Andika Saputra seorang pemuda yang baru memasuki dunia kerja di ibu kota. Dia seorang arsitek, bekerja di perusahaan kontraktor "Satria Group" yang cukup punya nama di ibu kota. Kinerjanya sangat bagus dan kejujurannya menjadi perhatian manajemen perusahaan termasuk Gunawan Presdir perusahaan tersebut. Hingga Gunawan sangat menginginkan Andika menjadi menantunya, suami untuk Karina anak semata wayangnya.
Ujian demi ujian kehidupan dilalui oleh Andika, dari mulai kepergian ibunya utk selamanya, perjuangan meraih karirnya, termasuk perjuangan cintanya.
Akankah Andika berjodoh dengan Karina?
ataukah ada wanita lain yang dicintainya?
Temukan jawabannya.....!
Selamat membaca.
Salam
Umi Haifa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Haifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pamit
Akhir pekan ini Andika berencana pulang ke Bandung untuk mengabarkan kepada ibu dan kedua adiknya tentang tugas barunya di Kaltim. Andika memang belum memberitahu ibu dan adiknya tentang kepindahan tugasnya. Andika hanya menelfon ibunya kalau ia akan pulang ke Bandung. Hari Sabtu jam enam pagi Andika sudah bersiap dengan koper dan tas ranselnya, ia membawa barang-barang yang tidak terlalu penting dari kamar kostnya dan akan disimpan di rumahnya di Bandung. Andika biasa pulang pergi ke Bandung meggunakan travel,dengan waktu perjalanan kurang lebih 5 jam Andika sampai di rumahnya.
Sampai di rumahnya Andika disambut oleh ibu dan adiknya Dita, sedangkan Adit tidak terlihat di rumah karena sedang mengikuti kegiatan di kampusnya.
" Wah tumben bawaannya banyak Mas, bawa koper segala. " Dita merasa aneh dengan koper yang dibawa Andika, biasanya Andika hanya membawa tas ransel.
" Ini barang-barang yang jarang dipakai mau Mas simpan di sini." Andika menuju kamarnya. Sebelum menyimpan barang-barang di kamarnya, Andika melihat di meja makan sudah siap hidangan makan siang.
" Wah kebetulan nih, pas laper pas ada makanan, ini namanya rezeki."
" Ibu sengaja minta Dita masakin makanan kesukaan kamu, nasi liwet komplit, tuh ada balado ikan teri dan sambal terasi." kata ibu sambil menata piring dan sendok di meja makan.
" Wah mantap nih Bu, dah sebulan lebih gak ketemu menu ini, makan bareng sekarang ya Bu, dhuhur masih setengah jam lagi. Dita.... makan sekarang yo.." Andika menuju wastafel mencuci tangannya dan langsung duduk di kursi makan.
" Siap...Dita ambil lalapannya dulu, masih dikukus, dah mateng kayanya." Dita bergegas ke dapur mengambil lalapan.
Mereka bertiga makan siang bersama, masakan Dita memang enak pas di lidah mereka, Andika makan dengan lahap sampai nambah dua kali. Akhirnya bisa menikmati menu yang jarang ditemui selama Andika di ibu kota. Ibunya tersenyum bahagia melihat Andika makan dengan lahapnya.
Malam hari selesai shalat isya Andika, ibu dan kedua adiknya berkumpul di ruang keluarga ditemani cemilan makanan ringan yang selalu disediakan ibunya. Andika menanyakan perkembangan kuliah adiknya dan mereka saling sharing pengalaman. Hingga akhirnya Andika menyampaikan rencana pindah tugasnya ke Kaltim.
" Bu...mulai minggu depan Dika ditugaskan ke Kaltim untuk menyelesaikan proyek disana, Dika ditunjuk sebagai pimpro nya."
" Hah.....jauh dong Mas? ucap Dita Sedikit kaget.
" Ya jauhlah kalau dibandingkan sama Bandung, tapi kan ada pesawat lebih cepat Kaltim - Bandung dari pada Jakata - Bandung. Jawab Andika
" Ibu gak masalah kan Dika ke Kaltim? Dika usahakan tiap dua bulan pulang, tugasnya juga paling sekitar sepuluh bulan, selesai proyeknya nanti Dika kembali lagi ke Jakarta." Tambah Andika
" Kalau memang sudah tugas ya mau gimana lagi, harus disyukuri, mungkin ini jalan buat kamu nambah pengalaman, yang penting jaga diri baik-baik, pandai-pandai menempatkan diri, kebiasaan di sana pasti jauh berbeda dengan di sini. Perbanyak silaturahim biar nambah saudara." Ibunya berbicara dengan begitu tenang walaupun sebenarnya ada perasaan sedikit khawatir, karena jarak Kaltim yang jauh dan tidak ada sanak atau saudara yang berada di sana.
" Sekalian cari jodoh di sana Mas, biar betah...he...he.... Eh gak usah deh Mas mending yang deket aja biar enak kalau mudik bisa sekalian gak berabe jauh-jauh, lagi pula yang deket dah siap dilamar kayanya." Timpal Dita, dan Andika pun paham maksud yang dekat itu siapa. Siapa lagi kalau bukan Riana.
Andika juga menyampaikan kalau statusnya sudah sebagai pegawai tetap dan rencana akan memanfaatkan fasilitas perumahan karyawan, ia akan mengambil satu unit rumah di perumahan yang sedang dia bangun di jakarta.
" Oh ya Bu, untuk rencana Umroh siapnya kapan? Ibu tinggal menentukan tanggal, katanya dalam seminggu ada 3-4 jadwal keberangkatan, ibu bisa nentuin sendiri mau kapan, Minggu ini ibu sudah bisa membuat paspor." Andika mengambil map di meja .
"Ini surat rekomendasi untuk membuat paspor dari pihak travel, Dit nanti kamu yang urus pembuatan paspornya yah, biayanya nanti mas transfer."
" Siap Bos." Dita langsug langsung menjawab dengan cepat dan bersemangat.
" Kalau ibu tergantung Dita bisa berangkatnya kapan, kan harus menyesuaikan kegiatan kampusnya."
" Bulan depan Dita banyak kegiatan sama ujian semester, paling pertengahan bulan depannya kosong, gimana bu?"
" Insya Allah ibu siap kapan saja.''
"Ya sudah nanti kabarin kalau waktunya sudah fix ya Dit."
" Ok." Dita menganggukan kepalanya.
Obrolan mereka begitu hangat, diselingi canda tawa, apalagi kalau Dita sudah menggoda Andika dan adiknya Adit yang pendiam menambah suasana semakin ramai.
***
Keesokan paginya Dita tampak sibuk di dapur menyiapkan sarapan, Dita memang hoby berada di dapur, apalagi kalau ada makanan kekinian yang lagi ngetrend pasti langsung mencobanya. Andika yang baru selesai joging di sekitar komplek perumahan langsung menuju dapur.
" Dit rumah Riana kok kelihatan sepi , lagi pada pergi yah ." Tanya Andika. Sebelum masuk rumah Andika memperhatikan rumah Riana, memang tampak sepi, biasanya kalau ada orang pintu samping rumahnya terbuka.
" Cieee ada yang kangen yah, tinggal datengin aja ke rumahnya kali, paling cuma lima langkah juga nyampe, trus diketok pintunya, keluar deh calon kakak ipar ." jawab Dita sambil godain kakaknya.
" Ssstttt.....Dita apaan sih kamu, mas cuma mau nitip sesuatu ke Riana." jelas Andika
" Ya udah datengin aja langsung ke rumahnya, kalau gak ada orang tinggal balik lagi, gak harus ngeluarin ongkos ini. Enak yah kalau calonnya tetanggaan, bisa ngirit hemat ongkos...hi....hi...." Canda Dita
" Kamu ini yah....udah jadi belum nasi gorengnya, Mas udah laper nih."
" Udah....tinggal dipindahin, mau makan sekarang?"
" Iya....ibu kemana Dit?"
" Ibu ke pengajian di masjid trus mau langsung ke pasar jalan kaki sama ibu-ibu yang lain katanya."
Andika langsung duduk di kursi dan menyantap sarapan nasi gorengnya.
" Jadi gimana nih Mas mau didatengin langsung Mba Riananya atau Dita jemput sekarang? " Tanya Dita sambil senyum-senyum.
" Kamu samper deh ajak sini, bilangin mas mau nitip sesuatu untuk anak-anak di panti tuna netra."
" Ok ....siap bos." Dita langsung meninggalkan Andika menuju rumah Riana.
Belum sampai lima menit, Dita sudah balik lagi tapi tanpa Riana.
" Bener Mas gak ada orang di rumahnya, pada pergi kayanya, kok mba Riana gak cerita yah kalau mau pada pergi. "
" Emangnya kamu siapanya sampe harus cerita sama kamu."
" Saya kan calon adik iparnya....ha....ha...ha...."
Dita tertawa dengan puas, tiba-tiba tersentak karena sepotong kerupuk mendarat di mukanya. Tertawanya terhenti, dia mengambil kerupuk yang sudah jatuh ke piringnya dan memakannya. Dita yakin yang duduk di depannya adalah pelakunya.
Andika dengan wajah tak berdosanya menyuapkan nasi goreng dengan sendoknya tanpa memperhatikan Dita.
" Mas Dika seneng kan mba Riana jadi kakak ipar Dita, makanya buruan lamar....ha....ha....ha......"
" Tahun depan deh Mas lamar." Jawab Andika asal
" Ha...ha..ha...akhirnya ngaku mau ngelamar, sebelum Mas Dika lamar Dita lamar duluan yah untuk Mas Dika, biar Mba Riana gak nerima lamaran dari yang lain, nunggu setahun kan lama."
" Hey...kamu gak usah repot-repot ikut campur urusan orang dewasa." Andika berdiri mengambil piringnya yang sudah kosong dan menyimpankan ke tempat cuci.
"Harusnya dari kemarin Mas tuh kabarin Mba Riana kalau Mas mau pulang, sekalian janjian, kan bisa kirim pesan WA, kaya gak punya HP canggih saja. Sekarang nyesel kan gak bisa ketemu, mana mau pergi jauh lagi, belum tau ketemu lagi kapan, pasti nyesek menahan rindu....hu....hu...hu...." Dita masih terus mengoceh sambil menikmati nasi gorengnya.
" Apalagi nunggu setahun ngelamar, serasa sewindu menunggu, mending kalau yang mau dilamar mau sabar menunggu, kalau gak sabar keburu dilamar orang, jangan salahin Dita ya Mas, jangan sampai nyesel yah."
Andika membiarkan adiknya terus mengoceh, ia kembali duduk di depan Dita sambil memperhatikan adiknya seolah-olah dia serius mendengarkan.
Seperti itulah Dita menggoda kakaknya. Dan Andika pun terbiasa dengan sikap adiknya, kalau Dita tidak mengganggunya malah serasa ada yang kurang.
Akhirnya setelah makan siang Andika pamit kepada ibu dan adiknya untuk kembali ke ibu kota sekaligus pamit minggu depan berangkat bertugas ke Kaltim. Wajah Andika sedikit muram, hatinya terasa berat untuk kembali ke ibu kota, mungkin karena Andika juga akan bertugas ke Kaltim dan akan jarang menemui ibu dan adiknya. Andika mencium tangan ibunya, mencium kedua pipinya kemudian memeluknya. Entah kenapa Andika merasa berat untuk melepaskan pelukannya, seolah-olah ia akan pergi jauh dan belum tentu bisa bertemu ibunya lagi.
Cuaca siang itu tampak mendung seperti akan turun hujan, seolah langit pun merasakan kemuraman hati Andika.
Ibunya mencium kening Andika kemudian tersenyum memancarkan keikhlasan seorang ibu melepas kepergian anaknya yang akan pergi merantau.
" Berangkatlah, sebentar lagi akan turun hujan, ibu akan selalu mendoakanmu."
Andika berjalan menuju Adit yang sudah siap mengantarkan Andika dengan motornya menuju tempat travel yang akan mengantarkan Andika kembali ke ibu kota.
Ibu dan Dita baru masuk ke rumah setelah Andika dan Adit menghilang dari pandangan mereka.
bersambung
terimakasih