Seorang penulis pemula yang terjebak di dalam cerita buatannya sendiri. Dia terseret oleh alur cerita yang dibuatnya, bahkan plot twist yang sama sekali tak terpikirkan sebelumnya. Penasaran kelanjutan cerita ini? Ikuti lah kisah selengkapnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan_Neen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Rapat terbatas tim 4 rupanya sudah selesai. Semua orang nampak terdiam begitu keluar dari dalam sana.
Marlin terlihat masih antusias melihat proposal dekorasi pertunangan di tangannya.
Saat itu, Jack berjalan menghampiri gadis tersebut.
“Marlin, ada yang ingin kami bicarakan,” ucapnya.
Marlin pun berdiri menghormati Jack yang lebih senior darinya. Dia mencoba mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh pria tersebut.
“Kami memutuskan untuk bekerja sama denganmu, karena bagaimanapun berkat kau tim ini dipercaya kembali menangani proyek, meski berskala kecil.”
“Dan untuk pemimpin, biar aku yang menggantikan posisi Lusy. Bagaimana menurutmu?” jelas Jack.
Marlin tak menjawab. Dia hanya mengulurkan tangan, seolah meminta berjabat tangan dengan Jack.
Pria itu nampak mengerutkan keningnya sejenak, lalu menerima uluran tangan Marlin.
“Semoga kita bisa bekerjasama kedepannya,” ucap gadis itu.
Semuanya sudah sepakat dengan keputusan tersebut. Kini, tim 4 dipimpin Jack, namun Marlin masih terlihat berhati-hati saat berinteraksi dengan anggota lain.
Mungkin karena perlakuan mereka sebelum ini, akibat hasutan Lusy dan gosip yang terlanjut menyakiti hatinya.
Rapat pertama mereka setelah membentuk kepemimpinan baru adalah membahas tentang pembagian tugas, mengenai beberapa proyek yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.
“Ada tiga proyek yang akan kita laksanakan dalam waktu dekat. Renovasi kantor notaris, dekorasi playground, dan juga kita mendapatkan kehormatan untuk mendekorasi tempat acara pertunangan cucu Tuan Wang dan Nona Yu,” ucap Jack.
“Ku dengar, bukan Ethan Wang yang akan bertunangan dengan Nona Yu,” bisik salah satu anggota tim.
“Aku juga mendengarnya. Itu cucu yang belum pernah terekspose sama sekali,” sahut yang lain.
“Ada gosip, kabarnya Ethan Wang punya saudara tiri. Jangan-jangan dia,” lanjut yang lain.
Apa? Buka Ethan? Lalu siapa? Jangan-jangan pria yang waku itu bersama Camilla, batin Marlin menerka-nerka.
...🐟🐟🐟🐟🐟...
Jam istirahat tiba. Marlin bersama Julia sedang bersantai di rooftop seperti biasa.
Kedua gadis itu tengah meneguk kopi masing-masing. Namun sejak tadi wajah Marlin terlihat serius.
“Apa ada masalah? Bukankah senior jahat itu sudah keluar dari sini?” tanya Julia.
“Benar... Julia, bukankah kau dekat dengan divisi marketing? Apa kau mendengar gosip tentang Nona Yu?” tanya Marlin antusias.
“Maksudmu kabar pertunangan Nona Yu dengan cucu Tuan Wang?” tanya Julia.
“Ehm...,” jawab Marlin dengan anggukan cepat.
Dia mencondongkan wajahnya ke arah Julia, menunggu jawaban temannya tersebut.
“Ku dengar, itu bukan Ethan Wang, idola mu. Tapi orang lain,” jawab Julia.
“Siapa dia? Apa kau tau?” tanya Marlin lagi.
“Ku dengar, dia belum pernah terekspose media sama sekali. Jadi, tak banyak orang tau siapa dan bagaimana dia,” sahut Julia.
“Hah... sama saja,” keluh Marlin.
“Memang ada apa?” tanya Julia balik.
Marlin menggeleng pelas, cenderung lemas.
“Tidak ada. Hanya kecewa saja dengan akhir cerita Nona Yu dan Tuan Muda Wang,” keluh Marlin.
“Kau ini. Seperti baru saja membaca cerita sad ending,” ejek Julia.
Marlin tiba-tiba kembali menegakan duduknya setelah mendengar perkataan Julia tadi.
Benar. Aku kan penulisnya. Aku pasti bisa mengubah alur aneh ini, batin Marlin dengan kedua tangan yang mengepal di depan dada, yang mengisyaratkan semangat.
...🐟🐟🐟🐟🐟...
Hari berganti, dan kini proses pembuatan desain dekorasi pertunangan Camilla sedang berlangsung.
Marlin yang awalnya tergabung dengan proyek renovasi kantor notaris, meminta Jack untuk memasukkan dirinya ke proyek pesta pertunangan tersebut.
“Ayolah, Kak. Aku bisa mengerjakan dua-duanya. Ijinkan aku bergabung dalam persiapan pesta pertunangan itu ya,” pinta Marlin pada Jack.
“Apa kau yakin? Waktunya sangat berdekatan,” ujar Jack.
“Atau aku bisa membantu yang lain dalam proses dekorasinya dan pengadaan bahan. Untuk desain, bisa mereka saja yang mengerjakan,” ucap Marlin lagi.
Jack nampak aneh melihat rasa antusias marlin pada acara tersebut. Padahal, dia sudah diberi proyek yang cukup bagus, tapi dia memilih untuk ikut proyek kecil seperti itu.
“Kak... bagaimana?” desak Marlin.
“Kau tanya mereka saja. Jika mereka setuju, silakan,” seru Jack.
“Oke, akan ku bujuk mereka. Terimakasih, Kak,” sahut Marlin senang.
Gadis tersebut pun meninggalkan Jack dan pergi ke cafeteria di bawah. Dia membeli beberapa cup kopi di sana.
Setelahnya, Marlin kembali ke ruangannya, dan membagikan kopi tadi kepada beberapa orang yang nampak tengah mendiskusikan sesuatu.
“Ini kopi untuk kalian. Nikmatilah. Pasti lelah kan,” ucap Marlin.
Mereka terlihat heran dengan perlakuan Marlin yang tiba-tiba.
“Ada apa ini? Apa maumu?” tanya salah satunya.
“Hehehe... aku hanya ingin membantu saja. Bagaimana, apa kalian mau ku bantu?” tanya Marlin penuh harap.
Mereka saling pandang seolah tengah berdiskusi tanpa kata.
“Aku tak akan menggangu desain kalian. Hanya membantu menyiapkan suplai bahan dan proses dekorasinya saja. Bagaimana?” desak Marlin.
“Baiklah. Tapi jangan ganggu desai kami,” ucap anggota tim lain.
“Janji,” sahut Marlin cepat dengan senyum mengembang sempurna.
...🐟🐟🐟🐟🐟...
Hari pengerjaan semakin dekat. Baik tim Marlin dan tim lainnya sudah mencapai desain final yang disetujui oleh tim perencanaan.
Agar adil, Marlin mengambil bagian dalam pengadaan bahan untuk renovasi kantor notaris dan juga pesta pertunangan.
Malam ini, dia hendak pergi ke toko bunga Aiden untuk memesan bunga dekorasi pesta.
Dia sedang dalam perjalanan ke toko bunga bercat pastel itu, sambil sesekali melompat kecil.
Senyum cerah selalu menghiasi wajah gadis tersebut akhir-akhir ini.
Dari kejauhan, dia sudah bisa melihat toko Aiden yang masih terang.
Marlin pun mempercepat langkahnya, hingga tak butuh waktu lama dia sudah sampai tepat di depan tempat tersebut.
Namun, senyumnya seketika hilang dan berganti dengan wajah terkejut. Matanya memicing dan alis yang nyaris bertemu di titik tengah.
“Julia,” panggilnya.
Bersambung▶️▶️▶️▶️▶️
Jangan lupa like, komen, rate dan dukungan ke cerita ini 😄🥰