Ternyata 8 tahun bersama tidak menjamin cintanya bisa berpaling padaku, Aku tetaplah kalah dengan cinta pertamanya.
Maafkan Aku yang memilih menyerah, bukan karena aku tidak mencintaimu tapi aku lelah, lelah berjuang sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon airarahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertama
Agam berjalan dengan sedikit terburu-buru menuju kantin. Bukan karena perutnya sudah lapar, sama sekali bukan karena itu. Tapi dia ingin buru-buru mengerjakan tugas. Sudah begitu semangat saat memasuki kantin tapi semangatnya itu mendadak redup ketika melihat sosok Inez disana. Agam segera membalik tubuhnya menjauhi kantin.
Wajah datarnya kentara sekali kalau sekarang sedang kesal. Agam memutar arah mencari tempat yang sekiranya cocok untuk membuat tugas. Galih tidak mengikuti Agam karena dia lapar dan memilih bergabung bersama Inez.
Agam akhirnya menemukan tempat yang lumayan comfort. Walau banyak mahasiswa disana setidaknya mereka tidak ada yang mengobrol dan memang sibuk dengan tugas masing-masing. Kebanyakan yang ada disana adalah mahasiswa yang memakai kacamata tebal.
Tak jauh dari tempat Agam, kira-kira 100 meter. Jemima, Nicky, Yura dan Maria heboh dengan obrolan mereka. Entah apa yang mereka bicarakan yang jelas suara tawa mereka mengganggu konsentrasi seorang Agam. Agam menatap sengit pada gadis-gadis tersebut. Gadis yang tidak akan masuk dalam kriteria wanita idamannya. Berisik bukanlah sesuatu yang Agam sukai.
Agam sampai menutup laptopnya karena tidak bisa berkonsentrasi. Tangannya terkepal kuat. Dia menatap sengit pada keempat gadis-gadis itu.
“Hebat sekali orang-orang ini tidak terdistraksi sama sekali dengan kehebohan mereka” gumam Agam menatap kagum mahasiswa berkacamata di sebelahnya. Agam memasukkan laptop ke dalam tasnya. Dia memutuskan untuk mengerjakan di rumah saja. Toh juga deadline masih seminggu lagi. Agam berjalan melewati keempat gadis berisik yang merusak mood belajarnya. Wajah Agam begitu datar bahkan terkesan ketus. Tapi Jemima tetap saja mengaguminya.
“Hai Agam” dengan berani Jemima menyapa pujaan hatinya.
Agam melirik sekilas lalu berjalan tanpa menyapa.
Rasanya Jemima tidak bisa bernafas sekian detik. Susah payah dia mengumpulkan tenaga untuk menyapa Agam tapi responnya malah seperti itu.
Yura tertawa melihat kekonyolan sahabatnya itu.
“Udah tahu lagi mode senggol bacok malah di sapa” ledeknya pula.
“Namanya juga usaha”jawab Jemima tidak mau kalah.
Nancy dan Yura kembali menertawakan jawaban Jemima. Temannya ini memang pantang menyerah.
Lain Yura, lain pula Nicky. Nicky malah full support sahabatnya itu.
Dia menepuk bahu Jemima.
“Semangat, suatu saat nanti Agam pasti luluh sama kamu” ucap Nicky tulus.
Mendengar itu membuat tawa Yura semakin keras.
“Sampai lebaran monyet juga Agam gak bakalan suka sama dia” Yura bermonolog dalam hati.
Mata kuliah kedua dimulai, Agam kembali duduk disebelah Jemima. Kini Jemima sudah tidak setegang tadi. Dia malah sangat happy bisa sedekat ini dengan Agam.
Galih menghampiri Agam dan meminta bertukar duduk dengan pria yang saat ini duduk di depan Agam.
“Hai Jemima” Galih kembali menyapa Jemima.
Kali ini Agam ikut melihat ke arah Jemima. Mungkin ini kali pertama dia memperhatikan Jemima dengan kesadaran penuh. Biasanya dia hanya menganggap angin lalu teman-teman barunya. Rasa kecewanya pada sang mantan membuat dia benci pada semua wanita.
Jemima tersenyum pada Galih.
“Hai” balas Jemima. Kata Hai yang terdengar begitu merdu di telinga Agam. Tak lama Agam menoleh pada Jemima, selanjutnya dia fokus pada ponselnya.
“Kamu cantik” Galih menggombal pada Jemima. Lagi Jemima hanya mengulas senyum tipis. Dia sudah terbiasa mendengar orang-orang mengatakan dirinya cantik. Mungkin lebih tepatnya sedikit berbeda dari wanita dikelas mereka karena dia satu-satunya yang memiliki darah campuran. Mata birunya yang jernih memang sangat indah.
“Terima kasih” tak ingin terdengar sombong dia pun membalas pujian Galih.
Agam melirik sekali lagi pada Jemima.
“Ada bule ternyata di kelas” gumamnya dalam hati. Kemana saja dia selama ini baru menyadari kalau salah satu teman sekelasnya ada yang berdarah campuran?.
Menyadari Agam melirik ke arahnya membuat Jemima menggunakan kesempatan itu untuk menyapa Agam.
“Hai Agam” Jemima rupanya pantang menyerah. Agam mengingat sapaan itu. Tadi siang ada juga yang menyapa dia dengan intonasi seperti itu. Agam nampak mengingat-ingat. Sampai akhirnya dia mengingat keempat gadis yang merusak mood belajarnya.
Agam langsung memalingkan wajahnya. Entah kenapa dia kesal bila mengingat bagaimana tawa keempat gadis itu. Gadis yang menurut Agam sangat berisik.
Plak.
Galih memukul pelan kepala Agam.
“Dasar tidak sopan ! Disapa bukannya membalas malah memalingkan muka!!!” Galih berdecak kesal. Agam sebenarnya dulu bukanlah pria yang anti sosial seperti ini. Tapi semenjak putus cinta dirinya benar-benar malas dan menutup diri.
Sadar dengan kesalahannya Agam pun menoleh pada Jemima. Sekali lagi dia melihat gadis cantik bermata teduh disebelahnya.
“Halo” akhirnya setelah sekian purnama Agam mau membalas sapaan Jemima.
Jemima yang tidak menyangka kalau Agam akan membalas sapaannya sempat terdiam hingga sedetik kemudian dia melengkungkan senyumnya. Senyum yang sangat manis dan cantik.
….
“Kamu kenapa seperti itu? Jemima kan bukan mantan pacarmu. Dia sudah berbaik hati nyapa kamu duluan” Galih menegur dengan serius. Dia tidak ingin Agam terbiasa dengan sikap cuek nya ini. Padahal dulu Agam tidak seperti ini. Walau memang dia tidak seramah Galih.
Agam menopang dagunya.
“Tidak semua wanita seperti mantan pacarmu itu. Jangan cap semua wanita sama” Galih kembali berucap. Agam hanya manggut-manggut saja. Dia sadar kalau sudah keterlaluan.
“Sampai kapan kamu patah hati? Kayak tidak ada gadis lain saja” Galih mengolok-olok dirinya.
Agam tidak menjawab. Mendengar ceramah Galih sudah biasa buatnya.
“Tapi Jemima cantik kan? Aku suka melihatnya” setelah puas mengomel, Galih malah kembali mengingat bagaimana cantiknya Jemima.
“Senyumnya manis sekali, seperti permen yang siap di lahap” Galih bergumam lirih.
Agam hanya geleng-geleng kepala. Memang secepat itu Galih bisa mengagumi seseorang.
“Ini akun twitter Jemima” Galih memperlihatkan apa-apa saja yang sudah Jemima posting di akun sosial medianya.
“Dia memang cantik” entah sudah berapa kali Galih memuji kecantikan Jemima.
“Kalau cantik ya dekati” celetuk Agam malas.
Galih terkekeh.
“Kalau aku punya pacar nanti aku tidak bisa merayu cewek sana sini dong” Galih begitu jumawa, seolah Jemima akan menerima cintanya.
“Tapi sebenarnya aku lebih takut di tolak sih” ucapnya pula.
Agam melihat ke arah sahabat baiknya yang tidak pernah pesimis seperti ini sebelumnya.
“Tumben? biasanya over PD” sindir Agam.
Galih kembali terkekeh.
“Soalnya dia beda, dia gak natap kagum padaku kayak yang lain” jawab Galih sejujurnya. Jemima tidak malu-malu genit seperti kebanyakan gadis yang pernah Galih rayu.
Agam seketika tertawa, pertama kali dia mendengar jawaban pesimis seperti ini keluar dari mulut Galih.
“Dia enggak salting sama sekali lho padahal aku bilang dia cantik. Dia malah bilang terima kasih” Galih sedikit menggerutu. Padahal dia sudah menunggu momen salah tingkah dari si cantik Jemima.
Bersambung...
ini pendapat ku 🙂