Almira merupakan abdi ndalem yang memiliki kepribadian ganda, kadang dirinya bersikap seperti preman karena dulunya di merupakan preman jalanan dan terkadang dia bersikap lemah lembut. Ia menikah dengan seorang Gus yang mana awalnya menjadi pembicaraan di keluarga suaminya karena Almira hidup sebatang kara. Dan Gus itu pun menerimanya hanya karena keterpaksaan dari orang tuanya. Bagaimana perjalanan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nay Lissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembalasan Berujung Tragis
Keringat terus menerus membasahi tubuhnya. Tangannya terasa mati akibat hampir dua jam tidak berhenti menulis dan membolak balikan kitab. Di depannya masih tersisa sepuluh lembar kertas folio kosong yang belum ada sedikit pun coretannya. Ia menghembuskan nafas beratnya.
Heran gue kenapa mbelum selesai-selesai padahal tulisannya sudah gue bikin sebesar gajah. Awas aja nanti malem bakal gue bales.
Siapa lagi yang berani melakukan hal ini kepada Almira kalau bukan Agam? Almira harus menulis materi nahwu hingga 50 Lembar kertas folio, dan itu pun tidak boleh asal-asalan harus ada referensi kitabnya.
" Istirahat dulu Mbak! nanti lanjutin lagi." Ucap Dina yang menjadi pengawas Almira saat mengerjakan hukumannya agar tidak berbuat curang dan itu pun atas perintah Gus Agam.
"Sebentar lagi mbak." Almira tak mau menunda pekerjaannya agar tidak kepikiran, jika saja di depannya bukan ketua pesantren pasti dirinya sudah pasti kabur.
Almira sebenarnya tidak takut dengan siapa pun di pesantren ini namun ia segan dengan Dina yang terkenal halus tapi tegas. Termasuk salah satu pengurus idamannya saat pertama kali datang ke pesantren. Dia tipe yang tidak suka banyak bicara.
"Mbak Al saya boleh nanya nggak?" Tanya Dina sedikit ragu.
" Tanya apa mbak?"
"Apa hubungan mbak Al dengan Gus Agam?"
"Santri dan ustadz, kenapa mbak?" Almira berusaha menguasai keterkejutannya agar Dina tidak curiga.
"Tapi saya lihat seperti ada..."
"Mbak Dina jangan berlebihan, bukankah Gus Agam bersikap sama saja terhadap semua santri? " Sela Almira. Dina mengangguk ia memilih ingin mencari tahu sendiri dari pada bertanya pada wanita di depannya mengenai apa yang terjadi di antara mereka.
............
"Qil, ndalem beneran pergi kan?" Tanya Almira memastikan meskipun dirinya mendengar dari anak lain jika ndalem sedang pergi karena dirinya seharian tidak ke ndalem.
"Iya Al, kenapa memangnya?" Qila merasa aneh denga tampang sahabatnya itu yang senyum-senyum sendiri.
"Kemana?"
"Surabaya. Emangnya kenapa sih?" Qila semakin penasaran.
Berarti nggak bakalan pulang malam ini.
"Gus Agam ikut nggak?" Bukan menjawab Almira malah terus bertanya.
"Kayaknya sih tidak, mobilnya masih ada di garasi kok. Haayyooo jangan-jangan Lo mau..."
"Apa? kamu jangan berfikiran yang negatif deh? Oke makasih infonya saya pergi dulu nanti kalo ada yang nyari bilang aja nggak tau oke!" Almira langsung pergi meninggalkan Qila dengan tampang penuh penasaran.
Meskipun sepi lampu ndalem masih menyala. Almira mengendap-endap masuk lewat pintu belakang agar tidak ada santri yang melihatnya.
"Aman." Ucapnya sambil melihat situasi.
Cklek. Pintu belakang terbuka. Ia tidak melihat sosok yang di carinya berada di ruangan ndalem. Lampu ia biarkan menyala agar tidak ada yang curiga.
Apa dia berada di kamarnya?
Almira segera menuju kamar suaminya, karena hanya itulah yang belum ia matikan. Ternyata benar orang yang dia cari sedang tidur. Almira mendaekati suaminya itu memastikan jika tidurnya benar-benar nyenyak. Almira mengecek dengan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Agam dan tidak ada respon sedikit pun.
Baru jam segini sudah molor. Oke saatnya beraksi.
Mukena putih miliknya ia pakai hingga kakinya tak terlihat. Wajahnya ia laburi bedak bayi. Bulatan hitam besar ia buat di pinggir matanya melalui maskara sitaan di kamarnya. Bibirnya ia biarkan berwarna putih bedak, dan tak lupa dirinya memakai wike yang dibuat oleh para santri untuk drama saat khitobiyah.
"Gimana manakutkan bukan?" Tanya pada dirinya sendiri saat melihat wajahnya di depan cermin yang ada di kamarnya, maksudnya kamar Agam.
Semua lampu yang menyala di ruangan itu ia matikan. Almira menyalakan baterainya dan menaruh di bawah dagunya sehingga mirip sekali dengan hantu.
"Hi..hi...hi..." Suaranya ia buat seolah seperti ibu Kunti sungguhan "A..gamm... bangun kau... hi..hi..hi...". Sasaran yang di takutinua masih belum bangun.
"A..gamm... bangun kau..!" Suaranya sedikit lebih keras .
Agam mulai membuka matanya, bukan karena suara hantu melainkan karena merasa semuanya gelap. Ternyata benar saat dirinya membuka mata tidak ada sedikit pun sinar yang menyinari kamarnya kecuali sinar yang menyoroti sesosok ibu Kunti dengan wajahnya yang serba putih pucat dan mata hitam besar.
" A..ggaaamm... bangun...!! Segera minta maaflah pada istrimu!" Almira semakin bersemangat saat melihat cowok itu ketakutan bersembunyi di bawah selimut.
"Dia sedang menangis karena tangannya mati akibat hukumanmu hi..hi..hi.." Almira semakin bersemangat mengganggu cowok yang tak lain suaminya sendiri itu.
Agam masih bersembunyi di bawah selimut. Ia tidak takut dengan hantu jelmaan istri kesayangan keluarganya itu. Tidak mungkin dirinya berteriak meminta hantu itu menyalakan lampunya bisa-bisa Almira malah menertawakan dirinya yang mana badan gede tapi takut gelap.
Tangannya meraba di atas meja yang seharusnya terdapat lampu hias. Usahanya nihil karena lampu itu sudah di sembunyikan oleh Almira sebelumnya.
Kenangan masa lalu satu persatu mulai memasuki pikiran Agam dimana dirinya sendirian di tempat gelap dan tak hanya ada sedikitpun cahaya. Tangannya penuh luka akibat terjatu saat melarikan diri dari penjahat.
"Ibu!Agam takuutt!!" Teriaknya saat itu. Ia terus mendengarkan langkah kaki penjahat itu tanpa melihat bayangannya akibat gelap .
" Cepat nyalakan lampunya!!" Bentak Agam yang langsung membuat Almira terkejut.
"Cepat!!"Agam tak bisa lagi mengontrol ketakutannya.
Gadis itu langsung menyalakan lampunya dengan tangan gemetar. Apalgi saat mendengar bentakan Agam.
Setelah lampu menyala ia melihat Agam basah kuyup akibat keringatnya sendiri. Agam terlihat begitu ketakutan dari wajahnya. Almira mencoba mendekat dan ingin memastikan jika suaminya itu baik-baik saja.
"Pergi!!" Sekali lagi ia mendapat bentakan dari Agam, hatinya terasa panas tak terasa air bening jatuh dari matanya.
Ia tak menyangka seharusnya Agam yang menangis karena ketakutan hantu jelmaanny malah dirinya yang menangis karena bentakan Agam.
Sejak kapan sih Al, Lo jadi cengang gini? Apa gue ngerjainnya kebangetan hingga membuat dia sampai segitunya membentak gue. Perasaan cuam matikan lampu dan nakutin haantu itu doang. Itupun dirinya tidak takut mana ada orang takut malah suruh hantu nyalakan lampu?
"Aaaa..!!Hanntuuu!!!" Qila berteriak ketika tak sengaja melihat hantu di depan pintu belakang pesantren.
Almira langsung mengejar sahabatnya itu untuk membungkam mulut Qila agar tidak ada yang melihatnya.
Qila semakin kencang berlari sambil melafadzkan doa mau makan karena tujuannya turun kebawah untuk mengambil makanan di kulkas kantin pesantren.
"Milaa!!!Sallwaaa!!! Tolongin gueee ada hantu yang ngejarr gueee!" Teriak Qila sambil menaiki tangga.
Almira masih belum sadar jika dirinya mengejar Qila mengenakan kostum hantunya.
"Aaaaa.....!!!!" Setiap santri yang melihatnya langsung heboh dan berlari ketakutan. Kericuhan hebat terjadi saat malam itu juga.
Kenapa mereka berteriak dan lari ketakutan saat melihat gue.
Almira menatap pakaiannya sendiri yang serba putih, Ia baru sadar jika masih berpenampilan hantu.
"Lo pergi nggak!" Bentak Salwa yang tidak kenal takut pada syetan.
" Tunggu-tunggu ini gue Almira." Ia mencoba menjelaskan jika dirinya benar-benar Almira.
Byuuurrr!!
Tapi naas, penjelasannya itu keduluan oleh air yang mengguyurnya dari belakang sehingga membuatnya basah kuyup.
"Mil, kok hantunya masih diem di situ aja ya.. nggak ngilang?" Tanya Qila yang bersembunyi di belakang Mila sejak tadi.
Mereka langsung terkejut saat mengetahui siapa di balik hantu itu. Wajahnya terlihat jelas saat hantu itu menghapus maskara dan bedak yang menempel di wajahnya menggunakan mukena yang menjadi kostumnya.
"Almira?"
"Ya! ini gue." Jawab Almira menahan emosi.
"Bukan, Almira itu halus nggak mungkin dia ngomong kasar." Ucap Mila.
"Mbak tapi kakinya kena lantai." Ucap santri yang mengguyurnya dengan air.
"Berarti benar dia Almira." Almira tak lagi menghiraukan mereka yang menatapnya. Ia langsung turun ke bawah tanpa mengambil pakaian ganti.
Malam ini dirinya memang sungguh apes, Alauaminya sendiri membentaknya dan tadi malah di guyur air oleh adek-adeknya karena dikira hantu.
Sial banget gue malam ini...!!! Hhaaaahh......!!!! Teriaknya dalam hati, sambil membersihkan tubuhnya di kamar mandi.