Hawa Hasnawi gadis penjual kripik singkong, yang dipaksa menikah dengan pemuda sombong, dingin dan angkuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semuanya karena Fariz
Fariz terus mendorong Hawa, hingga didepan pintu kamar mandi.
"Sudah dibilang jangan main dorong !! aku juga bisa sendiriiii !!!" Teriak Hawa sambil berontak, tidak mau dipegang oleh Fariz
"Oke, oke" Fariz angkat tangan "Aku tidak akan mendorongmu. Tapi, kau kuberi waktu 20 menit. Jika waktu tersebut kau belum selesai. Kau akan mendapat hukuman dariku" Ancam Fariz
"Hukuman apa !!??" Hawa menantang Fariz "Kurang kau menghukumku dari kemarin kemarin ?!" Hawa mendorong Fariz agar keluar kamar "Keluar. Keluaaarrr...!!" Fariz sudah benar benar keluar dari kamar.
Braaakkk
Setelah pintu tertutup dan benar benar terkunci dari dalam, Hawa baru akan membersihkan diri
"Memangnya aku tidak mampu mendorongmu, lihat saja. Siapa yang akan menang diantara kita"
-
Hawa sudah mengganti bajunya pemberian Fariz, setelah tadi mandi menggunakan handuknya Fariz, sabunnya Fariz, samponya Fariz, deodorannya Fariz. Semuanya milik Fariz ia pakai. Untung CD nya bukan punya Fariz, BH pun, bukan milik Fariz.
Sentuhan terakhir, yaitu memakai sepatu "Ih, pas sekali.... Tumben cerdas dia" Hawa muter muter didepan kaca "Aku sukkaa semua" Hawa tersenyum simpul. Mengingat jika bertemu Fariz inginnya menelan mentah mentah
Tok tok tok
"Siapa!!" Teriak Hawa
"Aku Fariz" Suara halus
"Heh, aku tidak suka pemberian darinya" Hawa kesal jika mendengar suara Fariz
Hawa membuka pintu, dan langsung berbelok. Ia berjalan, lalu duduk disofa
Fariz tersenyum. Baju yang ia berikan, telah dipakai oleh Hawa, dan sangat cocok sekali dengan tubuh sipemakai.
"Ayo, kita sarapan" Ajak Fariz
Tangan Fariz menjulur, mengajaknya untuk sarapan
Hawa menolak dipegang oleh Fariz "Nggak usah pegang pegang. Bisa sendiri"
Fariz mengendikkan bahunya, dalam hatinya berkata "Susah, susah. Dipegang susah, dihalusin susah, dikasarin apalagi"
Dimeja makan
Nafsu makan Hawa serasa habis jika dekat dengan Fariz
"Mau makan dengan apa? mau aku ambilin" Fariz berusaha mengalah
"Tidak usah, aku tidak lapar"
"Lalu, kapan kamu laparnya?" Fariz masih memegang centong nasi dan piring
"Kalau tidak ada kamuuuu !! kali ini, aku mendadak sesak jika ada kamu"
"Kenapa kau begitu benci padaku" Tanya Fariz
Hawa berdiri, karena Fariz masih berdiri "Karena ulah kamu aku jadi susaaaahh !!" Hawa keluar dari kursi, ia mendekati Fariz "Hari ini seharusnya aku bekerja. Tapi apa !!! nggak kerja gara gara kamu"
"Iya, nanti kuganti" Fariz masih mengalah
"Terus kalau sudah kau ganti, aku dibuang lagi ??! boleeeeh.... Nanti aku akan mencari seseorang yang namanya Adam"
"Kenapa sih, kamu sebut sebut nama Adam melulu"
"Karena dia cowok incaranku"
"Kalau dia tidak mau diincar kamu"
"Tetap saja aku incar"
"Ya sudah terserah kamu. Mau diincar, mau dibidik, mau dipanah..."
"Mau dibunuh...
"Ya, terserah kamu. Sekarang, sarapan. Aku tunggu diluar" Fariz merasa dadanya sudah sesak mendengar Hawa mau mengincar Adam
Fariz berjalan sambil berusaha menelan ludah, namun rasanya tercekik lehernya. Fariz berhenti berjalan "Kutunggu sepuluh menit"
"APAAAAA !!!" Hawa menjerit tak terima, tapi justru ditinggal keluar oleh Fariz
-
Fariz sudah menunggu dimobil. Mengangkat lengan kirinya, untuk melihat jam "Lama sekali, seharusnya dia sudah keluar"
Akhirnya Fariz turun dari mobil, dan segera ia masuk
"Heiii !!! kamu maling ya..?!" Ucap wanita, yang diduga asisten rumah tangga disini
Hawa langsung meletakkan sendoknya, dan berdiri "Bukan, aku bukan maling"
"Lalu kau siapa !! berani beraninya masuk kedalam rumah ini tanpa permisi !!" Ucapnya sambil menjambak rambut Hawa kebelakang
"Adeh, sakit. Lepas sakit !!" Hawa berusaha melawan, tapi Hawa kalah siap
"Sidar !! lepas !!" Teriak Fariz sambil mendelik
Sidar langsung melepas rambut Hawa "Di dia maling tuan" Jawabnya gagap
Fariz mendekati Hawa yang masih memegang kepalanya yang sakit
"Maling ?? berani sekali kau mengatakan istriku maling !!" Ucap Fariz mengusap kepala Hawa
"Istri ??? istri siapa tuan?" Ucap Sidar ingin menangis. Menangis karena dibentak, atau hal lain. Fariz belum tau
"Ada apa ini, ada apa?" Mbok Mar asisten rumah tangga yang senior baru datang karena ada keributan "Ono opo Dar? ( Ada apa Dar? )"
"Ini mbok, maling ini kat...." Sidar belum selesai ngomong, sudah dipotong Fariz
"Bukan maling !! tapi dia ISTRIKU !!" Fariz menekan nama istri, agar mereka tau.
Tangan Fariz menjulur mendekati tangan Hawa "Ayo, kita sarapan diluar" Fariz menggandeng Hawa. Hawapun membalas walaupun masih ragu.
"Den Fariz, biar simbok yang siapkan" Mbok Mar tidak enak hati, karena anak majikannya harus sarapan dikeluar
"Tidak apa apa mbok. Kami nggak bisa makan disini" Jawab Fariz sambil menggandeng Hawa dengan erat
-
Dimobil,
"Kepalamu masih sakit?" Fariz bertanya, tapi pandangannya fakus kejalan
"Hmm"
Fariz mencari tempat parkiran, dan menepikan mobilnya
Tangan Fariz mengusap kepala Hawa "Dimana yang masih sakit ?"
"Eh jangan pegang pegang !!" Hawa teringat, kalau mereka masih musuhan
"Hawa..." Fariz dengan wajah memohon
"Aku masih marah padamu" Ucap Hawa melemah, sambil menunduk
Bibir Fariz melengkung "Biar tidak marah padaku, aku harus ngapain?"
"Aku tidak mau dibuang. Aku tidak punya rumah, aku tidak punya siapa siapa" Ucapnya berkaca kaca
Fariz mendekati Hawa pelan pelan, lalu merengkuhnya "Iya, tidak akan kubuang"
Hawa mengurai pelukan "Benarkah ?? kau tidak bohong ??"
"Iya. Aku tidak akan bohong"
"Apa janjimu bisa ditepati?" Hawa sedikit ragu
"Pasti, janji itu akan aku tepati" Jawab Fariz mantap
"Kalau tidak ditepati?"
"Kau bisa melaporkanku pada mami. Mana ponselmu ? Sini kusimpankan nomor ponsel mami"
"Ponselku terbakar" Ucapnya sendu
Fariz melihat Hawa tidak enak hati, karena ulahnya, benda terpenting milik Hawa musna semua
"Ya sudah, nanti kita mampir membeli ponsel untukmu"
Hawa mendongak "Tapi aku tidak punya duit" Hawa mengeluarkan uang sisa semalam
Tangan Fariz menumpuki tangan Hawa yang ada uangnya "Duitku kan banyak, nanti akan aku bayarin"
"Apa itu dihitung hutang?"
"Tidak. Itu tanda maaf dariku. Sepakat ??" Fariz menjulurkan jari kelingking
"Sepakat" Hawapun menyambut kelingking Fariz dengan malu malu, karena mau dapat hadiah
"Satu lagi"
"Apa?"
"Jika kiranya aku sibuk dipabrik, aku tidak mau kau tinggal diapartemen sendiri. aku tidak mau terjadi lagi seperti tadi"
"Kenapa memang?? diapartemen kan tidak ada orang selain aku"
"Sebenarnya ada, tapi lagi cuti. Orang tuanya meninggal"
"Cuti ??"
Fariz mengangguk
"Orang tuanya meninggal?"
"Iya"
"Terus tidurnya dimana? kalau dia mulai kerja. Dikamarku?" Hawa bingung
"Bukan. Tidurnya tidak disitu, dia kesitu hanya bersih bersih, masak ,ngepel dan lain lain. Tapi siangnya pulang kekontrakannya"
"Oh"
"Kita mampir kesana yuk. Belum sarapan tadi kan?" Ucap Fariz sambil menunjuk penjual yang berjajar dipinggir jalan
"Batagor bang"
"Iya boleh. Ayo" Fariz langsung turun dari mobil, dan memutari mobil, lalu membuka pintu untuk Hawa "Ayo, hati hati" Fariz menggandengi tangan Hawa. Hawapun tidak menolak
Cie cie.... Yang mau Fariz bucin siapa ???😍😍
BERSAMBUNG........
trenyuh aku..... banyu moto gak bisa mandek....
trenyuh aku..... banyu moto gak bisa mandek....