NovelToon NovelToon
Untuk Nadira Yang Tersisa

Untuk Nadira Yang Tersisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Obsesi / Keluarga / Persahabatan
Popularitas:450
Nilai: 5
Nama Author: Kim Varesta

Sejak kecil, hidup Nadira tak pernah benar-benar aman. Jaka—mantan yang terlalu obsesif—menjadi bayangan gelap pertama yang menjeratnya. Keenan datang sesudahnya, lembut dan perhatian, tapi jauh di dalam hati Nadira tahu: perhatian tidak selalu cukup untuk menyembuhkan luka.

Lalu hadir Nalen. Seseorang yang membuat Nadira untuk pertama kalinya merasa dicintai tanpa syarat. Namun ketika ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah… justru pada malam hujan itu, dunia Nadira hancur di tangan orang yang seharusnya melindunginya.

Erwin. Sepupunya sendiri.
Pria yang memaksanya, merobek pakaiannya, membungkam teriakannya, menggagahi tubuh yang bahkan belum mengerti bagaimana cara melawan. Malam itu mencuri segalanya—harga diri, keamanan, suara, dan masa depan Nadira.

Tak ada pelukan yang cukup kuat untuk menghapus ingatan itu. Tidak Jaka, tidak Keenan… bahkan tidak Nalen yang datang paling akhir, saat semuanya sudah terlambat.

Yang tersisa hanyalah Nadira—dengan tubuh memar, jiwa koyak, dan hidup yang terus memaksanya berdiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Varesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian Kelulusan

🦋

Angin pagi berhembus lembut melalui jendela kamar Nadira. Meja belajarnya penuh coretan, tumpukan buku, sticky notes warna-warni, dan beberapa gelas bekas kopi sachet yang jadi saksi perjuangan seminggu terakhir.

Ujian kelulusan kali ini bukan hal biasa. Ini penentu dari masa depannya. Penentu apakah Nadira bisa melangkah menuju SMA impiannya, sebuah sekolah negeri favorit di kota yang selama ini cuma bisa ia pandangi lewat papan nama saat lewat.

Nadira belajar lebih keras daripada ujian-ujian sebelumnya. Bahkan Laura sampai berkata setengah bercanda,

"Dira, kamu itu manusia apa robot? Belajar terus, jangan lupa makan ya!"

"Kamu juga belajar ya," jawab Nadira tanpa mengalihkan pandangannya dari buku. Pensil di tangannya bergerak cepat, seperti takut waktu mencurinya.

"Iya, tapi aku masih manusia yang butuh jajan," Laura terkekeh. "Ini kamu udah minum kopi berapa sachet?"

Nadira berhenti sebentar, menghitung di kepalanya. "Nggak tau… tiga? Empat?"

Laura mendengus. "Aku takut kamu pingsan duluan sebelum pengumuman."

Tapi Nadira hanya tersenyum. Ada semangat yang berbeda kali ini. Ada harapan yang ingin ia gapai dengan usahanya sendiri.

Ia tahu, tidak semua orang menaruh harapan yang sama pada dirinya. Maka untuk pertama kalinya, ia ingin percaya penuh pada kemampuannya sendiri.

***

Hari pengumuman itu tiba.

Anak-anak memenuhi aula sekolah, suasana gaduh bercampur deg-degan. Ada yang tertawa keras untuk menutupi gugup, ada yang mondar-mandir sambil menghafal doa, ada juga yang duduk diam dengan wajah tegang.

Izarra menggenggam tangan Nadira sambil melompat-lompat kecil.

"Aku yakin banget kamu peringkat pertama, Dira! Yakin banget banget!"

Nadira menarik tangannya pelan, telapak tangannya dingin. "Aku nggak berani berharap, Zarra…" ujarnya lirih. "Takut kecewa."

"Lah, kenapa?" Izarra mencondongkan tubuhnya. "Kamu itu paling rajin, paling pinter, paling..."

"Zarra," Nadira memotong pelan. "Jangan bikin aku makin deg-degan."

Izarra mencibir. "Kamu tuh terlalu merendah. Padahal aku tau kamu juga pengenkan."

Nadira terdiam. Ia memang ingin. Sangat ingin. Tapi ia belajar untuk tidak mengucapkannya terlalu keras takut semesta mendengarnya lalu merenggut harapan itu mentah-mentah.

Vanya juga datang, menyenggol bahu Nadira. "Eh, kalau kamu bukan nomor satu, aku traktir bakso seminggu. Tapi kalau kamu nomor satu, kamu yang traktir aku ya."

"Aku bangkrut dong, Van," Nadira tertawa kecil, mencoba mengalihkan deg-degan di dadanya.

"Tenang," Vanya menyeringai. "Aku makannya dikit kok. Paling nambah dua mangkok bakso aja."

Izarra tertawa. "Lihat tuh, Dira. Bahkan Vanya aja percaya sama kamu."

Nadira menunduk, jari-jarinya saling bertaut. "Doain aja ya…"

Tiba-tiba, guru mereka naik ke podium.

"Baik, anak-anak, kita mulai pengumuman hasil kelulusan…"

Suara hening seketika.

Seolah seluruh aula menahan napas bersamaan. Semua mata menatap ke depan.

Jantung Nadira rasanya berdetak sampai ke telinga. Ia bisa merasakan detaknya di pelipis, di ujung jarinya, bahkan di tenggorokan.

"Peringkat pertama dengan nilai sempurna… jatuh kepada..."

Izarra sudah mengguncang bahu Nadira duluan. "DIRA! AKU YAKIN ITU KAMU!"

"Zarra, jangan..." Nadira belum sempat menyelesaikan kalimatnya.

Guru itu tersenyum sambil menyebutkan dengan lantang:

"Nadira Chava."

Waktu seperti berhenti.

Nadira membeku sejenak. Ia menatap ke depan, memastikan namanya benar-benar disebut. Bukan halusinasi karena terlalu capek belajar. Bukan mimpi.

Lalu, seperti ada angin besar lewat, semua kegugupan itu berubah jadi kelegaan yang mengalir deras ke seluruh tubuhnya.

Izarra memeluknya erat sambil berteriak, "AKU TAU! AKU TAUUU!"

Willona ikut merangkul Nadira dari sisi lain. "Gila… kamu beneran dapet nilai sempurna."

Nadira tertawa sambil menahan air mata. Dadanya sesak bukan karena sedih, tapi karena lega yang terlalu penuh.

"Traktiranku jadi ya?" Vanya berbisik di telinganya.

"Iya… iya, aku traktir," jawab Nadira, suaranya bergetar.

Pengumuman berlanjut.

"Dan peringkat kedua, jatuh kepada… Izarra Anindya."

Izarra langsung jongkok dramatis. "Yah… lagi-lagi aku nomor dua."

Seorang teman menimpali, "Tapi kan kamu juga dibantuin Nadira."

Izarra mendongak. "Iya sih, kalau tanpa Nadira, aku mungkin ranking lima belas."

"Berlebihan," Nadira mencubit lengannya pelan.

"Aduuuh, sakit! Tapi beneran, aku bangga banget sama kamu!" ujar Izarra sambil berdiri dan kembali memeluk Nadira.

Hari itu, dunia terasa manis buat Nadira. Bahkan suara bising aula terasa seperti musik latar yang menyenangkan.

Prestasinya akhirnya membawanya sedikit lebih dekat pada mimpinya.

SMA Negeri favorit itu terasa semakin mungkin digapai.

***

Sore harinya, Nadira memberanikan diri bicara dengan kakeknya. Sepanjang perjalanan pulang, senyum di wajahnya perlahan memudar, digantikan gugup yang tak bisa dijelaskan.

Ia menemukan Kakek Wiratama sedang duduk di teras sambil minum kopi. Tatapan kakeknya tenang, tapi entah kenapa selalu membuat Nadira merasa kecil.

"Kek… aku mau ngomong soal SMA."

Kakek menatapnya sebentar. "Hmm?"

Nadira menelan ludah. "Aku… pengen masuk sekolah negeri yang di kota itu. Yang rangkingnya tinggi."

Jawaban itu datang lebih cepat daripada napas.

"Nggak! Kakek gak setuju."

Seolah ada palu yang menghantam dadanya.

Nadira terdiam. "Tapi… Nadira pengen banget sekolah di sana, Kek. Itu sekolah impian Nadira."

Kakek membenarkan duduknya, suaranya tegas. "Kakek nggak punya kendaraan. Mau ke sana naik apa? Jauh. Kendaraan satu-satunya dipakai Fero buat sekolah."

"Tapi… Nadira bisa minta bantuan ayah"

"JANGAN!" Suara kakeknya meninggi.

Nadira kaget sampai memegang ujung bajunya erat. "Aku cuma..."

"Uang ayahmu itu buat bangun rumah," potong Kakek Wiratama, suaranya tajam seperti pisau yang baru diasah. "Emang kamu mau seumur hidup numpang terus kayak gini?"

Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa peringatan. Tanpa ampun.

Nadira merasa dadanya seperti di tusuk-tusuk.

"Emang kamu mau ganggu rencana ayahmu? Kamu tuh masih kecil, jangan egois!" lanjut Kakek Wiratama tanpa melihat betapa pucatnya wajah Nadira.

"Aku… aku nggak bermaksud ganggu siapa pun, Kek," suara Nadira hampir tak terdengar. "Aku cuma ingin sekolah lebih baik aja."

"Sekolah di sini juga baik! Lagian kamu itu anak perempuan. Gak usah jauh-jauh."

Perempuan. Tidak boleh jauh-jauh. Tidak boleh bermimpi terlalu besar.

Nadira menunduk. Ada rasa panas di matanya. Ada sesuatu di dadanya yang seperti retak perlahan, lalu runtuh tanpa suara.

Sementara itu, kakek sudah berdiri dan melangkah masuk ke rumah, seolah obrolan itu sudah selesai.

Pintu tertutup.

Tersisa Nadira… sendirian di teras. Dengan hati yang terasa seperti diremas.

***

Di kamar, Nadira duduk di ujung ranjang. Cahaya sore masuk lewat jendela, tapi entah kenapa ruangan terasa gelap.

Ucapan Kakek Wiratama terus berulang di kepalanya:

"Emang kamu mau seumur hidup numpang terus kayak gini?"

"Kamu anak perempuan."

"Gak usah jauh-jauh."

"Apa aku… beban?" gumamnya pelan.

Ia memeluk lututnya, bahunya bergetar. "Aku tau aku cuma numpang di sini… tapi apa harus kakek bilang kayak gitu?" suaranya pecah.

Ia menggigit bibir, menahan suara agar tidak terdengar Fero… ataupun Erwin.

"Aku cuma mau sekolah yang bagus… apa itu salah?"

Tangannya mengepal di atas selimut. Semua prestasinya tiba-tiba terasa sia-sia.

Nilai sempurna yang tadi membuatnya bahagia… terasa hambar sekarang.

"Kenapa… mimpi aku selalu dianggap terlalu besar?" bisik Nadira sambil mengusap air matanya yang tak berhenti jatuh.

Teleponnya bergetar.

Pesan dari Izarra:

Dira, kamu udah ngomong sama kakek? Gimana hasilnyaaaa? Pasti diizinin dong!

Nadira menatap layar itu lama. Jemarinya gemetar di atas keyboard.

Senyumnya getir.

Ia mengetik pelan:

"Nanti aku cerita ya, Zarra."

Lalu ia letakkan ponselnya di samping bantal, seolah benda itu terlalu berat untuk disentuh lebih lama.

Pelan-pelan, Nadira berbaring dan menatap atap rumah kayu itu. Atap yang sama sejak ia kecil. Atap tempat ia tumbuh… tapi juga atap yang selalu mengingatkannya bahwa ia hanyalah penumpang.

Di luar, suara ayam dan angin sore berbaur. Sesekali terdengar langkah kaki di ruang tengah, suara pintu, suara sendok beradu, kehidupan berjalan seperti biasa.

Tapi di dalam dadanya, semuanya terasa sunyi.

Sunyi… dan sakit. Dengan air mata masih mengalir, Nadira memejamkan mata.

Ia tahu satu hal, meski luka ini baru saja terbuka, ia harus memikirkan langkah selanjutnya.

Karena mimpi yang sudah dibangun dengan air mata dan usaha… tidak bisa mati begitu saja hanya karena satu kalimat.

Tapi untuk malam itu, Nadira mengizinkan dirinya untuk menangis. Karena mimpi besar memang berat. Dan perjalanan Nadira baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!