Di alam para Dewa, aturan sudah tertulis sejak zaman dahulu kala: Laki-laki adalah Dewa, Wanita adalah Malaikat. Namun, Lisa adalah pengecualian. Dalam darahnya mengalir kekuatan agung sang Raja Dewa, dan tanda suci terukir di tubuhnya membuktikan dia layak menyandang gelar "Dewa", bukan sekadar "Malaikat".
Sayangnya, dunia tak siap menerima itu. Lisa tumbuh dengan anggun, lemah lembut, namun kesepian. Ayahnya, sang Penguasa Langit, bersikap dingin dan menghilang sejak ia berusia 5 tahun. Lisa mengira dirinya dibenci dan ditolak.
Namun, kenyataannya berbeda. Sang Ayah bukan tak punya hati, ia justru menyembunyikan Lisa demi melindunginya dari kecemburuan dan bahaya maut dari Dewa-Dewa lain. Ketika Lisa dewasa dan menuntut haknya, ia harus menempuh jalan berdarah, menguasai sihir terkuat, dan memimpin perubahan sejarah. Di tengah pertarungan memperebutkan takdir, ia juga akan menemukan cinta, memecahkan kesalahpahaman besar, dan akhirnya mengerti arti pengorbanan sang Ayah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Liss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12
Melihat pemandangan pilu di depan mata, terutama melihat adik kecil yang imut itu menangis tersedu-sedu hati Lisa luluh. Ia menatap Floyen.
"Apa yang harus kulakukan, Flo?" bisik Lisa bingung.
"Kalau hati Kakak bilang ingin bantu, lakukan saja," jawab Floyen tegas. "Aku tahu meski berat, Kakak pasti kalah sama hal-hal yang imut dan menyedihkan kan?"
Lisa tersenyum tipis. "Kau benar."
Mereka pun melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Aku bisa membantunya," ucap Lisa pelan namun pasti.
"KAKAKKU AKAN MEMBANTU!" seru Floyen dengan bangga dan tegas.
"Tapi bagaimana bisa?!" seru Kael syok. "Bukankah kau sendiri yang bilang sihir biasa tidak mempan? Uskup diosesan saja hanya bisa memperlambat kematiannya!"
"Benar kata Pangeran..." sahut guru-guru yang lain.
Tiba-tiba ibu dari pemuda itu langsung berlutut dan menangis memeluk kaki Lisa.
"NAK! JIKA KAMU MEMANG BISA, AKU MOHON! TOLONG ANAKKU! AKU BERI APA SAJA ASAL DIA BISA SEMBUH! SAYA TAHU DIA SALAH, TAPI TOLONGLAH!"
Ayahnya pun ikut berlutut, "SAYA MOHON! SAYA AKAN BERI HARTA, JABATAN, APA SAJA!"
Dan yang paling bikin Lisa nggak tega, adik kecil berambut biru putih itu menarik ujung bajunya, matanya sembab berwarna biru langit.
"Kakak... tolong kakakku ya... Aku janji aku akan suruh dia minta maaf. Tolong jangan biarkan dia mati..."
Dokter dan guru-guru di situ geleng-geleng kepala, "Jangan memberi harapan palsu, Nona. Bahkan kekuatan suci level tinggi pun tidak bisa..."
"GURU TIDAK BOLEH MEREMEHKAN KAKAKKU!" potong Floyen galak. "Kakakku pasti punya caranya sendiri !"
"Baiklah..." Kael maju selangkah. "Bagaimana caranya?"
"KAEL KAU!" Floyen menatapnya kesal.
"Kalian boleh keluar semua jika ingin aku menyembuhkannya," ucap Lisa dingin.
"Baik, kami akan keluar," kata yang lain.
"TIDAK!" Kael menolak keras. "AKU AKAN TETAP DI SINI SEBAGAI SAKSI! Bagaimana aku bisa percaya begitu saja? Lagipula... Jika hanya floyen aku tidak percaya karna floyen adalah adiknya, Floyen bisa saja menyembunyikan apa pun asal menguntungkan keluarga kalian, bahkan jika merugikan negara!"
GLEK!
Semua orang terdiam. Teman-teman Kael (Kyle, Harit, Theo) langsung kaget setengah mati.
"WOY KAEL! LO GILA YA?!" batin mereka panik. "LO BILANG GITU SAMA LISA? PADAHAL LO SUKA SAMA DIA?!"
Mereka heran dan kecewa. Kael yang katanya menyukai Lisa, tapi malah berani meragukan dan menuduhnya begitu di depan umum.
Lisa menatap Kael. Tatapannya datar, tapi menusuk sampai ke tulang sumsum.
"Baiklah," jawab Lisa pelan. "Tapi ingat janjimu. Apapun yang kau lihat di dalam sini... asal tidak merugikan negara, kau tidak boleh memberitahu siapapun. Dan jika kau melanggar... kau harus siap kehilangan segalanya. Bagaimana?"
"Baiklah," jawab Kael mantap, meski dadanya sesak.
Di dalam hati Kael berteriak putus asa:
'Aku tahu... aku tahu caraku berpikir ini bodoh. Aku tahu karena omong kosong soal "kepentingan negara" ini... aku mungkin akan kehilangan cintaku selamanya. Aku tahu jalan ini tidak ada jalan mundurnya. Aku tahu aku tidak akan pernah bisa dekat dengannya lagi...'
'Tapi... aku masih berharap. Walau hanya satu persen kemungkinan... semoga suatu hari dia bisa mengerti dan memaafkanku. Walaupun aku tahu itu... mustahil.'
Semua orang keluar meninggalkan ruangan. Hanya tersisa Lisa, Floyen, Kael, dan pasien.
Lisa perlahan mendekati ranjang pasien. Ia mengangkat tangannya perlahan ke arah kepala pemuda itu.
Tiba-tiba...
✨✨
Cahaya keemasan yang sangat hangat dan menyilaukan memancar dari telapak tangan Lisa!
'Yang Mulia! Putri!' terdengar suara-suara halus nan indah di kepala Lisa. Itu adalah Para Peri Pelindung.
'Apa yang akan Anda lakukan?! Apakah Anda benar-benar akan menggunakan Kekuatan Suci Anda?! Jangan, Yang Mulia! Mereka akan curiga!' bisik para peri lewat telepati.
'Tenang saja...' jawab Lisa dalam hati. 'Mereka tidak akan mengerti level ini. Mereka hanya akan mengira ini sihir penyembuh tingkat tinggi. Mereka tidak akan tahu bahwa ini adalah energi dari Sang Pencipta.'
'Tapi...'
'Tidak apa-apa. Lakukan.'
Saat energi itu mengalir deras...
PROYEKSI CAHAYA muncul!
Sosok Lisa seolah terbelah menjadi dua. Bayangan cahaya dirinya terlihat melayang anggun di atas tubuh pasien, mengenakan gaun keemasan yang mengalir seperti air sungai surgawi.
Keindahan, keanggunan, dan kemurnian yang luar biasa terpancar.
Dan karena kekuatan yang terlalu besar...
SRETT... ✨
Kain penutup mata Lisa terlepas dengan sendirinya!
Terbukalah mata yang sebenarnya! Mata yang indah, dalam, dan bersinar seperti menampung seluruh alam semesta. Tatapan itu begitu suci, begitu agung, membuat siapa saja yang melihatnya akan langsung ingin bersujud karena merasa diri terlalu kotor untuk memandangnya.
Kael yang berdiri di situ mematung total. Napasnya tertahan. Jantungnya berhenti berdetak sesaat.
'Cantik... Tuhan... dia bukan manusia...' batin Kael hancur. 'Dia Dewi... dia benar-benar Dewi yang turun ke dunia. Dan aku... aku baru saja menyinggung dan meragukan makhluk seindah ini...'
GUNCANGAN SELURUH AKADEMI
Cahaya itu tidak hanya ada di dalam ruangan.
Kemurnian energinya bocor keluar, menyebar ke seluruh penjuru akademi, bahkan sampai ke pinggiran kota!
Semua orang yang merasakannya tiba-tiba merasa tenang, dosa-dosa kecil mereka terasa terangkat, hati menjadi damai, dan air mata keluar dengan sendirinya karena terharu.
- Para guru dan murid berhenti beraktivitas, menunduk takjub.
- Uskup diosesan Cain yang sedang duduk tiba-tiba berdiri kaget, "INI RASA... INI RASA KEKUATAN SUCI YANG LEVELNYA DI ATAS PAUS!! DARI MANA INI BERASAL?!"
- Bahkan monster-monster di hutan pun menjadi tenang dan tidak ganas.
Di dalam ruangan, energi itu membersihkan seluruh noda hitam di tubuh pasien. Tulang-tulangnya diperbaiki, sarafnya dipulihkan, dan... Mana yang hilang tumbuh kembali bahkan lebih besar dari sebelumnya!
Pasien itu pun terbawa ke dalam tidur yang nyenyak dan penyembuhan total.
Saat cahaya perlahan meredup dan proses penyembuhan selesai, Lisa mengembalikan tangannya ke samping. Ia menoleh ke arah Floyen yang berdiri tak jauh dari situ.
Floyen menatap kakaknya dengan mata terbelalak, lalu menunjuk ke wajah Lisa.
"Kakak!! Penutup matamu... terlepas!" seru Floyen pelan tapi panik.
Lisa tersentak kaget. Tangannya langsung terangkat cepat menutupi kedua matanya.
"Di mana kainnya, Flo? Cari cepat!" bisiknya tegang.
"Itu... terbang entah kemana kena angin energi tadi Kak," jawab Floyen sambil melihat-lihat lantai.
Tanpa menunggu lama, Lisa segera memejamkan matanya rapat-rapat dan menggunakan sihir ringan untuk menutupi pandangannya kembali, menyembunyikan keagungan mata surgawi itu agar tidak dilihat orang lain. Ia tidak boleh sembarangan menunjukkan wujud aslinya di hadapan manusia biasa.
Di sudut ruangan, Kael berdiri kaku patung.
Seluruh proses tadi terekam sempurna di matanya. Dia melihat sosok cahaya itu, dia melihat mata Lisa yang terbuka, dia melihat keindahan yang membuat napasnya tercekat dan jantungnya terasa seperti diremas.
Tapi... Kael diam seribu bahasa. Dia tidak bergerak, tidak bersuara. Otaknya seakan berhenti bekerja.
'Apa yang baru saja kulihat...?' batin Kael berputar kacau.
'Itu... itu bukan mata manusia. Itu terlalu indah, terlalu dalam, dan terlalu suci. Rasanya kalau aku menatapnya terlalu lama, aku bisa hancur atau hilang akal sehatku.'
Kael menggenggam kepalanya sendiri, bingung setengah mati.
Logika dan pengetahuannya sebagai Pangeran dan murid terbaik berteriak:
'Tidak mungkin... Tidak masuk akal. Malaikat? Malaikat yang ada di mitos dan doa-doaku? Tidak mungkin mereka turun ke bumi. Tidak mungkin mereka menyamar jadi murid akademi biasa. Itu mustahil. Itu hal yang tidak mungkin terjadi.'
'Tapi... siapa lagi kalau bukan dia? Apa lagi yang punya kekuatan sebersih itu? Apa lagi yang punya wajah secantik dan seanggun itu?'
Otak Kael menolak untuk percaya. Dia mencoba mencari alasan lain.
'Mungkin dia cuma penyihir suci tingkat tinggi. Mungkin dia keturunan bangsa langit. Mungkin dia Saintess legendaris yang hilang. Tapi malaikat..? Tidak. Itu terlalu berlebihan. Aku tidak berani berpikir sejauh itu. Aku tidak pantas.'
Tapi hati dan perasaannya berkata lain. Tubuhnya gemetar bukan karena takut, tapi karena rasa hormat dan cinta yang meledak-ledak bercampur rasa bersalah yang luar biasa.
Lisa sudah menutup matanya kembali, aura agung itu perlahan menghilang, kembali menjadi gadis dingin dan misterius seperti biasa. Namun, bekas keindahan itu masih tertinggal jelas di mata Kael.
"Kau..." suara Lisa memecah keheningan, dingin dan datar. "Kau melihat apa?"
Pertanyaan itu membuat Kael tersentak. Dia menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap wajah Lisa lagi walau matanya sudah tertutup.
"Aku... aku tidak melihat apa-apa, Nona Lisa," jawab Kael terbata-bata, suaranya bergetar. "Hanya... cahaya yang sangat terang. Itu saja."
Lisa mendengus pelan, sepertinya puas dengan jawaban itu atau pura-pura percaya.
"Bagus. Ingat janjimu."
"Iya... aku ingat," bisik Kael.
Di dalam hati Kael:
'Maafkan aku... Maafkan aku yang bodoh dan rendah diri ini. Aku tidak berani menganggapmu malaikat, karena aku merasa terlalu kotor dan hina untuk menyebut nama itu. Tapi mulai detik ini... aku akan memujamu dalam diam. Aku akan melindungimu dengan hidupku, walau aku tahu... jarak kita selangit jauhnya seperti langit dan bumi.
Beberapa saat kemudian, si cowok berotot itu mengerjap perlahan dan bangun.
Dia merasakan tubuhnya ringan, energinya penuh, dan tidak ada rasa sakit sama sekali! Bahkan dia merasa lebih kuat dari sebelumnya!
"Aku... aku sembuh?!" serunya kaget. Dia merasakan aliran mana yang deras dan bersih mengalir di seluruh pembuluh darahnya!
Keluarganya langsung menangis haru dan berteriak terima kasih pada Lisa. Si adik kecil yang imut itu langsung memeluk kaki Lisa, "Makasih Kakak! Makasih banyak!!"
Lisa hanya tersenyum tipis, "Istirahatlah. Jangan gunakan kekuatan kotor lagi. Itu saja."
Saat Fredrin benar-benar sadar sepenuhnya, ia langsung turun dari ranjang dan berlutut dengan sangat hormat di hadapan Lisa. Wajahnya penuh haru dan rasa syukur yang tak terhingga.
"Aku... aku sangat berterima kasih kepadamu, Nona Lisa!" ucapnya dengan suara bergetar. "Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Kau sudah menyelamatkan nyawaku, padahal aku dulu sangat jahat dan menghinamu..."
"Tidak apa-apa," jawab Lisa santai sambil membetulkan letak penutup matanya yang sudah ketemu di bantu para peri. "Berterima kasihlah kepada adikmu yang sangat imut itu. Karena dia lah hatiku tergerak."
Fredrin menoleh ke adik kecilnya yang masih memeluknya, lalu menatap Lisa kembali dengan mata berapi-api.
"Mulai detik ini, Fredrin menyatakan sumpah setia! Aku akan menjadi pengikutmu! Siap mati membela Nona Lisa kapan saja dan di mana saja! Siapa yang berani menyakiti Nona, harus melewati mayatku dulu!"
Tiba-tiba Fredrin memegang dadanya dan berkedip bingung.
"Hah? Kenapa tubuhku terasa sangat ringan? Seperti tidak membebani sama sekali... dan rasanya... energiku melimpah ruah! Lebih banyak dari sebelumnya!"
Lisa tersenyum tipis.
"Benar. Tubuhmu kini telah suci. Bahkan lebih bersih daripada saat kau baru dilahirkan ke dunia. Kau seperti hidup kembali dengan wadah yang baru sempurna."
"Indra penglihatan, pendengaran, dan kekuatan sihir serta fisikmu semuanya meningkat drastis. Kau punya potensi besar. Kau bisa menjadi seorang Ksatria yang sangat hebat dan dihormati jika kau berlatih dengan benar." Ucapannya pelan yang hanya fredrin yang mendengarnya
"WAH! SERIUS NONA ?!" seru Fredrin.
"Baiklah... aku pergi dulu," ucap Lisa hendak berbalik.
Tiba-tiba ia berhenti dan menatap mereka semua, termasuk Kael yang masih diam terpaku di pojok.
"Aku akan menghilangkan ingatan para guru dan orang-orang disini tapi untuk orang yang pernah mengkonsumsi energi mungkin tidak akan terpengaruh. Jadi aku mohon... kepadamu fredrin, jangan pernah mengungkapkan bahwa yang menyembuhkan mu adalah aku. Rahasiakan ini."
"Baik! Aku janji!" jawab Fredrin cepat dan tegas.
Lisa menatap Kael. Pangeran itu hanya diam,"dia tidak akan bisa menanggung apa yang dia lihat saat ini aku akan membuat nya tidak mengingatnya hal ini"batinnya berucap
Sebelum melangkah keluar, Lisa mengangkat tangannya sedikit dan menggumamkan mantra yang sangat halus.
"Forget Me..." ✨🌫️
Sebuah gelombang energi tak kasat mata menyebar keluar.
Bagi siapa saja yang ada di luar dan bertanya nanti, ingatan mereka akan menjadi kabur. Jika ada yang bertanya siapa penyembuhnya, di pikiran mereka hanya akan terbayang sosok bayangan samar yang tidak jelas wajahnya, dan akhirnya mereka akan lupa begitu saja seolah kejadian itu hanya mimpi.
Pekerjaan selesai. Lisa dan Floyen pun berjalan keluar meninggalkan ruangan itu.
Di koridor, Uskup diosesan Cain sedang berjalan tergesa-gesa dengan wajah panik. Dia masih mencari-cari sumber cahaya suci yang luar biasa tadi.
Indranya menuntunnya lurus ke arah Lisa yang baru saja keluar.
"NONA!!" panggil Uskup.
Namun saat Lisa sudah berada tepat di depannya, Uskup mengerutkan kening bingung.
'Aneh... tadi rasanya sangat kuat dari arah sini... tapi kenapa sekarang?'
Lisa sudah menutup seluruh auranya dengan sempurna. Tidak ada sedikit pun cahaya atau kesucian yang bocor keluar. Dia kembali menjadi gadis biasa yang dingin dan misterius.
"Sepertinya Anda salah paham, Yang Mulia," ucap Lisa sopan tapi dingin. "Kemurnian yang Anda rasakan tadi... sepertinya tidak berasal dariku."
Uskup menatap Lisa lama, mengendus lagi. Benar saja. Aura Lisa sekarang datar saja, tidak ada apa-apanya dibandingkan ledakan cahaya tadi.
"Hmm... benar juga. Maafkan hamba. Sepertinya hamba salah alamat," gumam Uskup kecewa lalu berjalan cepat melewati Lisa dan mencari ke arah lain, terus bergumam, "Kemurnian itu... kemana perginya? Harus ketemu! Itu level di atas Saintes!"
Lisa hanya mendengus pelan dan terus berjalan pergi. 'Tua ini memang peka tapi kemampuanya masih kurang'
Sejak hari itu, sifat Kael berubah drastis.
Dia menjadi sangat pendiam. Sering melamun di balkon atau di perpustakaan. Matanya selalu kosong tapi dalam, seakan dia melupakan sesuatu yang penting tapi dia tidak tahu.
'apa...hal penting apa yang telah kulupakan?...'
Karena hal itu, Kael berubah menjadi gila kerja dia berpikir mungkin dengan cara itu dia bisa mengingat sesuatu yang hilang dari ingatannya itu.
Setiap hari sebelum matahari terbit, dia sudah ada di lapangan latihan. Dia berlatih pedang, sihir, strategi, sampai tubuhnya lemas tak berkaki.
Kael mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah sinar matahari pagi, "apapun yang telah kulupakan aku percaya suatu saat nanti aku pasti akan mengingatnya kembali."
Sejak hari itu, Fredrin benar-benar berubah menjadi sosok yang berbeda. Tubuhnya yang kini bersih dari energi gelap membuatnya tumbuh lebih tinggi dan berwibawa. Wajahnya yang dulu garang kini terlihat tegas dan gagah dan tampan tentu saja .
Tapi ada satu hal yang tidak berubah... atau justru makin parah: Loyalitasnya!
Di mana ada Lisa, di situ ada Fredrin yang berjalan satu langkah di belakangnya seperti bayangan.
"Heh! Kamu itu jalannya jangan ngebut-ngebut! Nanti Nona Lisa kehalang pandangannya!" hardik Fredrin pada seorang siswa yang tidak sengaja berjalan cepat di depan Lisa.
Siswa itu langsung ketakutan setengah mati melihat aura membunuh Fredrin dan lari terbirit-birit.
Floyen yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala.
"Fredrin, kamu itu lebai banget sih. Orang cuma lewat doang."
Fredrin mendelik, "Harus begitu! Siapa saja yang berani kurang ajar atau menghalangi sedikit saja sama Nona Lisa, aku hancurkan mentalnya! Sekarang aku adalah pedang dan perisainya!"
Lisa yang berjalan di depan hanya diam dengan wajah datar. Dalam hati dia berpikir, 'Dasar badut... tapi lumayan berguna sih, jadi gak perlu aku yang repot ngusir nyamuk.'
Hari-hari berlalu, dan Lisa sangat menyadari adanya sepasang mata yang selalu mengikutinya ke mana pun ia pergi.
Saat di kelas, saat di kantin, bahkan saat dia duduk diam di taman... dia bisa merasakan tatapan itu. Tatapan yang dalam, penuh tanda tanya, dan... kekaguman.
Lisa tidak perlu menoleh pun tahu siapa pemiliknya. Kael.
Suatu sore, di perpustakaan akademi yang sunyi.
Lisa sedang duduk di sudut membaca buku sihir tingkat tinggi. Di rak buku seberang, Kael berpura-pura mencari buku, tapi matanya terus mencuri pandang ke arah gadis itu.
'Wajahnya begitu tenang... Matanya yang tertutup itu justru membuatnya terlihat semakin misterius dan suci. Apakah dia benar-benar tidak tahu kalau aku sedang melihatnya?' batin Kael.
Tiba-tiba, sudut bibir Lisa terangkat sedikit membentuk senyum tipis yang sangat cepat, hampir tak terlihat.
"Pangeran Kael," suara lembut Lisa memecah keheningan.
Jantung Kael hampir copot! "I- Iya?!"
"Buku yang kamu cari ada di rak paling atas, sebelah kiri. Bukan di situ," kata Lisa santai tanpa menoleh sedikit pun.
Wajah Kael langsung memerah padam. Ternyata dia tahu! Dia tahu kalau Kael sedang mengintip!
"Ah... t-terima kasih," jawab Kael gugup. 'Dia pura-pura tidak tahu, tapi dia tahu segalanya... Dasar wanita yang sulit ditebak.'
⚔️ MISI BESAR: PERBATASAN UTARA IBLIS DAN MANUSIA
Ketenangan tidak berlangsung lama. Suatu hari, pengumuman besar mengguncang seluruh Akademi Sihir dan Ksatria.
[PENGUMUMAN MISI WAJIB KELAS ATAS]
Terjadi peningkatan aktivitas monster jahat di Perbatasan Utara. Hutan Terlarang mulai bergolak. Semua siswa unggulan wajib turun tangan untuk membersihkan wilayah tersebut dan melindungi desa-desa sekitar.
Dan yang paling mengejutkan... pembagian tim!
TIM A: Dipimpin oleh Pangeran Kael
TIM B: Dipimpin oleh... Fredrin!
Dan di dalam Tim B, nama Lisa tercatat sebagai anggota strategis.
Artinya... Kael dan Lisa akan berada di medan perang yang sama, hanya dipisahkan oleh satu tim!
"HAH?! Kenapa aku harus satu tim sama si buta itu?!" gerutu salah satu siswa bangsawan yang tidak suka dengan Lisa.
Belum habis kalimatnya, BRAKK!
Meja di depan siswa itu hancur berantakan ditinju Fredrin. Wajah Fredrin mengerikan sekali.
"Kau bilang apa tadi?! Ulangi lagi!! Mau kubuat mulutmu nggak bisa ngomong selamanya?!!" teriak Fredrin siap membabi buta.
"Sudah Fredrin," tangan Floyen menempel di bahu Fredrin, langsung membuat amukannya terjedah seketika. "Biarin aja. Nanti di medan perang, yang akan menyelamatkan nyawa mereka justru 'si buta' yang mereka hina itu." Ucap floyen natap sinis tapi dalam hati nya udh panas.
Malam sebelum keberangkatan, Kael berdiri di balkon istana menatap langit malam.
Dia melihat bayangan sosok Lisa di kejauhan, sedang duduk sendirian di atap gedung akademi menikmati angin malam.
'Besok kita akan bertarung bersama...'
Kael mengepalkan tangannya. Otot-ototnya yang makin kekar karena latihan keras terlihat menonjol.
'Aku sudah berlatih sihir dan pedang sampai batas maksimal. Aku sudah lebih kuat dari sebulan lalu. Tapi... apakah ini sudah cukup?'
'Jika nanti monster besar muncul... atau bahaya mengancam nyawanya... bisakah aku melindunginya? Atau justru dia yang akan menyelamatkanku lagi?'
Rasa tidak percaya diri itu masih ada. Karena bagi Kael, Lisa adalah seperti bintang di langit. Indah, bersinar, tapi selamanya tidak akan bisa digapai oleh tangan manusia biasa sepertinya.
"Tunggu aku, Lisa... Kali ini, aku akan tunjukkan kalau aku bukan beban," bisik Kael penuh tekad.
Bersambung.....