NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Perperangan / Akademi Sihir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Author Raf

Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.

Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.

Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.

Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.

Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.

Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Genderang Sidang Agung

   ​Waktu seakan merayap dengan sangat lambat di dalam ruang utilitas bawah tanah yang sempit itu. Sinar matahari siang yang terik di luar istana sama sekali tidak mampu menembus tebalnya dinding beton dan marmer pelindung. Kapten Alden dan Clara hanya bisa mengandalkan insting dan detak jam saku mekanis untuk menghitung setiap detik yang berlalu menuju malam Sidang Agung.

   ​Udara yang pengap dan lembab mulai menguji ketahanan fisik Clara. Sebagai seorang wanita biasa yang inti sihirnya telah hancur, bertahan berjam-jam di lingkungan bawah tanah yang minim oksigen membuat wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Namun, sepasang mata jernihnya tidak sedikit pun memancarkan keraguan. Ia duduk bersandar di dada bidang suaminya, merasakan setiap tarikan napas Alden yang stabil dan menenangkan.

   ​"Kau lelah, Clara?" bisik Alden, mengeratkan pelukan lengan kirinya di bahu sang istri, sementara jubah perang hitamnya ia gunakan untuk menyelimuti tubuh ramping Clara agar tidak kedinginan. "Jika kau merasa pusing, tidurlah sejenak. Aku akan membangunkanmu saat gema terompet sidang mulai berbunyi."

   ​Clara menggeleng pelan, memaksakan seulas senyum tegar di bibirnya. Tangan kirinya bergerak mengusap punggung tangan Alden yang bersiaga di dekat pinggang. "Aku tidak akan bisa tidur nyenyak mengetahui tikus-tikus politik itu sedang merencanakan eksekusimu tepat di atas kepala kita, Alden. Pikiranku terus berputar. Kita hanya punya satu kali kesempatan untuk memukul telak faksi pengkhianat itu di hadapan Kaisar Tertinggi."

   ​Di dalam saku jubah Alden, botol kristal kecil yang berisi sisa esensi kutukan hitam dari tubuh Rin dan Toby terasa berdenyut samar, sebuah bom waktu pembuktian yang siap meledakkan seluruh kebohongan konspirasi ini.

   ​Di atas mereka, gema langkah kaki yang berat dan teratur mulai terdengar berderap memasuki Aula Sidang Agung. Waktu penantian akhirnya telah usai. Malam telah sepenuhnya merayap menyelimuti ibu kota bawah.

   ​Suasana di dalam Aula Sidang Agung Kekaisaran terasa sangat megah sekaligus mengintimidasi. Ruangan raksasa berbentuk setengah lingkaran itu didominasi oleh pilar-pilar emas dan pualam hitam yang menjulang tinggi ke langit-langit kubah. Ribuan lilin sihir yang melayang di udara memancarkan cahaya keemasan yang hangat, menerangi meja-meja bundar tempat para menteri dan perwira tinggi militer duduk menempati posisi mereka.

   ​Di sudut barat ruangan, Mayor Cakra berdiri dengan posisi istirahat di tempat. Seragam militernya tampak licin tanpa cela, dan wajahnya dipasang dengan ekspresi sedingin es. Sepasang mata elangnya terus mengawasi setiap pergerakan di dalam ruangan, memastikan titik buta pemindai keamanan tetap terbuka untuk jalan masuk Alden.

   ​Tidak jauh dari posisi Mayor Cakra, Hana bergerak lincah di antara meja-meja para menteri. Mengenakan seragam pelayan istana berpola bunga dahlia putih, ia dengan cekatan menuangkan anggur merah ke dalam cawan emas milik para tetua dewan, sembari menajamkan pendengarannya.

   ​Terdengar suara terompet gading raksasa ditiup sebanyak tiga kali, menggetarkan lantai marmer aula. Seketika itu juga, seluruh percakapan terhenti. Ribuan orang di dalam ruangan itu serempak berdiri dan membungkuk dalam-dalam saat pintu ganda utama terbuka lebar.

   ​Kaisar Tertinggi Valerius melangkah masuk dengan keagungan seorang penguasa absolut. Mengenakan jubah putih bertahtakan permata bintang, ia berjalan menuju singgasana emas di pusat ruangan, lalu duduk dan memberi isyarat agar seluruh hadirin kembali menempati kursi mereka.

   ​"Sidang Agung Kekaisaran tahunan resmi dibuka." Suara bariton Kaisar Valerius bergema ke seluruh penjuru ruangan. "Marsekal Vane, Menteri Pertahanan Luar, majulah dan sampaikan laporan utamamu!"

   ​Marsekal Vane bangkit dari kursinya dengan senyum kemenangan yang tersamar dengan sangat apik. Jubah merah tuanya berkibar perlahan saat ia melangkah ke tengah podium bundar.

Namun, yang membuat suasana berbeda malam ini adalah sosok pria jubah biru keperakan yang berjalan di sebelah kiri Marsekal Vane, dia adalah Brakala, sang Penasihat Sihir Kekaisaran yang ambisius. Brakala berjalan dengan dagu terangkat, membawa gulungan perkamen sihir yang akan digunakan sebagai dalih hukum untuk menjatuhkan Alden.

   ​"Yang Mulia Kaisar Tertinggi, dan seluruh anggota dewan yang terhormat," buka Marsekal Vane dengan suara lantang yang menggelegar. "Kedaulatan wilayah udara kita telah dikhianati. Kapten Alden, Komandan Armada Langit Utama, telah melakukan pembelotan tingkat tinggi dengan membawa kabur kapal induk kebanggaan kita, The Sky Leviathan, menembus blokade perbatasan utara!"

   ​Marsekal Vane kemudian menoleh ke arah Brakala, memberi isyarat. Brakala maju satu langkah, tersenyum licik sembari membuka perkamen sihirnya. "Benar, Yang Mulia. Berdasarkan analisis energi makro yang saya lakukan, Kapten Alden sengaja menukar rahasia militer Kekaisaran dengan sihir hitam terlarang demi ambisi pribadinya. Oleh karena itu, kami mendesak dewan untuk mengesahkan surat perintah eksekusi mati untuk Kapten Alden secepatnya!"

   ​Kaisar Valerius menatap Vane dan Brakala dengan ekspresi yang tidak terbaca. Sang Kaisar mengangkat tangan kanannya, bersiap memberikan ketukan palu pengesahan. Namun, tepat sebelum palu emas itu menyentuh landasan kayu, sebuah suara mekanis yang sangat keras terdengar dari arah dinding kayu jati tua raksasa di belakang podium menteri.

   ​KRAAAK... BRAAAK!

   ​Sebagian dari dinding kayu berukir itu tiba-tiba bergeser paksa dari engsel tersembunyinya, mengepulkan uap air hangat ke udara aula. Seluruh kepala di dalam ruangan tersentak menoleh, sementara para pengawal Zirah Hitam langsung menghunuskan senjata mereka.

   ​Dari balik kepulan debu dan uap utilitas hidrolik, dua sosok melangkah keluar menembus cahaya lilin yang temaram. Kapten Alden berdiri dengan postur tegap yang luar biasa mengintimidasi, jubah hitamnya sedikit kotor namun aura badai safirnya menyala terang. Tangan kirinya menggenggam erat tangan seorang wanita bergaun wol sederhana yang berdiri dengan anggun di sampingnya, yakni Clara.

   ​"Simpan napas busukmu, Marsekal Vane!" Suara Alden menggelegar menembus seisi ruangan. "Satu-satunya pengkhianat yang mengancam kedaulatan Kekaisaran ini... sedang berdiri tepat di depan singgasana Kaisar!"

   ​Seluruh Aula Sidang Agung mendadak sunyi senyap. Namun, di antara ribuan orang yang membeku, gejolak emosi paling hebat terjadi di tengah podium.

   ​Napas Clara mendadak tercekat. Sepasang matanya melebar sempurna saat tatapannya jatuh pada sosok pria berjubah biru keperakan di samping Marsekal Vane. Darah Clara rasanya mendadak berdesir dingin. Pria itu... wajah tampan dengan guratan seringai licik itu... tidak salah lagi. Dia adalah Brakala.

Pria dari masa lalunya yang dulu sangat dia percayai, namun tega mengkhianatinya, memfitnah keluarganya, dan menghancurkan inti sihir penyembuhnya hingga Clara menjadi wanita cacat tanpa kekuatan. Genggaman tangan Clara di jemari Alden seketika mengetat, tubuhnya gemetar menahan gelombang trauma dan amarah yang mendadak bangkit kembali.

   ​Di seberang ruangan, Brakala tak kalah syok. Senyuman angkuh di wajah sang Penasihat Sihir langsung luntur seketika. Gulungan perkamen di tangannya nyaris terjatuh. Matanya menatap Clara dengan ketidakpercayaan yang mutlak.

Bagaimana bisa?! Brakala mengira wanita itu sudah hancur, membusuk dalam kemiskinan dan rasa bersalah setelah kehilangan sihirnya. Namun malam ini, di ruang paling agung di seluruh Kekaisaran, Clara justru muncul dengan sangat anggun, berdiri tegap di samping pria paling ditakuti di dunia langit, yaitu Kapten Alden.

Dan yang membuat ego Brakala semakin tercabik adalah fakta bahwa mereka berdua saling menggenggam tangan dengan begitu erat, menandakan sebuah ikatan yang jauh lebih sakral daripada sekadar pelarian.

   ​Alden yang merasakan perubahan emosi dan getaran di tubuh istrinya, melirik tajam ke arah Brakala. Insting militer sang Kapten langsung menangkap tatapan penuh dendam dan rasa bersalah di antara Clara dan sang Penasihat Sihir.

Rahang Alden mengeras. Langkah kakinya maju selangkah, menempatkan tubuh tegapnya sedikit di depan Clara, bertindak sebagai perisai absolut yang memutus tatapan Brakala dari istrinya. Aura badai safir di sekujur tubuh Alden berdesis tajam, menekan Brakala dengan intimidasi mental yang membuat pria licik itu mundur setengah langkah karena ketakutan.

   ​"Yang Mulia Kaisar Tertinggi." Alden berkata dengan lantang, mengabaikan Brakala yang mulai pucat dan menatap langsung ke arah singgasana. "Saya datang bukan untuk menyerahkan diri, melainkan untuk membawa bukti konkrit atas persekongkolan keji antara Marsekal Vane dan Penasihat Sihir Anda yang telah mencoba meracuni darah keturunan militer dengan sihir terlarang!"

   ​Konfrontasi besar kini telah resmi meledak. Di bawah riuh rendah kepanikan dewan menteri, takdir lama yang belum selesai antara Clara dan Brakala kini siap dipertaruhkan di atas altar keadilan langit.

1
Al Ranai
semangat kakkk
HaRas_DeHas: Makasih banyak Kak. Jangan lupa follow ya.
total 1 replies
Al Ranai
semangatt kakk, di tunggu kelanjutannya yaaa💪💪😁
HaRas_DeHas: Siap...
total 1 replies
Al Ranai
bagus kakkk ceritanya, semangatt kakkk😊
HaRas_DeHas: Wahhh... makasih banyak Kak sudah mampir. Alhamdulillah, saat sepi pembaca ternyata ada yang mampir dan beri komen. Jangan lupa follow akun saya ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!