Dean tidak pernah berpikir dia akan hidup. Setelah dua kali terkena hujaman peluru, dan tubuhnya yang terbentur bertubi-tubi di lereng tebing. Dia yakin, pas dirinya terjun ke laut Dia pasti mati!
Siapa sangka, tubuhnya masih kuat terbawa arusnya ombak, dan terdampar di tepian pantai. Meski begitu, dia masih berpikir...
Dia pasti, akan mati!
Wanita itu.... Yah... Bisa dibilang malaikat penyelamat hidupnya. Dengan sepasang kakinya yang indah bertelanjang kaki berlari kecil di atas pasir menghampirinya. Menemukan tubuhnya yang malang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 Ancaman
Matahari belum mengeluarkan sinarnya. Langit masih gelap namun udara makin dingin. Suara kokokan ayam sudah terdengar dimana-mana, baik itu dari peternakan Nina maupun ditempat lain. Udara sejuk melewati embun pagi menampar permukaan kulit pria itu.
Dean perlahan-lahan membuka mata. Maklum, sudah terbiasa bangun cepat karena tentara dilatih begitu. Dalam kondisi setengah mengantuk, dilihatnya ada sosok berambut panjang. Duduk di depan tungku perapian membelakangi dirinya.
Hantu, 'kah?
Diantara keremangan, dan tidak begitu jelas penglihatannya, sosok itu jadi terlihat seperti bayangan. Untunglah, dia tidak takut hal berbau mistis. Bulu kudunya tidak merinding sama sekali. Tapi dia percaya Dunia lain itu ada.
Anehnya, kenapa disekitar sosok itu ada perabotan pecah belah? Dan terdengar suara orang mengunyah? Apa hantu itu lagi makan? Lalu menggelar piknik di sini?
Hei, Hantu! Ada aku di sini. Apa aku tidak penting untuk kau takut-takuti?
Atau jangan-jangan ini ilusi? Dean melebarkan kedua matanya, mengedip-ngedipkannya kemudian.
Tidak, ini tidak mimpi, benar-benar nyata! Jika ini hantu, percuma digebuknya pasti lewat. Hantu sebangsa roh, 'kan? Jika ini manusia, digebuknya pasti sakit. Tapi bila manusia, orang sini, 'kah? Atau gelandangan?
Dari pada terus menerka-nerka, lebih baik dipastikannya. Perlahan-lahan dengan pergerakan sehalus mungkin, dia meraih tongkatnya. Rupanya pergerakannya bisa dirasakan oleh sosok itu, dengan memalingkan kepalanya.
“Nina!” Dean terbelalak.
Yang diserunya buang muka, lanjut makan lagi.
"Jam segini, kau sudah bangun?”
Yang ditegurnya tetap diam.
Dean menghampiri, duduk di sebelah orang yang membisu itu. Ada buah, salad sayur, roti, dan minuman hangat tergeletak di bawah.
Bale bambu memang bersebelahan dengan api unggun.
“Kupikir tadi hantu, atau penduduk sini, atau orang asing. Rupanya kau.”
Nina tetap tak bergeming.
“Aku tak menyangka pagi buta begini kau sudah bangun.”
Tetap diam.
“Kau suka sarapan di sini?”
Nina memberi respon dengan berdiri, dan berjalan pergi.
Mendelik. "Hei, kau mau kemana?”
“Aku sudah kenyang."
Apa ini maksudnya? Apa Nina secara nggak langsung sedang memberinya makan? Di bawah tungku, memang masih ada makanan yang belum di makan.
"Dasar, wanita ini..." Dean senyum-senyum.
Wanita satu itu memang punya cara tersendiri untuk peduli padanya. Meski terlihat gengsi, tapi tak mengurangi rasa perhatian darinya. Segera dia melahapnya.
Jam berapa Nina bangun? Kenapa tidak terdengar olehnya suara berisik di dapur? Begitu lelap kah dia tidur? Tapi, masa iya? Seharusnya nggak begitu. Dia ini kan tentara. Ah, tahu ah.
Nggak lama pria itu menaruh peralatan makan di dapur. Wanita itu sedang menyulam di ruang tamu.
Usai mencuci piring, Dean datang menghampiri.
“Terima kasih untuk makanannya."
Menoleh. “Duduklah di situ.”
Yang disuruh menempatkan pantatnya. Nina menarik nampan di bawah meja yang telah dipersiapkannya.
“Bukalah baju kau, dan taruhlah kaki kau yang terluka di atas meja."
Dean mengikuti instruksi. Sepanjang Nina mengobati, Dean mengamati.
Oh... Wanita ini. Bagaimana mungkin dia tidak jatuh hati? Masih saja peduli atas semua hal menjengkelkan yang diperbuatnya.
“Seharusnya aku tidak memberi kau obat lagi. Aku begini, biar kau cepat sembuh. Jadi besok perban dan bebat kau sudah bisa di lepas."
“Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih, Nina."
Tidak membalas.
"Oh iya, kulihat tangan kau sudah baik-baik saja. Aku minta maaf atas kelakuanku. Cengkraman tanganku pasti menyakitkan."
Tetap tak bergeming.
"Dari kemarin aku ingin menanyakan, tapi situasi diantara kita tidak memungkinkan."
Nina tetap memberi reaksi yang sama.
Menghela nafas. "Yah... Baiklah."
Setelah selesai, karena terus didiamin, Dean pergi. Nina memandangi punggung orang yang meninggalkannya.
Kalau mereka ini sebangsa ras binatang. Anggaplah dia ini singa gadungan. Kadang baik, kadang galak, tidak konsisten!
Di luar, Dean mengamati jendela ruang tamu yang tertutup hordeng. Sudah beberapa kali Nina menunjukkan sikap peduli padanya meski sedang diliputi marah. Tapi sejatinya jika seorang pria bertemu wanita seperti Nina. Itu jadi suatu tantangan tersendiri untuk menaklukannya.
"Si cantik yang menggemaskan."
**********
Srekkk... Srekkk... Srekkk...
Suara keberisikan di luar membuat Nina jadi terbangun dari tidurnya. Alangkah terkejutnya dia saat membuka mata mendapati tubuhnya ditutupi selimut. Siapa melakukan ini? Dean, ’kah?
Tadi, saat pria itu masuk rumah mau menanyakan, apa boleh pinjam handuk? Dia mendapatkan wanita itu tidur. Lekas dia mengambil selimut di kamar, digelarnya ke tubuh yang terlelap itu. Akibat kurang tidur, wanita itu memang tanpa sadar menjatuhkan kepalanya ke kepala sofa.
Segera Nina bangkit dari sofa, berjalan ke jendela, membuka hordeng.
“Hei! Buat apa kau menyapu?”
Menoleh. “Oh! Kau sudah bangun.”
“Aku tanya, buat apa kau menyapu?”
“Aku tidak ada kerjaan. Jadi aku menyapu saja.”
“Aku tidak butuh tenaga kau.”
“Tidak masalah, aku melakukannya suka rela.”
“Hei, dengar ya. Subuh tadi aku baik, bukan berarti aku berubah pikiran tidak mengusir kau!”
“Ya, ya, aku dengar. Dan aku tahu pasti, keputusan kau tidak berubah.”
“Ugh!” Nina mendengus, balik badan.
Dean memandangi wanita pujaannya yang berjalan masuk kamar.
Sudah selesai bagian ini, Dean pindah ke samping kamar Nina. Dengar itu, ternyata yang punya kamar jadi kembali emosi. Lekas berjalan ke jendela.
“Hei, kau jangan menyapu di sini!”
Menoleh. “Kenapa?”
“Nanti tanamanku rusak!”
"Tapi tadi aku nyapu di halaman depan, kau tidak seprotes ini."
"Itu karena di sana bukan tanaman mahal. Sudah sana pergi!"
“Ya ampun, Nina... Aku tahu caranya menyapu. Tidak mungkin aku merusaknya.”
“Aku tidak mau, sana pergi!"
“Tanggung, Nina... Masa, aku mengerjai setengah-setengah?”
“Sudah, sana pergi! Aku tidak mau. Lagi pula, sudah kubilang aku tidak butuh tenaga kau!”
“Aku ini lagi menggerak-gerakkan kakiku. Bukankah kakiku yang terluka ini harus banyak gerak? Jadi biarkanlah aku menyapu hingga selesai.”
“Kalau kau ingin mengerakkan kaki, kau keliling saja pulau ini.”
Menggeleng. "Astaga, Nina..." Mengalah. “Baiklah, baiklah.”
Namun baru beberapa langkah saja orang yang diusir itu pergi, balik lagi berdiri di jendela.
“Nina!”
Orang yang dipanggil sontak menoleh.
“Kenapa kau balik lagi?"
“Tidak... Aku ke sini hanya mau bilang pinjam handuk.”
“Oh! Nanti kukasih."
“Terima kasih.”
Beberapa saat kemudian, kerjaan Dean telah selesai. Dia lagi duduk di ayunan menunggu yang punya rumah mandi. Handuk sudah didapatnya digenggamnya di tangan.
Ayunan memang berada di depan teras, di sisi kanan. Dan memang sejajar dengan kamar mandi.
Tak lama terdengar suara pintu di buka, Dean spontan menoleh. Sontak kedua bola matanya membesar.
Gila! Wanita ini... Kenapa keluar pakai handuk? Bukannya pakai baju di dalam kamar mandi. Bagaimana bisa Nina bersikap acuh dengan lingkungannya sendiri? Kalau ada pria yang menerkamnya, bagaimana? Dan bagaimana juga Nina bisa acuh padanya? Dia ini kan pria.
Beberapa jam kemudian, mereka makan siang bersama. Perempuan itu berbaik hati mengundang lelaki itu masuk ke dalam. Mereka duduk di meja makan saling hadap-hadapan.
“Jangan lupa, besok kau lepas perban dan bebatnya," ujar Nina.
"Iya."
"Dengan ini berarti urusan diantara kita sudah selesai. Karena itu, sebaiknya besok kau pergi dari sini. Aku saat ini perbuat baik lagi bukan berarti pikiranku berubah. Aku tetap pada pendirianku. Kuharap kali ini, kau patuh. Jangan terus membuatku jengkel."
Merespon lain. "Kenapa kau keluar pakai handuk? Apa kau sering melakukan itu, Nina?”
Mengerutkan dahi. “Hei, aku lagi bicara apa, kau bicara apa. Kenapa kau bicara diluar topik?”
“Aku tanya sekali lagi, apa kau sering melakukan itu?” Dean mendesak, mengeluarkan aura tak bersahabat.
Ih, kenapa pula pria ini? Kenapa memasang muka seperti monster?
“Apa urusan kau?!” hardik Nina.
“Kau ini wanita. Kau tinggal sendiri di sini, bukan? Itu tidak baik untuk kau. Kau seharusnya mawas diri. Jika ada pria menyergap kau lalu perbuat senon*h, bagaimana?”
Siapa juga yang mau begitu. Orang-orang sini saja pada jijik padaku, menoleh juga nggak. Aku ini dijuluki wanita terkutuk, tahu. Mana ada pria sini mau menggangguku.
“Mau aku pakai handuk, atau tidak kek, itu bukan urusan kau! Hei, ingat! Memang kau ini siapa?”
Meraih tongkat, perlahan berdiri. “Kalau kau tetap begitu, jangan salahi aku, kalau aku yang akan menyergap kau!”
Mendelik. “Apa maksud kau?"
"Kau paham maksudku." Dean berjalan pergi.
Nina mengepal kedua tangannya geram.
Ada apa dengan pria ini? Apa otaknya sudah konslet? Memang aku miliknya, apa? Orang tua bukan, saudara bukan, pacar apa lagi.
"Sudah dikasih makan, bukan cuci piring, malah pergi. Terima kasih juga, nggak."
Wanita itu lanjut makan lagi. Namun nggak lama berhenti. Sekujur bulu kudunya tiba-tiba merinding. Terang, teringat ancaman tadi. Takut itu menjadi nyata.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=@.@\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa kasih rating bintang 5, like dan komen. Tinggalkan jejakmu...
terimakasih ya kak ❤️❤️❤️❤️
setelah greget baca dewi dan mas kris