Renatta Putri Setiawan, seorang gadis berusia 22 tahun. Hidup dalam kemewahan dan kemanjaan dari keluarganya. Apapun yang menjadi keinginannya, selalu ia di penuhi oleh orang tua dan saudaranya.
Namun, suatu hari gadis manja itu harus menuruti keinginan orang tuanya. Ia harus mau dijodohkan dengan seorang pria berusia 40 tahun, agar keluarga Setiawan tidak mengalami kebangkrutan.
Renatta yang membayangkan dirinya akan hidup susah jika keluarganya bangkrut, terpaksa menerima perjodohan itu. Asalkan ia tetap hidup mewah dan berkecukupan.
Gadis itu sudah membayangkan, pria 40 tahun itu pasti berperut buncit dan berkepala plontos. Namun, siapa sangka jika pria yang akan dijodohkan dengan dirinya ternyata adalah Johanes Richard Wijaya. Tetangga depan rumahnya, dosen di kampusnya, serta cinta pertama yang membuatnya patah hati.
Apa yang akan Renatta lakukan untuk membalas sakit hatinya pada pria yang pernah menolaknya itu?
****
Hai-hai teman Readers. Kembali lagi bersama Author Amatir disini.
Semoga cerita kali ini berkenan, ya.
Ingat, novel ini hanya fiksi belaka. Tidak ada ikmah yang dapat di ambil setelah membacanya.
Terima Gaji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Kenapa Harus Sekarang?
“Om, apa yang kamu lakukan?” Renatta terbelalak ketika Richard mendorongnya hingga terduduk di atas sofa.
“Aku menginginkanmu.” Ucap pria itu seraya mengukung tubuh Renatta.
Wanita itu semakin berdebar. Takut jika ada orang yang tiba-tiba masuk.
“O-om ini di kantor. Jangan seperti ini.” Renatta mendorong dada sang suami. Mencoba memisahkan dirinya.
“Tidak akan ada yang datang, sayang.” Richard semakin menghimpit tubuh istrinya. Membuat wanita itu bergerak gelisah.
“Om, apa ada salah makan atau minum sesuatu? Kenapa om jadi begini?” Renatta menjadi ketakutan. Sebab Richard begitu dominan dan memaksanya.
“Aku tidak salah memakan apapun, sayang. Apa salahnya jika aku menginginkan istriku sendiri?” Nafas pria itu memburu, begitu panas menerpa permukaan kulit wajah Renatta.
“Ya. Tetapi jangan disini, om. Ini di kantor.” Renatta masih berusaha menyadarkan pria dewasa itu.
“Sebentar saja, sayang. Aku tidak akan lama.” Richard melonggarkan dasinya.
Ia kemudian mendaratkan ciuman panas pada bibir sang istri.
“Kak— upss. Sepertinya aku masuk di waktu yang salah.” Suara Dirga tiba-tiba terdengar menggema di ruangan itu.
Renatta dapat bernafas lega karena ada orang yang masuk ke ruangan itu.
Richard mengumpat kasar. Ia kemudian turun dari atas tubuh sang istri. Ia menatap marah ke arah pintu. Dirga berdiri dengan bersedekap dada, di temani Melissa yang berdiri menganga di sampingnya.
‘Benar dugaan ku. Pantas saja pak Richard bersikap baik pada rubah kecil ini. Ternyata dia membiarkan tubuhnya di ja-mah pria dewasa itu.’
Melissa bermonolog dalam hatinya.
“Bisakah kalian mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam ruanganku?” Richard menggeram marah. Tangan terkepal di atas meja.
Dan Renatta bergidik ngeri melihat hal itu. Sang suami siap menghantam siapa saja dihadapannya saat ini.
Wanita itu pun mengusap lengan Richard dengan lembut. Berharap mampu meredamkan emosi pria dewasa itu.
Ia tidak menyangka jika Richard akan semarah itu saat ada orang yang mengacu aksinya.
“Oh, ayolah kak. Aku biasa masuk ruangan ini tanpa ijin darimu.” Dirga justru berjalan santai ke arah dua sejoli itu.
“Mel, Silahkan keluar. Aku memiliki urusan pribadi dengan kakakku.” Dirga sedikit memutar tubuhnya. Menatap Melissa dengan tajam, karena telah lancang mengikutinya masuk.
Wanita dewasa itu menurut. Ia pergi sembari menutup pintu.
Dirga kemudian mengambil tempat pada sofa single. Menatap Richard tak kalah sengitnya.
“Om, kenapa ada om Dirga disini?” Bisik Renatta. Ia baru mengenal sepupu suaminya itu saat hari pernikahan mereka.
“Dia wakil direktur menggantikan om Jordan, sayang.” Jawab Richard datar.
Renatta mengangguk paham. Ia tentu tahu siapa om Jordan. Adik dari papa Jonathan.
“Aku sudah katakan, untuk mengambil cuti jika masih belum puas bermesraan dengan kakak ipar.” Celetuk Dirga.
Richard mendelik ke arah sang sepupu.
“Lagipula ini kantor, lain kali kunci pintunya jika ingin melakukan hubungan dua puluh satu plus. Kakak tahu ‘kan, aku ini kaum jomblo.” Sambung Dirga lagi sesekali menatap ke arah kakak iparnya.
‘Dia lebih pantas menjadi istriku daripada kak Rich. Kenapa gadis ini begitu tergila-gila pada kak Rich yang usianya sangat jauh darinya?’
“Jaga pandanganmu, Dirga.” Richard berseru marah. Dan Renatta dengan sigap kembali mengusap lengan suaminya.
“Ups. Maaf, kak.” Dirga mengatupkan kedua tangan di depan dada.
“Ada kepentingan apa kamu datang kemari?” Tanya Richard kemudian.
“Ada hal penting yang harus kita bahas, kak. Hmm, bolehkah kakak ipar— Dirga menatap sungkan pada Renatta.
“Aku akan pulang lebih dulu, om.” Ucap wanita itu kemudian.
Richard melihat arlojinya. Masih ada waktu tiga jam, hingga saatnya pulang kantor.
“Baiklah. Tunggu aku di rumah.” Pria itu tanpa malu mengecup kening sang istri di hadapan Dirga.
“Dasar pria tua terlambat jatuh cinta.” Gerutu duda tanpa anak itu.
****
Richard kembali gelisah saat tidur. Sekelebat bayangan masalalu kembali hadir dalam mimpinya.
Dengan nafas terengah, dan keringat dingin membasahi pelipis. Pria itu terpaksa membuka mata. Jantung Richard berdetak kencang seperti habis berlari maraton.
Ia duduk bersandar pada kepala ranjang. Untung saja tubuh sang istri sedikit berjarak dengannya. Sehingga wanita itu tidak terganggu saat Richard terbangun.
“Kenapa harus sekarang?” Bisik pria itu.
Richard mengusap wajahnya kasar. Bayangan masalalu itu kembali menghantui saat ia dan Renatta telah resmi menikah.
Seolah mengejar, dan tak membiarkan dirinya berbahagia dengan sang istri.
Kepala pria itu memutar kesamping kanan. Menatap punggung polos sang istri. Wanita itu tidur terlelap setelah mereka melakukan kegiatan rutin sepasang suami istri.
“Maafkan aku, sayang.” Richard berucap lirih. Ia pun meluruhkan tubuhnya yang juga sama-sama masih polos tanpa sehelai benang.
Pria itu kemudian mendekap tubuh Renatta dari belakang. Mencium lembut pundak terbuka sang pujaan hati.
“Maafkan aku.” Lirihnya.
Renatta menggeliat. Dengan mata terpejam, ia memutar tubuhnya kemudian memeluk sang suami.
Richard mengusap punggung terbuka Renatta dengan pelan. Ia takut jika sang istri terbangun dan menjadi penasaran lagi.
Wanita itu pasti akan bertanya tentang mimpi apa yang di alami Richard. Dan pria itu belum bisa menjawabnya. Ia belum siap. Mungkin tidak akan pernah siap.
Richard terlalu takut kehilangan Renatta, seandainya wanita itu tahu cerita masalalu mereka.
“Aku mencintaimu, sayang.” Bisik pria itu sembari mengecup kening sang istri.
***
Pagi pun tiba.
Seperti biasa, Renatta selalu terbangun sendirian. Sisi tempat tidur disampingnya sudah kosong, menandakan jika sang suami telah bangun lebih dulu.
“Dia tidak pernah membangunkan aku.” Gumam Renatta. Wanita itu meloncat turun dari atas ranjang, memungut piyama yang teronggok di atas lantai karpet, kemudian dengan cepat pergi ke ruang ganti.
“Sudah bangun?”
Suara Richard mengagetkan Renatta yang sedang memilih setelan kerja untuk pria itu.
“Om, kenapa tidak pernah membangunkan aku saat om bangun lebih dulu?”
Nada suara wanita itu terdengar merengek.
Richard mencebik. Pria itu kemudian mendekat ke arah sang istri. Menyerahkan handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Kemudian meraih kembali yang telah wanita itu siapkan.
“Sengaja. Aku tidak mau menganggu tidurmu. Kamu sudah terlalu lelah melayaniku di malam hari.” Ucap Richard sembari mengancingkan kemejanya.
Pipi Renatta merona merah. Benar apa yang pria dewasa itu ucapkan. Ia selalu kewalahan untuk mengimbangi tenaga sang suami.
“Apa om akan ke kampus hari ini?”
Wanita itu mengalihkan pembicaraan. Ia memalingkan wajah saat sang suami melepas handuk yang melilit di pinggangnya, untuk kemudian memakai pakaian dalamnya.
Richard kembali menyunggingkan sudut bibirnya.
“Tentu saja ke kampus. Aku sudah banyak memberikan kalian kebebasan karena tidak bisa hadir. Hari ini, pastikan kamu tidak datang terlambat.”
Setelah memakai celana bahan berwarna hitamnya, Richard kemudian mendekat dan berbisik pada sang istri.
“Jika kamu terlambat, aku akan menghukummu tanpa ampun.”
Renatta tiba-tiba bergidik, karena sang suami tak hanya berbisik namun juga menggigit kecil telinganya.
“Dasar pria tua me-sum.”
****
Bersambung.
dimana mana bikin gerah 😜🤪
aku baru nemu cerita ini setelah kesel nunggu cerita sisa mantan 😁