Kemuning seorang gadis kecil murid sekolah dasar di desa yang cukup makmur. Dia diasuh oleh kakek dan neneknya.
sehari-hari dia sering dibully oleh teman-temannya di sekolah karena lahir tanpa ayah dan ibunya adalah bekerja sebagai TKW di Korea Selatan.
Ibunya pulang dalam keadaan hamil tanpa suami. Setelah melahirkan beberapa bulan kemudian ibunya kembali bekerja di Korea dan sejak saat itu Kemuning tumbuh besar dalam pengasuhan kakek dan neneknya.
Bagaimana Kemuning menghadapi bullian dari teman-temannya? Bagaimana nasib Kemuning di masa depan dengan labelnya sebagai anak Haram?
ikuti keseruan kisahnya hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Soehardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
“Terimakasih dek, kamu sudah memberikan anak laki-laki. Aku akan menjaga kalian.” Kata Darto sambil mengelus dan mencium kening istrinya.
“Nanti kalau sudah diperbolehkan pulang sebaiknya Inah pulang ke rumahku dulu Dar. Ibu yang baru melahirkan pikirannya harus tenang dan istirahat yang cukup untuk memulihkan tenaganya setelah melahirkan.” Kata mertuanya.
“Iya tidak apa-apa kalau itu memang untuk kebaikan istri dan anak saya,” jawabnya.
Inah hanya tinggal beberapa hari saja di rumah sakit. Agus meminjam mobil temannya untuk menjemput Inah dan mengantarkan ke rumah ibunya yang juga ibu mertua Agus.
Setiap pagi Darto sarapan dan minum kopi di rumah ibunya karena istrinya masih di rumah sakit.
“Mau berapa hari istrimu leha-leha dirumah sakit le, suaminya jadi tidak terurus.” Gerutu ibunya.
“Sudahlah bu, tidak usah dipermasalahkan, nanti ibu saya beri uang belanja selama saya makan disini.”
“Dari dulu harusnya kamu kasi ibu uang le wong ibu yang melahirkan kamu kok malah dia yang menghabiskan uangmu.
“Kewajiban suami kalau menikahi anak orang itu ya harus menafkahi bu, kalau sudah tercukupi baru kewajiban saya ke orang tua saya penuhi. Bukan terbalik bu. Dosa saya kalau menelantarkan anak istri saya.” Jawab Darto.
“Ibu dan kakakmu banting tulang disawah istrimu leha-leha dirumah menghabiskan uang anakku itu tidak adil.” Kata ibunya lagi.
“Leha-leha bagaimana? Wong tiap hari istriku mencuci baju kami, bersih-bersih rumah, masak juga menanam umbi-umbian dan beberapa tanaman sayuran untuk kami konsumsi sendiri.” Jawab Darto.
“Kamu ini memang sudah dicuci otak sama perempuan itu. Jadi durhaka sama ibumu sendiri, sudahlah sana cepat berangkat kerja.” Usir ibunya.
Darto menghabiskan tegukan terakhir kopinya lalu takzim ke ibunya dan berangkat kerja.
Sebelum berangkat kerja Darto menyempatkan diri menengok anak dan istrinya di rumah mertuanya. Saat dia datang istrinya sedang berjemur bersama bayinya.
Inah tersenyum manis melihat suaminya datang menghampiri mereka. Dia takzim kepada suaminya yang kemudian mencium keningnya dan mengelus pipi anaknya.
“Mau berangkat kerja kang?”
“Iya dek. Ini uang belanjamu. Aku setuju sementara kamu dirumah ibumu dulu sampai sembuh. Banyak istirahat ya jangan terlalu lelah.”
“Iya kang, jangan kuatirkan kami. Apa kakang tetap tinggal dirumah kita?”
“Iya kakang akan pulang tiap hari. Kamu titip masakan saja pada ibumu untuk makanku dan makanku. Besok setelah ngopi dan sarapan saya berangkat kerja. Pulang kerja aku kesini untuk makan malam baru pulang ke rumah.”
“Baik kang. Terimakasih uang belanjanya.” Kata istrinya.
“Baiklah akang berangkat kerja dulu. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Inah berjemur sambil berjalan-jalan di halaman rumah orang tuanya yang luas. Dia melihat mertuanya melintas naik motor bersama dengan iparnya. Mereka berhenti dan melihat ke arahnya.
Adik iparnya memarkir motornya lalu ibu mertuanya dan iparnya menghampirinya.
“Enak ya habis melahirkan leha-leha di rumah orang tuanya suami tidak terurus. Dasar perempuan manja bisanya menghabiskan uang anakku saja.”
“Bu anakku ini cucu pertamamu mbok ya disyukuri kelahirannya kok malah ngajak berantem.”
Ibu kandung Inah melihat besannya dari kejauhan lantas cepat-cepat menghampiri anaknya.
“Sugeng enjang besan, monggo pinarak.” Sapanya (selamat pagi besan, mari silahkan masuk)
“Tidak usah repot-repot besan, saya cuma mau mengingatkan menantu saya atas kewajibannya sebagai seorang istri. Cuma melahirkan saja kok leha-leha di rumah orangtuanya suaminya tidak diurusi.”
“Melahirkan itu adalah kewajiban seorang wanita yang menguras tenaga dan butuh waktu penyembuhan. Tidak ada salahnya istirahat untuk sementara bukankah pegawai pun punya hak cuti hamil dan melahirkan?”
“Tapi dia bukan pegawai. Dia cuma istri yang bisanya menghabiskan uang anakku. Beda dengan menantuku yang dulu punya pekerjaan yang membantu penghasilan suaminya. Lha ini pengangguran saja kok minta istirahat.”
“Tapi menantumu yang dulu tidak bisa memberinya anak. Dan anakku dulu juga pegawai. Suaminya sendiri yang memintanya berhenti bekerja sejak anakku hamil.”
“Berarti benar kan dia cuma bisa menghabiskan uang anakku.”
“Kalau tidak mau uangnya habis ya jangan menikahi anak orang. Kalau sudah jadi suami kewajibannya ya menafkahi anak istrinya. Jangan mengeluh.”
“Sudahlah bu, sebaiknya ibu pulang saja kalau disini hanya membuat keributan, aku sebagai istri juga tidak diam saja, setiap hari aku mencuci, memasak, membersihkan rumah dan melayani suami. Pasangan suami-istri punya kewajiban masing-masing bu.”
“Kamu berani mengusirku?” Ketus mertuanya.
“Tadi kan sudah saya persilahkan masuk?” Sahut ibunya Inah.
“Tapi kalau ibu pagi-pagi sudah membuat keributan di rumah orang mending ibu pulang. Suka atau tidak saya tetap akan tinggal di rumah orang tua saya sampai sembuh paska melahirkan” Jawab Inah.
Ibu mertuanya menghentakkan kakinya lalu meninggalkan halaman rumah besannya.