Ini adalah novel religi pertamaku. Banyak banget yang butuh perbaikan sana sini. jika ada yang tidak sesuai, othor terima banget masukannya.
Tiba-tiba dilamar oleh seorang Ustad, membuat Arin berpikir dan melakukan berbagai cara untuk membatalkan pernikahan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
Aku mulai memberanikan diri menyampaikan niatku datang ke pondok. Aku hanya ingin tahu saja, sebenarnya apa alasan keluarga Huda melamarku. Bahkan setelah aku bersikap tidak sopan pun, kenapa mereka masih tetap melanjutkan acara lamaran dan ingin aku menikah dengan Huda? Padahal sudah jelas-jelas aku dan Huda tidak saling mengenal, ditambah lagi aku juga tidak mempunyai akhlak yang bagus dan cocok untuk pria seperti Huda.
"Kamu bilang aja. Kalau ada sesuatu yang mengganjal di pikiran kamu, kamu bisa bilang sama Ibu," ujar Nyai Rosyidah.
"Sebenarnya ada hal yang bikin saya penasaran, Bu. Makanya saya datang ke sini untuk mencari tahu," ucapku.
"Kamu penasaran soal apa?"
"Soal ... alasan keluarga Mas Huda melamar saya," ungkapku. "Jujur saya nggak ngerti kenapa Mas Huda melamar saya. Saya dan Mas Huda sendiri aja nggak saling kenal. Ditambah lagi, saya juga udah bersikap nggak sopan selama acara lamaran kemarin. Saya pasti sudah membuat Nyai dan juga keluarga kecewa. Tapi kenapa Mas Huda tetap melanjutkan lamarannya? Dan kenapa keluarganya ini juga mendukung? Padahal jelas-jelas saya bukan orang yang cocok untuk Mas Huda. Saya juga nggak berasal dari keluarga yang agamis seperti keluarga Nyai."
Nyai Rosyidah mengulas senyum padaku. Sepertinya memang ada hal yang aneh dengan keluarga ini. Atau mungkin selera mereka memang gadis urakan sepertiku?
"Kami semua percaya pada pilihan Huda. Huda sudah memilih kamu, Arin. Karena itu kami semua mendukungnya. Kami nggak keberatan mau gimanapun sikap kamu sebelum menikah, tapi kami yakin Huda pasti bisa membantu kamu menjadi pribadi yang lebih baik lagi setelah kalian bersama nanti," terang Nyai Rosyidah.
"Mas Huda memilih saya? Maksudnya apa, Nyai?" tanyaku bingung.
Belum sempat aku mendapatkan jawaban, tiba-tiba saja bocah kecil yang pernah aku lihat bersama dengan Huda pun muncul dan mendekat ke arahku. Kalau tidak salah, bocah itu bernama Riski.
Tiba-tiba saja bocah kecil itu berlari memeluk dan meminta duduk di pangkuanku. Aku benar-benar terkejut. Memang aku sudah terbiasa bermain dengan anak kecil seperti anak Mbak Musda. Tapi bukan berarti aku bisa langsung akrab dengan semua anak kecil di muka bumi.
"Eh, Riski? Kamu cari apa, Nak?" tanya Nyai Rosyidah pada sang cucu. "Riski, salim dulu dong sama Tante! Kok langsung main minta pangku aja?"
"Nggak apa-apa, Nyai," sahutku canggung dan kikuk. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Bocah ini muncul secara tiba-tiba dan mendadak naik ke pangkuanku.
"Wah, Riski seneng banget ya dipangku sama Tante Arin?"
Aku hanya bisa tersenyum kecut pada Nyai Rosyidah. Kutatap sejenak bocah mungil yang saat ini duduk di pangkuanku. Badannya kecil benar-benar lucu dan imut.
"Jadi ini yang namanya Riski, ya?" tanyaku mencoba mengajak bocah kecil itu berbasa-basi.
"Mungkin kamu udah tahu soal Riski? Atau Huda belum sempat bilang sama kamu?" tanya Nyai Rosyidah.
"Saya udah tahu semuanya, Nyai. Bapak saya udah cerita," ujarku.
"Riski ini anak yang spesial dan berbeda. Riski juga masih menderita trauma yang membuatnya sulit untuk menerima orang baru. Tapi berbeda sama kamu, kayaknya Riski beneran suka sama kamu," ucap Nyai Rosyidah.
Aku sendiri juga tidak tahu apa yang membuat bocah ini tiba-tiba berlari padaku. Padahal baru kali ini aku bertemu dengannya. Mana mungkin bocah seperti ini adalah tipe anak yang sulit untuk menerima orang baru?
Aku hanya bisa menampakan senyum untuk menanggapi perkataan Nyai Rosyidah. Aku tidak bermaksud ingin memanfaatkan anak kecil untuk mendekati Huda. Aku juga tidak berniat untuk menjadikan anak angkat Huda ini sebagai anakku juga, meskipun aku sudah dilamar oleh Huda.
"Riski ini benar anak angkatnya Mas Huda? Tapi benar anak dari kakaknya Mas Huda, ya?" tanyaku mencoba memastikan.
"Benar, Arin. Riski ini anak angkatnya Huda. Bukan anak kandungnya. Kamu jangan salah paham, ya? Huda belum pernah menikah sebelumnya, apalagi punya anak," jelas Nyai Rosyidah.
"Boleh Ibu tanya sesuatu sama kamu?" tanya Nyai Rosyidah tiba-tiba.
"Silakan, Nyai!"
"Apa kamu nggak merasakan apa pun saat berinteraksi sama Riski? Apa kamu nggak ingat sesuatu setelah kamu melihat Riski?"
Pertanyaan Nyai Rosyidah membuatku tercengang. Maksudnya apa? Kenapa Nyai Rosyidah bertanya seperti ini? Padahal aku tidak kenal Riski. Kenapa aku harus merasakan sesuatu saat berinteraksi dengan bocah ini?
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan dari Nyai Rosyidah. Perbincangan singkat antara kami pun berakhir sudah. Aku segera berpamitan untuk meninggalkan pondok pesantren.
"Saya pamit pulang dulu, Nyai. Titip Salam untuk Ustadz Wahab dan juga Mas Huda," ucapku saat pamit pada Nyai Rosyidah.
"Tunggu sebentar, Rin!"
Nyai Rosyidah masuk ke dalam rumah, kemudian keluar dengan membawa banyak bingkisan. "Ini titip untuk kamu sama orang tua kamu di rumah. Maaf ya Ibu nggak sempat nyiapin banyak buah tangan. Lain kali kalau kamu mau ke sini, kasih tahu dulu ya, biar Ibu bisa siap-siap?"
Nyai Rosyidah memberikan begitu banyak bingkisan makanan untuk aku bawa pulang. Padahal aku datang dengan tangan kosong, tapi Nyai Rosyidah justru membawakanku banyak oleh-oleh untuk kedua orang tuaku di rumah.
"Nggak perlu repot-repot, Nyai!"
"Nggak repot kok, Arin. Ibu senang kamu mampir ke sini. Sering-sering ke sini, ya?"
Aku tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Nyai Rosyidah. Rasanya malu sekali. Padahal sebelumnya aku sudah bersikap kurang baik di depan keluarga Nyai Rosyidah. Tapi mereka justru membalasku dengan beribu-ribu kebaikan.
Pertanyaan dari Nyai Rosyidah juga membuatku kepikiran. Sebenarnya apa maksud beliau bertanya seperti itu padaku? Memangnya apa yang harus kuingat saat aku melihat Riski?
****
semangat up nya thor 💪💪💪