[Proses Revisi]
On IG: @ry_riuu
Ini kisah tentang seorang gadis yang mengorbankan perasaan demi sahabatnya, tanpa memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri.
Karena pengorbanan yang dilakukannya, dia dipertemukan dengan seorang pria tampan yang selalu mengisi hari-harinya.
Hingga pada akhirnya dia pun harus mengorbankan lagi perasaannya, mengikhlaskan pria yang selalu mengisi hari-harinya itu untuk sahabatnya lagi,
Akankah pria tersebut bisa menerima sahabatnya itu? atau malah sebaliknya? atau bahkan tetap menetap pada gadis yang terus saja mengorbankan perasaannya?
-Lakukan selama itu membuatmu bahagia, tanpa pernah bertanya tentang hatiku kenapa, pertanyaan itu malah membuat hatiku semakin sesak.- Iris Anastashia.
-Jangan pernah hidup dalam kepura-puraan, jika dia menghilang kau jangan menyesali kepergiannya.- Zhein Anggara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAK [17]
Happy Reading🥀
Rate
Like
Comment
Vote
...Disetiap detak dan detik aku selalu mengharapkan orang yang tidak pernah menghargai keberadaan ku....
...-Iris Anastashia-...
Flashback On
Iris sedang menunggu jemputan seseorang di pinggir jalan, seseorang yang saat ini sedang mengisi relung hatinya.
Revan, lo dimana sih? tanya Iris yang mulai khawatir dengan jam yang sudah menunjukkan pukul 06.40.
Revan, seseorang yang tengah dekat dengan dirinya dimasa putih birunya, seseorang yang Iris percaya bahwa Revan adalah masa depannya.
Drt.. Drt.. Drt..
Iris merasakan ponselnya yang bergetar di dalam hoodie milik Revan. Dia langsung mengambil ponselnya dan membuka layarnya yang menampilkan nama Revan melalui pesan singkat di whatsapp.
"Lo gak usah nunggu gue, gue lagi sakit. Lo bisa pergi sendiri kan?" ucap Iris yang sedang membaca pesan whatsapp dari Revan.
Iris tidak membalas pesan dari Revan, dia marah pada Revan yang memintanya untuk menunggu selama setengah jam di pinggir jalan?
Ngeselin banget sih jadi orang, tadi minta nunggu, sekarang di suruh pergi. ucap Iris dalam hati sambil menghentakkan kakinya, berjalan menuju sekolah dengan jalan kaki yang memakan waktu selama 15 menit. Entah kenapa dirinya ingin sekali berjalan, masa bodo dengan kesiangan atau tidak.
Lo niat gak sih jemput gue! ucap Iris dalam hati yang merasa kesal dengan perlakuan Revan yang akhir-akhir ini hobi sekali membuatnya terbang tinggi dan jatuh sekeras-kerasnya.
Iris masih saja menahan kekesalannya dengan menghentakkan kakinya di sepanjang jalan dengan wajah cemberut.
Namun saat di tengah-tengah perjalanan, dia melihat ada seseorang yang tak asing baginya sedang berada di pusat toko buku.
Revan. ucap Iris sambil menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas orang itu.
Iris yang penasaran dengan seseorang yang berada di samping Revan itu, langsung masuk kedalam toko buku dan mendekat ke arah Revan yang sedang bersama seorang wanita.
"Revan." panggil Iris sambil menepuk pundak Revan, sang pemilik nama dan seorang wanita yang bersama Revan itu langsung menoleh ke belakang.
"Iris." ucap Revan bersama dengan wanita tersebut kompak.
"Sherin." gumam Iris yang melihat wanita di samping Revan itu adalah Sherin, sahabat nya.
Iris yang tidak percaya dengan apa yang dia lihat itu hanya diam mematung sambil menatap kedua orang yang sedang menggenggam tangan satu sama lain.
"Ikut gue." ucap Revan sambil menarik tangan Iris keluar dari toko buku tersebut.
"Revan." panggil Sherin yang menyusul Revan dan Iris.
Revan membawa Iris ke tempat yang sepi dari orang berlalu lalang, karena saat ini banyak orang memulai aktivitasnya.
Iris merasakan tangannya terasa merah dan sakit ketika Revan melepaskannya.
"Lo ngapain sih?!" tanya Revan dengan nada tinggi. Sedangkan Iris hanya bisa menundukkan kepalanya tidak percaya dengan air mata yang menetes meski dia mencoba untuk menahannya.
"Van, lo apa-apaan sih!" bentak Sherin.
"Lo kenal dia?" tanya Sherin.
"Engga, sama sekali gue gak kenal sama dia." jawab Revan.
Kalimat itu mampu membuat hati Iris merasakan sayatan yang begitu dalam, air matanya pun terus menetes tampa hentinya.
Jadi, lo anggap gue pelampiasan? tanya Iris dalam hati yang masih menundukkan kepalanya.
"Bukannya itu hoodie punya lo ya?" tanya Sherin yang masih tidak mengerti dengan semua ini.
Iris yang mendengar pertanyaan itu langsung membuka hoodie milih Revan dan memberikannya kepada Revan.
"Lo mau siapa?" tanya Iris.
"Sherin." jawab Revan.
"Gue udah percaya sama lo Van." ucap Iris yang masih saja meneteskan air matanya.
"Gue gak nyuruh lo buat percaya sama kehadiran gue di hidup lo!" bentak Revan.
"Dan gue milih Sherin buat ngisi hari-hari gue." sambung Revan.
"Gue udah sayang banget sama lo, apa lo gak pernah ngerasain harapan gue sedalam ini?" tanya Iris yang masih
"Tapi gue sama sekali gak ngasih harapan lebih ke lo." jawab Revan.
"Gue mau ko jadi yang kedua, tapi lo jangan pernah pergi dari hidup gue." ucap Iris.
"Van, lo gak seharusnya kayak gini." ucap Sherin.
"Tapi gue sayang sama lo, lo yang udah buat hari-hari gue lebih indah daripada sama Iris." ujar Revan sambil menatap mata Sherin.
"Kenapa lo harus ngasih harapan ke Iris?" tanya Sherin yang kini sudah mengerti akar permasalahannya.
"Gue udah bilang kan kalau gue gak ngasih harapan apapun sama Iris, dianya aja yang berharap lebih sama gue." jawab Revan.
"Van, gue mau jadi yang kedua, asal lo tetep ada buat gue, selalu ada buat ngisi hari-hari gue." ucap Iris yang sedang menangis, bahkan air matanya terlihat berkilau bagaikan permata karena dari pantulan cahaya matahari pagi.
"Biar gue aja yang mundur Ris." ucap Sherin. Namun saat Sherin ingin melangkahkan kakinya, Revan langsung menggenggam tangan Sherin agar tetap berada di sampingnya.
"Ini peringatan terakhir buat lo, jangan pernah muncul atau bahkan ganggu kehidupan gue, apalagi orang-orang terdekat gue, anggap aja kita gak pernah kenal." ucap Revan sambil berlalu pergi meninggalkan Iris dan membawa Sherin bersamanya.
"Revan!!" teriak Iris sambil terus menangis,
Tangisannya itu seolah tak mampu membuat Revan luluh bahkan merasa iba pun tidak.
Flashback off
semangat terus bikin karya2 nya kak💪🏻🤗