Shofiyya Mardhia, 30 tahun menikah dengan seorang pria yang ternyata telah menikah dan Memiliki 2 orang putra.
Syafiq Azwar Maliki, 28 tahun terpaksa menikah yang kedua atas keinginan istri pertamanya.
Nuha Syafura, 26 tahun terpaksa meminta dimadu karena sakit yang dideritanya.
Semua menjadi dilema saat Shofii mengetahui kebenaran setelah janji suci terucap.
Sanggupkah mereka terus harmonis?
Bagaimana ketiganya membawa hati yang ingin memiliki namun tak ingin menyakiti ...
Mampukah Syafiq adil, tak berpihak dan tak condong pada salah satunya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubu.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Enam Belas
Seketika lengan kokoh yang mengunci tubuh Fura terlepas. Syafiq bimbang .... Bagaimana membuka segalanya pada Shofi? gemuruh batin Syafiq.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pukul 16:30 Mobil Syafiq berhenti di bangunan minimalis yang ia tempati bersama Shofi. Shofi memang mengirim pesan bahwa ia pulang cepat dan tak perlu dijemput.
Tercium aroma opor ayam yang biasanya selalu membuat Syafiq antusias tapi tidak untuk saat ini. Langkahnya landai, otaknya terus berfikir bagaimana cara menceritakan semua pada Shofi namun tak membuatnya berpaling.
Cinta Shofi telah memenuhi ruang rasa hingga setiap aliran darah Syafiq, ia tak ingin kehilangan Shofii. Sangat tak ingin!
Langkah Syafiq yang langsung ingin masuk ke kamarnya seketika terhenti saat raga Shofi berada di hadapannya.
"Tumben kamu langsung ke ka-mar, Mass? Bi-asa-nya kamu akan langsung me-nemuiku!" Sebelah tangan Shofii merangkul leher Syafiq sedang jemari sebelahnya tampak bermain di bibir sang suami, Shofi menggoda Syafiq. Syafiq bergeming.
Shofi yang melihat Syafiq berbeda, memulai lebih dulu sesuatu yang biasa Syafiq lakukan. Shofi mendekatkan wajahnya ke wajah Syafiq dan mulai menelurusi tiap inci wajah suaminya. Hingga bibir Shofi sudah sangat dekat dari bibir Syafiq.
"Sa-yang ... aku mandi dulu!" aksi Syafiq yang menjauhkan raganya membuat Shofi mengerucutkan bibirnya sedikit kecewa, tapi Shofi langsung berpositif mungkin saja Syafiq letih.
20 menit kemudian Syafiq keluar dari kamar dengan celana twill sedengkul dan kaos rumahan, wajahnya sudah lebih fresh setelah membersihkan diri dan berusaha mencari solusi di tengah aktivitas mandinya tersebut.
Shofi yang sedang membaca sebuah artikel kesehatan melalui smartphonenya seketika menghentikan aktivitasnya merasakan seseorang duduk di sampingnya.
"Mass," sapa Shofii dengan senyum terbaiknya.
Jemari Syafiq menyapu lembut rambut ikal sesiku Shofi. Ia terus menatap Shofi tanpa kata.
"Mas, kenapa hanya diam menatapku? Apa aku berbuat salah?" ucap Shofi yang bibgung dengan keanehan suaminya.
"Aku mencium aroma opor saat masuk tadi, aku lapar!" ujar Syafiq yang ditanggapi senyuman oleh Shofi.
"Ayo kita ke ruang makan! Aku akan menyiapkannya untukmu."
Tak berselang lama keduanya telah menghabiskan hidangan di piring mereka. Kelihaian Shofi memasak sudah tak perlu diragukan. Rasa yang ia beri bahkan masih terasa begitu nikmat di mulut Syafiq walau piringnya bahkan telah dicuci dan tersusun rapi dalam lemari dapur.
________________
Alunan merdu kalimat indah dari kalam Ilahi yang keluar dari bibir Shofi menjadi pengantar Syafiq mengerjakan beberapa rancangan ruangan dari perusahaan besar di Surabaya untuk sebuah ruko bergaya jawa modern. Ia tampak serius mengerjakan tugas hingga ditatapnya jam dinding menunjukkan pukul 22:30. Syafiq bangkit dari sofa bersamaan dengan shofi meletakkan kitab suci penenang jiwanya.
Shofi mendekati Syafiq yang tengah duduk di head board ranjang dengan beberapa paper bag di tangannya. Melihat paper bag tersebut Syafiq kembali teringat kejadian di toko buku tadi siang, saat itu Shofi juga menggenggam tas-tas kertas itu.
"Kamu tadi berbelanja?" ucap Syafiq ditanggapi anggukan Shofi yang kini tengah duduk di tepi ranjang.
Shofi melingkarkan tangannya di leher Syafiq menyatukan pelipis mereka sambil berbisik lirih, "Harusnya esok, tapi aku ingin jadi orang pertama yang mengucapkannya .... Barakallohu fii umrik, Mass ( Semoga Allah membarakahi usiamu) ...."
Syafiq melingkarkan tangannya di pinggang Shofi. "Kau tau? Terima kasih, Sayang ...!" Syafiq tersenyum getir sambil menyapu kepala Shofi.
Shofi membuka satu persatu isi paper bag yang ia beli di Mall tadi. Syafiq tampak terpana dan menyukai semua yang dibeli Shofi, ia tak menyangka akan memperoleh ini semua.
Syafiq kembali melingkarkan lengannya di pinggang Shofi, kali ini eratannya cukup kuat hingga tubuh mereka tak berjarak. Keduanya merasakan desiran yang menyamankan hingga keduanya saling menikmati pelukan satu sama lain tanpa kata.
Syafiq mulai mencium puncak kepala Shofi dan beralih ke setiap inci wajah Shofi setelahnya. Hal yang membuat Shofi semakin merasa di sayangi hingga melemah raganya pasrah akan apa yang akan Syafiq lakukan padanya.
"Sayang ... aku ingin hadiah lain!" lirih Syafiq setelah pagutan panjang di bibir Shofi terlepas.
"A-pa?" lirih Shofi sembari menormalkan kerja jantung yang menyesakkan akibat atmosfir rasa yang Syafiq beri.
"Anak!"
Shofi merenggangakan tubuhnya dan menatap lekat Syafiq. "Mass ... maaf tidak untuk hal i-tu. Kamu tau bukan bahwa pekerjaanku melarang aku memilikinya?" ucap Shofi yang sesungguhnya juga ingin tapi perjuangan kerasnya mencapai titik ini membuatnya menyampingkan keinginan itu dan menolak keinginan Syafiq.
Syafiq menarik kembali tubuh Shofi hingga masuk kedepakannya kembali. "Jika kamu hamil dan rumah sakit mengeluarkanmu ... aku akan membuatkan klinik praktek gigi sendiri untukmu! Aku ingin anak dari rahimmu, Sayang ...!"
Dan inilah akhir dari pemikiran panjang Syafiq untuk membuat Shofi tak bisa pergi dari sisinya. Anak! Itulah satu-satunya solusi yang akan membuat Shofii terus terikat padanya. Seberapapun harga yang harus ia bayar, Syafiq benar-benar tak peduli!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔Happy reading😘
💔Bubu selalu menanti komen dan like kalian😄❤