Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memasuki Hutan Kematian
Pagi hari di kaki pegunungan perbatasan menyingsing dengan kabut tebal yang menggantung rendah di atas permukaan tanah. Para prajurit Kerajaan Iblis bergerak sigap membongkar tenda-tenda perkemahan mereka. Di tengah kesibukan itu, kuda-kuda pengangkut kereta mulai gelisah, meringkik tertahan dan mengentak-entakkan kuku mereka ke tanah seolah menolak untuk melangkah lebih jauh.
Roven, yang berdiri di samping bangku kusir kereta pertama, mengamati gelagat hewan-hewan tersebut dengan kening berkerut. "Apa mereka ketakutan?" tanyanya kepada Jenderal Varkas yang sedang memeriksa tali kekang kudanya.
Varkas menaikkan tali pelana, lalu mengangguk tenang. "Hewan memiliki insting yang jauh lebih peka daripada manusia. Mereka tahu apa yang ada di balik batas ini."
Di depan mereka, gerbang alami berupa deretan pohon-pohon raksasa berakar purba berdiri menjulang, membentuk celah gelap yang menjadi pintu masuk utama ke dalam Hutan Kematian. Begitu roda kereta melintasi batas bayangan pepohonan itu, atmosfer berubah secara drastis dalam satu detik. Suhu udara anjlok drastis menjadi jauh lebih dingin, dan suara kicauan burung mendadak lenyap sepenuhnya, digantikan oleh kesunyian mencekam yang hanya dipecahkan oleh suara decitan roda kereta dan derap langkah kaki rombongan.
Sekitar satu jam perjalanan menembus keheningan hutan, salah satu prajurit pengawal di barisan tengah tiba-tiba merasakan sensasi basah dan lengket di lengan bajunya. Saat ia memeriksa bagian yang tersingkap, matanya membelalak kaget. Seekor makhluk transparan berwarna merah pekat berukuran sebesar kepalan tangan tengah menempel di kulitnya. Makhluk itu sedang mengisap darah dari luka kecil goresan ranting di lengan sang prajurit, membuat cairan merah di dalam tubuh makhluk itu perlahan semakin banyak. Prajurit itu panik bukan main dan hendak memukulnya.
"Jangan diguncang!" bentak Varkas cepat dan tajam.
Sebelum panik menyebar, Varkas dengan gerakan kilat mencabut pisau berburu dari pinggangnya dan sekali tebas, ia membelah lendir merah tersebut menjadi dua. Seketika itu juga, tubuh makhluk itu mengering dan hancur menjadi serpihan debu.
Roven, yang melihat kejadian itu dari kereta, menelan ludah dengan susah payah. "Monster apa itu tadi...?"
"Bloodlust Slime," jelas Varkas singkat. "Kalau mereka sudah menemukan sumber darah dan mulai mengisapnya, mereka akan menempel erat dan tidak bergerak sama sekali. Memang lemah dan mudah dibunuh, tapi sudah banyak petualang tangguh yang mati dalam tidur karena kehabisan darah tanpa sempat menyadari keberadaan mereka."
Mendengar penjelasan itu, Roven spontan memeriksa seluruh bagian tubuhnya sendiri. Sejak saat itu, para prajurit meningkatkan kewaspadaan, saling memeriksa punggung dan lengan rekan di samping mereka secara berkala.
Beberapa jam berlalu dengan ketegangan yang konstan. Tiba-tiba, dari atas dahan pohon yang lebat di sisi kiri jalur rombongan, sebuah batu besar melayang cepat dan menghantam keras bagian samping peti muatan kereta kedua.
BRAK! Peti kayu itu penyok seketika.
"Waspada! Posisi bertahan!" teriak komandan pengawal. Seluruh prajurit langsung menghunus pedang dan merentangkan busur silang ke arah atas.
Dari balik kerimbunan daun, sesosok makhluk berbulu lebat turun. Tingginya hampir dua meter, dengan lengan yang tidak proporsional panjangnya dan jemari menyerupai kait. Matanya yang liar mengawasi seluruh rombongan dengan penuh perhitungan. Makhluk itu adalah Hook Ape. Ia tidak langsung melompat menyerang, melainkan menggunakan kemampuan telekinesis lemah untuk mencungkil batu-batu kecil di sekitarnya dan melemparkannya silih berganti.
Roven terpana di tempat duduknya, matanya membelalak lebar. "Kera... kera itu menggunakan sihir?!"
Varkas mengangguk kecil. "Sedikit kemampuan manipulasi kinetik. Tapi itu sudah cukup untuk membuat siapa pun sakit kepala."
Sebelum makhluk itu sempat melontarkan gelombang batu berikutnya, salah satu penyihir pendukung di belakang merapal mantra angin singkat. Hembusan angin bertekanan tinggi melesat tajam, menghantam dahan tempat kera itu bertengger dan membuatnya kocar-kacir kabur ke kedalaman hutan. Varkas mengangkat tangannya, melarang para prajurit untuk mengejar. "Biarkan saja. Dia hanya sedang menguji batas pertahanan kita."
Menjelang siang hari, rombongan memutuskan berhenti sejenak untuk meluruskan kaki dan memberi minum kuda. Di tengah istirahat singkat itu, salah satu prajurit muda tiba-tiba bangkit berdiri dan berjalan perlahan menjauhi kelompok. Tatapannya kosong, dan di bibirnya tersungging seulas senyuman lebar yang janggal, seolah-olah ia sedang melangkah menuju sesuatu yang sangat indah dan memikat di balik semak-semak.
Beruntung, sang tabib lapangan yang bertugas di rombongan memiliki kepekaan tinggi terhadap anomali mental. Ia langsung berlari menerjang dan menarik kerah baju prajurit itu kembali ke area perkemahan.
Varkas langsung menutup hidungnya dengan kain, lalu berseru keras, "Jangan ada yang menghirup udara di arah timur!"
Barulah mereka melihat apa yang tersembunyi di balik semak belukar beberapa meter dari tempat mereka berdiri. Sebuah tanaman karnivora raksasa dengan kelopak besar mirip mulut terbuka lebar. Di bagian batangnya, terdapat sebuah bulatan merah cerah yang terus-menerus mendesis dan mengeluarkan kabut tipis beraroma manis.
"Bloody Venus," geram Varkas. "Gas halusinasi yang dikeluarkannya memaksa mangsa untuk datang menyerahkan diri langsung ke dalam mulutnya."
Roven bergidik ngeri. Jika tabib tadi terlambat sepersekian detik saja, prajurit malang itu mungkin sudah berjalan sukarela menjadi santapan siang tanaman tersebut. Tanpa berpikir panjang, rombongan segera memutar jalur perjalanan untuk menghindari area penyebaran gas beracun itu.
Menjelang sore, mereka tiba di sebuah area tanah lapang kecil yang terlindung di balik dinding batu—titik perbatasan yang kebetulan sama dengan tempat Varkas pernah mendirikan pos saat penyelidikan sebelumnya. Tenda-tenda segera didirikan dengan cepat di bawah pengawasan ketat.
Varkas menetapkan aturan untuk malam itu: tidak boleh ada seorang pun prajurit yang tidur sendirian; mereka harus tidur berpasangan di dalam tenda yang sama, dan wajib melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh pada rekan mereka sebelum memejamkan mata. Roven yang mendengarkan aturan itu baru menyadari satu kenyataan pahit: di dalam Hutan Kematian, bahkan sekadar memejamkan mata untuk tidur pun adalah sebuah bentuk pekerjaan yang membutuhkan disiplin tinggi.
Tengah malam tiba, suasana perkemahan diselimuti kesunyian yang tegang. Tiba-tiba, suara lolongan panjang bergema memecah malam, disusul oleh pendar cahaya merah menyala di kejauhan hutan.
Dari balik kegelapan, seekor rusa hutan besar berlari kencang menerobos semak-semak, dikejar oleh tiga ekor serigala berukuran besar dengan bulu keabu-abuan. Saat jarak mereka mulai dekat, salah satu serigala membuka rahangnya, dan tanpa aba-aba menyemburkan aliran cairan panas kemerahan—semburan lava mini—langsung ke tubuh sang rusa.
Rusa itu roboh seketika dalam kepulan uap panas. Namun yang membuat Roven terkejut bukan kematian rusa itu, melainkan apa yang dilakukan oleh para serigala selanjutnya. Mereka terus menyemburkan lava cair ke seluruh permukaan bangkai rusa tersebut hingga cairan itu menutupi seluruh tubuh mangsanya dengan sempurna.
Roven menoleh pada Varkas, matanya penuh tanda tanya. "Kenapa... kenapa bangkai itu malah dibakar?"
Varkas menggeleng pelan, mengamati dari balik bayangan tenda. "Itu bukan dibakar untuk dimusnahkan. Itu cara mereka menyimpan makanan."
Semburan lava dari jenis serigala yang disebut Pulvial Wolf itu ternyata memiliki karakteristik unik: cairan tersebut bersuhu lebih rendah dari lava gunung berapi biasa sehingga tidak merusak atau membakar daging di dalamnya, namun akan mendingin dan mengeras beberapa saat begitu bersentuhan dengan udara luar. Lapisan batu keras itu membungkus bangkai mangsa rapat-rapat seperti kemasan vacuum seal alami.
Lapisan lava yang mendingin cepat itu berfungsi ganda: mengurangi bau darah segar agar tidak mengundang predator lain yang lebih kuat, menghambat pertumbuhan bakteri, mencegah serangga bertelur, sekaligus membuat predator saingan menyerah karena tidak mampu merusak cangkang batu yang keras itu. Nantinya, setelah beberapa jam atau keesokan harinya, kawanan serigala itu akan kembali, memecahkan lapisan lava yang sudah mendingin dengan taring dan cakar mereka, lalu menikmati daging segar di dalamnya tanpa ada yang membusuk.
Rombongan Varkas memilih diam membisu di dalam kegelapan, sama sekali tidak berniat mengusik kawanan predator cerdas tersebut.
Keesokan paginya, perjalanan kembali dilanjutkan. Semakin dalam mereka merangsek ke dalam wilayah Hutan Kematian, tanda-tanda peradaban kecil mulai terlihat semakin nyata di sela-sela pepohonan purba: sisa-sisa batang pohon yang ditebang dengan presisi rapi, bekas jalur air buatan manusia, hingga batas pinggiran petak sawah yang menghijau di kejauhan.
Roven menghentikan langkah kudanya secara mendadak. Ia menatap lurus ke depan, napasnya sedikit tertahan. "Di dalam hutan yang mengerikan ini... benar-benar ada sebuah desa?"
Di ujung jalan setapak, Mira yang sedang berjaga di menara pengawas melihat rombongan tersebut sejak mereka masih berada di kejauhan. Ia meniup peluit kayu pendek—sinyal peringatan standar desa.
Dalam hitungan detik, seluruh penghuni desa keluar dari rumah mereka. Haruto berjalan santai menuju ke arah gerbang kayu utama, ditemani oleh Elara dan Brom. Begitu Haruto melihat dua kereta barang besar berukuran muatan penuh yang dibawa oleh rombongan Varkas, senyuman lebar langsung tersungging di wajahnya.
"Wah, bawaan kalian ternyata lumayan banyak juga," sambut Haruto ramah begitu mereka tiba di depan gerbang.
Varkas turun dari kudanya, membalas senyuman itu. "Kami sengaja membawa jauh lebih banyak daripada apa yang kita diskusikan sebelumnya."
Gerbang dibuka, namun hanya Jenderal Varkas, Roven, dan dua orang pengawal terpilih yang diperkenankan melangkah masuk ke dalam area desa. Sisa prajurit pengawal lainnya menunggu dengan tertib di luar pagar sebagai bentuk penghormatan dan penjagaan perimeter.
Haruto memperkenalkan seluruh warga desa satu per satu dengan sabar. Roven memperhatikan setiap orang yang berdiri di hadapannya dengan tatapan penuh penilaian profesional. Tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki perawakan atau aura seperti petualang hebat atau pendekar sakti. Mereka tampak seperti sekumpulan orang biasa yang hidup tenang di tempat terpencil. Namun, kerapian tata letak desa, kebersihan jalan setapak, dan keteraturan bangunan membuat Roven perlahan-lahan mulai mengerti mengapa Jenderal Varkas begitu menaruh hormat pada tempat ini.
Tanpa buang waktu, Haruto mengajak para tamu menuju ke dalam gudang penyimpanan utama desa.
Di dalam ruangan beratap kayu yang sejuk itu, tersusun rapi berbagai macam hasil bumi melimpah: tomat merah segar berukuran besar, mentimun renyah, selada hijau berdaun lebar, karung-karung kedelai pilihan, karung beras hasil panen padi, hingga beberapa jenis buah-buahan hutan yang dikembangkan di kebun mereka.
Roven melangkah mendekati tumpukan tersebut, menatapnya dengan ekspresi datar dan sorot mata yang menyembunyikan kekecewaan mendalam.
Di dalam hatinya, sang pedagang berpengalaman itu membatin, Sayuran... buah-buahan... hanya ini?
Ia merasa sedikit tertipu dan kecewa. Perjalanan melelahkan selama hampir tiga hari penuh bertaruh nyawa melawan monster mematikan di Hutan Kematian, hanya disuguhi tumpukan hasil kebun biasa yang bisa ia temukan di pasar kota mana pun?
Haruto tampaknya menyadari perubahan ekspresi di wajah sang pedagang tua. Pemuda itu tidak merasa tersinggung, ia hanya tersenyum kecil. "Silakan dicicipi dulu beberapa, Tuan Roven."
Roven masih berdiri kaku, ragu-ragu untuk mengulurkan tangannya. Namun, Varkas yang berdiri di sampingnya tidak membuang waktu; sang jenderal maju selangkah, mengambil sebuah tomat merah segar dari keranjang, langsung menggigitnya tanpa ragu.
Aliran jus segar langsung membasahi bibir Varkas. Ia menutup matanya sejenak, menikmati ledakan rasa manis dan segar yang memenuhi rongga mulutnya, lalu menoleh menatap Roven dengan tatapan tajam.
"Aku tidak akan mengatakannya dua kali," kata Varkas singkat namun penuh penekanan. "Coba."
Roven, yang terkejut melihat reaksi seorang jenderal militer senior terhadap sebuah tomat biasa, akhirnya mengulurkan tangan perlahan dan mengambil satu buah dari keranjang.