Elena, seorang wanita cantik berkulit putih dengan lesung dipipi kanan dan kirinya. Ia adalah seorang ibu dengan sepasang anak kembar, Cantika dan Brian.
Pernikahan Elena dan suaminya bukanlah pernikahan berlandaskan cinta. Mereka menikah karena desakan dari Ana, ibu dari suaminya.
Elena menahan diri selama tiga tahun dengan pernikahannya, Elena memikirkan kedua anaknya jika ia bercerai dengan suaminya.
Suatu hari, Elena murka dengan perilaku Rendra, suaminya. Ia pun mengajukan cerai kepada Rendra. Rendra yang tak mencintai Elena pun akhirnya menyetujui untuk bercerai.
Apakah perceraian Elena akan berjalan lancar? Bagaimana Elena menjalani kehidupannya sebagai single mom? Ayo, simak kisahnya! 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INRUMIDITAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aksi kejar-kejaran
Sore hari, Cantika dan Brian sedang bermain bersama Henry di teras rumah. Sedangkan Elena, ia sedang berada di dapur bersama Clarissa. Elena menceritakan kejadian yang ia alami tadi pagi, tentu saja Clarissa sangat terkejut mendengar cerita dari Elena.
"Kira-kira siapa ya yang tega ingin mencelakai kamu, Len?" tanya Clarissa heran.
"Yang jelas-jelas tidak suka denganku itu mantan ibu mertua dan Clara," jawab Elena.
"Clara? Bukannya dia teman sekolah kamu ya? Bukannya dia juga yang dulu menuduh kamu mencuri di sekolah?" tanya Clarissa geram mengingat perbuatan Clara terhadap puterinya.
"Iya, Ma, tapi sekarang kita belum punya bukti juga sih. Yang pasti, kita harus perketat penjagaan Cantika dan Brian. Jangan biarkan mereka keluar rumah sendirian," jawab Elena.
"Iya, Len, benar kamu," respon Clarissa.
"Ya sudah, kita keluar dulu yuk, kita makan bolu ini bersama-sama." Clarissa membawa piring berisi bolu yang tadi ia buat.
"Iya, Ma." Elena dan mamanya berjalan bersama menuju teras rumah.
Disisi lain, Clara tampak murka karena rencananya gagal. "Nggak nyangka gue kalau si Elena jago bela diri, gue harus cari cara buat dia mati atau paling tidak menderita," gerutu Clara.
Clara berjalan kesana-kemari, ia sedang memikirkan rencana jahatnya selanjutnya. "Aha, gue punya ide." Clara menelepon seseorang, entah apa yang dia bicarakan dengan seseorang dibalik panggilan telepon itu.
*
*
*
Malam hari, Elena dan keluarganya sedang menonton acara televisi bersama-sama. Tiba-tiba ada suara diluar rumah, suara itu terdengar lumayan keras. Elena dan Henry langsung keluar rumah, sedangkan Clarissa menjaga anak-anak didalam rumah. Elena dan Henry melihat beberapa motor, mereka kabur dari depan gerbang rumah Elena.
Elena melihat beberapa gumpalan kertas, dan sepertinya berisi batu didalamnya. Elena dan Henry membuka satu persatu gumpalan kertas itu, mereka terkejut melihat tulisan didalam kertas itu, semua kertas bertuliskan 'Mati saja kau, Elena!'.
"Aku rasa pelaku kali ini sama dengan pelaku tadi pagi, Pa," ucap Elena sambil meremas kertas yang ia bawa.
"Kira-kira siapa ya yang mempunyai dendam terhadapmu sampai seperti ini?" tanya Henry.
"Yang tidak menyukaiku secara terang-terangan adalah mantan ibu mertua dan Clara, Pa. Clara ini teman sekolahku dari jaman sekolah menengah pertama sampai kuliah, dia tidak suka jika dia berada dibawahku, apapun itu dia ingin selalu paling unggul," jelas Elena.
"Tapi itu bukan alasan untuk mencelakai kamu, Sha, bagaimana pun juga kamu itu memang unggul ... kamu berprestasi. Bukankah seharusnya kita lapor polisi?" ucap Henry.
"Kita belum punya cukup bukti, Pa, lagian keluarga Clara orang berada. Kita akan kesusahan jika tidak mempunyai bekingan yang kuat, Pa." Elena sedang memikirkan cara mencari bukti kejahatan yang Clara lakukan, ia sangat yakin jika itu perbuatan Clara.
"Ya sudah, kita masuk dulu yuk," ajak Henry. Henry dan Elena masuk kembali kedalam rumah. Papa macam apa aku ini? Puteri satu-satunya sedang mengalami masalah, tapi aku sendiri tidak dapat membantunya. Ya Allah, berikanlah perlindungan kepada keluarga kami, batin Henry sedih.
*
*
*
Keesokan harinya, Elena kini sudah berada di halaman sekolah anaknya. Mulai hari itu, Clarissa akan menunggu kedua cucunya bersekolah. "Ma, titip anak-anak dulu ya, aku ke toko dulu, wassalamu'alaikum." Elena mencium punggung tangan mamanya.
"Sayang, mulai hari ini ditunggu sama Nenek ya, Mama ke toko dulu." Elena mencium kening Brian dan Cantika.
"Hati-hati, Ma." Brian dan Cantika melambaikan tangan ke arah mama mereka.
"Iya, Sayang." Elena kini telah masuk kedalam mobil dan mulai melajukan mobil menuju tokonya.
Elena fokus menyetir mobilnya, perhatiannya hanya fokus kedepan dan fokus ke kaca spion kiro dan kanan mobilnya. Tiba-tiba pandangan Elena merasa aneh, ia merasa jika mobilnya sedang diikuti dari belakang.
Sepertinya aku sedang diikuti, batin Elena. Elena pun menambah kecepatan mobilnya, mobil yang mengikutinya pun ikut menambahkan kecepatan mobil mereka.
Beberapa kilometer setelah itu, Elena mengalami nasib sial. Mobilnya ditabrak dari belakang, akibatnya mobil Elena hilang keseimbangan dan menabrak sebuah pohon besar disisi kiri jalan.
Mobil yang mengikuti Elena langsung melarikan diri, setelah melihat mobil Elena menabrak sebuah pohon besar. Pasti langsung mati! Guncangannya lumayan besar, gumam seseorang yang mengikuti Elena dari dalam mobilnya.
Setelah kejadian tabrak lari itu, orang-orang disekitar kejadian langsung menghampiri mobil Elena. Ada seorang pria yang memecahkan kaca mobil Elena sebelah kiri, kemudian pria itu masuk kedalam mobil dari jendela kiri yang sudah dibobol itu. Pria itu langsung membuka pintu mobil yang tadinya terkunci, pria itu membawa Elena keluar dari mobil.
"Saya akan bawa dia ke rumah sakit," ucap pria itu lalu memasukkan Elena kedalam mobilnya.
Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tapi dia tetap memperhatikan keselamatannya. Tak lama, ia sampai di rumah sakit terdekat, pria itu langsung membawa Elena ke UGD. Pria itu menyerahkan Elena untuk ditangani pihak rumah sakit, sementara ia membayar administrasi di kasir.
"Nanti sisanya setelah pasien benar-benar sudah keluar dari rumah sakit ini ya, Mbak," ucap pria itu kepada petugas kasir.
"Baik, ini notanya ya, Pak." Petugas kasir itu memberi selembar nota pembayaran kepada pria itu.
"Baik, terima kasih." Pria itu mencari tempat duduk yang kosong.
"Pak, baju Anda berlumuran darah, apakah Anda korban kecelakaan?" tanya seorang pria yang duduk disebelahnya.
"Bukan, saya tadi menyelamatkan teman saya, ini darah teman saya," jawab pria itu. Pria itu tentu saja berbohong, dia bahkan tidak mengenal siapa yang ia tolong itu.
"Begitu, semoga teman Anda baik-baik saja," ucap seseorang disebelah pria itu.
"Aamiin," respon pria itu.
Pria itu pergi ke toko baju terdekat, ia membeli satu set pakaian. Setelah itu, ia menelepon orangnya untuk mengamankan mobil milik Elena. Pria itu kembali ke rumah sakit, ia kembali duduk tak jauh dari ruang UGD. Satu jam kemudian, nama pria itu dipanggil, nama pria itu ternyata adalah Alan.
"Saudara Alan, Anda teman pasien ya ... apakah Anda bisa menghubungi pihak keluarganya?" tanya seseorang yang keluar dari ruang UGD.
"Sebenarnya saya baru mengenalnya, kami belum sempat bertukar cerita tentang keluarga kami," jawab Alan.
"Begitu ya, jadi untuk sementara Anda yang bertanggung jawab masalah pasien ya?" tanya seseorang itu lagi.
"Iya, saya akan bertanggung jawab atas pasien," jawab Alan yakin.
Seseorang itu pun masuk kembali ke ruang UGD, Alan pergi mencari rumah makan terdekat, perutnya sudah minta diisi saat itu. Aku makan dulu lah, aku sudah lapar sekali ini, nanti aku kesini lagi. Hmm, wanita cantik yang malang, aku melihat dengan jelas jika mobilnya sengaja ditabrak oleh mobil yang berada dibelakangnya, batin Alan.
☠️⃝🖌️M⃤
Perjuangan Ucup mampir
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
sabar ya elena 😬 semoga Joe segera sadar
coba diselipin kejadian apa di bbrapa moment biar lebih kelihatan nyata ceritanya
kok bisa rukyah nya gagal?
☠️⃝🖌️M⃤