Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA ARIS
"Aris... bangun, Aris. Ini apa maksudnya?"
Suara Sora bergetar hebat. Ia memutar tubuhnya yang kaku di atas ranjang king size, menepuk bahu tegap Aris yang sedang terlelap. Layar ponsel yang masih menyala terang di genggamannya memancarkan cahaya kebiruan yang menyinari wajah pucatnya.
Aris mengerjap pelan, mengusap matanya, lalu mengulurkan lengan kokohnya untuk kembali menarik pinggang Sora ke dalam dekapannya.
"Ada apa, Sora? Ini masih jam dua pagi... Kamu mimpi buruk?"
Suara bariton Aris terdengar serak khas orang baru terbangun dari tidur. Namun, ketika ia merasakan tubuh Sora yang tegang dan dingin bagaikan es, Aris langsung membuka matanya penuh.
"Lihat ini," cicit Sora dengan napas yang memburu. Tangannya yang gemetar menyodorkan layar ponsel tepat di depan wajah Aris.
Aris menerima ponsel itu. Saat matanya membaca baris demi baris pesan singkat dari nomor tak dikenal tersebut, garis wajahnya yang tadinya hangat mendadak berubah keras. Manik mata cokelat gelapnya menyempit, dan untuk sepersekian detik, Sora menangkap kilatan kepanikan yang teramat sangat melintas di sana sebelum Aris dengan cepat menguasai ekspresinya kembali.
Pesan itu terpampang jelas di layar:
Sora, kalau kamu mikir bisa hidup tenang sama Aris setelah ini, kamu salah besar. Kamu nggak tahu rahasia paling kelam yang disembunyikan Aris dari kamu selama lima tahun ini... Tanya sama dia, siapa orang yang sebenarnya merencanakan kecelakaan bisnismu lima tahun lalu sampai kamu terpaksa menikah sama Rian?
Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti kamar tidur penthouse itu. Suara deru angin malam yang membentur kaca jendela besar terdengar begitu nyaring di telinga Sora.
Aris perlahan duduk di tepi ranjang. Ia meletakkan ponsel Sora di atas meja samping tempat tidur dengan gerakan yang terkesan sangat tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dituduh melakukan kejahatan sebesar itu.
"Sora," panggil Aris dengan suara rendah dan lembut, mencoba meraih jemari Sora.
Namun kali ini, Sora refleks menarik tangannya mundur. Ia menatap Aris dengan sorot mata yang dipenuhi keraguan dan ketakutan yang membuncah.
"Jawab aku jujur, Aris," bisik Sora, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Lima tahun lalu... perusahaan mendiang ayahku mendadak bangkrut karena ditipu mitra bisnisnya. Keuangan keluargaku hancur, dan Rian datang sebagai pahlawan yang melunasi semua utang ayahku... dengan syarat aku harus menikah dengannya. Apakah kamu... apakah kamu ada hubungannya sama semua kejadian itu?"
Aris menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menatap Sora lurus-lurus. Tatapannya memancarkan campuran antara rasa bersalah yang mendalam dan gairah kepemilikan yang sangat pekat.
"Itu ulah Rian, Sora," jawab Aris dengan nada yang sangat meyakinkan. "Rian yang merencanakan kebangkrutan bisnismu waktu itu. Dia tahu kamu nggak bakal pernah mau sama dia kalau bukan karena terdesak. Nomor asing ini pasti kiriman Rian atau orang suruhannya buat memecah belah kita!"
Sora menelan saliva yang terasa pahit. Hatinya terombang-ambing di antara rasa percaya dan kecurigaan yang merayap bagaikan racun.
"Tapi kenapa di pesan ini namamu yang disebut?" cecar Sora, dadanya naik turun tak beraturan. "Kenapa dia bilang kamu yang merencanakannya?"
Aris melangkah merayap di atas ranjang, mendekati Sora sampai tak ada lagi jarak di antara mereka. Tangan tegapnya terulur membingkai wajah Sora yang bergetar. Hawa panas dari tubuh Aris dan aroma parfum kayu cendana yang begitu maskulin kembali menyelimuti indra penciuman Sora, berusaha meninabokkan akal sehatnya.
"Kamu lebih percaya pesan teror dari nomor penipu dibanding aku yang ada di depan matamu sekarang?" bisik Aris intim. Bibirnya menempel di kening Sora, mengusapnya dengan kehangatan yang memabukkan. "Aku mencintaimu sejak lima tahun lalu, Sora. Aku memang bersalah karena dulu kurang cepat bertindak sampai Rian merebutmu. Tapi aku nggak pernah berniat menyakitimu sedikit pun."
Usapan lembut jemari Aris di punggung dan perpotongan leher Sora perlahan mengikis ketegangan di tubuh wanita itu. Sora memejamkan mata, membiarkan Aris menarik tubuhnya kembali ke dalam dekapan tegapnya. Di balik ciuman hangat Aris yang perlahan turun ke bibirnya, ada rasa aman yang sangat ingin Sora percayai... meski benih keraguan telah menancap dalam di dadanya.
Pukul delapan pagi.
Sinar matahari pagi menembus masuk melalui gorden penthouse. Aris sudah bersiap-siap dengan setelan jas hitamnya yang rapi untuk pergi ke kantor.
"Aku harus mengurus beberapa dokumen bisnis pagi ini, Sora," ucap Aris sambil membungkuk dan mendaratkan ciuman hangat di bibir Sora. "Kamu istirahatlah di sini. Makanan sudah disiapkan oleh pelayan. Jangan pergi ke mana-mana sampai aku pulang, oke?"
Sora mengangguk pelan dengan senyuman tipis. "Hati-hati di jalan, Aris."
Setelah suara pintu depan tertutup rapat dan derum mobil Aris perlahan menghilang, Sora berdiri sendirian di tengah ruang tamu penthouse yang begitu luas.
Garis-garis kecurigaan dari pesan semalam kembali membayangi pikirannya. Hatinya tidak bisa tenang. Ada sesuatu yang janggal dari reaksi Aris semalam—reaksi yang terlalu tenang dan jawaban yang terkesan dipersiapkan.
Sora mulai melangkah mengitari ruang kerja Aris yang terletak di sudut penthouse. Pintu ruang kerja kayu jati itu tidak terkunci. Sora melangkah masuk dengan napas tertahan dan jantung yang berdetak kencang.
Ruang kerja itu sangat rapi. Sebuah meja kayu besar berpelitur gelap berdiri anggun di tengah ruangan, dilengkapi dengan lemari dokumen yang berderet di dinding.
Sora mendekati meja kerja Aris. Ia membuka laci pertama dan kedua—hanya ada tumpukan berkas perusahaan properti biasa. Namun, saat ia mencoba membuka laci paling bawah, laci tersebut terkunci rapat.
Sora mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Di atas rak buku, ia melihat sebuah kotak ukiran kayu kecil. Dengan tangan gemetar, Sora meraih kotak itu dan membukanya. Di dalamnya tergeletak sebuah kunci tembaga berukuran kecil.
Dengan jantung yang berdegup bagaikan dihantam palu, Sora memasukkan kunci itu ke dalam lubang kunci laci paling bawah.
Klik.
Suara engsel kunci yang terbuka terdengar bagai dentangan lonceng kematian di telinga Sora.
Sora menarik laci itu perlahan. Di dalam laci tersebut, tidak ada berkas bisnis ataupun dokumen perusahaan. Yang ada hanyalah sebuah map kulit berwarna hitam pekat dan sebuah kotak penyimpanan pita kaset rekaman lama.
Sora membuka map kulit hitam tersebut dengan jemari yang gemetar hebat.
Di lembaran pertama, terlampir foto-foto Sora semasa kuliah lima tahun lalu—foto-foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi dari jarak jauh. Namun yang membuat seluruh darah di tubuh Sora mendadak membeku adalah lembaran dokumen di bawah foto-foto tersebut.
Itu adalah Surat Perjanjian Rahasia yang ditandatangani lima tahun lalu.
Di dalam dokumen itu tertera transaksi pengalihan saham dan pemicu kebangkrutan perusahaan ayah Sora. Namun yang tertera di sana bukan nama Rian sebagai satu-satunya pelaku... melainkan sebuah kesepakatan rahasia antara Rian dan Aris.
Aris yang mendanai rencana kebangkrutan itu dari Singapura, sementara Rian yang bertindak di lapangan untuk mengeksekusi keluarga Sora. Aris sengaja membiarkan Rian menikahi Sora sebagai 'jaminan' sementara, hingga saatnya Aris kembali ke Indonesia untuk mengambil alih Sora secara utuh.
"Nggak... nggak mungkin..." cicit Sora dengan air mata yang menetes deras membasahi lembaran kertas laknat itu.
Selama ini, ia hanyalah sebuah barang taruhan dan objek obsesi gila di antara dua pria yang dianggapnya sahabat dan suami. Aris tidak pernah menyelamatkannya—Aris adalah dalang yang merancang seluruh penderitaan hidupnya sejak awal.
Sora memegang dada kirinya yang terasa amat sangat sesak, seolah-olah seluruh pasokan oksigen di dunia telah dihabiskan.
Bip... Bip... Bip...
Suara tombol angka pada pintu utama penthouse di luar ruangan mendadak terdengar ditekan dari luar.
Sora tersentak bagai tersengat listrik ribuan volt. Kepanikan yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Aris... Aris sudah kembali lebih cepat dari yang dijadwalkan!
Dengan terburu-buru dan napas terengah-engah, Sora berusaha merapikan kembali berkas-berkas itu masuk ke dalam laci dan menguncinya. Namun karena tangannya gemetar terlalu hebat, kunci tembaga kecil itu terlepas dan terjatuh, menggelinding ke bawah celah lemari yang sempit.
Suara langkah kaki dengan sepatu pantofel yang tegas mendadak terdengar melangkah masuk ke dalam penthouse, berjalan lurus menuju arah ruang kerja.
Sora membelalakkan matanya, berdiri kaku di balik meja kerja Aris tanpa sempat melarikan diri.
Bayangan tubuh tegap Aris muncul di ambang pintu ruang kerja. Pria itu berdiri di sana, mengenakan jas hitamnya, dengan raut wajah yang sama sekali tidak lagi memancarkan kehangatan atau senyuman manis.
Mata cokelat gelap Aris tertuju lurus pada map kulit hitam yang masih berada di atas meja kerja, lalu beralih menatap mata Sora yang basah oleh air mata ketakutan.
Atmosfer di dalam ruangan mendadak berubah menjadi begitu dingin, gelap, dan mengancam.
Aris melangkah masuk perlahan, memutar kunci pintu ruang kerja dari dalam, lalu menutup pintu kayu jati itu hingga berdenting keras.
"Aku sudah bilang kan, Sora... kamu nggak boleh buka-buka laciku tanpa izin."
Aris melepaskan jasnya pelan-pelan, melemparkannya ke atas sofa, lalu melangkah mendekati Sora dengan tatapan mata yang membara oleh obsesi gelap yang tak lagi ditutupi.
"Sekarang setelah kamu tahu semuanya... kamu pikir aku bakal membiarkanmu keluar dari ruangan ini hidup-hidup sebagai milik orang lain?"