NovelToon NovelToon
Mantan Ratu Pembunuh

Mantan Ratu Pembunuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:803
Nilai: 5
Nama Author: Joice 758

Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.

Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Cinta: Senjata Terkuatku

Angin laut berhembus kencang menerpa wajah Laras saat kapal perahu kecil merapat di pelabuhan selatan yang kini tampak sunyi dan suram. Dermaga kayu yang dulu pasti ramai dengan bongkar muat barang kini tampak rusak dan berlumut, hanya ada beberapa orang yang berjalan tergesa-gesa dengan wajah menunduk takut, seolah takut menatap siapa pun yang lewat. Bau amis ikan bercampur bau debu dan asap tipis dari tungku yang menyala di kejauhan. Di sini, kedamaian yang dirasakan di Karimun terasa seperti dongeng yang jauh sekali.

Laras turun perlahan ke darat, tangannya menopang pinggangnya yang mulai terasa berat karena kandungannya yang makin besar. Arga berjalan tepat di sampingnya, matanya waspada meneliti setiap sudut bangunan dan atap rumah yang berjejer di sepanjang jalan menuju pusat kota. Di belakang mereka berjalan Pangeran Darma dan beberapa pengawal kerajaan yang kini sudah lebih percaya pada cara berpikir Laras, bukan lagi hanya mengandalkan pedang dan tameng.

“Kita tidak langsung ke markas utama perampok,” kata Laras pelan saat mereka berjalan masuk ke jalan setapak di pinggir pemukiman nelayan. “Kita harus melihat dulu siapa yang paling menderita, apa yang sebenarnya mereka butuhkan, dan apa yang memaksa orang-orang di sini mau bergabung dengan kelompok perampok itu.”

Mereka berhenti di depan sebuah rumah kecil yang dindingnya terbuat dari bilah bambu, atapnya bocor di beberapa tempat. Dari dalam terdengar suara batuk-batuk lemah dan tangisan anak kecil. Seorang wanita paruh baya keluar membawa ember air, terkejut saat melihat sekelompok orang berdiri di depannya, lalu segera ingin masuk kembali dengan takut.

“Jangan takut, Ibu,” kata Laras dengan suara lembut, lalu berjalan mendekat perlahan tanpa mengancam. “Kami tidak datang untuk menyakiti. Kami datang untuk mendengar keluh kesah Ibu.”

Wanita itu ragu lama, namun tatapan Laras begitu tulus sehingga ia akhirnya membuka pintu lebih lebar dan mempersilakan mereka duduk di bangku kayu yang sudah reyot. Dari cerita wanita itu, mereka mengetahui hal yang mengejutkan: kelompok perampok itu tidak datang dari luar wilayah ini. Sebagian besar anggotanya adalah penduduk asli yang dulu memiliki sawah dan perahu sendiri, namun diusir oleh tuan tanah yang kejam dan pasukan pengawalnya yang berlebihan. Mereka kemudian berkumpul di bawah pimpinan seorang pria yang dulu juga korban ketidakadilan, lalu mengambil alih pelabuhan sebagai satu-satunya cara untuk bertahan hidup dan membalas dendam.

“Kami tidak mau merampok atau melukai orang lain,” kata wanita itu dengan mata berkaca-kaca. “Tapi kami tidak punya pilihan lain. Jika kami diam, kami dan anak-anak kami akan mati kelaparan.”

Kabar ini mengubah seluruh rencana awal yang disusun pasukan kerajaan. Laras menyadari bahwa musuh yang mereka hadapi sebenarnya adalah rasa putus asa, bukan kejahatan yang murni.

“Maka kita tidak akan melawan mereka dengan kekuatan,” kata Laras pada Pangeran Darma saat mereka kembali ke tempat penginapan sementara. “Kita akan memberi mereka apa yang sebenarnya mereka butuhkan: keadilan dan tempat untuk hidup dengan layak.”

Dua hari kemudian, Laras mengirimkan pesan tertulis kepada pemimpin kelompok perampok itu. Ia tidak menuntut penyerahan diri atau ancaman hukuman. Ia hanya mengajak pria itu berbicara sendirian di tengah hutan dekat pelabuhan, tanpa membawa senjata apa pun, dan berjanji tidak akan ada jebakan.

Pagi hari pertemuan itu tiba. Kabut tipis masih menyelimuti pepohonan saat Laras berjalan sendirian menuju tempat yang disepakati. Arga dan pengawal kerajaan menunggu di jarak yang aman, siap membantu jika ada bahaya namun tidak berniat ikut campur. Di bawah pohon beringin besar, sudah berdiri seorang pria berbadan tegap dengan wajah penuh luka bekas pukulan, tangannya mencengkeram sebilah parang tajam. Saat melihat Laras datang sendirian tanpa senjata, pria itu tampak terkejut.

“Kau berani datang sendiri?” tanyanya dengan suara serak. “Aku pernah mendengar namamu, Laras. Dulu kau adalah pemimpin yang menakutkan. Kenapa kau sekarang datang untuk memihak pada mereka yang menindas kami?”

“Aku tidak memihak pada siapa pun yang menindas,” jawab Laras tenang. “Aku datang karena aku tahu rasanya diusir, rasanya tidak punya tempat pulang, dan rasanya dipaksa melakukan hal buruk hanya untuk bertahan hidup. Aku tidak datang untuk menangkapmu atau menghukummu. Aku datang untuk menawarkan jalan yang lebih baik.”

Pria itu—yang bernama Bayu—menatapnya ragu, namun perlahan ia menurunkan parangnya. Laras kemudian bercerita tentang masa lalunya, tentang Kerajaan Bayangan, tentang Arga dan pasukan Taring Hitam yang dulu juga tersesat, hingga tentang desa Karimun yang kini menerima siapa saja yang berani berubah. Ia menjelaskan bahwa Pangeran Darma sudah berjanji akan memulihkan hak tanah yang dirampas, membangun kembali dermaga, dan membiarkan mereka mengelola pelabuhan dengan aturan yang adil, asalkan mereka bersedia meletakkan senjata dan berhenti merampok.

“Kenapa kau melakukan ini?” tanya Bayu dengan mata berkaca-kaca. “Kau tidak kenal kami. Kau tidak punya keuntungan apa pun jika membantu kami.”

“Karena kebaikan tidak butuh alasan yang rumit,” jawab Laras tulus. “Satu-satunya hal yang aku inginkan adalah tidak ada lagi anak yang harus tumbuh dalam ketakutan, tidak ada lagi orang yang terpaksa menjadi jahat karena tidak punya pilihan lain.”

Perlahan tembok pertahanan di hati Bayu runtuh. Ia menunduk dalam, lalu menangis sejadi-jadinya—menangis karena lelah berperang, menangis karena akhirnya ada yang mau mendengarnya tanpa menghakimi.

“Kami bersedia,” katanya pelan namun tegas. “Kami bersedia berhenti merampok dan bekerja keras membangun kembali tanah ini, asalkan janji kalian tidak dibatalkan.”

Pertemuan itu menjadi titik balik besar. Dalam waktu singkat, kesepakatan disepakati dan ditandatangani. Mantan perampok bergabung dengan pasukan kerajaan dan warga desa untuk memperbaiki jalan, membangun gudang penyimpanan barang, dan membersihkan pelabuhan. Tuan tanah yang kejam itu dipanggil untuk diadili secara adil, dan tanah yang dirampas dikembalikan kepada pemilik aslinya.

Namun di tengah kebahagiaan itu, Laras merasa ada yang aneh. Beberapa kali ia melihat sosok yang samar mengamati dari kejauhan, sosok yang gerakannya sangat mirip dengan seseorang yang ia kira sudah lama tiada. Sore itu, saat ia sedang duduk di tepi sungai beristirahat, sosok itu akhirnya muncul di hadapannya.

“Kau benar-benar berubah total, Kakak,” kata suara yang sangat ia kenal—suara adik kandungnya, Raka, yang selama ini ia kira tewas dalam serangan musuh bertahun-tahun lalu.

Laras terpaku, matanya tak percaya menatap pria di depannya. “Raka? Kau… kau masih hidup?”

“Aku selamat, tapi terluka parah,” jawab Raka sambil mendekat dengan mata berkaca-kaca. “Aku tidak berani menampakkan diri karena mendengar kabar kau menjadi pemimpin yang kejam dan ditakuti. Aku takut kau tidak mau mengenaliku. Aku baru tahu kebenaranmu beberapa hari ini, saat melihat apa yang kau lakukan di sini.”

Pertemuan itu begitu mengharukan hingga membuat mereka berpelukan erat sambil menangis. Laras tidak pernah menyangka bahwa misi ke tanah selatan ini juga membawanya pada anugerah terindah: menyatukan kembali darah dagingnya sendiri yang terpisah belasan tahun.

Tiga bulan kemudian, semua pekerjaan pemulihan selesai dengan baik. Pelabuhan kembali ramai, sawah kembali hijau, dan anak-anak bermain dengan riang di jalanan tanpa rasa takut lagi. Laras, Raka, Arga, dan rombongan akhirnya bersiap pulang ke Karimun.

Saat kapal berlayar menjauh dari pelabuhan selatan, Pangeran Darma melambaikan tangan dari dermaga. “Terima kasih telah mengajarkan kami arti kemenangan yang sesungguhnya!” teriaknya. “Pintu kerajaan selalu terbuka untukmu!”

Perjalanan pulang terasa begitu ringan dan penuh harapan. Saat kapal akhirnya merapat di pantai Karimun, seluruh warga desa sudah menunggu di sana dengan senyum lebar dan sorak gembira. Dika berlari mendekat, memeluk Laras erat, lalu menatap adik iparnya dengan senyum hangat.

“Selamat pulang,” kata Dika lembut, lalu menempelkan tangannya di perut Laras yang kini makin besar. “Anak kita sudah tidak sabar menunggu cerita dari Ibu.”

Malam itu, mereka berkumpul di sekitar api unggun besar di lapangan desa. Laras menceritakan semua pengalamannya, tentang kesulitan, tentang kebahagiaan menyatukan keluarga, dan tentang arti keberanian untuk berubah. Di sampingnya duduk Dika dan Raka, di sebelah lain ada Arga dan keluarga besarnya, serta seluruh warga desa yang kini menjadi satu keluarga besar yang tak terpisahkan.

Laras menatap langit Karimun yang penuh bintang bersinar terang. Ia tahu, kisahnya belum selesai. Masih banyak hal yang harus dilakukan, masih banyak tempat yang butuh kedamaian. Namun kali ini ia tidak berjalan sendirian. Ia memiliki keluarga, rumah, dan tujuan hidup yang jelas. Ia bukan lagi bayangan yang bersembunyi di kegelapan, melainkan cahaya yang menyebarkan kebaikan ke mana pun ia melangkah.

 

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!