NovelToon NovelToon
Istri Kedua Untuk Tuan Duda

Istri Kedua Untuk Tuan Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Ibu Pengganti / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Romansa
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cerita Tina

Willie, seorang pengusaha muda yang sukses, hidupnya hancur seketika ketika sang istri, Vira meninggal secara tragis setelah berusaha membuka kasus pemerkosaan yang melibatkan anak didiknya sendiri.

Kematian Vira bukan kecelakaan biasa. Willie bersumpah akan menuntut balas kepada mereka yang telah merenggut keadilan dan istrinya.

Namun di balik amarah dan tekadnya, ada sosok kecil yang menahannya untuk tidak tenggelam sepenuhnya, putri semata wayangnya, Alia.

Alia berubah menjadi anak yang pendiam dan lemah sejak kepergian ibunya. Tidak ada satu pun yang mampu menenangkannya. Hanya seorang guru TK bernama Tisha, wanita lembut yang tanpa sengaja berhasil mengembalikan tawa Alia.

Merasa berhutang sekaligus membutuhkan kestabilan bagi putrinya, Willie mengambil keputusan untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Tisha.

Willie harus memilih tetap melanjutkan dendamnya atau mengobati kehilangan dengan cinta yang tumbuh perlahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita Tina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Ambil Hatinya

Beberapa hari setelah itu. Hubungan Willie dan Tisha berjalan datar. Willie masih mendiamkan Tisha, tidak menyapa kecuali jika perlu. Sikapnya berjarak, dingin, dan terukur.

Namun Tisha justru merasa lebih nyaman begitu. Ia tidak harus menebak-nebak perasaan Willie atau menghadapi sikap anehnya. Ia bisa fokus pada Alia, kuliah, dan tanggung jawabnya.

Setiap pagi Willie masih tetap mengantar mereka, seperti kewajiban. Bedanya, kali ini ia tidak pernah lagi mengulurkan tangan untuk disalami Tisha. Bahkan sengaja menahan diri untuk tidak menatap gadis itu terlalu lama.

***

Hari ini jadwal Alia kontrol di rumah sakit. Hasilnya cukup melegakan, dokter mengatakan kondisi Alia stabil dan tidak ada hal mengkhawatirkan sementara waktu. Tisha menghela napas panjang penuh syukur.

Saat perjalanan pulang, dari mobil Alia menunjuk ke arah taman kota di seberang.

“Ayo main sebentar Papa."

“Oke, Sebentar saja ya.”

Mereka pun menyeberang menuju taman kota yang rindang, ramai oleh anak kecil dan orang tua. Alia langsung berlari kecil ke ayunan.

Tisha mengikutinya, merapikan jaket kecil yang dikenakan Alia, sambil sesekali tersenyum melihat tawa anak itu.

Willie berdiri jauh beberapa meter di belakang, seolah menjaga batas antara dirinya dan Tisha.

Ia menatap mereka dari kejauhan. Tidak mendekat. Sekadar memastikan jarak tetap aman.

Namun jarak itu mendadak hancur ketika dua laki-laki muda yang duduk di bangku dekatnya mulai berbisik-bisik.

“Itu ibunya ya? Cantik banget.”

“Ibu muda memang lebih menggoda.”

“Kalau jadi istri gue sih… hmm.”

Willie langsung menegang. Rahangnya mengeras, matanya menyipit penuh ancaman.

Keinginannya untuk menghajar mereka muncul begitu kuat, sampai tangan pria itu mengepal tanpa sadar.

Tapi ia menahan diri, ia tidak ingin membuat keributan, apalagi sedang bersama Alia.

Ia menghembuskan napas kasar, menekan amarahnya sedalam mungkin, lalu berbalik melangkah cepat ke arah Tisha.

Gadis itu tengah berdiri sambil memperhatikan Alia yang bermain perosotan. Ia tidak sadar dengan tatapan orang di sekitar.

Willie berdiri di sampingnya, jaraknya sangat dekat. Tisha melirik bingung.

Willie memandangi putrinya sejenak. Ia membantu Alia naik ke atas trampoline, dan berdiri cukup dekat dengan Tisha setiap kali mereka berpindah permainan.

Sesekali Tisha merasakan lengan Willie hampir menyentuhnya, sebuah jarak yang sebelumnya justru dihindari pria itu.

Setelah beberapa wktu, Alia tampak sudah kelelahan dan sudah mengantuk. Ketika mereka hendak berjalan ke mobil, Willie membungkuk lalu menggendongnya dengan satu tangan.

Tisha berjalan di sampingnya, tiba-tiba lengan Willie yang satu lagi melingkari bahu Tisha dengan lembut seakan sudah biasa.

Tisha tertegun. Naluri Tisha bereaksi. Ia mencoba melepaskan diri secara halus. Namun saat ia bergerak menjauh, Willie justru mengencangkan cengkeramannya.

Tisha meremas pelan ujung tasnya. Willie tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap lurus ke depan, seolah tindakan itu hal paling wajar di dunia.

Namun bagi orang-orang di taman itu, mereka terlihat bagaikan keluarga yang sempurna dan seperti pasangan suami istri yang saling mencintai.

Tisha menelan ludah. Pikirannya kacau. Belakangan Willie acuh, menjaga jarak, bahkan seakan tidak mau melihatnya.

Tapi sekarang, pria itu justru bersikap seolah-olah Tisha adalah seseorang yang penting. Willie tetap merangkul bahunya sampai mereka tiba di mobil

“Kenapa tiba-tiba seperti ini?” batin Tisha.

***

Keesokan harinya, kedua orangtua Willie,

Aina dan Anton mampir kerumah mereka, kebetulan mereka habis pulang dari makam Vira.

Mereka datang ingin melihat keadaan rumah tangga Willie, meski kenyataannya Aina sudah lebih dulu mendapat laporan dari Bi Ratih tentang sikap dingin Willie pada Tisha.

“Masuk, Bu. Pak. Silakan duduk.” Tisha mempersilakan mereka, tetap sopan dan hangat. Bi Ratih menyajikan minuman, dan mereka berbincang ringan

Willie belum pulang saat itu. Suasana terasa lebih lengang tanpa keberadaannya. Anton memilih bermain bersama Alia yang sedang membangun menara balok, sementara Aina mengambil kesempatan mendekati Tisha.

“Nak, apa Willie bersikap baik padamu?” tanya Aina.

Tisha sempat terdiam sepersekian detik. “Iya, Bu. Ayah Alia sangat perhatian.”

Aina memandangnya, ragu. Tisha terlalu baik, sopan dan pandai menutup kenyataan. Namun Bi Ratih tidak mungkin mengada-ada, pikirnya.

Tanpa banyak bicara, Aina mengeluarkan sebuah amplop dan meletakkannya pelan di tangan Tisha.

“Nak, kalau Willie belum memberimu nafkah, pakai ini dulu. Ibu takut kamu sungkan, Karena ibu yang memilihmu untuk jadi istri Willie, jadi Ibu juga punya tanggung jawab kalau dia ternyata..”

“Bu, tidak perlu.” potong Tisha. Ia malu dan takut disalahpahami.

Belum sempat ia mengembalikan amplop itu, suara pintu utama terbuka. Willie pulang. Ia berhenti di ambang pintu, matanya langsung tertuju pada kedua orangtuanya.

“Kenapa mampir tidak berkabar dulu?”

Nada suaranya begitu datar hingga membuat Tisha menegang.

Anton tersenyum hambar. “Kebetulan sambil lewat saja.”

Willie melirik amplop di tangan Tisha, ada tertera nama bank diamplopnya. Ia menatap orangtuanya dengan senyum sinis.

“Aneh ya,” ujarnya sambil mendekat. “Dulu waktu Vira masih hidup, kalian bahkan tidak pernah mengunjunginya. Tidak pernah sebaik ini.”

Tisha membeku. Aina menatap putranya tidak percaya. Anton mengernyit tajam.

“Dan ini…”

Ia menarik paksa amplop itu dari tangan Tisha. “Kalian kira aku tidak mampu menafkahi istriku? tidak usah mengambil hatinya. Dia tidak akan berpihak pada kalian.” lanjut Willie dengan suara dingin dan tajam.

“Pak Willie,” Tisha panik, berbisik cepat. “Jangan begitu, itu tidak sopan.”

Tapi Willie seolah tidak mendengar. Ia mengembalikan amplop itu ke meja depan orangtuanya.

“Aku berterima kasih kalian sudah melamar Tisha untukku. Tapi walaupun Vira sudah memaafkan kalian, aku tidak lupa apa yang pernah kalian lakukan padanya.”

Anton yang mendengarnya sontak kehilangan kendali.

Plaaakk!

Tangan Anton menampar pipi putranya dengan keras. Tisha kontan menutup mulutnya. Aina memekik kecil. Dan untungnya Alia sudah berada di kamarnya.

Anton menatap Willie dengan sorot marah dan kecewa yang bercampur. “Kurang ajar! Berani sekali kau bicara begitu pada orang tuamu.”

Willie tidak membalas dan menghindar, bahkan tidak terlihat menyesal. Ia hanya menarik napas pendek, lalu memandang Tisha.

“Ayo.”

Ia meraih tangan Tisha dan membawanya masuk ke kamar, seolah ingin mengakhiri keributan itu sebelum membesar.

Di ruang tamu, Aina menunduk sambil mengusap matanya yang mulai basah.

“Pa, ayo pulang saja. Kita memang keterlaluan pada Vira dulu,” bisiknya parau.

Anton mengepalkan tangannya dan mengeleng tidak habis pikir.

“Kita sudah minta maaf dan Vira pun sudah memaafkan kita. Tapi aku tidak menyangka dia menyimpan dendam sedalam itu."

Aina menunduk, menahan tangis. Sementara di kamar, Tisha berdiri kaku dengan tangan yang masih di genggam Willie. Ia menatap bingung ke wajah Willie yang masih kelihatan marah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!