Raden Nandana Rahandika duda tanpa anak yang di jebak oleh seseorang mengakibatkan sebuah tragedi satu malam terjadi. Raden yang dijebak, harus merenggut kesucian gadis asing yang tidak dia kenal.
Apa yang akan Raden lakukan setelah tanpa sadar mengambil paksa kesucian seorang gadis yang tak dia kenal? ikuti kisahnya .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Kakek Raden
Sementara itu, di kampung Elin..dia telah bersiap untuk kembali ke Jakarta. Namun sebelum itu, dia pergi ke kebun untuk membawa beberapa macam sayuran segar untuk stok di apartemen.
Saat dia berjalan menuju kebun, berpapasan dengan Jaka yang mengendarai motor miliknya.
"Elin, kamu mau kemana? Laki-laki yang di rumah mu itu benar suami kamu, terus dia kemana? Kenapa dia tidak ikut, malah biarin kamu jalan sendirian!" mendengar penuturan Jaka, Elin mengerutkan keningnya.
"Kamu ini kalau ngomong pelan-pelan kali Jak, lagi pula suamiku sudah ada di kebun. kamu sendiri ngapain disini?"
Jaka menatap sekeliling perkebunan itu. "Lin, kerja dia Jakarta pasti enak kan? Apalagi sekarang punya suami kaya, kamu nggak merebut suami orang kan Lin." Elin yang mendengar penuturan Jaka tentu saja terkejut.
Elin melebarkan matanya menatap tajam ke arah Jaka. " Maksud kamu apa Ka, kamu pikir aku akan merendahkan diri buat jadi pelakor,hah!! Aku menikah dengan suamiku bukan karena aku merebut suami orang, kami sudah di takdir kan untuk menikah. Jadi, ingat itu!" dengan wajah marah Elin meninggalkan Jaka begitu saja.
Wajah Elin bahkan terlihat marah mengingat bagaimana Jaka menuduhnya sebagai pelakor.
Saat sampai kebun dia melihat sosok suaminya yang terlihat sedang ngobrol dengan beberapa bapak-bapak yang juga punya perkebunan sayur dekat dengan kebun sayur ibunya.
"Mas Raden !!" Elin memanggil nama suaminya membuat si empunya nama pun langsung menoleh ke arah nya.
"Elin, maaf pak...kalau gitu saya pamit. istri saya sudah datang, terimakasih atas bantuannya dan tolong Lihat-lihat ibu mertua saya. Jika nanti ada kesempatan, kita bicara lebih jauh tentang apa yang kita obrolin tadi. Bapak-bapak bisa langsung telpon saya juka memang sudah siap." dengan wajah sumringah dan terlihat senyum terukir indah di bibir Raden dan menyalami beberapa bapak-bapak yang dia ajak ngobrol tadi.
"Baik mas Raden, selamat jalan sampe tujuan dengan selamat. Kami akan up date perkembangan nya mas.." seorang laki-laki yang memang di tunjuk sebagai ketua petani di daerah itu.
"Mari, bapak-bapak.. kami permisi, Assalamualaikum.." dengan sopan Elin pun berpamitan mengajak suaminya untuk kembali kerumah.
"Wa'alaikum salam.." empat orang laki-laki itu pun membalas salam Elin dan Raden yang kemudian melangkah meninggalkan perkebunan.
"Apa ada masalah mas, kayaknya tadi kelihatan serius kamu waktu ngobrol sama bapak-bapak itu." Elin yang memeng melihat ekspresi serius dari suaminya saat dia terlibat obrolan dengan orang-orang itu.
"Nggak ada, cuma menawarkan bisnis kecil-kecilan. Kalau stok petani melimpah, yang biasa nya sayuran itu hanya di kirim ke beberapa pasar induk, aku menawarkan untuk mereka mengirim sebagian ke hotel dan juga restauran atau supermarket yang aku punya."mendengar penuturan suaminya itu, Elin paham akan sifat bisnis suaminya itu.
"Susah kalau otaknya sudah bisnis, apa saja bisa di bikin bisnis. Walaupun lagi liburan, masih saja mencari peluang usaha." Raden terkekeh mendengar sindiran istrinya itu.
"Hahaha..kamu bisa saja.Kamu sudah selesai packing?"
"Sudah, tinggal beberapa batang yang nanti kita beli buat kita bawa ke Jakarta." Raden pun menanggapi nya dengan anggukan.
****************
Elin dan juga Raden saat ini sudah ada di Jakarta. Hari ini Raden sengaja meliburkan diri dan malas keluar apartemennya apalagi saat ini cuaca di luar sana terlihat sangat terik.
Raden melangkahkan kakinya ke lantai bawah. Dia menuju kolam renang pribadi milik nya yang juga ada di apartemen itu.
Dia duduk santai di kursi rotan dan rebahan disana. Tak lama, Elin datang dengan membawa satu gelas jus mangga dan satu gelas jus strawberry. Tak lupa di sertakan puding yang tadi pagi dia buat dan ada cemilan keripik kentang juga disana.
"Mas, jus nya.." Raden menoleh ke arah sang istri yang berjalan ke arahnya.
"Pelan-pelan Lin.., sini..duduk di sini." Raden menepuk sisi kosong di sebelah nya.
"Lin, aku ingin mengajak kamu bertemu dengan kakek." Elin yang sedang menikmati kripik kentang nya menoleh ke arah Raden.
"Apa secepat itu mas, bukan apa..aku...
"Lin, aku sudah bertemu dengan ibumu dan Alhamdulillah sudah mendapatkan restu dari beliau. Kini saatnya aku ajak akamu buat bertemu dengan kakek. Ku tenang saja, kakek tidak seram seperti di bayangkan. Bagaimana, kamu mau kan?" Elin terlihat menimbang ajakan suaminya.
Elin pun berpikir jika sekarang mungkin waktu yang tepat untuk bertemu sang kakek, walaupun bagaimana dia harus menemuinya sebagai pihak keluarga Raden.
"Baiklah, aku mau.." mendengar kesediaan Elin, Raden pun memeluk tubuh Elin erat
"Terimakasih.." Elin mengangguk dan menepuk-nepuk pelan punggung Raden.
Benar saja, malam harinya Raden mengajak Elin untuk ke mansion utama. Selama di perjalanan Elin banyak diam. Raden tahu kalau Elin sedang merasa gugup dan khawatir.
Raden menggenggam tangan Elin yang terasa dingin sekali. Elin yang merasakan tangannya di remas , Elin pun menoleh ke arab Raden yang sedang fokus di balik kemudi si kuda besi.
"Relaks, nggak akan ada apa-apa.. selama masih ada aku, semuanya akan baik-baik saja." Elin pun mencoba untuk mengatur nafasnya.
Tak berapa lama, mobil Raden sampai di depan rumah besar yang memiliki pesona tersendiri.
Keduanya turun dari mobil , Raden yang tahu akan Elin yang merasa cemas dan khawatir, Raden pun meraih tangan Elin dan dia genggam dengan erat.
Elin terkejut dengan tindakan Raden. Tapi , dia merasa lebih tenang sekarang. "Ayo. ." Elin mengangguk dan kemudian mereka melangkah masuk ke dalam bangunan megah itu.
Elin sejenak terpukau akan bangunan mewah itu, biasanya dia hanya bisa melihat dari layar televisi, kini dia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Selamat datang tuan muda, nona.." seorang perempuan paruh baya menyambut kedatangan mereka dengan ramah bahkan terlihat setengah membungkukkan tubuhnya sejenak.
"Kakek ada bi..?" Raden menanyakan keberadaan sang kakek pada art tersebut.
"Ada tuan, bisa di tunggu sebentar.. beliau sedang siap-siap." Raden mengangguk dan mengajak Elin untuk duduk di sofa panjang di sebuah ruangan besar.
"Relaks, tenang..kakek nggak akan memakan kamu.." Raden dengan sedikit menggoda Elin agar istrinya itu tidak tegang.
"Masss...jangan bercanda." Elin mengerucutkan bibirnya saat mendapat candaan dari suaminya saat merasakan ketegangan.
"Ingat pulang juga kamu !!" suara keras menggelegar terdengar di telinga Raden dan juga Elin.
Nampak sosok pria dengan wajah sudah mulai keriput dan bahkan jalan beliau sudah menggunakan tongkat. Tapi di lihat dari jalannya , terlihat masih kencang dan terlihat tubuh nya pun masih terlihat segar dan aura kewibawaan masih kental terasa.
Bersambung.