atau gurun,” suara Dimas bergetar karena kegembiraan akademis yang murni. “Titik ini jatuh tepat di situs arkeologi Göbekli Tepe.”

Sarah mengerutkan kening. “Göbekli Tepe? Situs kuil tertua di dunia yang baru ditemuin tahun 90-an itu?”

“Tepat,” Dimas memproyeksikan gambar reruntuhan pilar-pilar batu raksasa berbentuk huruf ‘T’ dari tabletnya ke layar hologram. “Umurnya diklaim 12.000 tahun. Ribuan tahun lebih tua dari Piramida Giza atau Stonehenge. Para arkeolog modern kebingungan setengah mati gimana manusia zaman batu yang belum kenal roda atau tembikar bisa memahat batu seberat 20 ton.

Dimas menunjuk ukiran-ukiran binatang aneh (kalajengking, rubah, burung nasar) pada pilar batu di Göbekli Tepe tersebut.

“Selama ini dunia mengira itu adalah kuil pemujaan atau observatorium bintang primitif,” Dimas tersenyum miring, sebuah senyum khas seorang Archivist yang baru saja membongkar rahasia terbesar sejarah. “Tapi mereka salah. Ukiran binatang itu bukan dewa. Itu adalah rasi bintang kuno. Göbekli Tepe bukan sekedar kuil…”

“… itu adalah brankas batu,” sambung Sarah, langsung memahami alur pikiran suaminya. “Mereka membangun pilar-pilar raksasa itu untuk menyembunyikan Kunci Konstelasi Pertama di bawahnya.”

Pintu geser otomatis ruang kontrol terbuka dengan suara mendesis.

Arya Baskara melangkah masuk, mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi. Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah flashdisk terenkripsi berlapis titanium.

“Gue udah denger semuanya dari ruang monitoring,” kata Arya santai, berjalan menghampiri meja hologram dan menatap titik merah di peta negara Turki tersebut. “Dan tebakan kalian soal brankas batu itu sepertinya lebih akurat dari yang kalian kira.”

Arya menancapkan flashdisk itu ke konsol Sarah.

“Ini intelijen terbaru dari Interpol dan badan rahasia sekutu kita di Eropa Timur,” jelas Arya. Layar hologram memunculkan foto satelit terbaru dari situs Göbekli Tepe.

Di foto satelit itu, area ekskavasi yang biasanya dipenuhi tenda arkeolog dan turis kini tertutup rapat oleh barikade militer tak berlogo. Beberapa kendaraan lapis baja hitam terparkir di sekitar pilar-pilar kuno tersebut.

“Situs ini ditutup total untuk umum sejak tiga hari yang lalu dengan alasan ‘badai pasir dan ekskavasi rahasia pemerintah’,” Arya menatap Dimas dengan tajam. “Tapi intel kita mengonfirmasi bahwa pasukan yang mengambil alih tempat itu bukan militer Turki. Mereka adalah Vanguard.”

Mendengar nama itu, rahang Dimas mengeras.

“Vanguard,” desis Dimas. Organisasi paramiliter rahasia internasional (tentara bayaran korporat kelas atas) yang berspesialisasi dalam mencuri artefak gaib dan teknologi alien untuk pasar gelap elit global. Mereka adalah kebalika dari BPCBAN; jika BPCBAN melindungi, Vanguard mengeksploitasi.

“Mereka juga nyari kuncinya,” Sarah menyimpulkan dengan cepat. “Kalau ada Kunci Penciptaan yang bisa membuka laboratorium dewa, miliarder mana pun di dunia pasti rela bayar triliunan dolar buat mengklaimnya sebagai senjata.”

“Tepat,” Arya mengangguk. Ia melemparkan dua buah paspor diplomatik hitam ke atas meja, tepat di depan Dimas dan Sarah. “Makanya gue udah ngurusin izin diplomatik cover (penyamaran) buat kalian berdua. Sebagai ‘Konsultan Arkeologi Independen’ dari UNESCO.”

Arya menyandarkan kedua tangannya di pinggiran meja hologram.

“Kalian berangkat malam ini. Pesawat jet siluman BPCBAN udah nunggu di Halim. Misi kalian jelas; Susup ke Göbekli Tepe, temukan Kunci Konstelasi Pertama sebelum Vanguard membongkarnya, dan bawa kunci itu pulang dengan utuh.”

Dimas mengambil paspor itu. Ia menatap Sarah, yang sudah mulai mematikan sistem komputernya dan mengemasi perlengkapan hacking portabelnya ke dalam tas ransel.

Tidak ada lagi diskusi. Tidak ada lagi keraguan. Ancaman kiamat biologis dan tentara bayaran elit sudah cukup menjadi alasan.

“Siapkan peluru EMP dan alat grounding-mu, Sar,” Dimas menepuk keris di pinggangnya, tersenyum dingin. “Kita punya jadwal menggali tanah di Turki.”

1
Aninda Riswinanti
bagusss pollll ceritanya
NP: Makasih ya kak, 🤗
total 1 replies
Talita Rafifah artanti
ceritanya bagus menarik untuk dibaca
NP: Terima kasih ya kak, semoga tetap suka ya sampai tamat nanti..🤗
total 1 replies
NP
Sarah sama Dimas ternyata minim romansa nya ya 😂 next tipis2 ada romantisme deh kesian Dimas serius terus script nya wkwk
Felycia R. Fernandez
kayak di cuci nih otaknya Sarah
Felycia R. Fernandez
jadi ingat film barat aku nonton ,mereka sekeluarga diserang kepiting karena air laut nya menguap...kepiting di laut mendatangi kapal mereka...
Felycia R. Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NP
Agak berat petualangan Dimas dan Sarah nih, kak. Maklum sama sama ilmuwan..
Felycia R. Fernandez
Petualangan baru dimulai...
NP
Iya betul yg dulu di rempah sang waktu,
Felycia R. Fernandez
Arya ini yang jadi raja dulu kan?
Felycia R. Fernandez
😅😅😅😅😅
Felycia R. Fernandez
lah,Sarah malah kenak
Felycia R. Fernandez
🤣
NP
Suami istri yang suka berpetualang menghadapi hal hal mistis
Felycia R. Fernandez
😆😆😆😆😆
Felycia R. Fernandez
ya ampun,luar biasa suami istri ini
Felycia R. Fernandez
kok ngeri ya 😳
Felycia R. Fernandez
wow 😳
Akbar Aulia
kurang.....kurang......kurang.....kurang banyak thor upnya
Felycia R. Fernandez
pernah denger,tapi blom tau gimana kota nya kk...😆😆😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!