Arsen coline harus menelan pil pahit dalam hidupnya, Marlen Lee istri yang baru saja ia nikahi harus ternodai karena ulah seseorang yang memperkosa istrinya dimalam pertama.
Cinta Arsen yang begitu besar pada Marlen Lee. Harus berkhir dengan kekecewaan.
"Jangan pernah kau sentuh diriku! bagi ku kau hanyalah kotoran debu yang berserakan, rasanya kau tak pantas untuk ku sentuh! Hardiik Arsen.
Seorang Jendral muda bernama Alan Smith, datang sebagai perisai dan pelindung bagi Marlen. Ia sanggup menghancurkan siapa saja yang menyakiti wanitanya.
Akan kah Arsen akan menerima kembali Marlena sebagai istrinya? atau sebuah perceraian yang terjadi?"
Mampu kah Alan mengembalikan kepercayaan Marlen padanya...?
@Ada unsur Dewasa 21 + tolong bijaklah dalam membaca.
Yuk ikuti terus kisahnya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon enny76, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taruhan
Marlen berjalan masuk kearah Room, meningglkan ruangan busana itu. Masuk kembali kedalam ruangan tempat orang orang sedang merayakan pesta.
"Haaii... sayang, kemana saja kau? tanya Arsen melihat kedatangan Marlena, Arsen merangkul pinggangnya, "kita kedatangan seorang gubernur kota ini, mari aku kenalkan.
"Tuan Anderson, kenalkan ini istriku Marlena Collins."
"Hallo,, selamat malam Nyonya Collins.'
"Malam juga tuan Anderson, senang berjumpa dengan Anda" Marlen tersenyum sambil menundukkan kepala memberi hormat.
"Kau sungguh cantik Nyonya Collins, tak salah Arsen memilikimu" puji Anderson.
"Tentu saja Tuan Gurbernur" tersinggung senyuman bangga dibibir Arsen.
"Dan ini Nona shinta, anak semata wayang Tuan Anderson."
"Nona Shinta, selamat malam" sapa Marlen ramah, menundukan kepalanya.
"Aku sudah mengenalmu, bukankah kau yang tadi bicara dengan Alan?" sindir shinta sinis.
Alan Smith yang berada diantara mereka hanya menatap Marlen canggung.
"Jaga bicaramu shin! Tuan Smith adalah seorang jendral" ucap Andreson memperingati anaknya
"Pah, bukankah Alan tunanganku, wajar aku hanya memanggilnya nama, bukan begitu sayang?! Shinta memiringkan kepalanya sambil menatap wajah dingin Alan yang terlihat kesal.
"Ahh,, jadi Tuan Smith tunangan Nona Shinta? Pantas cocok, anak seorang Gurbernur yang cantik dengan pria setampan dan sekelas jendral, selamat, selamat, aku ikut senang." ucap Arsen sambil tergelak.
"Terima kasih Tuan Collins, atas pujiannya." tutur Shinta bangga.
Alan menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskannya kasar "Ku kira ini hanya perjodohan Ayahku dan Tuan wakil presiden kakekmu, bukan begitu Shinta? jadi.. kita lihat saja nanti kedepannya bagaimana? Alan menarik sudut bibirnya dan melepas rangkulan tangan shinta.
"Maaf, aku permisi dulu,," Alan berpamitan, matanya masih menatap wajah Marlen yang sejak tadi hanya diam mematung "Nyonya Collin apa yang sedang anda pikirkan?! tanya Alan sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
"Aakhh, tidak ada Tuan." Marlen tersenyum canggung.
Alan Smith tersenyum tipis dan ia berlalu pergi meninggalkan mereka yang masih terus berbincang.
"Alan tunggu! Shinta mengejar Alan tapi ia terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan Shinta.
"Anak ku itu memang manja." Andrson terkekeh "Mari kita bersulang." Anderson mengangkat gelas berisi wine.
Malam semakin larut, pesta pun masih terus berlangsung, Marlena meminta izin untuk pulang lebih dulu pada Arsen, karena ia tau kebiasaan Arsen yang selalu mabuk bila berada disebuah Pesta, tapi pesta kali ini sebuah persaingan antara orang orang berkelas dan terhormat, yang memiliki standar dan kwalitas hebat di kalangan internasional.
Marlen melangkahkan kakinya berjalan keluar, Alan yang melihat kepergian Marlen menyusul dari belakang dan berseru.
"Nona Marlen!
Marlen menghentikan langkahnya, ia menoleh pada suara dibelakangnya.
"Tuan Smith?! Marlen terkejut, ia mengerutkan keningnya "Ada apa Tuan Smith memanggilku"
"Apa anda ingin meninggalkan pesta sebelum usai?"
Marlen menoleh alroji di tangannya "Maaf Tuan Smith, ini sudah jam dua belas, kurasa aku tidak bisa mengikuti Pesta ini sampai pagi"
"Tapi suami anda, masih disini bukan?!
Marlen menghela nafas berat "Biarkan saja suamiku menikmati pestanya hingga pagi, aku tidak bisa melarang kemauannya" ucap Marlen tersenyum lembut "Permisi tuan Smith, aku harus pulang."
"Tunggu! Alan menarik pergelangan tangan Marlen, Alan benar benar sudah tidak bisa mengendalikan emosinya, ia tidak ingin Marlen meningglkan pesta itu.
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Tuan Smith, bukankah anda seorang jendral? apakah anda tidak malu mendekati wanita yang bersuami?!
Satu alis Alan terangkat "Apa maksud Nona? bukankah tidak ada larangan berteman dengan siapapun tanpa batasan, mau ia seorang gadis, janda, tua, muda, bahkan wanita bersuami sekalipun! kata kata Alan begitu tegas dan menyudutkan, hingga netra hitam mereka saling bersitatap, tatapan Alan begitu tajam dan dingin seakan ingin ******* habis Marlen yang berdiri didepannya, Ia merasa tatapan Alan sedang men*lanj*ngi dirinya hingga habis, Marlen memalingkan wajahnya, hingga sebuah suara mengagetkan keduanya.
"Hello tuan Smith.ternyata Anda disini? semua orang sedang mencari Anda!"
"Marlen? Apa yang sedang kau lakukan disini! kenapa kau tidak pulang?! bukan kah kau sudah minta izin padaku!"
"Iya, aku juga ingin pulang." Marlen terlihat gugup.
"Tuan Smith, aku ingin menantang anda untuk mengadu minum whisky! bagaimna kalau kita berdua taruhan, dan aku akan kabulkan apapun yang kau pinta!
"Apa kau bisa menepati janjimu,Tuan Collins! menatap dingin wajah Arsen.
"Tentu saja! aku bukan orang yang ingkar janji."
"Bagaimana kalau aku menang? apa kau akan mengabulkan apapun yang aku inginkan?"
"Apa kau meragukan aku Tuan smith!" kata Arsen angkuh, mata itu saling bersitatap.
"Baiklah, apa yang kau pinta dariku?
Arsen tersenyum lebar "Bebaskan lahan tanah yang berada di Area tepi pantai, apa kau sanggup?
Alan terdiam sejenak, menarik sudut bibirnya "Baiklah aku setuju!
"Jadi apa yang kau inginkan dariku! tanya Arsen tenang.
Alan menatap wajah Marlen lekat dan tersenyum tipis.
"Istrimu!
"Mata Marlen terbelalak sempurna, ia mengalihkan pandangannya pada Arsen berharap Arsen tidak mengabulkan permintaan Alan.
"Apa maksud anda Tuan Alan! anda sedang tidak bercanda bukan? Marlena bertanya pada Alan dengan tatapan membunuh, jantungnya sudah berdebar tak karuan, dadanya begitu sesak.
"Tentu saja tidak! tutur Alan tegas
"Marlen percayalah padaku, aku pasti akan menyelamatkan dan membebaskan mu dari pria bajingan ini." Batin Alan tersenyum tipis sambil terus menatap wajah Marlen yang memerah.
"Bagaimana Tuan Arsen? tanya Alan menoleh pada Arsen yang sedang berfikir.
"Tentu saja aku setuju! ujarnya enteng tanpa beban.
"Apa maksudmu Arsen! Kau ingin menjadikannya aku taruhanmu?! dasar kau brengsek Arsen! Marlen sangat marah, matanya sudah berembun.
"kau tenang saja sayang." tersenyum puas, Arsen menarik dagu Marlen yang sedang kesal, menghempaskan tangan Arsen "Ini bukan sungguhan, kita hanya bersenang senang saja, kau tidak usah khawatir Lena, kedudukanmu masih tetap Nyonya Collins" mengusap lembut pipinya.
Alan menyipitkan matanya, menatap sinis pada Arsen yang sudah jelas merendahkan istrinya sendiri, gejolak di dadanya sudah tidak karuan, rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal, ingin rasanya Alan meninju wajah Arsen saat ini juga, padahal Alan hanya menguji kesetiaan Arsen terhadap isterinya, tapi dengan mudahnya Arsen ingin menyerahkan istrinya sendiri pada orang lain dengan sebuah taruhan.
"Bagaiman? apa kesepakatan kita mulai sekarang! tantang Alan.
"Tidak bisa! kalian berdua tidak bermoral! bentak Marlen.
"Kecilkan suaramu! kau tidak usah khawatir, aku janji pasti menang dan kau akan terbebas dari Tuan Alan." Bisik Arsen.
"Baiklah, silakan kalian diskusikan berdua, aku tunggu di meja bar!" Alan melangkah pergi meninggalkan Marlen dan Arsen.
"Kau memang keterlaluan Arsen! sama saja kau ingin menjual diriku! tangan Marlen ingin menampar wajah Arsen, dengan cepat Arsen menahannya.
"Dasar bodoh! kau pikir Tuan jendral menginginkan tubuhmu, cihh! ia sudah memiliki tunangn cantik yang kaya raya dan berkelas, shinta cucu dari seorang wakil presiden, apa dia mau denganmu?!
"Lalu untuk apa kau mau menaruhkan diriku?!
"Bukan aku yang mau, tapi Tuan jendral sendri yang meminta dirimu, siapa tau kau hanya untuk dijadikan pembantunya, bukan teman tidur!"
"Kau! menunjuk wajah Arsen. Marlen sudah tidak bisa bicara lagi ia langsung menangis terisak.
"Hapus airmatamu, aku janji setelh aku berhasil mengalahkan Tuan jendral, aku akan memberikan pekerjaan untukmu sebagai modelku, aku membutuhkan lahan itu, bekerjasamalah dengan ku!" ucapan Arsen cetus.
Arsen menarik paksa tangan Marlena menuju sebuah meja bar, Alan sudah menunggu di sebuah kursi dengan banyak wiski diatas meja bundar dengan taplak putih. Para tamu undangan ikut menyaksikan pertandingan meminum alkohol, nanti akan terlihat siapa yang ambruk lebih dulu diatas meja.
@BERSAMBUNG
@JANGAN LUPA TERUS IKUTI KELANJUTAN NYA, LIKE SETELAH MEMBACA, BANTU AUTHOR BERI HADIAH, SERTAKAN JUGA KOMENTAR POSITIFNYA.
@YUK MAMPIR KE KARYA TEMAN AUTHOR YANG JUGA SERU!!
tapi mmg itu skenario nya Thor 🤭🤭