Karena penghianatan pacar dan sahabatnya, Zianna memutuskan untuk pindah sekolah. Namun siapa sangka kepindahannya ke SMA Galaxy malah mempertemukan dirinya dengan seorang cowok bernama Heaven. Hingga suatu ketika, keadaan tiba-tiba tidak berpihak padanya. Cowok dingin itu menyatakan perasaan padanya dengan cara yang sangat memaksa.
"Apa nggak ada pilihan lain, selain jadi pacar lo?" tanya Zia mencoba bernegosiasi.
"Ada, gue kasih tiga pilihan. Dan lo harus pilih salah satunya!"
"Apa aja?" tanya Zia.
"Pertama, lo harus jadi pacar gue. Kedua, lo harus jadi istri gue. Dan ketiga, lo harus pilih keduanya!" ucap Heaven dengan penuh penekanan.
Follow IG Author : @smiling_srn27
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smiling27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. MAKAN PEDAS
"Gimana, udah beres?" tanya Heaven melihat Gala dan yang lainnya masuk bersamaan.
"Udah, lo tenang aja. Orang-orang nggak akan curiga kalau anak Gorized abis dipukulin sama kita."
Gala menuju ke belakang untuk mencuci tangannya yang berlumuran darah, setelah perkelahian tadi ia memang sempat bermain-main dulu dengan anak Gorized yang habis dipukulinya. Menurut Gala membuat beberapa ukiran di kulit mereka itu terasa sedikit menyenangkan, dasar psikopat.
"Zo, lo cari tahu siapa Dio. Gue yakin ada yang nggak beres sama tuh anak," titah Heaven.
"Lo tenang aja, gue nggak mungkin lepasin dia gitu aja!" jawab Kenzo menahan geram.
Kenzo memang cukup jeli jika mencari informasi. Heaven yakin tugas itu mampu di selesaikan olehnya dengan sangat akurat. Mana mungkin juga dia membiarkan orang yang telah mengusik gengnya hidup dengan tenang.
"Masalah Hugo gimana?" tanya Kenzo.
"Gue juga nggak tahu! Tapi lo tenang aja, gue bakal cari cara buat buktiin kalo gue nggak bersalah!" jawab Heaven.
Salah jika orang mengira Heaven hanya diam saja ketika dituduh melakukan sesuatu yang tidak dilakukannya, cowok itu sedang mencari bukti di tempat kejadian. Meskipun Heaven tidak melihatnya sendiri, tapi ia percaya apa kata sahabatnya tentang apa yang terjadi pada Hara.
"Anjing, curang lo!" pekik Nanda tiba-tiba. Suasana yang sebelumnya tenang, kini menjadi riuh akan pekikan para penghuni markas.
"Dih lo nya aja yang bego, udah bego kalahan lagi!" cibir Agam mengundang tawa ketiga pendukungnya.
Baru saja Nanda kalah dalam permainan, kali ini bukan ps atau permainan digital lainnya. Ia baru saja menyelesaikan permainan catur dengan Agam sebagai pemenangnya. Salahnya juga berani menantang Agam, padahal tahu sendiri kalau Agam itu memang pandai bermain catur.
"Ini siapa sih yang naro kuda di sini anying, kan gue jadi nggak bisa lewat!" Nanda menunjuk kuda yang baru saja membuatnya kalah melawan Agam.
"Elu yang salah strategi bege!" kesal Aldi menoyor kepala Nanda.
Jagoannya baru saja kalah, tentu saja ia akan mendapat hukuman karena telah mendukung Nanda. Bukan hanya Aldi, dua orang yang lainnya pun akan mendapatkan hukuman yang sama, begitu juga dengan Nanda.
"Ah kuda siake!" kesal Nanda melempar pion di samping tangan.
"Bhahaha... mampus lo, makan tuh cabe!" Agam tertawa puas, siapa suruh menantang seorang Agam Maverick.
"Anjir lo marah ama kuda kenapa yang dilempar pionnya, ke gue lagi!" protes Kenzo. Baru saja Kenzo menangkap pion yang terlempar ke arahnya, untung saja ia menyadarinya, kalau tidak mungkin pion itu sudah mendarat tepat di wajah tampannya.
"Zo gantiin gue dong!" pinta Nanda mengetahui Kenzo suka makanan pedas.
"Nggak ada enak aja, lo yang minta taruhan kenapa jadi minta tolong Kenzo!" cegah Agam. Cowok itu menggeser dua mangkuk bakso ke depan Nanda dan tiga cowok yang mendukungnya tadi.
Nanda menelan salivanya dengan kasar melihat kuah bakso yang merah menyala seperti lava gunung meletus. Dia tidak suka makanan pedas, tapi dengan bodohnya ia menantang Agam bermain dengan bakso mercon penuh cabai sebagai taruhannya.
"Gu-gue ke kamar mandi dulu bentar." Nanda buru-buru beranjak hendak kabur, tentu saja yang lain langsung mencegahnya.
"Mau ke mana lo, nggak ada kabur-kaburan. Cepet abisin atau mau gue tambah lagi cabenya, lo kan demen tuh sama yang namanya cabe. Cabe-cabean maksudnya!" ucap Agam terkekeh.
"Anjir, mana ada gue suka sama cabe. Mending terongnya aja gue," celetuk Nanda asal.
Nanda kembali ke tempat duduknya, menghela nafasnya dengan wajah memelas.
"Udah nggak usah banyak bacot, hematin tuh energi mulut lo. Cepet abisin, lo bertiga juga!" Agam menyarahkan garpu ke tangan Nanda.
Nanda mengulurkan tangan menusuk bakso paling kecil, perlahan mengarahkan bakso itu masuk ke dalam mulutnya. Detik itu juga rasa pedas dan panas bersatu menjalar di seluruh rongga mulutnya, wajahnya kian memerah seiring dengan mulutnya yang terus bergerak mengunyah.
Sontak itu membuat semua yang melihatnya tertawa, wajah ke empat cowok itu sudah berubah merah.
Heaven menggeleng kecil melihat kelakuan konyol sahabatnya, cukup senang melihat kedua sahabatnya itu sudah akur. Padahal baru beberapa menit yang lalu mereka bertengkar, tapi sekarang mereka sudah akur kembali seolah tidak pernah terjadi apapun.
"Mau ke mana lo?" tanya Heaven melihat Kenzo beranjak dari duduknya.
"Guys gue balik dulu ya, Mama nyuruh gue balik sekarang!" ucap Kenzo. Memasukkan ponsel ke jaket Clopster kebanggaannya lalu beranjak pergi.
"Titip salam Zo buat Tante Shena!" pekik Nanda di sela kepedasannya. Tentu saja langsung mendapat tatapan maut dari Kenzo sebelum menghilang dibalik pintu.
"Masih sempet-sempetnya lo, abisin dulu tuh bakso!" cetus Agam menikmati pemandangan langka di hadapannya. Agam membuka kamera ponselnya, memotret wajah Nanda dan ketiga orang lainnya yang kini sudah memerah padam.
Cekrek
Cekrek
Cekrek
"Hahaha... bengek gue!" gelak Agam melihat hasil jepretannya.
"Tega banget si lo Gam, nggak kasian apa sama gue?" Nanda memasang wajah memelas.
"Nggak, ngapain gue kasian sama lo!" jawab Agam tidak peduli.
"Awas aja lo berani ngumbar aib seorang Nanda Azzaidan, gue pretelin usus lo terus gue parut jadiin combro!" ancam Nanda.
"Makanya jangan belagu, udah tahu nggak jago catur berlagak mau ngalahin Agam!" sindir Gala yang sudah duduk di sofa samping Heaven.
"Sialan lo Gal, bantuin kek abisin ni bakso!" balas Nanda menggerutu.
"Dih males, mending gue makan sate aja!" Gala mengambil satu tusuk sate lalu menyuap ke mulutnya, membuat Nanda menelan iri.
Puas membuat Nanda iri, Gala beralih melirik Heaven yang sedang sibuk merogoh saku celana di sampingnya.
"Hp lo baru Heav?" tanya Gala. Melihat ponsel yang baru saja Heaven ambil dari saku jaketnya.
Heaven menatap Gala aneh. "Enggak!" jawabnya sembari menggeleng.
Tapi tunggu dulu, Heaven merasa seperti ada yang aneh. Sontak Heaven melihat ponsel di tangannya, itu memang bukan ponsel miliknya. Ia menekan tombol power, dan benar saja foto cantik Zia terpampang di layar, ada beberapa panggilan dan pesan yang masuk di sana.
"Itu cewek yang tadi siang kan?" tanya Gala yang juga melihatnya.
"Gue lupa balikin hp nya tadi!" Heaven merogoh semua saku mencari keberadaan ponsel miliknya.
"Sh*it!" umpat Heaven menyadari ponselnya tidak ada di semua saku miliknya. Sepertinya Zia telah mengambilnya tadi, atau mungkin ponselnya terjatuh di jalan.
"Kenapa?" tanya Gala.
"Kayaknya hp gue diambil sama Anna!" ucap Heaven.
"Anna? Siapa Anna?" Gala mengernyit tidak tahu.
"Zianna!"
"Kok bisa?"
"Gue juga nggak tahu!"
"Emang lo nggak kerasa apa?"
"Kayaknya pas naik motor deh. Gue lagi fokus sama motor makanya nggak kerasa!" jawab Heaven sedikit bingung. Sedetik kemudian ia teringat kejadian satu bulan yang lalu, Zia pernah melakukan hal ini sebelumnya. Dan untuk kedua kalinya dengan bodoh lagi-lagi ia tidak menyadarinya.
"Hebat juga tuh cewek, sampai bisa ngambil hp lo tanpa ketahuan!" ucap Gala menggeleng kagum.
Heaven membuka kembali ponsel milik Zia, ada beberapa panggilan dan pesan masuk dari nomor miliknya. Sepertinya Zia sudah tahu password-nya, hal itu cukup membuat Heaven semakin tercengang. Ternyata Zia jauh lebih pintar dari yang ia duga sebelumnya.
"Tumben banget lo usilin cewek sampai segitunya, lo beneran suka sama dia?" tanya Gala curiga. Semenjak kejadian di minimarket, Gala sudah feeling kalau sepupunya itu menyukai cewek bernama Zianna itu.
Heaven terdiam, Gala selalu saja bisa menebak dirinya. Apa mungkin cowok itu akan menjadi peramal setelah lulus sekolah nanti.
"Lo suka sama cewek Heav?" tanya Nanda terkejut. Meski mulutnya terasa panas terbakar cabai, tapi telinganya masih waras untuk mendengar apa yang di katakan Gala tadi.
"Beneran Heav, lo suka sama cewek? Siapa?"
Agam dan yang lainnya ikut penasaran, pasalnya selama ini Heaven tidak pernah sekalipun tertarik pada perempuan. Meski beberapa kali sahabatnya menawarkan seorang perempuan, tetap saja cowok itu tidak suka dan tidak peduli. Sempat mereka berpikir kalau Heaven itu belok, tapi cowok itu membantahnya dengan tegas. Dan bukan hanya Heaven, Gala pun sama. Mereka berdua itu sudah seperti kutub Utara dan Selatan yang tidak pernah akan tersentuh.
"Zianna, cewek yang nampar Nanda tadi siang!" jawab Gala.
"ZIANNA?" pekik semua terkejut.
"Beneran Heav?" tanya Nanda kembali memastikan.
"Nggak usah kepo! Emang kenapa kalau gue suka? Salah?" Heaven menatap tajam, membuat semuanya langsung kicep.
"Nggak kok, lo nggak salah!" ucap Nanda menahan takut
Lebih baik mereka melanjutkan kegiatannya lagi dari pada mati di tangan Heaven. Gala yang melihatnya pun hanya terkekeh kecil, jika sedang marah Heaven memang bisa lebih menyeramkan daripada iblis. Nama Heaven hanya cocok pada wajahnya yang tidak manusiawi itu, namun yang lainnya... huft mungkin lebih baik jangan diperjelas.
Ponsel Zia tiba-tiba berbunyi, Heaven menatap layar ponsel di tangannya. Ada panggilan masuk dari Icha tertera di sana. Heaven menyeringai tipis, menggeser icon hijau lalu menyerahkannya pada Gala.
"Apa?" Gala menatap Heaven dan ponsel di tangannya bergantian.
"Udah jawab aja!" lirih Heaven seraya menyeringai penuh misteri tanpa sepengetahuan Gala.
"Halo!" Dengan malas Gala menjawab telepon tanpa melihat siapa yang menelepon.
Selama beberapa detik tidak ada suara apapun yang terdengar dari seberang.
"Halo! Kak Gala ya? Maaf kayaknya gue salah dial nomor!"
Gala membulatkan mata mengenali suara itu, gadis keras kepala yang pernah berusaha untuk meraih hatinya. Gadis ceria yang selalu menunjukkan senyum manis pada semua orang. Namun sekarang gadis itu sudah menyerah dan memutuskan untuk tidak mengganggunya lagi.
"Emang lo masih-"
Tut
Gala menghentikan ucapannya, melirik panggilan yang sudah tidak tersambung. Gadis yang tidak lain adalah Icha baru saja memutuskan panggilan secara sepihak.
"Bangsul, lo ngerjain gue!" pekik Gala marah pada Heaven.
Heaven tertawa lepas. "Kenapa? Bukannya lo kangen ocehannya?"
"Bangsat, gak lucu!" kesal Gala.
"Gue tahu lo kangen sama dia, makannya gue kasih ke lo. Lagian lo nggak kasian apa sama dia, cewek ceria ramah plus bego kayak dia jadi dingin kayak es batu. Gara-gara siapa coba?" tanya Heaven.
"Gue nggak minta apalagi nyuruh dia buat lakuin itu," ucap Gala dingin.
"Terserah lo?" Percuma juga Heaven memberi pengertian pada sepupunya itu, kepalanya sungguh keras melebihi batu.
"Kalian ngomongin apa sih?" tanya Nanda penasaran.
"Gila mulut lo kenapa? Bisa jontor gitu, abis di cium lebah lo?" tanya Heaven mengundang tawa semua orang.
"HEAVEN SIALAN!"
*********
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...