Squel dari Found Love in Kyoto.
Namun, ada yang tidak di sangka. Anthonino menemukan sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah ia temui seumur hidupnya. “Sayang?” tanyanya, ia mengerutkan keningnya, mata birunya memandang seluruh wajah Keiko.
“Are you virgin?” tanya pilot itu.
Hening sejenak. “Yess, i’am,” jawab Keiko.
“Shit!”
Ikuti kisah cinta Yamada Keiko yang manis.
Yamada's lover
⚠⚠⚠ SKIP BAGIAN YANG BERTANDA MERAH BAGI YANG BELUM CUKUP UMUR.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cherryblossom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia menghianatimu
Pagi hari setelah membersihkan tubuhnya Keiko menjawab panggilan dari Nameera.
“Kei apa kau berada di New York?” tanya Nameera yang mengetahui Keiko berada di New York dari postingan di media sosial Keiko.
“Iya, apa kau juga berada di New York?”
“Ya, aku di New York, Kei maaf aku tidak hadir waktu kau--, maksudku--” Nameera terbata-bata.
“Oh lupakan kejadian itu Nameera, tidak masalah.”
“Kei di mana kau menginap? Bisakah kita bertemu?”
‘Oh tidak, tidak.... Nameera akan tahu rahasiaku jika ia datang ke sini’ batin Keiko panik.
“Biar aku yang menemuimu, atau bagaimana jika kita bertemu di luar? Sampai kapan kau berada di New York?” Keiko menawarkan alternatif lain.
“Baiklah aku mengerti, jam 8 malam aku terbang, sebaiknya kita bertemu di luar saja,” jawab Nameera menarima tawaran Keiko.
“Sampai jumpa Nameera.”
Keiko mematikan panggilan dari Nameera saat bersamaan Anthonino keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya.
“Siaapa yang menelefonmu sayang? Pagi sekali,” Anthonino bertanya sambil mengusap rambutnya yang masih sedikit basah.
“Saudara jauh” kata Keiko jujur ia memang tak pernah menganggap Nameera saudara apa lagi kakak, kenyataannya mereka memang tidak begitu akrab.
“Oh...”
“Ia juga sedang berada di sini,” Keiko memberitahu.
“Pria?”
“Saudaraku itu wanita, kau benar-benar Mr. posesif.”
Keiko masuk ke dalam walk in closet di ikuti Anthonino, lalu tangannya mulai memilih pakaian yang cocok untuk suaminya. Ia menyesuaikan setelan jas dan dasi yang akan di kenakan Anthonino kemudian mengulurkan pada Suaminya.
“Istriku sangat cantik, tentu aku harus posesif,” kata Anthonino seraya mengenakan pakaian yang telah di pilihkan istrinya.
“Kau terlalu bermulut manis, mendekatlah aku akan memasangkan dasimu sayang.”
Anthonino mendekat pada Keiko, perasaannya pagi ini tidak bisa di jabarkan, yang pasti berbunga bunga karena Keiko untuk pertama kali memanggilnya dengan sebutan sayang. Ia terus mengamati wajah dan jemari lentik istrinya yang sedang dengan serius memasangkan dasi untuknya.
“Terima kasih istriku sayang,” kata Anthonino ketika Keiko telah selesai memasangkan dasi untuknya.
Wajah Keiko memerah.
“Dari sekarang panggil aku sayang, atau hubby,” kata Anthonino.
“Tidak mau.” jawab Keiko cepat sambil memastikan kerapian dasi yang mengggantung di leher suaminya.
“Kenapa?”
“Orang di luar akan menggosipkan kita.”
“Tidak usah di pedulikan, yang penting kita berdua bahagia bukan?” Anthonino dengan lembut menatap Wajah istrinya.
“Baiklah, tapi jika hanya berdua” setelah berpikir sejenak Keiko akhirnya menyetujui.
Anthonino mengelus pucuk kepala istrinya, jarak umur mereka memang tergolong lumayan jauh, tujuh tahun. Wajar saja jika ia ingin memanjakan Keiko secara berlebihan karena Keiko juga masih terlalu muda bagi Anthonino.
Anthonino sampai di perusahaannya, ia langsung memanggil kepala departemen SDM.
“Apa kalian mengontrak seorang pilot bernama Nameera?” Anthonino langsung menyampaikan permasalahan yang menganggu pikirannya.
“Saya akan memeriksanya nanti,” jawab pria di depan Anthonino.
“Kau pecat saja dia.”
“Apa dia melakukan kesalahan?” tanya Manajer itu.
“Lakukan saja.”
“Maaf sir, jika tidak ada alasan untuk memecatnya kita harus membayar denda dan itu juga akan mempengaruhi kariernya di masa depan sir.”
Anthonino berpikir sejenak sambil mengetuk-etukkan pena yang ada di antara jari jemarinya yang panjang.
“Kalau begitu jauhkan dia dari London, New York dan Moscow, atur ulang rutenya, terserah bagaimana caranya, yang jelas sejak hari ini juga ia harus pergi dari kota ini secepatnya!” titah Anthonino.
Ketiga kota itu adalah kota-kota yang paling sering Anthonino kunjungi dan di masa depan ia akan terus membawa Keiko kemanapun ia pergi, entah kenapa ia khawatir gadis itu akan mengganggu hubungannya dengan Keiko, Keiko adalah gadis yang begitu polos, ia tidak ingin menyakiti istrinya dengan cara apa pun.
“Oh iya, satu lagi. Tokyo, ia tidak boleh ke Tokyo,” imbuhnya. Tokyo sepertinya akan mulai masuk list kota yang akan sering ia kunjungi.
Tak lama panggilannya berdering. Innesa, ibunya memanggilnya.
“Mama merindukanmu nak, kau sudah lama tidak menghubungiku, kau juga tidak berkunjung, apa kau melupakan mamamu ini?” suara wanita dindalam panggilan itu begitu lembut terdengar di telinga Anthonino.
“Mamaku yang cantik, tidak ada yang bisa melupakanmu, maafkan aku,” kata Anthonino dengan mulut manisnya.
“Usiamu tidak muda lagi kau berusia 31 tahun nak, kau seharusnya segera menikah.”
“Mama sebenarnya kau ingin cucu atau menantu?”
“Itu tidak penting bagiku, aku ingin kau memiliki tempat untuk pulang, istrimu kelak adalah tempat terbaik untuk kau kembali, rumah yang sesungguhnya.”
“Benarkah begitu?” bibir Anthonino menyunggingkan senyum.
“Kau akan merasakannya nanti nak.”
“Itu sebabnya kau selalu memaafkan kesalahan Feliks?” kali ini wajah Anthonino terlihat muram.
“Bagaimanapun dia ayahmu nak.”
“Tapi dia menyakitimu, dan juga menyakiti ibu kandungku.”
“Kau jangan berpikir terlaku banyak, itu urusan kami, sekarang kau harus fokus pada kebahagiaanmu, aku ingin kau segera menikah,” kata Innesa lembut menengangkan Anthonino.
“Aku akan membawa menantu yang sangat cantik padamu secepatnya mama.”
“Baik, aku tidak sabar untuk melihat calon menantuku, kami menunggu di Moscow.”
Wanita itu menutup panggilannya, ia memang selalu bertutur kata dengan sangat lembut.
Sepahit apa pun hidupnya, ia selalu tersenyum. Bahkan saat Feliks membawa wanita wanitanya ke dalam mansion mereka dan meniduri di depan matanya.
Wanita itu hanya diam.
Hingga sekarang Feliks sekarat dan terbaring koma selama satu tahun, ia dengan ikhlas merawatnya.
Anthonino benar benar tidak mengerti, betapa baiknya hati wanita yang membesarkannya.
“Kenapa kau tidak membiarkan ia mati saja?” tanya Anthonino suatu hari
“Jangan konyol dia ayahmu nak,” jawab Innesa dengan penuh kesabaran.
“Dia terkena balasan tuhan karena terlalu banyak menyakiti wanita,” kata Anthonino kesal.
Innesa hanya tersenyum sambil mengusap punggung Anthonino.
“Apa kau sangat mencintainya?”
“Mencintai atau tidak mencintai, aku harus menepati janjiku di depan tuhan untuk menerimanya senang susah miskin dan kaya.”
“Tapi ia penghianat.”
“Cukup sayang, jangan terus mengatainya,” bujuk Innesa.
Sejak usia Anthonino 20 tahun perusahaan telah di serahkan ayahnya atas nama Anthonino karena ia mulai sakit-sakitan, baru satu tahun ini kesehatan pria yang tak lain ayah kandungnya benar-benar menurun dan mungkin berada di ambang maut, namun entah kenapa Innesa menginstruksikan untuk merahasiakan keadaan itu, ia merawat sendiri suaminya dan menyulap sebuah kamar menjadi rumah sakit dengan peralatan canggih beserta tenaga medis yang terbaik.
Sementara Keiko ia bertemu dengan Nameera di sebuah cafe tak jauh dari gedung ia berlatih.
“Kau semakin cantik Kei,” puji Nameera, terakhir mereka bertemu adalah pernikahan Jonathan dan Tiffany.
“Terima kasih, kau juga cantik Nameera,” kata Keiko.
“Ku harap aku bisa melihatmu langsung di atas di catwalk saat New York Fashion week berlangsung.”
“Ya, kau belum pernah sekalipun melihat pertunjukanku,” kekeh Keiko. Kemudian gadis itu menggigit sebuah macaron yang ia pesan.
“Kau tampak begitu bersemangat hari ini Kei.”
“Benarkah?”
“Ya terlihat seperti gadis yang jatuh cinta,” goda Nameera.
Wajah Keiko tampak merah merona.
“Lihat wajahmu merona.”
“Aku tidak merona,” Keiko justru semakin gugup.
“Hahaha kau ini lucu sekali.”
“Aku hanya terlalu bersemangat untuk berlatih,” elak Keiko.
“Gadis cantik sepertimu akan mudah mendapat pria pengganti, kau pasti akan mendapatkan pria terbaik Kei,” ucap Nameera terdengar tulus.
“Aku selalu ingin menikah muda seperti kedua kakakku,” kata Keiko.
‘Kakakku? Mereka juga milikku!!!’ batin Nameera terasa kecut, kedua kakak laki lakinya tidak pernah memandangnya sedikit pun, bukan hanya itu, neneknya di Indonesia juga lebih menyayangi Keiko di banding ia cucu kandungnya. Lalu ketika Olivia dan Tiffany menjadi menantu di keluarga Tjiptadjaja ia makin tak di pandang keberadaannya.
“Bagaimana denganmu?” tanya Keiko.
“Entah lah, pria yang ku suka baru saja menikah dengan gadis lain,” kata Nameera dengan suara pelan.
“Oh ya? Maaf aku tidak tahu,” Keiko buru-buru meminta maaf.
“Tidak apa.”
“Jadi dia menghianatimu? Pria seperti itu tidak pantas kau pikirkan,” cerca Keiko, ia juga di tinggalkan priandi depan altar dan ia segera menemukan pengganti.
“Dia tidak menghianatiku,” kata Nameera.
“Lalu?”
“Aku menyukainya, dia tidak,” Nameera tertawa hambar.
“Kau begitu cantik dan sempurna, astaga pria itu benar benar bodoh, aku yakin dia juga buta, pria itu tidak pantas untukmu,” cerca Keiko lalu menyeruput mactha latte nya.
Nameera tertawa hambar mendengar cacian Keiko.
Tiba-tiba ponsel Nameera berdering, ia menjawab panggilan tanpa menjauh dari Keiko. Ekspresinya seketika berubah menjadi gelap.
“Kei, aku harus pergi, ada urusan mendadak,” katanya.
“Baiklah Nameera sampai jumpa,” kata Keiko sedikit terkejut karena melihat raut wajah Nameera yang tampak begitu kesal dan terburu-buru.
Photo sourch Instagram
JANGAN LUPA VOTE, JEMPOL DAN KOMEN YA TEMAN TEMAN 😙 SELAMAT MENIKMATI HARI LIBUR 💖💖💖💖❤❤❤❤❤