Putri harus menjadi yatim piatu saat usianya baru 5 tahun. Sesuai amanat papanya, Putri dititipkan pada sahabatnya yang bernama Fadli. Ini disambut baik oleh Fadli dan Kirana yang memang sangat menginginkan anak perempuan. Mereka sendiri telah dikaruniai 2 orang anak laki-laki bernama Fahri dan Farhan.
Kasih sayang ayah, bunda serta kedua kakaknya membuat Putri tumbuh menjadi anak yang pintar dan ceria. Seiring berjalannya waktu perasaan lain mulai tumbuh di hati Putri pada salah satu kakaknya.
Banyak pria yang mengejar-ngejar Putri namun hanya ada satu nama di hatinya. Siapakah yang akan menjadi pelabuhan hati Putri? Apakah dia bisa mendapatkan cinta pertamanya?
Mengandung adegan 21+
Bijaklah dalam memilih bacaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putri vs Fahri
Dengan langkah panjang Fahri menelusuri koridor sekolah. Tujuannya ruang BK. Setelah sekian lama tak menginjakkan kaki di sekolah ini. Akhirnya dia berkesempatan diundang langsung oleh kepala sekolah untuk datang mempertanggung jawabkan kelakuan Putri, adik kecilnya.
Setelah mengetuk pintu, Fahri menggerakkan gagang pintu. Seraya mengucapkan salam dia masuk ke dalam ruangan. Dengan cepat Fahri menghampiri bu Lestari kemudian mencium punggung tangannya. Wanita paruh baya itu mempersilahkan mantan muridnya duduk berhadapan dengannya.
Sekilas Fahri melihat pada dua orang gadis yang ada di ruangan itu, salah satunya adalah Putri. Penampilannya benar-benar kusut. Putri hanya menunduk dalam, tak berani bersitatap dengan kakak sulungnya.
“Apa yang terjadi bu?”
“Putri berkelahi dengan Angel, teman-teman mereka ikut membantu hingga akhirnya terjadi tawuran di kantin. Semua temannya sudah dijemput pulang oleh orang tuanya, hanya tinggal Putri dan Angel.”
“Maaf bu. Saya tahu kalau adik saya itu susah diatur dan kadang suka bertindak tanpa berpikir lebih dulu. Tapi saya percaya kalau adik saya tidak akan memulai perkelahian tanpa ada sebab yang jelas.”
“Itulah, mereka tidak mau membuka mulut apa penyebab perkelahian mereka. Bagaimana Putri, Angel? Kalian bisa menjelaskan awal mula terjadi perkelahian ini?”
Keduanya hanya terdiam. Menurut mereka lebih baik tutup mulut daripada harus ketahuan berkelahi hanya karena masalah lelaki. Bisa jatuh harga diri Putri di hadapan Fahri. Apalagi bentukan pria yang bernama Reno saja belum dia ketahui.
“Baiklah kalau kalian tidak mau buka suara. Hukuman kalian skors selama tiga hari!”
“Apa?!!” tanya mereka berbarengan.
“Tidak ada siaran ulang! Ibu yakin kalian sudah mendengarnya dengan jelas. Fahri, silahkan bawa Putri pulang. Dan kamu Angel, akan tetap di sini sampai wali kamu datang.”
“Terima kasih bu. Sekali lagi atas nama Putri saya minta maaf. Saya janji akan mengarahkan Putri lebih baik lagi,” Fahri berdiri, mencium punggung tangan bu Lestari kemudian berbalik ke arah Putri.
“Putri! Ayo pulang!”
Putri mengekor langkah Fahri keluar ruangan. Di depan tampak Zaki sudah menunggu sambil membawa tas Putri. Dia memberikan tas pada sahabatnya itu kemudian berlari kembali ke kelas. Tanpa bicara Fahri segera beranjak pergi.
Suasana dalam mobil begitu hening. Keduanya memilih tidak berbicara. Sesekali Putri melirik pada Fahri. Pria itu hanya menatap lurus ke depan dengan wajah datarnya. Putri menelan salivanya. Fahri yang sedang dalam mode dingin ini terlihat lebih menyeramkan dibandingkan Farhan.
Sesampainya di rumah, Putri bergegas naik ke kamarnya. Dengan kesal dia melemparkan tas ranselnya ke kasur lalu menghempaskan bokongnya di sana. Putri meraba pipinya yang tadi ditampar oleh Angel. Tiba-tiba dia dikejutkan dengan kedatangan Fahri. Kakak sulungnya ini berdiri tegak di hadapannya dengan sorot mata tajam memandang ke arahnya.
“Jadi begini kelakuan kamu di sekolah? Bikin onar, merusak fasilitas sekolah, berkelahi. Apa yang mau kamu tunjukkan dengan kelakuan seperti itu PUTRI ZAHWA!!!”
“Aku minta maaf kak. Tapi bukan aku yang mulai semua. Angelnya aja yang mancing-mancing duluan.”
“Tapi apa perlu kamu melakukan kekerasan? Ayah, bunda, kak Ri dan kak Han ngga pernah ngajarin kamu menjadi anak yang kasar! Apa semua masalah harus diselesaikan dengan kekerasan?! Lebih parahnya lagi kamu membuat Dinda dan Ajeng ikut terseret dalam masalah kamu. Apa yang harus kakak katakan sama orang tua mereka? Bagaimana kalau ayah sama bunda tahu masalah ini? Harusnya kamu berpikir dulu sebelum bertindak!”
“Dia duluan yang mulai kak! Apa Putri harus diam aja waktu dia nampar Putri?! Habis dia nuduh Putri, nampar Putri, bagaimana bisa Putri diam aja!!” pekik Putri.
“Apa begini caramu berbicara dengan yang lebih tua!! Kak Ri kecewa sama kamu!”
“Maafin Putri kak, hiks.. hiks..”
Putri mulai menangis, berharap hati Fahri akan segera luluh melihat airmatanya. Namun perkiraannya meleset, Fahri bergeming.
“Renungkan kesalahan kamu. Sepulang kerja nanti kakak ingin dengar apa kamu sudah menyadari kesalahan kamu. Selama di skors kamu akan ikut ke kantor bersama kakak! Jangan harap kamu bisa lolos dari hukuman!”
Selesai berkata-kata Fahri segera berlalu meninggalkan Putri dengan sejuta kekesalan dalam hatinya. Ternyata menghadapi Fahri tak semudah yang dibayangkannya.
Jam tujuh pagi Putri sudah siap di meja makan untuk sarapan. Tak lama Fahri turun dari kamarnya dan bergabung bersamanya. Sedangkan Farhan masih belum pulang ke rumah. Putri tak menyapanya, dia masih melakukan aksi mogok bicara pada kakaknya. Fahri tak mempedulikannya, dia menikmati sarapan dengan tenang.
Selesai sarapan Fahri bersiap-siap ke kantor. Dia menatap Putri yang masih bersantai di meja makan.
“Cepat ambil tas sekolah kamu, kita berangkat ke kantor sekarang!”
“Ngga mau! Putri mau di rumah!”
“Kamu jalan sendiri atau dipaksa?” Putri tak menanggapi. Dia hanya diam sambil memainkan ponselnya.
“Bi Juju!” panggil Fahri.
“Iya den.”
“Tolong ambilkan tas sekolah Putri.”
Tanpa menunggu lama bi Juju segera naik ke kamar Putri dan kembali dengan membawa tas sekolah Putri. Fahri mengambil tas tersebut, kemudian dia mengangkat tubuh adiknya seperti mengangkat karung beras dengan kepala Putri menghadap punggungnya. Putri yang terkejut meronta-ronta mencoba melepaskan diri. Dia memukul punggung Fahri, tapi pria itu tak menggubrisnya.
Pak Soleh segera membukakan pintu mobil. Fahri mendudukkan Putri di jok belakang. Kemudian ikut duduk di samping Putri. Tak lama pak Soleh masuk ke mobil. Dengan cepat dia mengemudikan kendaraan menuju kantor.
“Turunin Putri kak! Putri ngga mau ikut ke kantor!! Turunin Putri!!”
Fahri tak menggubrisnya. Dia malah mengeluarkan tabletnya, memeriksa beberapa file yang masuk ke e-mailnya.
❤️❤️❤️
**Kira2 yang bakal menang taruhan siapa? Putri apa Zaki ya🤔
Sambil mikir yuk tinggalkan jejak dulu😘**