"Terimakasih sayang." Vano mencium singkat bibir Ella dan bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
"Kapan kau akan menikahiku?" Ella masih berada di bawah selimut tanpa memakai pakaian.
ELLA, seorang model cantik dan seksi. Putri tunggal seorang pengusaha terkenal di kota tempat tinggalnya. Yang membuat kaum adam rela melakukan apa saja asal bisa bersama dirinya.
Menjalin hubungan dengan pengusaha tampan dan sukses. Yang di gilai oleh kaum hawa. VANO. Yang juga merupakan putra tunggal pengusaha sukses di kota tersebut
Meski mereka masih berpacaran, hubungan mereka layaknya pasangan suami istri. Seluruh orangpun tahu jika mereka memiliki hubungan spesial.
Jangan lupa meninggalkan jejak setiap membaca. Terimakasih atas waktu dan dukungan untuk author.
Akan ada 226 eps untuk DUNIA MELLANIE.
Dan,,,, akan dilanjutkan kisah cinta antara HANA & DENIS untuk bab selanjutnya.
Terimakasih, semoga suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ara cahya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DM eps 18
"Kamu memang anak baik." Nyonya Risma tersenyum dengan mata berkaca-kaca melihat Ella.
"Sebentar, Ella angkat telepon dulu."
MAM calling...
Ada apa ma?
^^^Kamu di mana Ell?^^^
Di rumah sakit, jenguk Tante Risma.
^^^Ya sudah, nanti kamu pulang low ya.^^^
^^^Tidur di rumah.^^^
Iya ma.
^^^Jangan tidur di apartemen.^^^
^^^Pokoknya tidur di rumah.^^^
Ya ampun, iya Tuan Ratu.
Hamba akan pulang.
Dan tidur di rumah.
^^^Ya sudah.^^^
^^^Salam buat Tante Risma.^^^
^^^Semoga cepat sembuh.^^^
Iya mamaku sayang.
"Kenapa Ell?" tanya Tante Risma setelah Ella menutup panggilan telepon dengan mamanya.
"Biasa Tan, Mama. Suruh aku buat pulang. Oo iya tante. Dapat salam dari mama. Mama mendo'akan tante supaya cepat sembuh."
"Makasih. Bilang sama mama kamu. Tante sudah sembuh karena lihat senyum kamu."
"Sayang banget mereka sama dia. Namanya juga orang kaya. Coba kalau Ella bukan anak orang kaya dan model terkenal. Pasti nggak akan seperti ini. Yakin gue." batin Lena tersenyum kecut.
"Ell, kamu tunggu sebentar ya. Tante kan mau pulang hari ini. Kamu antar tante pulang ya." Nyonya Risma memegang telapak tangan Ella.
"Han." Ella menoleh pada asistennya. Hana.
"Aman Tuan Putri." Ella mengangguk dan tersenyum pada Nyonya Risma.
"Terimakasih sayang, terimakasih kamu masih peduli sama Tante." Nyonya Risma berucap lirih. Hanya beliau dan Ella yang mendengar.
"Ini bukan salah Tante. Ini permasalahan kami. Apapun nanti yang terjadi, Ella akan tetap sayang sama Tante." Ella mengelus-elus telapak tangan Nyonya Risma.
"Maafkan Vano, berikan Vano kesempatan."
"Maaf tan, Ella tidak ingin membahas masalah itu." Nyonya Risma mengangguk dengan tatapan sendu.
Tok,,tok,,tok,,
"Masuk." ucap Tuan Danto.
"Permisi. Maaf mengganggu. Saya ingin bertemu Tuan Vano." Reza sedikit menundukkan kepalanya.
"Ada apa?" Vano berdiri dan menghampiri Reza.
"Tuan Egi ingin bertemu. Beliau ingin membicarakan masalah kerja sama perusahaan."
"Kapan."
"Sesegera mungkin. Sebisa Tuan Vano."
Vano terdiam dan melihat ke arah Ella dan mamanya yang tampak berbincang lirih. Reza juga mengikuti ke mana arah mata dari Vano.
"Ella. Apa dia sudah memaafkan Tuan Vano." batin Reza.
"Reza, sini Za." Nyonya Risma memanggil Reza untuk mendekat.
"Nyonya, Nona Ella." Reza menyapa dengan sopan keduanya.
Pandangan Reza menuju ke pundak Ella. Tampak kemeja yang di pakai Ella ada noda bekas darah. Walau hanya sedikit. Reza lantas memandang ke arah wajah Ella.
Ella hanya tersenyum dan memainkan kedua alisnya. Interaksi keduanya tak lepas dari pandangan mata Vano.
"Bagaimana kabar kamu Za?"
"Baik Nyonya."
"Pa, apa semuanya sudah selesai. Mama pengen pulang." rengek Nyonya Risma.
"Semua sudah di urus sama orang suruhan Papa."
"Kenapa Papa nggak bilang. Tahu gitu pulang dari tadi." Nyonya Risma cemberut.
"Untung nggak pulang dari tadi low tante. Tahu gitu nggak ketemu sama Ella."
"Benar juga ya sayang." Nyonya Risma tersenyum dengan telapak tangan mengelus pipi Ella.
"Lebih baik kita segera pulang. Sebelum gelap." Oma Yeti berdiri dari duduknya.
"Barang-barang tante bagaimana. Biar Ella yang bereskan."
"Tidak perlu. Ini rumah sakit saya. Biar nanti saya suruh seseorang untuk mengantarnya ke rumah." ucap Oma Yeti dengan jutek dan sombong.
"Enak banget yan Tan, punya Rumah Sakit sendiri. Lebih gampang. Tapi sayangnya Ella nggak pengen punya rumah sakit sendiri." ucap Ella.
Semua terdiam dan memandang ke arah Ella. Tidak biasanya Ella menyahut jika Oma Yeti berbicara. Biasanya Ella hanya diam sambil tersenyum, apapun yang terlontar dari mulut Oma Yeti. Meskipun sedikit mengena di hati Ella.
Mungkin bagi Ella sekarang keadaan sudah berubah. Semenjak dia mengetahui kelakuan Vano.
"Ell." seru Vano.
Vano merupakan cucu kesayangan Oma Yeti. Sejak kecil, dia sering bepergian dengan Oma Yeti jika beliau mengadakan pertemuan bisnis. Tapi dengan izin Tuan Danto pastinya.
Bahkan, apapun yang Vano inginkan, Oma Yeti pasti akan mengabulkannya. Meski harus berdebat dulu dengan Nyonya Risma. Karena Nyonya Risma selalu mengajarkan kesederhanaan dan juga usaha.
Tetapi meskipun demikian, Vano juga dekat dengan kedua orang tuanya. Karena mereka selalu memantau setiap perkembangan dari Vano sejak kecil. Meski Nyonya Risma pemilik butik, dan juga sibuk. Beliau tidak melupakan kodratnya sebagai seorang ibu bagi Vano. Dan seorang istri bagi Tuan Danto.
"Ella tidak ingin mempunyai rumah sakit, karena Ella tidak ingin sakit. Begitupun dengan mama dan papa. Ella selalu berdo'a, supaya mereka selalu sehat. Tidak pernah sakit. Dalam bentuk apapun." Ella memandang ke arah Vano.
"Amin." ucap Hana dengan keras.
"Reza, tolong ambilkan kursi roda itu." Tuan Danto menunjuk ke arah tempat kursi roda di letakkan.
"Maaf Tuan, infus Nyonya." Reza memandang ke arah tangan Nyonya Risma yang masih tersambung dengan selang infus.
"Di bawa pulang saja. Bukankah rumah sakit ini milik Oma. Biar nanti dokternya yang datang ke rumah setelah cairan infusnya habis." Ella memandang ke arah cairan infus yang masih tersisa sedikit.
"Perkataan macam apa itu." batin Vano memandang tajam ke arah Ella.
"Bukan begitu sayang."
Ella berjalan ke arah Vano. Dan mencium pipi Vano. Setelah itu di lapnya pipi yang telah di ciumnya itu dengan tersenyum mengejek.
"Ella." batin Hana.
Ada rasa senang dan takut di hati Hana. Dia senang, karena Ella mulai menjadi dirinya sendiri. Tidak selalu menurut dan takut dengan setiap perkataan atau tatapan dari Vano.
Tapi Hana juga takut, karena Hana tahu seperti apa Vano itu. Hana hanya takut jika Vano menyakiti Ella. Hana tidak ingin Ella kenapa-napa.
"Benar kata Ella. Kita pulang saja." Tuan Danto segera menghentikan keadaan yang kelihatannya tidak lagi kondusif.
"Vano, bantu mama mu." Tuan Danto dan Vano membantu Nyonya Risma duduk di kursi roda.
"Om, biar Ella yang mendorong kursi rodanya." Ella segera beralih ke belakang Nyonya Risma.
"Terimakasih sayang."
"Infusnya biar di pegang oleh Lena saja. Dia asistennya Oma Yeti kan." Ella melirik ke arah Oma Yeti dan Vano.
Mau tidak mau, Lena berdiri dan memegang infus yang masih tersisa sedikit.
"Tolong pegang yang benar, jangan sampai malah darah tante Risma yang keluar." Ella membenarkan letak infus yang di pegang Lena.
"Sial, bukannya dia juga punya asisten. Kenapa mesti nyuruh gue." batin Lena.
"Rez, mobilnya sudah kamu siapkan. Kasihan tante jika harus menunggu." Reza segera berjalan lebih dulu untuk menyiapkan mobil. Padahal di parkiran sudah ada sopir yang sudah menunggu mereka.
"Rez. Panggilan macam apa itu." batin Vano saat Ella memanggil Reza.
"Oma, sebaiknya Oma berjalan di depan saja. Ella takut jika Oma tertinggal, karena kita berjalan di depan." Ella berkata sambil tersenyum dengan manis.
Dengan hati kesal, Oma berjalan lebih dulu.
"Sayang, Oma berjalan sendirian low. Apa nggak kasihan." Vano menatap Ella dan segera menyusul Oma.
"Putrimu mulai memperlihatkan taringnya Haris. Setelah ini, pasti Vano akan lebih susah mengendalikan dia." batin Tuan Danto sambil tersenyum, membayangkan bagaiman Vano yang dikenal selama ini akan di buat susah oleh Ella.
"Kamu sendiri yang membuat Ella menjadi seperti ini. Dan mama bisa lihat, Ella yang penurut dengan semua keinginan kamu, akan berubah." batin Nyonya Risma memandang ke arah depan, dimana Vano berjalan dengan Oma Yeti.
"Belum jadi keluarga sudah berlagak. Pantas Oma tidak menyukai dia." batin Lena yang berada di samping Ella melirik Ella dengan tatapan tidak suka.
Hana yang berada di belakang Ella. Hanya bisa melihat raut wajah setiap orang di sekitar Ella. Hana tersenyum melihat semuanya. Dari senyum yang di tampilkan Tuan Danto, hingga lirikan mata Lena pada Ella.
Hana merupakan CCTV hidup untuk Ella.
vano dan ella berakhir bgni ceritanya..
padahal berharap vano kembali