NovelToon NovelToon
Mr. Costra

Mr. Costra

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:14.4M
Nilai: 5
Nama Author: DIANAZ

Enrico Costra yang tampan dan kaya merasa hidupnya tidak lengkap. Melihat teman sekaligus rekan bisnisnya berbahagia bersama istri dan anak-anak, membuat ia merasa hidupnya kurang. Rasa sepinya bertambah ketika gadis perwaliannya dibawa pergi oleh suami yang menikahinya. Ia menyadari untuk pertama kalinya bahwa kata 'pernikahan' adalah hal yang menarik, lalu memutuskan ia juga menginginkan hal itu.


Vivianne Margue datang ke Mansion Costra mencari sepupunya yang bekerja sebagai asisten kepercayaan pemilik perkebunan Costra Land. Ia datang bersama neneknya, membawa masalah yang akan menentukan hidup Vivianne di masa depan.


Pertemuan pertama dengan Vivianne membuat Enrico terkesima ... gadis itu ... sama sekali tidak tertarik kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIANAZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Aunt Oliv

Enrico memandangi pemandangan kota lewat kaca bagian belakang mobil yang tengah dikendarai Frederic. Setelah mengantarkan koper mereka ke hotel, Frederic kembali ke kediaman Mansion Sanchez dan menjemputnya. Alan yang ingin kembali ikut dengan Enrico terpaksa diam dan berhenti merengek ketika Ally dan Lucius terlihat kecewa dan agak marah karena Alan mengatakan ingin ikut lagi menginap dengan paman Riconya.

Rico hanya sekedar menawari Alan untuk ikut bersamanya mengunjungi bibinya yang juga berada di kota itu. Ia tahu Ally tidak akan mengizinkan, Ally pasti merindukan bocah itu setelah beberapa hari tidak bertemu. Namun Rico tetap mengajak Alan hanya untuk memancing Lucius agar merasa kesal. Ajakan yang akhirnya dengan berat hati tidak dipenuhi oleh Alan setelah Ally dan Lucius mendelik dan cemberut ke arahnya.

Ponsel Frederic tiba-tiba berdering dalam keheningan mobil, ia melirik dan melihat nama Vivi tertera di layar. Frederic melirik ke kaca dan mengintip tuannya yang masih menoleh ke arah kaca, seperti tidak menyadari apapun.

"Angkat ponselmu, Fred."

Enrico mengucapkan kalimat itu tanpa menggerakkan kepalanya. Ia tetap memandangi pemandangan di luar kaca.

Perlahan Frederic mengurangi kecepatan dan menjangkau ponselnya.

"Ya, Vivi ...."

"Oh, Sepupu. Apakah kau sudah sampai?"

"Sudah. Tapi sekarang aku sedang menyetir. Kami akan mengunjungi Bibi Tuan Rico." Frederic berusaha mengucapkan kalimatnya dalam nada pelan agar tidak mengganggu tuannya.

"Oh, maaf kalau begitu. Aku mengganggu. Aku hanya ingin tahu kau sudah tiba di sana atau belum. Syukurlah kau tiba dengan selamat. Sudah dulu ya,"

"Kau tidak mengganggu, Vivi. Ya sudah. Kau beristirahatlah. Aku akan menghubungimu dan nenek jika sudah tiba di sana."

"Baiklah, Bye Fred."

"Bye, Vivi."

Frederic mematikan ponsel dan kembali fokus menyetir.

"Ada kabar dari rumah?"

Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Frederic melirik kembali ke arah kaca. Tuannya masih bersandar sambil memandangi kaca mobil.

"Itu tadi Vivi, Tuan. Hanya menanyakan apakah aku sudah tiba."

"Oh ...."

Frederic kembali fokus pada jalanan ketika tidak lagi terdengar suara dari tuannya. Mereka berkendara dalam diam hingga tiba di jalanan lengang yang berada di lokasi di pinggir kota. Sebuah lingkungan perumahan yang di dominasi dengan rumah-rumah bercat putih dengan halaman penuh tanaman. Ukuran rumah di lingkungan itu tidak terlalu besar.

Frederic menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah dengan petak-petak bunga lavender di sisi kiri dan kanan jalan setapak menuju pintu depan. Setelah memarkirkan mobil di pinggir jalan, ia turun dan bermaksud membukakan pintu untuk tuannya. Namun Enrico sudah turun lebih dulu dan melangkah menuju pagar depan rumah yang berwarna putih.

Enrico melangkah di sepanjang jalan setapak berbatu diikuti oleh Frederic beberapa langkah di belakangnya. Ketika tiba di beranda, pintu depan rumah putih itu tiba-tiba terbuka. Seorang wanita berambut hitam membuka pintu lalu menyandarkan sebelah bahunya ke bingkai pintu. Kedua lengannya bersedekap dengan mata memandang Enrico dan Frederic secara bergantian dibalik bingkai kacamatanya.

"Hanya kalian?" tanya wanita itu dengan alis terangkat.

"Halo Bibiku yang cantik. Memangnya siapa yang ingin kau lihat." Enrico mendekat, lalu menunduk untuk mencium pipi bibinya yang masih menghalangi di pintu masuk.

"Dimana bocah tampanku?"

"Dia tidak ikut."

"Lalu untuk apa kau kemari kalau Alan tidak dibawa!"

"Ah, Bibi ... kau melukai hatiku. Aku merindukanmu Bibi tapi kau rupanya hanya merindukan Alan."

Olivia Mirelle De ville. Wanita 55 tahun yang merupakan adik dari almarhum ibu Enrico mendengus sambil berbalik, ia mendorong pintu lebar-lebar lalu menoleh dan melirik ke arah Frederic.

"Masuklah Fred," ucapnya dengan senyum tipis.

"Kau tidak mengajakku masuk?" Enrico menyeringai lebar pada bibinya yang melirik sinis.

"Kau akan masuk sendiri tanpa kupersilahkan anak nakal! Aku masih kesal padamu!"

Enrico tertawa dan mengikuti bibinya masuk ke dalam rumah. "Kau selalu kesal padaku Bibi Oliv."

Olivia duduk di kursi tamu dan menunggu keponakan dan asistennya itu duduk mengikutinya. "Kulihat kalian tidak bawa koper. Apa artinya kalian akan menginap di hotel?"

"Ya, Bibi," jawab Enrico. Ia lalu terkekeh ketika melihat bibinya menarik napas lega sambil memegang dada.

"Syukurlah ... aku tak perlu menghadapi masalah yang tidak diinginkan. Uban di rambutku bisa muncul semua karena ulahmu jika kau menginap di sini."

Tawa Enrico makin kencang. " Ubanmu sudah muncul banyak Bibi. Kau hanya menutupinya dengan cat rambut," sindir Enrico dengan nada manis.

"Biar saja. Semua teman dalam grup berkebun kami mengecat rambut mereka. Menandakan kami penuh semangat muda!"

Enrico tidak membantah, ia hanya tertawa dan menatap bibinya dengan sinar mata lembut.

"Katakan padaku, kau punya pasangan untuk ke pesta pernikahan temanmu itu?" Olivia tahu, keponakannya datang karena akan menghadiri acara pesta pernikahan seorang relasi yang keluarganya sudah seperti keluarga sendiri bagi Rico.

"Memangnya kenapa, Bibi? Kau akan menyediakan pasangan untukku ke pestanya nanti?"

Olivia tidak menjawab, ia menyambut seorang wanita paruh baya yang datang membawa nampan dan meletakkan minuman serta penganan di atas meja tamu. Setelah selesai dan pelayannya mohon diri, Olivia baru menjawab.

"Tidak anak nakal. Aku menyerah padamu! Aku tidak akan lagi mengumpankan para gadis kenalanku padamu lagi! Fred, ambil minumanmu ...." Olivia mengulurkan cangkir pada Fred yang menjawabnya dengan anggukan.

"Bukan salahku, Bibi. Aku suka bersama para gadis manis yang kau kenalkan, tapi mereka sepertinya kewalahan denganku," ucap Enrico.

Olivia mendengus. "Kau mematahkan hati mereka, Tuan Costra!"

Enrico hanya mengangkat kedua bahunya dan mengambil cangkirnya sendiri lalu menyesap seteguk minuman teh berbau harum yang disuguhkan bibinya.

"Kalau aku belum punya pasangan bagaimana? Apa Bibi mau pergi denganku? Alan dan Ally akan senang bila aku datang bersamamu."

Olivia membelalakkan matanya, setelah beberapa detik lalu mata berwarna hijau wanita yang masih cantik meski sudah berumur itu menatap Enrico dengan menyipit.

"Jangan katakan kalau kau kehabisan teman kencan, Anak nakal. Kasihan sekali," sindir Olivia.

"Tidak Bibi. Aurora, Lizzy, Betty, Nora , Beth, siapa lagi ya ... aku banyak lupa nama mereka. Kurasa dengan senang hati akan menemaniku bila aku menelpon mereka. Aku ingin pergi denganmu ... dan ada sesuatu yang ingin kubicarakan. Aku membutuhkan sedikit bantuan darimu."

Alis hitam Olivia terangkat, dengan rasa penasaran ia tersenyum kecil pada keponakannya.

"Kau jarang meminta bantuanku, Rico. Ada apa? Sesuatu yang tidak bisa kau selesaikan?"

"Aku tidak akan membicarakannya sekarang denganmu." Rico melirik Frederic yang hanya mendengarkan sambil menikmati teh wangi di tangannya.

"Hmm ... Baiklah." Olivia mengangkat bahunya. Tahu akan percuma bila ia tetap memaksa untuk membicarakannya sekarang.

"Pestanya lusa bukan?" tanya Olivia.

"Ya. Aku akan menjemputmu, Bibi."

"Kalau begitu, besok datang kemari. Jemput dan antarkan aku ke tempat Maurice."

"Memangnya Bibi mau apa ke tempat Maurice?"

"Aku tidak mau kelihatan ketinggalan zaman dengan gaun yang ada di lemariku. Aku akan ke pesta pernikahan didampingi seorang Enrico Costra. Penampilanku tidak akan kalah denganmu nanti. Jangan sampai orang-orang hanya memperhatikanmu dan tidak memandangku!" Olivia mendongakkan dagunya angkuh. membuat Enrico tertawa dan Frederic tersenyum lebar.

"Aku percaya Bibi tidak akan mengecewakan. Semua orang akan bertanya-tanya, siapa wanita yang digandeng Tuan Costra. Mereka akan mengira aku beralih menyukai wanita lebih tua." Enrico tertawa kencang membayangkan dirinya menggandeng sang bibi di pesta pernikahan Lance.

"Dasar anak nakal. Semua orang tidak akan berpikir demikian! Ketika mereka tahu kau datang bersama Olivia Mirelle mereka akan tahu darimana kau mendapatkan ketampanan dan aura memesona itu! Keluarga De Ville yang mewariskannya padamu," ucap Olivia bangga.

Enrico hanya tersenyum, kembali menyesap minumannya sambil menyusun rencana bagaimana membuat bibinya berpartisipasi pada rencana yang telah ia pikirkan di sepanjang perjalanan. Rencana untuk menahan Arabella agar tidak meninggalkan Mansion Costra, sehingga Vivianne juga akan tetap di sana dan Frederic tidak lagi punya alasan untuk memindahkan kerabatnya itu.

**********

From Author,

Halo, semua. Apa kabar? Semoga sehat selalu ya. Banyak yang nanya kenapa lama sekali Di gak up lagi. Sebenarnya ada pemikiran untuk hiatus dulu dan istirahat. Mood menulis sepertinya lagi anjlok, hehe... Doain semoga balik lagi ya... Kisah ini sayang banget kalo gak diteruskan. Bukan begitu?

Terima kasih sudah singgah di Mr. Costra ya.

Salam hangat, DIANAZ.

1
MoonChild7
entah kebarapa kali baca Mr.Costra dan selalu jatuh cinta sm playboy yg satu ini 😍😍😍
Tikus Tikus
engga bosen bacanya...sudah berulang kali bacanya ...
MPit Mpit MPit
aku mau seneng novel kaya ginih sat set sat set gak belibed..tp maniiiiis ih dr awal
MPit Mpit MPit
manissss ih
MPit Mpit MPit
kok maniiiis amat yah bab inih 😄
destiana
Luar biasa
Puspa Ayundari
hhhhhhh gue suka gaya loe ,tuan rico...
Ran Aulia
Luar biasa, te o pe banged kak , berasa nonton film romance ❤️❤️❤️❤️❤️
Terima kasih ya kak Diana 😍😍😍😍
Kios Flio
omo omo...😅🤣🤣🤣🤣 ngakak thorr....
Qiao Jingjing
Dari banyaknya novel, menurutku novel ini sangat pantas diberi rating bintang ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️
Tata bahasa baku,rapi,lain dari pada yang lain.
YuWie
agak2 bingung dengan nama2nya
Besse Sulfiani
Kapan ada karya barunya kk. aku udh bolak balik bacanya. udh gk terhitung. jatuh cinta dengan semua ceritanya yang berlatar LN. semoga sehat, semangat dan dimudahkan rejekinya 🤲
posutara ramli ramli
Luar biasa
Fatmawatiiska Fatmawatiiska
kk dianaz,kenapa karya ngak ada lagi,ada dilapak lainnya,ini udah kesekian kalinya aku baca yg ini kk,kayak nya udah lama aku ninggalin lapak ini,pertama buka maka nama dianaz di klik, berharap ada karya yang baru,tapi Taka ada😚😚😚
Yuli Yuliana
Kecewa
Ummu Shezan
Luar biasa
guest1053764442
udah baca yg k 2 kali 🤗🤗
🥑⃟вуυηgαяι
ah rsany blm pen brhenti baca 😩😩 ada kh sekuelny😅🙈
🥑⃟вуυηgαяι
ah manizzzz kek gula2
🥑⃟вуυηgαяι
asli bkin ngekek 😅😅🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!