Di dunia kultivasi yang mengandalkan kekuatan jiwa bawaan sebagai penguat teknik beladiri, Vincent sering diremehkan karena hanya memiliki soul tumbuhan, hal itu membuatnya dipandang sebelah mata dan sering dianiaya oleh sesama murid sekte tempatnya tinggal.
Dan potensi kekuatannya mulai terlihat setelah dilatih oleh ratu Lily, seorang ras elf yang tidak sengaja ia temui ketika dalam keadaan terluka parah. Beliau adalah seorang kultivator domain celestial yang terlempar ke domain fana setelah dikeroyok oleh empat kaisar penguasa dunia tersebut.
Ratu Lily yang nota benenya memiliki soul yang sama dengan Vincent dan sudah ahli dalam penguasaannya, tertarik untuk mengajari Vincent mengembangkan potensi soul tumbuhan tipe langka yaitu soul pohon adam yang merupakan rajanya tumbuhan.
Akankah dengan kekuatan Jiwa kayu yang dilatih dibawah bimbingan ratu Lily ia dapat berdiri di puncak dunia kultivasi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vheindie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Ke Goa Lumut
"Dimana ini?"
"Apakah kita berhasil lolos dari monster menakutkan itu?"
Adrian terkejut tiba-tiba tubuhnya terjatuh ke perkebunan teh yang terhampar cukup luas. Padahal beberapa detik lalu, dirinya hampir mati ketakutan melihat elang besar memancarkan aura mengerikan yang belum pernah ia rasakan.
"Sekarang kau aman dan kita berpisah di sini. Pergunakanlah dengan baik apa yang kau dapat dari hutan bukit lumut."
"Eh... Tunggu!! Pedangmu..." Seru Adrian. Namun Vincent sudah menghilang dari pandangannya.
"Apa itu teknik teleport? Bagaimana bisa? Bukankah di dunia ini tidak ada yang bisa berpindah dalam sekejap mata tanpa masuk ke gerbang teleportasi yang dibuat oleh master array tingkat sembilan? Dan katanya itu pun memakan biaya yang tidak sedikit. Jadi hanya keluarga kerajaan, keluarga Duke dan sekte pelindung yang mempunyai akses masuk ke gerbang yang telah diletakkan di beberapa kota. Sementara dia bisa dengan bebas berteleportasi tanpa menggunakan gerbang, apakah dia seorang master array tingkat sembilan? Tapi usianya lebih muda dariku?"
Banyak pertanyaan yang muncul dibenak Adrian tentang siapa sebenarnya Vincent. Kekuatan dan keahlian bertarungnya sungguh sangat tidak masuk akal jika menilik dari tingkat kultivasinya saat ini. Adrian merasa kekuatan bertarungnya setara seorang ketua sekte atau holy knight.
"Suatu hari nanti kita akan bertemu lagi. Ketika saat itu tiba, aku akan jauh lebih kuat dari diriku yang sekarang dan mengembalikan senjata yang kau titipkan ini." Adrian menatap pedang yang ditinggalkan Vincent. Pedang yang telah diperkuat dengan batu spiritual tingkat tiga. Ia mulai mengira pedang itu diberikan karena dirinya terlalu lemah.
Sementara itu di tempat yang berbeda. Setelah mengirim Adrian keluar dari distrik Durma. Vincent duduk dan mulai bersemedi berkonsentrasi penuh untuk menyerap ramuan penyembuh yang baru diminumnya.
"Tidak ada waktu untuk memulihkan diri. Aku harus segera kembali ke sana," Vincent membuka mata. Menatap aliran sungai kecil yang menenangkan dan perlahan luka-luka di tubuhnya mulai pulih.
"Baiklah... Aku tidak ingin rugi setelah babak belur begini. Kali ini aku hanya bisa melakukan teknik teleportasi sebanyak dua kali, tapi bagiku sudah cukup untuk mengambil bayaran atas luka yang kudapatkan." Vincent berdiri lalu menghilang dan baru sebentar saja ia sudah berada didepan goa lumut. Ia menekan hawa keberadaannya sekecil mungkin supaya tidak terdeteksi oleh binatang spiritual terutama sang elang yang tengah mengacak-acak pasukan kerajaan dan murid sekte kabut.
"Haha... Sudah kuduga kau akan menghampiri mereka. Waktunya panen!" Tawa puas saat melihat penghuni goa tidak ada di sarangnya.
"Oke gas... Waktu adalah pedang, tidak banyak sebelum burung pemarah itu menyadari keberadaanku." Vincent berlari ke dalam goa dan menjarah semua benda berharga yang ada di dalamnya dan batu jiwa kualitas tinggi salah satu target utamanya.
"Untuk saat ini sepertinya lebih dari cukup. Sekarang waktunya mengambil hasil buruanku," ucap Vincent tersenyum puas. Namun baru saja keluar dari mulut goa. Ia berpapasan dengan serigala api dan rusa bertanduk yang berhasil selamat dari pertarungan melawannya. Sedangkan nasib malang menimpa macan bertaring tombak yang berhasil Vincent kendalikan saat berusaha kabur dari monster elang, ia tewas akibat ledakan bunuh diri akibat teknik yang mengikat pada si macan tersebut.
Karena kondisi serigala api dan rusa masih dalam keadaan terluka, jadi mereka tidak melakukan penyerangan seperti sebelumnya. Keduanya memilih melolong ke udara berteriak meminta bantuan pada pemimpin mereka.
SPEAR
Vincent melepaskan beberapa tombak, namun berhasil dihindari kedua binatang spiritual tersebut. Tapi memang itu yang diinginkannya. Vincent melesat meninggalkan goa lumut mengabaikan si macan maupun rusa yang menghindar sambil melakukan pertahan diri.
"Ah sial... Baru juga beberapa yang kupungut, si bos udah nongol aja."
"Oke bos semoga kita tidak berjumpa lagi," Vincent memberi hormat sambil tersenyum mengejek pada sang elang sebelum menghilang sepenuhnya.
"Vedevah jangan lari kau!!" Teriak murka sang elang yang merasa dipermainkan. Ia meraung menembakan energi ke tempat dimana Vincent tadi berdiri, namun yang jelas hal tersebut sangatlah sia-sia belaka.
WHUSSS
BLARRR
Semburan energi sang elang menghancurkan apa saja yang dilewatinya hingga menjangkau 50 kilometer jauhnya, dimana distrik terdekat setengah wilayahnya mengalami kehancuran parah akibat ledakan energi tersebut.
Sementara itu beberapa saat setelah sang elang meninggalkan area pemukiman yang telah porak poranda dan nasib kelima orang yang dihajar sampai babak belurnya. Kini sudah mendapatkan perawatan oleh tim prajurit kerajaan dari karesidenan Valen yang dipimpin oleh kesatria Zarra dan kesatria Gidou. Mereka sangat kaget melihat keadaan distrik Durma luluh lantah, keduanya pun memberi perintah pada prajurit untuk mencari warga yang selamat dan mengevakuasi ke tempat aman. Sebagian prajurit diberi tugas untuk mencari prajurit distrik Zolford yang dipimpin oleh junior mereka.
"Kalian tidak apa-apa?" Tanya kesatria Zarra. Menghampiri ke lima orang dengan penuh luka.
"Oh Nona... Apakah kau tidak melihatnya atau matamu itu hanya pajangan? lihatlah dengan seksama segini babak belurnya tubuh kami, kau masih menanyakan hal tak perlu. Terutama adik juniorku. Kenapa kalian baru datang hah? Padahal jarak kalian tidak terlalu jauh dibanding sekte kami." Lee Ming tampak kesal dengan pertanyaan basa-basi kesatria bintang enam tersebut.
"Maaf atas kata-kata yang tidak sopan ini tuan," ucap kesatria Zarra meminta maaf atas ucapannya barusan.
"Maaf juga atas keterlambatan kami. Kami ini hanyalah prajurit yang bertugas di wilayah karesidenan yang mana di tempat tugasnya tidak mempunyai gerbang teleportasi macam wilayah Duke ataupun tiga sekte besar pelindung kerajaan Serena. Jadi kami hanya bisa melakukan perjalanan dengan teknik Qinggong dan berjalan menggunakan kuda. Namun jikalau kami menggunakan teknik peringan tubuh, akan sangat berbahaya jika kami mengalami kelelahan sebelum pertarungan. Maka dari itu kami memakai opsi kedua."
Lee Ming mendengus kesal tak mampu berkata-kata lagi untuk membantah alasan masuk akal yang diucapkan oleh kesatria Zarra, apalagi fakta memang hanya mereka yang punya hak atas gerbang teleportasi.
"Cukup!! Lebih baik kita pergi dari sini secepatnya. Aku punya firasat buruk kalau kita tidak segera pergi," ujar kesatria Gidou menengahi perdebatan yang tidak perlu.
"Tuan Gidou benar. Lebih baik kita menjauh dari distrik Durma dan menunggu para tetua sekte datang untuk meminta saran tentang rencana selanjutnya, aku khawatir monster itu kembali lagi kemari." Li Jiang setuju dengan usul kesatria bintang enam tersebut.
"Aku setuju, aku tidak ingin jadi bulan-bulanannya lagi. Lihatlah! Mungkin kita selamat karena fokusnya teralihkan, entah apa yang mampu mengalihkan monster itu. Tapi aku merasa saat lolongan terdengar dari arah bukit ia langsung bergegas pergi dengan nafsu membunuh yang semakin memuncak."
Mendengar monster menyeramkan kembali disebut, Lee Ming langsung berdiri menghampiri Ah Jun yang keadaannya paling mengenaskan diantara mereka dan belum sadar sampai saat ini.
"Kalian! Tolong tandu junior Ah Jun."
"Baik Tuan!"
Mereka pun bergegas meninggalkan distrik Durma sejauh mungkin. Bahkan Li Jiang yang biasanya tenang menghadapi situasi kali ini terlihat ingin sekali buru-buru meninggalkan distrik tersebut.
"Kalian terlalu lamban. Sini! Biar aku yang menggendongnya," seru Li Jiang dan langsung mengambil alih Ah Jun dari prajurit yang menandunya.
"Kalian! Kalau ingin hidup, meski tubuh kalian masih terluka. Aku sarankan untung menggunakan teknik qinggong," lanjutnya yang langsung melesat membawa Ah Jun di punggungnya. Yu'er dan Lee Ming tanpa bertanya apalagi membantah, langsung mengikuti apa yang dilakukan oleh Li Jiang.
"Cih... Ternyata murid sekte pelindung hanya sekumpulan pengecut," cibir salah satu prajurit.
"Senior Gidou, senior Zarra. Lebih baik kita juga melakukan hal yang sama, jika tidak-" usul kesatria Sergei. Namun ucapannya terhenti ketika sebuah energi besar melesat cepat dan menghancurkan segala yang dilewatinya.
BLARR
Semua orang yang selamat langsung tertegun melihat kehancuran yang begitu mengerikan.