Siapkan tissue karena cerita mengandung bawang.
Apa jadinya jika sebuah pernikahan tanpa cinta harus terjadi atas unsur perjodohan?
Kiandra Anastasia seorang gadis yatim piatu berusia 17 tahun yang hidup bersama dua pembantu setianya yang menganggapnya seperti anak sendiri semenjak kepergian kedua orang tuanya untuk selama-lamanya karena sebuah kecelakaan, ternyata sejak kecil sudah dijodohkan oleh Almarhum kedua orangtuanya itu dengan seorang CEO perusahaan besar yang merupakan putra dari sahabat Almarhum Papanya, Aldo Wiryawan Prayoga nama sang CEO yang terkenal dengan sikapnya yang dingin dan tempramen.
Bagaimana kehidupan pernikahan antara Kiandra bersama Aldo? Akankah ada benih-benih cinta diantara mereka nantinya? Yuk ikutin cerita ini dari awal sampai akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Aldo sedikit mendongakkan kepalanya, ia memberikan tatapan elangnya pada Celine. Jika orang lain yang berada di posisi Celine, mungkin akan menyingkir dan pergi, tapi tidak dengan Celine. Sikap Aldo yang dingin, akuh dan acuh padanya menjadi daya tarik tersendiri bagi seorang Celine.
"Kamu pikir, aku tertarik? Simpan saja informasi murahan mu itu dan cepat pergi dari sini! Waktu ku terlalu berharga untuk membahas sesuatu yang tidak penting," ucap Aldo mengusir Celine, yang kemudian menyikut bokong Celine dengn kasar hingga terjatuh dari sandaran kursi kerja Aldo yang ia duduki.
Brugh! [Celine terjatuh, dengan bokong yang mencium lantai lebih dahulu.]
Sakit, pasti itu yang dirasakan Celine sekarang, bukan hanya sakit di area bokongnya, melainkan juga merasakan nyeri di hatinya atas perlakuan Aldo padanya barusan.
"Ck... " Celine tersenyum sinis kemudian membuang pandangan wajahnya kesamping. Ia melihat diri sendiri yang begitu tak dihargai sedikitpun oleh Aldo.
"Cinta memang membuat seseorang menjadi bodoh, seperti diriku. Betapa bodohnya aku ini heh, diperlakukan sebaik ini oleh orang yang tak bisa membalas perasaan ku sedikit pun," Gumam Celine di dalam hatinya, ia menyindir dirinya sendiri. Mengatakan sesuatu yang pada kenyataannya malah sebaliknya.
Aldo kembali sibuk dengan lembaran dokumen yang ada di atas meja kerjanya. Ia tak menoleh sedikitpun kearah Celine yang masih duduk di lantai.
"Bangunlah! Jangan merendahkan dirimu yang sudah terhina dan begitu rendah dimataku, karena kelakuan mu sendiri, Celine," Aldo berkata dengan suara datarnya, tanpa sedikitpun menolehkan pandangannya pada Celine, ia malah terlihat begitu fokus pada dua lembar dokumen yang masing-masing ada di tangan kanan dan kirinya.
"Apa perasaan cinta yang ku rasakan padamu sebegitu hina dimata mu,Kak? Hingga untuk melihat kondisi ku saat ini karena ulah mu pun kamu begitu enggan," Tanya Celine yang masih terduduk di lantai. Ia menatap sedih sosok pria di hadapannya.
"Rasa cinta mu tidak hina, tapi kelakuan mu yang terlalu hina Celine,membuat jijik untuk berdekatan dengan mu, bagiku kau itu seperti parasit," jawab Aldo dengan kata-kata pedas dan tajamnya, yang masih tak mau melirik Celine sedikit pun.
Kemarin, saat Kia menolak di nikahi Aldo, dia-lah orang pertama yang terlihat bahagia, meskipun kebahagiaannya itu berada di balik rasa kesedihan dan kesakitan orang lain.
Sejenak Celine terdiam, senyum keterpaksaan terbit di wajah cantik orientalnya, reaksi wanita yang berusaha tegar, ketika perasaannya dicabik-cabik oleh kata-kata setajam belati dari orang yang teramat ia cintai.
"Ck, tolong katakan pada ku. Apa kakak menolak perasaan ku karena kakak memiliki perasaan pada Kia? Sekarang Kakak bersikap lebih dingin karena rasa kecewamu, dia menolak mu dengan cara mengakhiri hidupnya." Tanya Celine yang mulai beranjak dari posisinya. Ia ingin memastikan apakah Aldo memiliki perasaan pada Kia, wanita yang di jodohkan dengan pria yang menjadi penyemangat hidupnya sejak kecil.
"Jangan pernah mencampuri perasaan ku Celine! Dan jangan memaksa ku untuk mengatakan untuk kedua kalinya, alasan kenapa aku tak bisa membalas perasaan mu, yang sampai kau menutup mata sekali pun aku tak tidak sudi untuk membalasnya," Aldo kembali menatap tajam wajah Celine yang terlihat begitu pedih mendengar ucapan Aldo. Aldo terus menghujamkan dirinya dengan kata-kata yang pedas juga menyakitkan.
Keterlaluan, ya kata-kata Aldo sangat keterlaluan, tapi itulah dirinya, yang tak pernah abu-abu dalam bersikap. Jika sesuatu yang dipandangnya sudah hitam, maka akan terus hitam dimatanya, tidak akan pernah berubah menjadi putih, meskipun monyet sudah berkembang biak dengan bertelur sekali pun. Ia tak kan pernah berubah. Hanya perjodohan dirinya yang membuat dia menjadi orang yang abu-abu. Karena dia tak bisa berkutik dihadapan kedua orang tuanya yang pandai memainkan kelemahannya.
"Pantas saja, jika Kia menolak untuk menjadi istri mu Kak, dia lebih baik mati daripada menjalani sisa hidupnya dengan pria seperti mu. Kau pria kejam dan tidak berperasaan. Apa kau ini terlahir dari batu? hingga kau sama sekali tak menghargai perasaan wanita. Aku menyesal telah memiliki perasaan padamu." Ungkap Celine dengan air mata yang menggenang di kelopak mata indahnya.
"Baguslah jika kau menyesal, seharusnya sudah dari dulu kau lakukan itu Celin, jadi hidupku tak akan direpotkan dengan parasit macam dirimu ini," sahut Aldo yang membuat Celine kesal, ia mengepalkan kedua tangannya, rasanya ia ingin meninju Aldo dengan kedua tangannya yang sudah melayang di udara, namun ia hempaskan tangannya begitu saja, karena merasa tak sanggup untuk menyakiti orang yang sangat ia cintai.
"Simpan saja tenaga mu untuk meghabiskan waktu mu untuk menangis sepanjang malam nanti, Celine, dari pada kau memukul diriku, dengan tangan kotormu itu." Ucap Aldo dengan sombongnya.
Aldo bicara seperti itu seakan-akan ia tahu apa yang akan di lakukan Celine nanti malam. Meskipun memang ada benarnya, malam nanti Celine akan menghabiskan malamnya dengan menangis, bukan untuk menangisi Aldo tapi untuk menangisi kebodohannya selama ini.
"Ck, percaya diri sekali kamu Kak, aku memang akan menangis sepanjang malam, bahkan aku akan sulit untuk memejamkan mata malam nanti. Tapi asal kamu tahu saja, itu semua terjadi bukan karena dirimu lagi, itu karena kebodohanku selama ini, yang mencintai pria dingin dan kejam seperti dirimu. Tapi aku pikir tak hanya aku yang tak akan bisa memejamkan mata malam ini. Kamu juga akan merasakannya. Karena apa? Karena kamu akan merutuki gadis yang di jodohkan dengan dirimu. Siapa lagi gadis yang akan kamu rutuki malam ini selain diriku, jika bukan Kia, Ki-an-dra. Tentu kamu belum tahu kondisinya saat ini bukan? Ingin sekali aku tertawa untuk mengejekmu. Kamu mati-matian menolak ku, mungkin demi dirinya. Tapi dia saat ini yang sudah keluar dari rumah sakit dan dalam keadaan sehat, mungkin sedang sibuk memadu kasih dengan pria dewasa yang sangat ia cintai, yang pastinya pria itu bukan dirimu." Ucap Celine panjang lebar.
Kali ini tak ada raut wajah sedih terpancar di wajah cantik Celine, hanya ada raut wajah mengejek yang terpampang jelas di wajah cantiknya, yang jelas Celine tujukan untuk pria yang beberapa detik yang lalu terus mengeluarkan kata-kata tajam, setajam belati, yang mampu menyayat relung hatinya.
Awalnya Aldo malas mendengar ucapan Celine, yang sedang menanggapi ucapan dirinya, tapi ketika nama Kia disebut oleh Celine, bahkan menyebut nama Kia dengan penekanan, membuat Aldo menatap intens wajah mengejek Celine, ia mendengarkan dengan seksama hingga Celine mengakhiri ucapannya.
Di akhir kalimat yang Celine ucapkan, mampu merubah raut wajah sombong Aldo seketika itu juga. Ia membulatkan matanya, Ia terkejut dengan penuturan Celine. Seolah ia tak percaya dengan apa yang diucapkan sepupunya itu.