Aku mulai tertarik dengan sosok wanita yang duduk disebelah ku dibangku delapan delapan C dalam penerbangan pesawat Jakarta ke Makassar. Dia duduk diam, mengunakan baju serba hitam, sepintas ku melihat ada air mata yang membasahi pipinya. Hatiku mulai ibah, siapa kamu manis, ingin rasanya aku mau menenangkanmu.
Ini perasaan yang dirasakan oleh Kapten Marinir Martinus Revelino. Yang sedang dalam perjalanan menuju tempat tugas baru di Papua. Saat ini dia ditugaskan sebagai Komandan Intel pada kesatuan angkatan laut di Papua.
Dalam penerbangan ini, dia bertemu dengan Gracia Natasya, seorang apoteker yang harus kembali ke papua karena duka yang dia alami.
Apakah Ino dan Cia bisa menjalin hubungan cinta??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melahirkan
Ternyata anaknya Ino dan Cia lahir mau di tolong oleh tantenya. Tidak ada kendala dalam persalinan Cia, karena Cia selalu olahraga ibu bersalin. Sekali Cia menarik nafas panjang, Bayi laki - laki sehat langsung keluar. Dengan cepat mami dan kakaknya menolong bayi itu. Suara tangisannya keras. Selesai di bersihkan semua. Mereka langsung membawa Cia ke klinik ibu dan anak tempat Cia sering mengontrol kehamilannya.
Setelah di jelaskan Ino, dan memberitahukan profesi orangtua dan kakaknya. Dokter Stevan, dokter kandungan itu langsung mengucapkan terima kasih. Cia sudah di ijinkan pulang. Karena semua prosedur melahirkan sesuai. Namun dokter Stevan berpesan jika terjadi sesuatu kepada Cia yang membutuhkan pertolongan saya telepon. Saya akan datang atau sebaliknya.
"Terima kasih dokter, terima kasih kamu orang baik." Ino, orangtua dan kakaknya juga Cia yang sedikit lemas karena baru selesai melahirkan bayi laki - laki dengan berat tiga koma delapan dan panjang lima puluh tujuh centimeter. Bayi laki - laki yang diberinama Fransisco Imanuel Rehata. Tidak ada arti khusus diberi nama Fransisco karena lahir di San Fransisco, Imanuel karena mau dekat hari natal. Rehata marga suami. Mereka pun kembali ke unit apartemen.
Karena ini bulan Desember masyarakat disini sangat antusias berbelanja mempersiapkan rumah mereka dengan pernak pernik natal. Suhu di kota ini delapan derajat celcius bisa sampai empat derajat. Hujan juga. Jadi baju musim dingin sudah disiapkan dari punya bayi sampai orang dewasa. Matahari hanya bersinar enam jam. Selebihnya sudah berawan.
Selama Nuel di rumah, oma dan antienya selalu berlomba - lomba mengejar matahari pagi biar hanya dua puluh menit buat menjemurnya. Cia bahagia sekali bisa memiliki mertua dan kakak yang baik, yang sayang dan perhatian kepadanya. Keluarga Cia di Biak hanya bisa melihat Nuel lewat vidio call. Perkembangan apapun dari Nuel dia bagikan di grup keluarga dan juga kepada papanya disana.
Cia, Ino dan Kakaknya sedang berbelanja. pernak - pernik natal juga bahan makanan. Rencananya hari ini mereka akan memasang pohon natal dan mendekor rumah. Di supermarket besar ini, mereka bertemu dengan Siska mantan pacar Ino. Terlihat raut wajah kakaknya Ino, yang tidak suka dengan Siska. Dokter Martina Rehata spesialis kandungan ini, dari dulu tidak menyukai Siska, karena ada luka yang membuatnya marah atau tidak senang. Dan Cia baru tahu, bahwa Usi Tina perna mengalami kecelakaan parah di Bali akibat dipaksa dan di ancam Siska untuk mengikutinya berkendaraan Bedugul ke Sanur. Akibatnya dia hampir kehilangan nyawa dan sialnya kecelakaan itu membuat Tina harus kehilangan suami dan bayi di dalam perutnya. Kakak kandung Siska yang adalah suami Tina meninggal di tempat.
Siska tidak mendapat hukuman, karena itu kecelakaan tunggal. Sejak saat itu, Tina resmi bercerai dan tidak berhubungan lagi dengan keluarga suaminya.
"Kasihan Usi. Berarti suaminya usi juga kasar?"
"Tidak dek, dia beda dengan saudara mereka yang lain. Makanya usi sangat mencintainya."
"Mas sama Siska tetangga." Ino tersenyum mendengar pertanyaan kepo istrinya. Langsung dia mencium istrinya.
"Mas curang kenapa cium. Kan adek ada bertanya."
"Emang sekarang sudah ada larangan suami sendiri mencium istrinya." Ino menyiram air minum buat istrinya. Dia ngak mau Cia setres mengakibatkan ASInya berkurang.
"Minum sayang, minum air putih yang banyak." Cia minum air yang suaminya siram, sedangkan Ino sambil berdiri mencium kening istrinya.
"Rumah kami yang lama, kami tetanggaan. Papanya Siska itu perwira angkatan laut." Ino mengendong istrinya dan membawa dia ke dalam pangkuan Ino.
"Boleh mas minta sesuatu."
"Mas mau apa?"
"Bisa ngak usah ungkit masa lalu mas. Dia ngak penting buat keluarga kita sayang. Dan satu lagi yang mas sayang itu hanya maminya Fransisco Imanuel Rehata."
"Aku dong."
"Jelas. I love you Cia, maminya Nuel. Aku sangat mencintaimu."
"Usi dengar, Cia mau sekolah lagi ya." Lagi asik bermesraan, Usi Tina, kakaknya Ino menghampiri mereka. Papa Wahyu ada reuni bersama keluarga besar Ambon. Mami Julien tidak mau ikut, papa yang di utus. Sekarang yang terpenting adalah Nuel.
"Ngapa sih ganggu."
"Kalau mau mesraan di kamar sekalian buat adeknya Nuel."
"Emang sudah bisa."
"Enak aja."
"Tadi usi ngomong."
"Itu hanya kelakar. Kalau mau tunggu tiga bulan dulu, kasihan kandungan Cia. Ingat Adek."
"Iya Usi."
"Pertanyaan usi tadi, apa jawabnya."
"Itu Cia ngigau usi waktu lagi hamil."
"Kalau emang Cia masih mau, ngak masalah Adek kamu masih muda, pintar lagi. Sekolah bisnis disini bagus dek. Satu sampai satu setengah tahun ngam lama kan."
"Masalahnya Nuel sama siapa usi."
"Sama kami."
"Emang mami dan usi ngak kembali Jakarta."
"Kembali."
"Jadi maksud mami dan usi......." Cia sudah mau menangis.
"Adek, kalau adek ijin. Kalau ngak ya. Kita akan enam bulan sekali ke sini, setiap hari dan saat vidio call dengan Nuel." Cia langsung memeluk usi dan mami.
"Terima kasih, sudah sayang Cia dan Nuel sangat luar biasa mami, usi juga."
"Iya sayang. Terus ijinkan mami."
"Mi, Cia mau ngurus Nuel. Mau jadi mami yang baik seperti omanya Nuel."
"Kamu mami yang hebat sayang. Mami bangga sama kamu sayang. Dulu mami hamil usi kalian itu, omanya ada dari satu bulan kehamilan sampai melahirkan, usi dirawat sampai dua tahun. Semua omanya yang urus."
"Kalau Ino mi."
"Kamu itu di jaga suster. Karena oma sudah meninggal."
Hari natal ini merupakan natal yang bahagia bagi Cia, karena dia rayakan di tengah keluarga suaminya yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Mereka jajan di pasar natal meskipun Cia dan Nuel tidak di ijinkan keluar mobil hanya melihat meriahnya pasar natal dari dalam mobil, namun suaminya membawa coklat panas dengan gelas bertema natal yang cantik. Dia belikan khusus buat istri tercinta. Tidak lama mami dan papi datang membawa jajan natal yang enak begitu juga dengan usi.
Pas malam natal, mereka ke gereja bersama si bayi natal juga dibawa ke gereja. Banyak juga orang Indonesia yang beribadah di gereja itu. Jadi mengobati rasa kangen akan Indonesia. Selesai ibadah anak masakan khas Indonesia dan jajan Indonesia tersedia. Ino mengendong Nuel dan memberi kesempatan istrinya duluan makan. Namun Cia mengambil sepiring makan berdua, sehingga mereka bisa menikmati banyak sekali makanan dan jajan khas Indonesia.
Siska hanya bisa melihat kemesraan Ino dan Istrinya. Dia tidak berani mendekat karena ada usi Tini, mantan iparnya, yang semenjak kakaknya meninggal usi tidak mencari laki - laki lain mengantikan posisi kakaknya. Akibat kecelakaan itu bukan hanya rahimnya yang hilang, namun buah cinta mereka juga hilang. Mengingat banyak sekali kesalahan yang dia buat.
Di unit apartemen sudah ada bungkusan kado yang di siapkan oleh Ino dan papi buat perempuan- perempuan yang mereka cintai serta kado khusus buat Nuel dari antie, opa dan omanya.
"Terima kasih papi." Mami Usi dan Cia bersamaan mengucapkan terima kasih kepada papi Wahyu, respon bahagia mereka atas hadiah natal yang di berikan.
"Jangan di lihat harganya ya. Yang jelas istri aku yang sedikit lebih."
"Adek ngak adil seperti papi." Usi protes.
"Berarti mami sudah jadi cinta kedua dong, bukan pertama lagi." Mami demo.
"Mami tetap jadi yang terpenting buat Ino dan Cia juga Nuel. Ino sayang mami."
"Cia juga sayang mami."
"Usi ngak protes adek , seperti mami." Papi mengoda usi.
"Ngak, hadiahnya usi suka. Dan memang usi butuhkan. Terima kasih ya dek." Ino memeluk kakak perempuannya. Dia mencium kening kakaknya.
"Adek akan selalu ada buat usi. Meskipun adek sudah menikah. Istri adek itu baik dan pengertian. Usi tidak akan kekurangan kasih sayang dari adek. Bahkan dapat dobel. Dari Cia dan Nuel juga."
"Usi tahu kalian tidak akan meninggalkan usi."