Ivan hanyalah seorang remaja dari desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk stadion besar dan sorotan kamera. Namun, impiannya menjulang tinggi—ia ingin bermain di Eropa dan dikenal sebagai legenda sepak bola dunia.
Sayangnya, jalan itu tidak mulus. Ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, menentang keras keinginannya. Bagi sang ibu, sepak bola hanyalah mimpi kosong yang tak bisa menjamin masa depan.
Namun Ivan tak menyerah.
Diam-diam ia berlatih siang dan malam, di lapangan berdebu, di bawah hujan deras, bahkan saat dunia terlelap. Hanya rumput, bola, dan keyakinan yang menemaninya.
Sampai akhirnya, takdir mulai berpihak. Sebuah klub kecil datang menawarkan kesempatan, dan ibunya pun perlahan luluh melihat kegigihan sang anak. Dari sinilah, langkah pertama Ivan menuju mimpi besarnya dimulai...
Namun, bisakah Ivan bertahan di dunia sepak bola yang kejam, penuh tekanan dan kompetisi? Akankah mimpinya tetap menyala ketika badai cobaan datang silih berganti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Laga Amal?
Matahari belum sepenuhnya masuk ke dalam kamarku, tapi aku harus bangun. Kakiku lelah karena latihan kemarin, dan juga apa aku akan dimarahi ibu karena pulang terlalu malam kemarin.
"Van!!" teriak ibu dari dapur untuk membangunkanku.
"Iya," sahutku sembari mengusap mataku yang masih mengantuk.
"Bangun!!" teriak ibu lagi.
"Iya!!" sahutku dengan cepet.
Walaupun aku masih mengantuk, tapi aku harus bangun untuk menjalani hari yang baru ini. Aku beranjak dari tempat tidurku, berjalan ke dapur untuk sarapan. Setibanya di dapur, aku lalu duduk.
"Kamu kemarin kemana, Van. Kenapa pulang sekolah langsung main, terus kenapa kamu pulang malam?!" tanya ibu sembari mengambilkanku nasi.
Aku gugup, jantungku berdebar, aku takut untuk menjawab, tapi aku harus menjawab pertanyaan ibu "Emm... Kemarin aku main di rumah Andika, bu!!" jawabku yang gugup.
"Terus kenapa pulangnya malam, sampai-sampai ibu tertidur duluan?!" tanya ibu.
Aku semakin gugup untuk menjawab "Emm... Aku... Aku main sampai lupa waktu. Hehehehehe!!" jawabku sembari tertawa kecil.
"Ya sudah, tapi lain kali jangan diulangi lagi ya!!" ujar ibu.
"Iya," jawabku.
Aku merasa sangat lega, karena ibu percaya dengan perkataanku. Aku lalu melanjutkan sarapanku sebelum berangkat sekolah. Seusai makan, aku lalu mandi. Seusai mandi, aku langsung berangkat ke sekolah.
"Ibu, aku berangkat ke sekolah!!" seruku sebelum berangkat ke sekolah.
"Iya, hati-hati di jalan!!" sahut ibu.
"Iya, bu!!" sahutku lagi.
Kakiku mulai melangkah di pagi hari yang cerah ini, burung berkicauan, suara anak-anak yang sedang bermain, dan juga suara.
"Van!!" panggil Nadia.
Aku tetap berjalan, tapi aku menoleh ke Nadia terlebih dahulu. Setelah melihatnya, aku lanjut berjalan lagi ke sekolah.
"Van!!" panggil Nadia dengan lebih keras.
Aku tidak menghiraukan panggilan dari Nadia, tapi Nadia malah berlari mendekat ke arahku.
"Van!!" panggil Nadia.
Wajahku tetap menatap lurus kedepan, tak menghiraukannya lagi.
"Van!!" panggil Nadia.
Nadia mendekat, menghadangku. Dia lalu memberikan wajah cemberut dan marah. Aku berhenti melangkah sejenak, karena Nadia menghadang jalanku "Ada apa?!" tanyaku.
Tangannya di letakkan di pinggang "Kamu kenapa nggak nengok saat aku sapa?!" tanya Nadia.
"Nggak papa," jawabku pelan.
"Minggir, nanti telat ke sekolah loh!!" seruku sebelum berjalan kembali.
Nadia minggir, dia berjalan bersama denganku. Dia seperti biasa, cantik, imut, polos. Jantungku berdegup dengan kencang karena ini kedua kalinya aku berjalan berdua dengan Nadia.
Perjalanan yang singkat. Setibanya di sekolah, aku langsung pergi ke kelasku untuk menaruh tas dan beristirahat sejenak sebelum belajar.
"Saatnya jam pertama dimulai!!" suara dari speaker sekolah.
Jam pertama pun dimulai. Aku mengikuti pelajaran dengan tenang sampai waktu istirahat.
"Saatnya istirahat pertama dimulai!!" suara dari speaker sekolah.
Aku mengemasi bukuku. Nadia dengan cepat langsung menawarkanku untuk istirahat bersama.
"Van, mau sama-sama ke kantin?!" tanya Nadia.
Aku berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan simple itu "Mm.... Nggak dulu," jawabku pelan.
Nadia langsung cemberut, dia lalu pergi keluar kelas tanpa memberikan sepatah kata pun. Sementara aku, aku tetap dikelas "Hmm... Nanti sore, latihan akan dimulai lagi sebelum pertandingan semi-final diadakan. Pertanyaannya, siapa lawanku di semi-final?! gumamku sembari memainkan bolpoin.
Saat aku sedang menikmati ketenangan di jam istirahat ini. Tiba-tiba, Pak Slamet memberikan pengumuman penting lewat speaker sekolah "Bagi anak-anak yang mengikuti turnamen untuk mewakili sekolah, silakan langsung berkumpul di ruang olahraga. Segera!!" perintah Pak Slamet.
"Ada apa ya?!" sahutku sebelum pergi ke ruang olahraga.
Aku lalu berjalan ke ruang olahraga, setibanya di sana. Aku melihat teman-temanku sudah berada disana, dan juga aku melihat Pak Slamet yang berdiri dengan tatapan tajam, dan seorang pria dengan mata yang lansung menatap tajam ke arahku yang baru tiba.
"Ivan, segera kesini!!" seru Pak Slamet.
Aku lalu duduk, mendengarkan apa yang akan diumumkan oleh Pak Slamet.
"Pagi, anak-anak. Apa kalian sudah kenal dengan pria yang berada di samping bapak?!" tanya Pak Slamet untuk memulai pembicaraan.
"Tidak, Pak!!" jawab kami semua.
"Ya sudah, silakan Pak!" seru Pak Slamet.
"Anak-anak. Perkenalkan, nama bapak adalah Pak Wahyu. Selaku wakil ketua yayasan di sekolah ini, kalau kalian tidak tahu ya wajar saja. Oh iya, bapak kesini karena ingin memberitahukan sesuatu ke tim yang hebat ini!!" seru Pak Wahyu.
Aku hanya saling pandang ke Andika, menunggu informasi penting apa yang ingin disampaikan Pak Wahyu.
"Jadi, Ketua yayasan ingin membuat pertandingan amal. Antara tim ini, dengan klub Persebaya Surabaya B di akhir bulan ini. Apa kalian siap, dan bersedia?!" tanya Pak Wahyu.
Kami diam sejenak, lalu kami bersorak-sorai karena bahagia. Ini akan menjadi laga paling hebat yang pernah kami lakukan.
"Yes!!!"
"Semoga kita menang!!" celetuk Kak Teo.
Aku bahagia, senang, dan juga bersemangat untuk melakukan laga itu. Tapi, seperti biasa apa aku bisa berbohong lagi demi laga penting ini.
"Ya sudah, anak-anak. Kalian bisa kembali ke kelas kalian masing-masing, dan jangan lupa untuk nanti sore kita latihan!!" seru Pak Slamet.
"Baik, Pak!!" jawab kami semua.
Kami lalu pergi ke kelas masing-masing, aku berjalan ke kelasku dengan gembira. Setibanya di kelas, aku lalu mengikuti pembelajaran sampai pulang sekolah.
Jadi, bagaimana latihannya sore hari ini. Apa akan baik-baik saja, dan juga bagaimana dengan laga amal yang akan dia lalui?!
Bersambung...