Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rekonsiliasi di Ambang Gerbang
Minggu-minggu setelah Gala Dinner yang berubah menjadi malam bencana bagi Kirana Widjaja adalah masa pembersihan yang sunyi bagi The Golden Bridge.
Komite lama dibubarkan. Dewan Sekolah yang baru dibentuk sibuk mengatasi krisis citra, mengembalikan dana yayasan, dan menghadapi tuntutan hukum dari donatur seperti Ibu Nina.
Media massa terus menggerus sisa-sisa reputasi Kirana dan Bapak Wijaya, yang kini diselidiki atas skema Vila Uluwatu.
Nadia, di sisi lain, memasuki fase rekonsiliasi. Ia bukan lagi anggota Komite, bukan lagi mole, dan bukan lagi pelaku balas dendam. Ia kembali menjadi ibu tunggal yang tenang, fokus pada pemulihan mental Aksa dan persiapan sekolahnya.
Kabar baik pertama datang dari Ibu Siska. Siska menelepon Nadia dengan nada yang jauh lebih ceria.
"Bu Nadia, saya harus berterima kasih. Pelatih debat itu benar-benar jenius. Dan yang lebih penting, saya sudah mengajukan surat resmi ke Dewan Sekolah agar putra Rizky—anak yang digugurkan Kirana dari beasiswa—bisa dipertimbangkan kembali. Dewan setuju! Mereka akan memasukkan Rizky ke shortlist beasiswa tahun depan."
Nadia merasa lega. Pengorbanan moral yang terpaksa ia lakukan dengan menjerumuskan Rizky kini terbayar. Keadilan untuk Aksa juga membawa keadilan bagi Rizky.
"Itu berita yang luar biasa, Siska," kata Nadia. "Anda sudah melakukan hal yang benar."
Siska terdiam sejenak. "Nadia... kenapa Anda tidak pernah menceritakan semuanya? Anda bukan hanya ibu yang marah. Anda adalah perencana yang brilian. Anda menggunakan data dan kecurigaan kami untuk menghancurkan dia dari dalam."
"Saya hanya menggunakan senjata yang sama yang Kirana gunakan pada Aksa: kekuatan narasi dan ilusi kesempurnaan," jawab Nadia jujur. "Saya tidak ingin uang. Saya hanya ingin nama Aksa bersih. Dan Anda, Siska, Anda sekarang bebas. Bebas dari tuntutan kesempurnaan Kirana."
Siska mengakui, "Anda benar. Saya akhirnya bisa fokus pada keluarga saya, bukan pada display sosial. Saya harap kita bisa tetap berteman, Nadia. Di luar Komite."
"Tentu, Siska. Di luar Gerbang Mahoni," balas Nadia, tersenyum.
Nadia kemudian pergi ke The Golden Bridge untuk mengurus pendaftaran ulang Aksa dan beasiswa barunya. Ia disambut oleh Mr. Taufik, yang kini memancarkan aura otoritas dan integritas.
"Bu Nadia, semua sudah siap. Aksa tidak perlu lagi mengambil tes apa pun. Namanya telah bersih di catatan sekolah. Semua tuduhan plagiarisme dihapus, dan beasiswa penuhnya sudah ditandatangani oleh Dewan Sekolah," jelas Mr. Taufik.
"Terima kasih, Mr. Taufik. Anda harus tahu, tanpa keberanian Anda menyimpan memo itu, kami tidak akan punya bukti pamungkas," kata Nadia.
Mr. Taufik menggeleng. "Anda yang berani, Bu Nadia. Anda mengambil risiko terbesar, menggunakan keahlian Anda untuk membuka aib institusi ini. Saya hanya seorang guru yang takut kehilangan pekerjaan. Sekarang, saya di sini untuk memastikan bahwa Gerbang Mahoni ini tidak lagi menjadi gerbang yang memisahkan kebenaran dari kekuasaan."
Saat urusan Aksa selesai, Nadia memutuskan untuk melakukan satu hal lagi: mengunjungi Rina.
Nadia tahu, Rina, mole utamanya, kini juga merasa hampa. Rina telah mempertaruhkan segalanya demi membayar utang budi kepada Nadia, dan ia pasti kelelahan secara emosional.
Nadia tiba di rumah Rina. Rumah Rina terasa tenang, tidak ada lagi aura stres dan ambisi yang dulu menyelimutinya. Rio, putra Rina, tampak lebih santai, bermain di halaman.
"Bu Nadia!" seru Rina, memeluk Nadia dengan haru. "Terima kasih, terima kasih banyak. Rio sudah kembali normal. Dia sudah kembali ke klubnya. Dan saya... saya akhirnya bisa bernapas tanpa harus takut telepon Kirana."
"Anda pahlawan, Rina," kata Nadia lembut. "Anda melakukan hal yang benar. Anda melawan Kirana dari dalam, padahal Anda bisa saja memilih aman."
"Saya tahu, Bu Nadia. Saya tahu. Saya hanya tidak bisa membiarkan Rio menjadi korban sistem itu lagi. Dan Anda membuka mata saya, bagaimana kekuasaan itu bekerja di balik keindahan dan kemewahan."
Nadia dan Rina duduk dan berbagi kopi yang tenang, bukan kopi penuh konspirasi seperti dulu. Rina menceritakan bahwa ia berencana menjual rumahnya dan pindah ke lingkungan yang lebih sederhana, jauh dari tuntutan The Golden Bridge.
"Saya tidak butuh Gerbang Mahoni di hidup saya lagi, Bu Nadia. Saya butuh ketenangan," ujar Rina, matanya menunjukkan ketulusan yang baru.
Nadia mengangguk. "Saya mengerti. Saya harap Anda menemukan kedamaian."
Beberapa hari kemudian, Nadia kembali ke Gerbang Mahoni di Cluster Puri Kencana untuk terakhir kalinya. Kali ini, ia mengantar Aksa untuk melihat suasana sekolah barunya.
Saat mobil Nadia melewati Gerbang Mahoni, ia melihat ada kerumunan kecil di depan rumah Kirana. Kirana sedang keluar dari rumahnya, dikawal oleh pengacara.
Kirana tampak sangat kurus. Pakaiannya masih mahal, tetapi ia tidak lagi memancarkan aura kekuasaan; ia memancarkan aura kekalahan.
Saat mobil Nadia melintas, mata Kirana dan Nadia bertemu.
Gerbang Mahoni itu kini terasa seperti panggung teater kosong, di mana drama besar telah usai. Kirana tidak menunjukkan amarah, tidak ada kebencian. Hanya ada kekosongan dan pengakuan akan kekalahan total.
Nadia tidak menekan klakson. Ia tidak melontarkan kata-kata. Ia hanya menatap Kirana, dan kemudian ia fokus pada Aksa.
"Aksa," kata Nadia, menatap putranya yang tampak sedikit cemas melihat kerumunan. "Jangan takut. Kita kembali ke sekolahmu, tapi kali ini, kita kembali dengan kebenaran."
"Aku sudah dengar, Bu. Kata teman-teman, guru Matematika lama itu kembali. Dan namanya sudah bersih," balas Aksa, senyum kecil muncul di bibirnya.
Nadia mengangguk, hatinya dipenuhi kelegaan.
Gerbang Mahoni yang gelap dan megah, yang pernah melambangkan tembok tak terjangkau antara dia dan keadilan, kini hanyalah kenangan. Elegy di Balik Gerbang Mahoni telah selesai. Keadilan telah ditegakkan, bukan dengan uang, tetapi dengan keahlian yang cerdas dan balas dendam yang dingin.