NovelToon NovelToon
CINTA TAK TERDUGA DARI BERONDONG MANIS

CINTA TAK TERDUGA DARI BERONDONG MANIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Berondong
Popularitas:668
Nilai: 5
Nama Author: intan_fa

Ranaya Aurora harus rela mengakhiri hubungan asmaranya dengan sang kekasih karena perselingkuhan. akibat dari itu, Naya tidak lagi percaya cinta dan pria sehingga memutuskan untuk tidak akan pernah menikah.
akan tetapi, tuntutan keluarga membuatnya harus menikah. Aero Mahendra menjadi pilihan Naya, lelaki asing dengan usia empat tahun di bawahnya. Walaupun pernikahan itu di tentang keluarga hanya karena perbedaan status sosial, Naya kekeh memilih Mahen atau tidak menikah sama sekali.
Bagaimana Naya menjalani pernikahan dan hidup bersama Mahen?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan_fa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tekanan keluarga

Sontak Naya dan Mahen melihat kearah sumber suara. Cukup terkejut melihat kedatangan Suci yang tiba-tiba itu.

"Siapa?" tanya Mahen menatap Naya.

"Ma–mama ..." Naya bangkit dan menghampiri Suci. Kemudian mendudukkannya di sofa.

Sementara pandangan suci tidak lepas dari Mahen. Menatapnya dengan tajam dan penuh pertanyaan.

"Tante ..." sapa Mahen ramah.

"Naya ... Kalian berdua sedang apa?" tanya Suci.

"Gak lagi ngapa-ngapain kok!" sahut Naya menyakinkan.

Sementara tatapan Suci tetap pada Mahen dengan rasa penasaran dan sinis.

"Ba–barusan aku tersedak air minum dan Mahen—" Naya bingung menjelaskannya pada Suci.

"Saya hanya mengusap punggungnya saja, Tante," ungkap Mahen.

"Kau ini, sana cepat keluar!" titah Naya.

"Kalau begitu, saya permisi dulu." Mahen keluar dari ruangan Naya.

"Naya, dia siapa?" tanya Suci.

"Dia Mahen. Fotografer itu," jawab Naya.

"Jadi yang Tante Riri dan Yuna lihat itu dia?"

Naya mengangguk.

"Naya, jujur sama mama. Kamu beneran gak ada apa-apa sama dia? Pantas saja Tantemu bisa menyimpulkan kalian pacaran, mama saja lihat kalian berdua barusan mengira kalau kalian ada apa-apa. Jujur saja sekarang pada mama," cerca Suci.

"Duh, ngapain juga sih si Mahen pake ngusap-usap segala? Kan mama jadi salah paham!" batinnya merutuki Mahen.

"Naya ... Mama harap kamu jujur sama mama, jelaskan semuanya!" pinta Suci.

"Ma, aku jujur sama mama. Aku sama dia emang gak ada hubungan apa-apa, ta–tadi tiba-tiba aja kami deket, tapi beneran gak ada apa-apa!" Naya meyakinkannya.

"Hmmm ... Naya, mama bisa melihat kalau diantara kalian itu tidak biasa. Mama tidak masalah kalau memang kamu ada hubungan dengannya, dia terlihat baik dan tampan. Akan tetapi, Papa dan kakekmu pasti tidak akan setuju dengan status sosialnya!" cetus Suci.

"Ma ... Aku gak ada hubungan apa-apa sama dia dan gak akan pernah! Aku gak berniat menjalin hubungan dengan siapapun," jelas Naya.

Suci terlihat khawatir dengan anak perempuannya itu. Kalau saja tidak terjebak cinta Miko, pasti tidak akan jadi seperti ini. Tidak akan ada trauma untuk memulai hubungan baru.

"Hmmm ... Yasudah. Mama kemari membawakan sarapan untukmu, tadi kamu buru-buru pergi tanpa sarapan. Nanti maag-mu kambuh," ujar Suci.

"Agh terima kasih, Ma ... tapi aku sudah sarapan," tunjuknya pada meja. "Tadi Rossi membelikanku sarapan," jelasnya.

"Yasudah, untuk camilan nanti kalau lapar saja. Oh iya, kata papa nanti datang saja ke rumah kakek, tidak akan apa-apa. Papa janji akan membantu bicara menjelaskan semuanya!" jelas Suci.

"Hmmm baiklah!" Naya pasrah.

Karena Naya harus bekerja, Suci pamit untuk pulang dan Naya berpindah kembali pada kursi kerjanya. "Aghhhh mumet banget hari ini!" gerutunya kesal.

Tidak lama kemudian, Mahen kembali keruangan Naya dan mengejutkannya. "Bagaimana-bagaimana?"

"Astaga kau ini ...."

"Kamu gak apa-apa, kan?"

"Gak apa-apa kepalamu! Semua gara-gara kamu, ngapain coba pakek medekat pada saya dan mengusap-usap tengkuk saya kayak tadi? Jadinya mama saya sekarang berpikiran aneh-aneh juga!" jelas Naya.

"Maaf, soalnya tadi khawatir padamu," jawab Mahen.

"Hmmm ... Sudahlah. Mau apa lagi kau kemari? Sana pergi dan mulai kerja!" usir Naya.

"Baiklah, kalau ada apa-apa atau butuh bantuan, cari saja aku," ujar Mahen seraya melengos pergi.

"Huuuu ... Sepertinya hari ini akan berat dan panjang. Semangat Nayaaaaa ...."

Waktu berjalan dengan cepat, saat makan siang ia pergi keluar meeting dengan client. Untung saja masalahnya tidak mengganggu profesionalitasnya sebagai pimpinan yang bertanggungjawab.

"Bu Naya hebat ... Kerjasama terjalin begitu cepat, padahal perusahaan Maxim itu terbilang susah," puji Rossi.

"Ya semoga setelah ini lancar kerjasamanya," ucap Naya.

"Aamiin ...."

"Kamu atur jadwal untuk pengecekan bahan baku organik serat kapas. saya mau secepatnya," titah Naya.

"Oke bos ..." angguk Rossi semangat.

Pesona wanita karir yang cantik dan terlihat dominan itu terpancar kuat. Siapa sangka di balik kesuksesannya sebagai wanita karir itu ada kisah cinta yang kurang beruntung.

Kembali ke kantor, ia mendapati sebatang cokelat dan setangkai mawar merah di mejanya dengan catatan di secarik kertas.

"Semoga cokelat ini membuat harimu lebih baik dan kamu bisa rileks."

Naya sudah bisa menduga siapa pengirim cokelat itu. Senyuman tipis tersungging di bibirnya dan memakan cokelat itu. Rasa manisnya memang membuat pikiran lebih tenang. Lalu menaruh setangkai mawar merah itu pada vas bunga yang ada di meja kerjanya.

"Bisa juga tuh bocah!" gumam Naya.

Sebelum pulang, Naya menerima panggilan dari sang papa. Ia malas menjawabnya karena pasti akan membahas masalah yang sama, tapi tidak sopan jika mengabaikannya.

"Iya, Pa ..." jawabnya tidak bersemangat.

"Naya, kamu jangan lupa untuk datang ke rumah kakek nanti malam. Awas jangan sampai tidak datang, oh iya. Sebelum ke rumah kakek, Papa akan mengenalkanmu pada seseorang biar kamu nanti bisa menjelaskan pada kakek," tutur Ilham dari balik telepon.

"Papa mau menjodohkanku lagi? Aku gak mau paaaa ... Pria yang papa kenalkan padaku, semuanya tidak ada yang bener!" jawab Naya.

"Ini demi kebaikanmu, Naya ...."

"Kebaikan siapa? Aku baik-baik saja, Pa!"

"Lalu kamu akan bagaimana menjelaskan pada kakek?"

Naya kepikiran dengan ajakan Mahen untuk berpura-pura pacaran. Itu bukanlah ide yang buruk untuk malam ini saja daripada di kenalkan dengan pria yang tidak jelas.

"Jangan bilang kamu beneran ada hubungan sama pria miskin itu?"

"Papa gak usah hina orang kayak gitu deh!" bela Naya.

"Berarti benar, kamu selalu menolak di jodohkan karena ada hubungan dengan pria miskin itu, ya? Naya, apa kata kakek dan keluarga lainnya nanti? Apa yang akan kamu katakan?" cerca Ilham dari balik telepon.

"Pokoknya aku gak mau di kenalkan dengan pria tidak jelas, lebih baik memilih pria miskin sekalian!" tegas Naya.

Naya, jangan berani ya kamu!"

"Sudah pa, papa jangan khawatirkan hal ini, oke. Aku bisa mengatasinya! Bye papa sayang, sampai bertemu nanti ..." dengan cepat Naya mematikan panggilannya.

"Astaga ... Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku malah bilang gitu pada papa? Aghhhhh ... Pusing banget ..." gerutu Naya.

"Baiklah. Tidak ada pilihan lain selain mengajak Mahen untuk pura-lura pacaran. Ya, aku harus bicara padanya ..." gumam Naya.

Saat akan keluar, tiba-tiba pintu terbuka sehingga membuat Naya kehilangan keseimbangan tubuhnya dan hampir terjatuh. Orang yang membuka pintu adalah Mahen dan dia menahan tubuh Naya ke dalam pelukannya agar tidak terjatuh ke lantai.

Wajah mereka begitu dekat, mata mereka saling melihat dan seperti ada getaran yang menjalar ke dada mereka.

"Ekhemmmm ..." Rossi mendehem menyadarkan mereka berdua.

Dengan cepat Naya menarik tubuhnya dari dekapan Mahen dan terlihat begitu salah tingkah.

"A–ada apa kau tiba–tiba membuka pintu?" tanya Naya ketus.

"Maaf, aku tidak tahu kalau kamu bakalan keluar. Aku mau memperlihatkan hasil kerjaku, seharian kamu tidak ada keruangan pemotretan," ujar Mahen.

"Hmmm saya tadi sibuk! Yasudah masuk!" titah Naya kembali ke meja kerjanya dan mereka duduk saling berhadapan. Bagaimana pun, masalah pribadinya tidak boleh mengganggu jalannya pekerjaan.

"Berikan padaku," pinta Naya.

Mahen memberikan laptopnya. "Tinggal edit-edit saja."

"Kau sudah mendapatkan konsep katalognya, kan?"

"Iya sudah."

"Oke. Kerja yang bagus ..." puji Naya.

"Terima kasih. Aku pastikan semua beres besok dan katalog bisa siap di cetak," ujar Mahen. Kemudian Mahen melihat cokelat yang ia berikan tinggal setengah membuatnya merasa senang.

"Eh iya, sebelumnya kau bilang soal pacar pura-pura. Mau gak jadi pacar pura-pura saya untuk malam ini?" tanya Naya to the point.

"Pa–pacar pura-pura? Serius?" Mahen heran.

1
Kaira
sejauh ini sih seru
Kaira
Harus jodoh Naya sama Mahen dong
Aruna
Naya cocoklah sama Mahen
Intan Diamond: penasaran, kan???
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!