Karena sebuah kesalahan satu malam, Ayaneru terjebak bersama seorang pria asing yang membuatnya hamil.
Namun Ayaneru yang sebenarnya sudah dijodohkan dengan seorang pria terhormat, memutuskan untuk pergi ke luar negeri karena merasa kotor dan tak pantas. Hingga dia ingin menggagalkan perjodohan itu dan malah berniat untuk merawat bayinya seorang diri.
Namun, 5 tahun kemudian Ayaneru kembali ke Tokyo dengan membawa kedua buah hatinya yang sangat jenius.
Apakah takdir akan mempertemukan mereka dengan sang ayah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anezaki Igarashi Ricky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekecewaan Leon ?
Sebuah mobil sport super mewah keluaran terbaru mulai menepi di depan sebuah jalan, lalu mulai memasuki sebuah gang di suatu kompleks perumahan. Hingga akhirnya mobil itu mulai berhenti di depan sebuah rumah besar yang memiliki halaman yang cukup luas.
"Terima kasih karena sudah mengantarku, Tuan. Kalau begitu aku pulang dulu." ucap Ayaneru dengan nada rendah, layaknya dia sedang berbicara dengan atasannya.
"Hhm. Pulanglah!" sahut Reo terlihat dingin dan cuek, namun sebenarnya dia masih merasa sangat penasaran dan ingin tau tentang wanita itu.
Namun, belum sempat sepenuhnya Ayaneru keluar dari mobil Reo, tiba-tiba saja hujan yang cukup deras mulai turun sehingga Ayaneru kembali masuk ke dalam mobil dan sedikit menutup pintu itu.
"Ada apa? Apa kamu mau pulang ke rumahku saja bersamaku?" sebuah pertanyaan yang terdengar cukup aneh untuk Ayaneru mulai dilontarkan oleh Reo.
Dasar pria ini!! Apa dia tidak melihat jika saat ini sedang hujan? Atau memang dia tidak punya hati dan memintaku untuk segera turun dari mobilnya?! Huft ... jika saja aku membawa payung, aku pasti akan segera turun! Menyebalkan!
Batin Ayaneru menatap Reo kesal.
"Huft, ya sudah ... tunggu sebentar! Aku akan mengantarmu!" ucap Reo sedikit mendengus dan mulai mengambil sesuatu dari salah satu laci penyimpanan kecil di bawah.
Lalu Reo mulai membuka pintu kemudi dan segera turun dari mobilnya dengan membawa sebuah payung berukuran sedang. Lalu Reo mulai melenggang mendekati pintu samping kemudi dan memberikan isyarat agar Ayaneru segera turun dari mobil.
Ayaneru dengan patuh segera membuka pintu dan turun dari mobil. Kini mereka berdua menggunakan payung itu bersama-sama. Karena payung itu hanya berukuran sedang, sementara Ayaneru merasa begitu segan dan aneh untuk berada sangat dekat dengan Reo, akhirnya Ayaneru malah sedikit berdiri dengan menjaga jarak, hingga akhirnya bahu kanan Ayaneru malah basah terkena air hujan.
"Sedikit mendekatlah, Neru! Atau kamu akan basah!" titah Reo.
Namun rupanya Ayaneru masih saja tidak menurutinya dan masih menjaga jaraknya. Karena merasa kesal ucapannya tak dihiraukan, akhirnya Reo membuka tangan kanannya dan meraih lengan kanan Ayaneru dan mendekatkannya padanya.
"Tuan ... sebaiknya sampai disini saja. Tuan pulang saja, aku akan pulang sendiri saja. Terima kasih banyak sudah mengantarku sampai disini!" ucap Ayaneru dengan cepat lalu berlari begitu saja meninggalkan Reo.
Hujan yang cukup deras itu tak dihiraukan lagi dan terus diterjangnya. Dibanding jika harus berdekatan dan berlama-lamaan berasama Reo, lebih baik adalah seperti itu. Karena sedikit membuka kenangan di masa lalu, maka akan semakin membuat Ayaneru merasa lemah dan tak berdaya kembali.
"Neru!!" pekik Reo berusaha untuk memanggil Ayaneru.
Namun percuma saja, wanita itu kini sudah berlari semakin jauh dan malah sudah mulai memasuki rumah besar bertingkat itu.
"Dasar keras kepala!!" gerutu Reo.
Sementara itu, beberapa saat yang lalu ...
Seorang anak perempuan terlihat sedang melihat sesuatu yang dia anggap cukup menarik melalui jendela kamarnya. Hujan kala malam itu terlihat begitu dingin dan sedikit berembun. Namun gadis kecil itu terlihat begitu berbinar karena melihat sesuatu di bawah.
"Kak Leon!! Kemarilah!! Lihatlah itu!!" ucap gadis kecil yang tak lain adalah Leona dengan begitu bersemangat.
"Ada apa? Apa ada alien yang sedang kehujanan di luar sana?" ucap Leon asal sambil mematikan mini computer miliknya.
"Cepatlah kesini dan lihat semua itu, Kak!" ucap Leona sangat antusias dan masih menatap ke luar jendela. "Cepatlah, Kak Leon!!"
Karena merasa risih mendengar kicauan-kicauan dari sang adik, akhirnya Leon segera mendatangi Leona. Pria kecil itu mulai melihat arah pandangan Leona.
Dan betapa terkejutnya Leon ketika menyaksikan pemandangan di luar. Kedua anak itu melihat sang mama yang baru saja turun dari mobil bersama Reo, dan kini mereka berdua mengenakan sebuah payung bersama.
"Wah!! Ini adalah luar biasa sekali, Kak!! Rupanya mereka memang begitu dekat ya! Paman Reo mengantar mama pulang. Bahkan paman Reo juga begitu manis dan gentle!! Lihatlah dia baru saja membukakan pintu untuk mama!!" ucap Leona kegirangan karena melihat semua itu. "Rasanya aku semakin tak sabaran untuk hari esok dan menunggu hasil DNA keluar!!"
"Hhm. Mereka memang terlihat cukup akrab ya. Tapi anehnya, mengapa selama ini mama selalu menyembunyikannya dari kita ya. Bahkan mama terlihat kurang menyukai paman Reo. Sebenarnya apa alasan mama melakukan semua itu? Apakah paman Reo pernah berbuat jahat kepada mama ya? Sepertinya kita juga harus menyelidiki sesuatu lagi, Leona." gumam Leon masih menatap lekat sebuah payung berwarna kuning yang berisikan Reo dan Ayaneru di dalamnya.
"Hhm. Ayo kita ungkap semuanya dan satukan mereka, Kak!!" sahut Leona begitu bersemangat.
Namun tiba-tiba rasa semangat yang begitu membara dari kedua anak kembar itu seketika mulai melempem begitu saja. Bahkan senyuman lebar dari sang gadis cilik Leona perlahan mulai memudar ketika tiba-tiba melihat Ayaneru malah berlari dan meninggalkan Reo begitu saja menerobos hujan malam ini.
"Ada apa dengan mereka? Mengapa mama malah berlari dan meninggalkan paman Reo begitu saja? Apa mereka sedang bertengkar?" celutuk Leona terlihat murung.
Sedangkan Leon hanya terdiam namun sepasang netra berwarna kebiruan itu masih menatap lekat mereka berdua.
Apa yang sudah dilakukan oleh paman Reo? Sepertinya mama benar-benar sangat tidak menyukainya. Bahkan mama lebih memilih untuk menerobos hujan dan meninggalkan paman Reo. Hhm ... apa sebenarnya paman Reo tak sebaik yang aku dan Leona pikirkan?
Batin Leon terlihat masih berusaha untuk berpikir keras.
...🍁🍁🍁...
"Mama pulang!!" Ayaneru yang baru saja pulang dari bekerja mulai melepas sepatu hak tingginya di ruangan depan. "Huft ... semuanya jadi basah kuyup ..."
Seluruh tubuhnya basah kuyup karena beberapa saat yang lalu wanita cantik itu telah menerobos hujan deras. Seorang anak laki-laki kecil ternyata sudah menunggunya di tempat itu dan mulai mengulurkan sebuah handuk kecil untuk Ayaneru.
Ayaneru yang menyadari semua itu, kini mulai menarik sudut-sudut bibirnya hingga membuat sebuah senyuman manis. Disaat lelah dirasakan olehnya, semua akan terhapus seketika ketika Ayaneru sampai di rumah dan bertemu dengan kedua anak kembarnya.
"Terima kasih, Sayang." ucap Ayaneru sangat terharu akan semua itu.
"Cepat mandi! Aku sudah siapkan air hangat untuk mama!" ucap Leon dengan wajah dan sikap dinginnya dan mulai berbalik meninggalkan Ayaneru.
Sepertinya suasana hati Leon sangat tidak baik saat ini karena baru saja melihat kejadian beberapa saat yang lalu. Ada sebuah rasa kecewa ketika melihat jika sama melakukan hal seperti itu. Sebuah rasa kecewa karena dia telah banyak berharap kepada seorang pria asing untuk menjadi papanya, padahal Leon dan Leona belum sepenuhnya mengenal baik pria itu.
"Aku juga akan menyiapkan sup hangat untuk mama! Mama cepat mandi dulu!" kali ini Leona terlihat sedikit mengintip dari dapur dan sudah mengenakan sebuah celemek mini yang mungil dan lucu.
Ayaneru tersenyum hangat dan mulai mengiyakan perintah dari kedua anak kembarnya, "Baiklah! Mama akan membersihkan diri dulu ya, Sayang ..."
...🍁🍁🍁...