NovelToon NovelToon
Only You

Only You

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Keluarga & Kasih Sayang / Berbaikan
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Yang tak suka, silahkan minggir!

Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.

"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.

"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.

"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."

Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?

Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?

Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#15

#15

Klinting! 

Sendok Dinda jatuh ke lantai setelah mendengar ucapan berani Dokter Angga. “A-apa, Dok?”

“Karena kamu selalu berkelit, jadi aku melamarmu secara langsung di depan mamamu.” Wajah Dokter Angga terlihat serius, namun, tetap ramah, tak seperti biasanya yang periang dan santai. 

“Aku sudah bilang padamu beberapa kali, Dok. Bahwa aku menolak!” jawab Dinda tegas tanpa berteriak. “Kenapa kamu tak mengerti juga perasaanku.” 

“Aku tak peduli, alasanmu menolakku selama ini karena kekurangan yang ada pada dirimu, kan? Aku tak mempermasalahkannya, kita tetap punya Tiara, karena dia sudah menyayangimu seperti menyayangi ibu kandungnya. Lagipula selama ini yang ia kenal sebagai ibu, ya cuma ka—”

“Cukup, Dok! Aku tak mau lagi mendengar tentang itu.” Tanpa menunggu Dokter Angga melanjutkan ucapannya, Dinda segera menyela dengan rasa kesal yang tak bisa ia tahan. 

“Hubungan kita selama ini hanya sebagai penabrak dan korban yang ditabrak. Aku, sebagai korban tak pernah memintamu bertanggung jawab dalam hal apapun, pengobatan atau bentuk tanggung jawab yang lainnya.Tapi kenapa kamu tetap memaksa?!” sambung Dinda, kali ini emosinya benar-benar keluar. 

“Itulah bentuk keseriusanku, dan aku sudah tak bisa lagi menunggu jawabanmu.” 

“Ehm!” Mama Juwita berdehem, sejak tadi menjadi pendengar rupanya kini bibirnya mulai gatal dan ingin angkat bicara. “Sudah, sudah. Jangan berdebat di depan makanan, tak baik,” katanya bijak. Wanita itu kemudian menatap wajah putri sulungnya, sudah lama ia tahu, bahwa Dinda tak pernah melihat Dokter Angga sebagai orang yang ia cinta. 

Sebaliknya, Mama Juwita justru melihat tatapan penuh kasih dari Dinda, untuk Bagas mantan suaminya, meskipun ucapan dan sikapnya pada Bagas terlihat garang. 

“Tante tahu, dan pastinya sangat berterima kasih, sebab Nak Angga mau bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa Dinda di masa lalu. Tapi, bila Nak Angga bertanya bagaimana keputusan Tante, semua akan Tante kembalikan pada Dinda. Apapun keputusannya Tante harus hormati, karena ini menyangkut hidup dan masa depannya.” 

•••

Sementara itu, di tempat lain, Bagas baru saja tiba di kost an Jim adik sepupunya. 

“Ngapain malam-malam kesini, Mas?” tanya Jim tak senang. Sebab Bagas mengganggu kegiatannya yang sedang memata-matai seseorang. “Pulang sana, kan, sekarang Kak Dinda ada di rumah Mas Bagas,” usir Jim. 

Bagas tak mempedulikan ucapan Jkm, ia merebahkan tubuh lelahnya, “Dia punya kekasih, Jim.” 

“Siapa, Mas?” Jim masih ogah-ogahan menanggapi. 

“Istriku, lah, memang siapa lagi.”

“Mbak Dinda?” kata Jim memastikan. 

Bagas mengangguk, wajahnya kuyu dan tatapan matanya sayu seperti hilang harapan. 

“Yeee, mantan, Mas! Ingat itu, Maaaaann taaannn!” sungut Jim, kembali fokus ke layar monitor. 

“Tapi, jauh di lubuk hatiku, dia masih istriku, Jim. Tak peduli ketok palu hakim, aku menyesal menyetujui gugatan cerai nya, aku hancur, aku porak poranda tanpa dia.” 

Jim sebenarnya tak tega pada kakak sepupunya, tapi mau bagaimana lagi, perceraian mereka memang bermula dari keegoisan Bagas sendiri. 

“Ya, mau gimana lagi, Mas. Kalau aku jadi Mbak Dinda, aku pun akan memilih jalan yang sama seperti dia. Apalagi, melihat Mas Bagas ada di apartemen bersama seorang wanita yang memakai kemeja Mas Bagas.”

Bagas bangkit, dan mengangkat telapak tangannya. “Tapi suwer, Jim. Aku tak berbuat apa-apa, aku akui memang mabuk, tapi aku yakin tak melakukan apa-apa dengan wanita itu.” 

“Lalu, bagaimana wanita itu bisa ada di sana, Mas?!” 

Bagas menggeleng lemah, “Aku pun tak tahu itu.” Saat itu adalah masa penuh penyesalan bagi Bagas, pertengkaran demi pertengkaran, terus hadir di tengah keputusasaan mereka dalam mencari jejak Abel. Hingga alkohol menjadi tempat pelarian yang salah. 

Hela nafas terdengar dari mulut Jim, bila melihat kondisi kakak sepupunya saat ini, pria itu sebenarnya amat kasihan padanya. 

“Ada minuman tidak.” 

“Nggak ada!” jawab Jim, yang tahu kemana arah pertanyaan Bagas. 

“Dikit aja, Jim, please, aku butuh pelarian,” rengek Bagas. 

“Nggak ada, pokoknya nggak. Aku laporin Mbak Dinda, ya?” Jim mulai mengeluarkan ancaman. 

Bagas menghampiri lemari es yang ada di kamar kecil Jim. “Dinda tak peduli lagi padaku.”

“Ya, sudah, aku aduin ke Eyang aja.” Jim mengeluarkan ponselnya, bermaksud menghubungi Eyang Tuti. 

Bagas merampas ponsel Jim, “Sok-sok an mau ngadu, di kulkasmu cuma ada air putih, Dodol!” 

“Iya, kah? Alhamdulillah. Emang aku gak suka minum, bisa digampar Mas Ryu aku kalau ketahuan mabuk.” 

•••

Besok malamnya. 

Bagas kembali menunggu di depan butik Dinda, wajahnya kusut seperti cucian kotor. Kenyataan bahwa Dinda sudah lebih dulu move on darinya, mulai mengganggu mood-nya hari ini. Karena itulah, ia memutuskan bertanya ketimbang terus menerus diam menghadapi kenyataan menyakitkan. 

Sebab kemarin ia sengaja mengikuti Dinda hingga sampai di rumah orang tuanya. Bagas tak langsung pergi setelah Dinda masuk ke dalam rumah, ia menunggu hingga sempat melihat kedatangan Dokter Angga, pria yang tempo hari dilihatnya datang menemui Dinda bersama anaknya. 

Dinda keluar paling akhir, lalu Kinanti yang menarik rolling door kemudian memasang gemboknya. “Bu, ada yang nunggu, tuh,” bisik Kinanti manakala Dinda mengeluarkan ponsel untuk memesan taksi. 

“Baiklah, kamu hati-hati di jalan, ya? Terima kasih sudah menemaniku lembur. 

“Sama-sama, Bu.” 

Setelah Kinanti berlalu pergi, Bagas pun berjalan menghampiri Dinda, “Kenapa malam sekali baru tutup butik? Bagaimana kalau ada orang yang berniat jahat padamu?!” kata bagas, galak, karena tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada mantan istrinya. 

“Alhamdulillah, tidak pernah terjadi.” Dinda sudah terlalu lelah, jadi ia tak meladeni omelan Bagas, dan langsung berjalan menghampiri mobil Bagas yang sudah menanti. 

Brak! 

Bagas tak menunggu lama, ia pun masuk kedalam mobilnya. 

Mesin sudah menyala, pendingin udara pun mulai bekerja. Namun, suasana masih sepi dan mobil tak kunjung bergerak. 

“Kemarin, kamu makan malam dengan siapa?” 

Tak perlu basa-basi, langsung saja bertanya ke pokok pembicaraan. “Sama Mama dan Dara.” 

“Bukannya kekasihmu juga datang?” 

Dinda cukup terkejut, hingga menoleh ke arah Bagas yang menunduk gelisah. “Mas mengikutiku?” 

Kepala Bagas mengangguk, “Dan aku melihatnya datang, kalau tak salah namanya Angga, kan?” 

“Dia bukan siapa-siapa.” Dinda menjawab, setelah kemarin mengakui Dokter Angga sebagai kekasih di depan Mbak Tari. 

Kepala Bagas terangkat, wajahnya berubah cerah seketika setelah mendengar pengakuan Dinda. “Yang bener?” 

“Iya,” jawab Dinda Yakin. 

Dengan perasaan lega, Bagas mengusap wajahnya, “Syukurlah,” ucapnya dalam hati, lalu menginjak pedal gas dan melaju pergi meninggalkan butik Dinda. 

Diam-diam Dinda pun tersenyum lega, manakala melihat wajah cerah ceria dari Bagas. Kemarin ia menegaskan keputusannya di depan Mama Juwita, bahwa ia tidak pernah memiliki perasaan apapun pada Dokter Angga. 

1
Bunda Aish
ada apa lagi nih 🤔
Shee_👚
ini Tari kakaknya bagas kan ya🤔
aku lupa nama Kaka nya bagas
Dew666
Tari tuh kakaknya bagas ya
moon: iya kak
total 1 replies
Dew666
Smangat bagas
falea sezi
wahh kenapa
🌷Vnyjkb🌷
gerceppp amattt mass 🤭 takut keduluan yg itu tuuu😜😜
Esther
Sikap Tari mencurigakan, ada apa?
Bunda Idza
ada apa dengan mbak Tari??? readers kepoo ni....☺️
Esther
Semangat Bagas untuk bersaing dengan dokter Angga🤭
Sh
ada apa dengan Tari ? selingkuh ? atau mengekorin suami yang dicurigai selingkuh?
Sh
aku jahat ga kalau aku bilang aku suka Ama Mama Juwita yang nyiksa Bagas😂😂. Aku curiga karena kecelakaan mobil, Dinda ga bisa hamil lagi. itu yang menyebabkan Dinda ga mau nikah lagi. Kalau dengan Angga pakai alasan Dinda selama anaknya belum ketemu, Dinda ga berhak bahagia
Bunda Aish
wah mulai nih persaingan perebutan perhatian dan cinta Dinda 🙄
Bunda Aish
ngeselin juga ya sama tingkah nya Bagas dulu waktu kehilangan Abel
Nar Sih
brati kemungkinan bnr ya kak klau alicia ank nya dinda yg hilang dulu
Nar Sih
setujuuu dan 👍bagas lamar lgi dinda jadikan istri mu lgi dan bareng mencari putri mu yg hilang moga sgra ketemu
Shee_👚
nah betul kata bastian, ngapain kan ya orang bukan eyangnya lagi. jadi ya tolak aja
Shee_👚
yang polisi kan kak??
Sh
ga puas episode ini walau menurut ku lumayan panjang
Dew666
🥰😍
Bunda Idza
next Thor.... ditunggu selalu kelanjutannya 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!