Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.
Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.
Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Kesadaran
Pagi perlahan merengkuh Desa Veria. Di luar sana, hiruk-pikuk kehidupan mulai mengudara. Sayup-sayup terdengar tawa renyah para tetangga yang berpapasan sepulang dari pasar, berbaur dengan derap langkah para petani yang bergegas menuju ladang menjelang masa panen. Semuanya tampak sibuk menyambut hari dengan antusiasme baru.
Namun, denyut kehidupan yang ceria itu tak sepenuhnya menular ke dalam gubuk kayu milik keluarga Joe.
Tepat ketika Joe hendak melangkahkan kaki melewati ambang pintu untuk pergi berburu, sebuah erangan parau memecah kesunyian rumah.
Suara itu disusul oleh decitan kasar dari lincak bambu beralas tikar di ruang keluarga. Pendengaran Joe yang setajam insting pemburunya langsung menangkap pergerakan tersebut.
"Cate!" gumamnya refleks, secercah harapan muncul bahwa putrinya yang tadi berlari sambil menangis telah kembali pulang.
Dengan cepat, Joe memutar tubuhnya. Namun, bukan rambut merah putrinya yang ia temukan. Dari kejauhan, matanya menangkap pergerakan kaku dari pemuda asing yang semalam baru saja ia obati bersama Cole. Tanpa membuang waktu, kaki Joe berlari kecil menghampiri pemuda itu.
"Hey, Nak... gimana kondisimu, apa sudah mendingan?"
Takahiro tak langsung menjawab. Kelopak matanya berkedip cepat, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya pagi. Pandangannya menyapu bersih setiap sudut ruangan, menatap atap kayu dan dinding anyaman bambu yang terasa sangat asing.
Di balik perban putihnya, rasa sakit yang menjalar hebat kembali mencabik-cabik sarafnya, membuat tubuhnya kaku tak bisa digerakkan.
Sebuah erangan lirih lolos begitu saja dari bibirnya. 'Di mana aku?' jerit batinnya meronta, namun lidahnya terasa kelu. Tenggorokannya begitu kering dan perih, seolah tengah dilanda kemarau berkepanjangan hingga kerongkongannya terasa seperti diamplas.
Melihat raut wajah Takahiro yang meringis menahan sakit saat mencoba beringsut, Joe berinisiatif menolong. Sebelum membantu pemuda itu bangun, pria paruh baya tersebut bergegas menuju dapur untuk mengambil segelas air putih.
Dari sudut matanya yang setengah terbuka, Takahiro mengawasi pergerakan pria asing itu. Ia kembali mencerna kalimat yang baru saja Joe lontarkan.
Kosakatanya terdengar aneh di telinga, namun entah bagaimana, otaknya mampu menangkap intinya. Bagaikan orang Tokyo tulen yang berusaha keras memahami dialek kental penduduk pelosok Kyoto. Berbeda tutur kata dan logat, tapi maknanya masih bisa diraba.
Sambil menunggu Joe kembali, Takahiro memaksakan diri memutar pergelangan tangannya. Keringat dingin sebesar biji jagung bermunculan di dahinya.
Meski ngilu luar biasa, ia harus menahannya. Membiarkan tubuhnya diam hanya akan membuat otot dan sendinya membeku permanen.
Jerih payahnya membuahkan hasil. Meski gerakannya masih tersendat-sendat, otot pergelangan tangannya merespons komando dari otaknya.
Tepat ketika Takahiro mengerahkan sisa tenaga untuk bertumpu dan duduk, sesosok bayangan bergerak dari balik sekat usang di seberang ruangan. Bellinda muncul dari sana.
Wajah wanita paruh baya itu masih sedikit pucat—sisa dari serangan batuk berdarahnya tadi—namun sepasang mata semi-birunya langsung tertuju pada Takahiro dengan sorot keibuan.
"Maaf sudah menunggu—"
Kalimat Joe terpotong di udara. Tangannya yang menyodorkan segelas air terhenti di tengah jalan saat matanya menangkap sosok istrinya yang berjalan pelan menghampiri mereka.
Joe terdiam. Ia menelan sisa kalimatnya, membiarkan Bellinda mengambil alih tanpa berniat menegur kondisinya yang masih lemah.
Begitu Bellinda berjongkok di sisi lincak, menyejajarkan tubuhnya dengan Takahiro, barulah Joe melangkah mendekat dari arah belakang dan kembali menyodorkan gelasnya.
Takahiro menatap air jernih itu dengan kehausan yang memuncak. Ia mencoba mengangkat tangannya untuk meraih gelas dari tangan Joe, namun rasa sakit kembali menyengat, melumpuhkan lengannya.
Pada akhirnya, ia hanya sanggup menggerakkan ujung jemarinya perlahan. Sebuah isyarat putus asa, memohon agar Joe langsung menuangkan air itu ke mulutnya.
Bellinda yang berada paling dekat langsung menangkap maksud isyarat kecil itu. Tanpa basa-basi, ia bangkit sedikit dan langsung mengambil alih gelas dari tangan suaminya.
"Ya ampun!" seru Bellinda tiba-tiba.
Gerakan mendadak istrinya itu sempat membuat Joe berjengit kaget. Ia tak menyangka Bellinda akan merebutnya. Namun, di tengah keheningan canggung yang tercipta, suara lembut istrinya kembali mengalun, memecah kecanggungan pagi itu.
"Tolong bantu aku," perintahnya lembut namun tegas. "Berdirikan tubuhnya, biar aku gampang memberinya minum."
Teguran halus itu seakan menampar kesadaran Joe. Ia mengerjap. 'Bodoh sekali aku, kenapa baru sadar sekarang... kalau dia nggak bisa minum sendiri,' makinya dalam hati.
Tanpa banyak bicara, Joe segera menyelipkan kedua lengannya ke belakang punggung Takahiro, menopang berat badan pemuda itu hingga duduk bersandar di dadanya.
Sempat dikuasai rasa putus asa karena tubuhnya menolak bekerja sama, harapan Takahiro kembali menyala. Sorot matanya melembut, dan ujung bibirnya sedikit tertarik membentuk senyum tipis—sebuah apresiasi tulus atas kepekaan Bellinda.
Kolaborasi suami istri itu berjalan lancar. Selagi Joe menahan beban punggungnya, Bellinda dengan sangat hati-hati memiringkan bibir gelas, membiarkan air segar mengalir membasahi kerongkongan Takahiro yang tandus.
Rasa hausnya terbayar lunas. Kelegaan luar biasa merayapi dada Takahiro. Ia ingin segera melontarkan ucapan terima kasih yang layak, tapi suaranya masih tersangkut di pangkal tenggorokan, terhalang oleh rasa gatal yang mengganjal.
Setelah memastikan pemuda itu puas minum, Joe berniat menurunkan kembali punggung Takahiro ke posisi semula. Namun, baru setengah jalan tubuhnya direbahkan, tangan Takahiro bergerak kaku, menyentuh pelan lutut Joe untuk menahannya.
Di saat bersamaan, pandangan Bellinda menangkap pergerakan kecil dari daun bibir Takahiro.
"Tunggu sebentar," tahan Bellinda cepat. "Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu."
Pergerakan Joe langsung terhenti mengudara. Ia mempertahankan posisi Takahiro yang setengah berbaring.
Bellinda memusatkan seluruh perhatiannya. Ia menunggu dengan sabar, menatap lekat-lekat bibir pemuda yang terus bergetar mencari suaranya sendiri.
Usaha keras Takahiro akhirnya membuahkan hasil. Sepatah demi sepatah kata lolos dari mulutnya dengan nada bergetar dan aksen yang aneh.
"Te... ri... ma... ka... sih," tuturnya terbata. Kata-kata itu meluncur dengan intonasi mendayu khas logat Kyoto yang sangat sopan dan formal.
Meski hanya dua kata yang terucap dengan susah payah, itu sudah lebih dari cukup bagi Bellinda. Hatinya menghangat. Spontan, tangannya terulur menyentuh punggung tangan Takahiro dengan lembut.
Namun sebelum menjawab, ia buru-buru menutupi bibirnya dengan ujung jemari, berusaha keras menahan tawa kecil yang hampir meledak mendengar logat aneh nan sopan tersebut.
"Pakai logat biasa saja, tidak usah memaksa untuk meniru gaya kami."
Merasa tugasnya menopang sudah selesai, Joe perlahan melepaskan pelukannya dan mundur selangkah. Ia kembali berdiri tegak di samping istrinya.
Pandangannya beralih ke arah pintu depan yang terbuka lebar, menatap pendar cahaya matahari pagi yang perlahan merangkak naik, menandakan hari semakin siang.
Sudah saatnya ia berangkat.
"Bellinda, aku pamit berburu dulu," tuturnya lembut saat kakinya sudah berada di ambang pintu. "Dan kau bocah..."
Langkah Joe terhenti. Ia membiarkan kalimatnya menggantung di udara. Tanpa memutar tubuhnya, ia menyambung ucapannya dengan nada kebapakan yang khas.
"Beristirahatlah dengan nyaman di rumahku, aku akan segera kembali. Apa ada sesuatu yang ingin kau bawakan setelah aku pulang berburu?"
Pertanyaan tiba-tiba itu membuat kening Takahiro berkerut. Otaknya berputar memikirkan makanan apa yang sekiranya bisa ia telan. Mulutnya kembali terbuka, berusaha membentuk sebuah kata tanpa suara.
Mata Bellinda kembali menyipit, membaca pergerakan bibir yang lambat itu. Ia hanya bisa menangkap bentuk mulut yang menyiratkan huruf awalan "A" dan akhiran "M".
*'A... M...'* Bellinda mengulanginya di dalam kepala. Otaknya bekerja keras memecahkan teka-teki itu. Di tengah usahanya berpikir, dadanya kembali terasa sesak—sisa penyakitnya memberontak.
Namun, melihat raut wajah Takahiro yang memaksakan diri menahan nyeri hanya untuk menjawab, Bellinda menguatkan diri. Ia menelan rasa sesaknya.
Tepat saat ia mengalihkan pandangannya ke arah pekarangan luar, matanya menangkap seekor unggas peliharaan tetangga yang tengah melintas santai.
Potongan puzzle itu seketika tersusun di kepalanya. Karena tebakannya cocok dengan dua huruf tersebut, Bellinda tak ragu mengambil alih jawaban.
"Bawakan dia ayam hutan yang besar, dan pastikan kamu dapat yang betina. Tekstur ayam betina lebih empuk saat di proses dibandingkan ayam jantan."
Di ambang pintu, Joe langsung menoleh dari atas bahunya. Kelopak mata kuningnya berkedip cepat memproses pesanan spesifik yang diucapkan istrinya sebelum Takahiro sendiri selesai bicara. Wajah pria itu membeku sejenak, tak menyangka dengan detail pesanannya.
"Jadi, tolong diingat itu!" lanjut Bellinda singkat, nadanya sedikit mendikte.
Di atas lincak, Takahiro hanya bisa mematung. Mulutnya sedikit terbuka, matanya ikut mengerjap lambat. Tubuhnya yang dibelit perban memang sulit bergerak, tapi dari posisinya, matanya merekam jelas interaksi keluarga ini.
Respons cepat Bellinda tadi menamparnya dengan kesan positif. Ia memang sama sekali tidak mengenal wanita berambut maroon ini, tapi entah kenapa, atmosfer di sekeliling Bellinda terasa sangat menenangkan.
Sifat keibuan wanita itu tanpa sadar menyusup ke dalam hatinya, memberinya kenyamanan yang tak pernah ia bayangkan di tempat asing ini.
Sadar tak ada lagi yang perlu diperdebatkan, Joe mendengus geli dan kembali memantapkan langkahnya.
"Baiklah. Akan kubawakan pesananmu itu, Anak muda!"