Gibran Tanuwijaya Gilbert, duda anak satu yang harus merelakan kepergian istrinya disaat lagi sayang-sayangnya, cinta Gibran sangat besar terhadap almarhum istrinya sehingga membuat Gibran menutup hatinya rapat-rapat untuk wanita manapun.
Kehadiran Livia yang merupakan guru sang anak mampu memporak-porandakan hatinya. Livia yang merupakan seorang janda tanpa anak itu sangat menyayangi anak Gibran begitu pun sebaliknya.
Akankah Gibran tetap menutup rapat hatinya atau akan menuruti keinginan anaknya yang sangat menginginkan seorang Ibu?
Supaya nyambung dan kalian tahu siapa Gibran, kalian baca dulu CINTA DOSEN GENIUS...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
💔
💔
💔
💔
💔
Setelah sekian lama berbincang-bincang, akhirnya Oma Tasya dan Oma Rubby memutuskan untuk pulang, sekarang hanya tinggal Gibran, Nasya, dan Gilsya.
Nasya tidak ikut pulang karena ingin menemani Gilsya di rumah sakit.
"Papi, Gilsya ingin bertemu dengan Bu Livia."
"Bu Livia? siapa dia sayang?" tanya Nasya penasaran.
"Dia Guru Gilsya Tante, Papi tolong telepon Bu Livia dong suruh kesini."
"Gilsya sayang, sekarang Bu Livia pasti sedang mengajar mana bisa Bu Livia datang kesini."
"Tapi Gilsya ingin Bu Livia kesini Papi," rengek Gilsya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Gibran pun bangkit dari duduknya dan menghampiri puteri cantiknya itu, diusapnya kepala Gilsya dengan sangat lembut.
"Baiklah, Papi akan menyuruh Bu Livia kesini tapi tidak sekarang nunggu Bu Livianya selesau mengajar dulu ya."
Gilsya pun kembali tersenyum dan dengan semangat menganggukan kepalanya. Sementara itu Nasya terlihat sedikit kesal, karena sekarang Gilsya tidak lagi menginginkannya melainkan ada sosok Bu Livia yang sudah menggantikannya.
"Aku ingin lihat seperti apa Bu Livia itu," batin Nasya.
"Sayang, Papi mau cari kopi dulu ya sebentar tidak akan lama kok nanti Papi segera kembali."
"Oke Papi."
Gibran pun pergi meninggalkan ruangan rawat Gilsya, Gibran sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Nasya membuat Nasya sedikit kesal.
"Sayang, Tante boleh tanya ga? memangnya Bu Livia itu orangnya seperti apa?" tanya Nasya.
"Bu Livia itu orangnya cantik, baik banget, dan juga lembut."
"Memangnya Tante ga baik ya?" seru Nasya dengan pura-pura marah.
"Tante Nasya baik banget kok, tapi Bu Livia juga sangat baik kemarin aja Bu Livia mau datang ke rumah Gilsya dan memasakan Gilsya spageti," celoteh Gilsya.
"Hah..datang ke rumah? terus Papi kamu gimana? marah tidak Bu Livia datang ke rumah?"
"Tidak, Papi justru makan spagetinya juga."
"Apa?"
Nasya sangat terkejut, karena sepengetahuannya Gibran itu sangat dingin dan cuek kepada yang namanya wanita bahkan dulu Gilsya memanggil dirinya dengan sebutan Mommy saja, Gibran sudah sangat marah apalagi kalau Nasya mendekatinya itu sangat mustahil.
Tapi menurut Gilsya, Bu Livia sampai datang ke rumahnya dan Gibran sama sekali tidak marah membuat Nasya semakin penasaran akan sosok Bu Livia itu.
"Kok bisa sih? padahal aku aja kalau datang ke rumahnya selalu saja dijudesin," batin Nasya.
"Kemarin juga waktu Papi ke Semarang, Papi belikan oleh-oleh buat Bu Livia," celoteh Gilsya kembali.
"Apa?"
Lagi-lagi Nasya dibuat terkejut, baru pertama kali Gibran bersikap seperti itu kepada seorang wanita dan wanita itu merupakan Guru Gilsya.
"Berarti aku kalah dong sama Gurunya Gilsya," batin Nasya.
Tidak lama kemudian, Gibran pun kembali ke ruangan rawat Gilsya dan ternyata Gilsya sudah tertidur.
"Kamu boleh pulang!" seru Gibran dingin.
"Kak, aku ini ingin menemani Gilsya disini memangnya ga boleh? kenapa sih Kakak selalu bersikap dingin kepadaku? apa salahku padamu Kak?" kesal Nasya.
"Aku ga suka dengan sikap kamu Nasya, kamu selalu berusaha mendekati Gilsya bukan sebagai Tante kepada keponakannya tapi ada niat terselubung yang ingin kamu dapatkan dari kedekatan itu."
"Apa? aku tidak pernah punya niat terselubung, picik sekali pemikiran kamu Kak."
"Yang picik itu bukan aku tapi kamu, aku pernah mendengar pembicaraan kamu dengan Mommy Tasya. Mommy Tasya ingin menjodohkan kamu denganku dan kamu menyetujuinya, Gilsya memang sayang sama kamu karena wajah kamu yang mirip dengan Maminya tapi jangan harap aku akan mau menikahimu."
Mata Nasya sudah berkaca-kaca. "Apa kekuranganku? kenapa Kakak lebih memilih Guru Gilsya dibandingkan aku?"
"Maksud kamu apa?"
"Aku sudah dengar semuanya dari Gilsya, Guru Gilsya kemarin ke rumah kalian bahkan Kak Gibran memberikan oleh-oleh kepada Guru Gilsya, itu sangat aneh Kak. Kakak tidak pernah seperti itu kepada wanita manapun, tapi kenapa sekarang Kakak begitu baik sama dia? apa Kakak sudah jatuh cinta sama Guru Gilsya?" seru Nasya.
"Itu bukan urusan kamu!"
"Tapi Kak, ini demi Gilsya bukannya seharusnya Gilsya mendapatkan Mami yang sudah kenal dengannya dan menyayangi dia dengan tulus, bisa saja kan Gurunya Gilsya itu hanya berpura-pura baik demi mendapatkan perhatian Kakak dan Gilsya."
"Ini, ini yang aku tidak suka dari kamu. Kamu memang saudara kembarnya Alsya tapi sifat kalian jauh berbeda, Alsya selalu berpikir positif kepada setiap orang dan tidak pernah menilai orang itu jahat berbeda dengan kamu yang selalu menilai orang negatif tanpa kamu tahu orang itu seperti apa."
Tes...
Nasya kembali meneteskan airmatanya...
"Jadi Kakak lebih membela Guru Gilsya yang baru Kakak kenal daripada aku yang sudah bertahun-tahun bersama Gilsya dan ikut mengurus Gilsya?"
"Aku tidak membela siapa pun tapi setidaknya Guru Gilsya lebih tulus sayang kepada Gilsya tanpa mempunyai embel-embel apapun."
Nasya terlihat kesal dan lebih memilih pergi meninggalkan ruangan rawat Gilsya.
***
Sementara itu, Monica saat ini sudah berada di depan sekolah Gilsya. Monica berniat menjemput Gilsya sebelum Gibran datang, Monica tidak tahu kalau saat ini Gilsya tidak masuk sekolah karena sakit.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya anak-anak pun keluar dan itu artinya sudah waktunya pulang. Monica menajamkan matanya, mencari sosok Gilsya tapi ternyata Gilsya sama sekali tidak terlihat.
"Kok anaknya Pak Gibran ga kelihatan? apa jangan-jangan dia menunggu di dalam lagi karena Pak Gibran belum datang? aku masuk sajalah ke sekolahnya," gumam Monica.
Monica pun keluar dari dalam mobilnya dan mulai memasuki area sekolah, Monica menanyakan kepada satpam dimana letak kelas Gilsya tapi sayang Monica tidak tahu nama anak Gibran membuat satpam itu bingung.
"Ibu ini mau cari siapa?"
"Aku mau cari anak perempuan cantik, anaknya Pak Gibran."
"Aduh, saya kurang tahu Bu yang mana kalau Ibu tahu nama anaknya mungkin saya tahu."
"Sial, aku tidak tahu siapa nama anak Pak Gibran," batin Monica.
Satpam melihat Livia yang baru saja keluar dari dalam kelas.
"Bu, itu ada Gurunya mungkin Ibu bisa bertanya kepada beliau."
Monica menoleh dan Monica hanya bisa melihat punggungnya yang sedang berjalan menuju ruang Guru.
"Ya sudah, terima kasih ya Pak."
Monica pun segera berlari dan mengejar Livia yang hendak masuk ke dalam ruang Guru.
"Bu, tunggu Bu!" teriak Monica.
Deg...
Livia menghentikan langkahnya, walaupun Livia sudah lama tidak bertemu dengan Monica tapi Livia masih ingat suara Monica. Monica segera menghampiri Livia yang masih membelakanginya.
"Maaf Bu, saya mau tanya kalau anaknya-----"
Belum juga Monica melanjutkan perkataannya, Livia pun membalikan tubuhnya betapa terkejutnya Monica saat melihat siapa yang menjadi Guru dari anaknya Gibran.
"Li--livia....."
Keduanya saling bertatapan satu sama lain, sungguh Monica sangat terkejut dengan pertemuan yang tidak terduga ini.
💔
💔
💔
💔
💔
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
Monica emang ga waras mau membunuh bapak angkat nya.
ga waras, Gila