NovelToon NovelToon
Takut Sial, Mau Tunangan

Takut Sial, Mau Tunangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Idola sekolah
Popularitas:279
Nilai: 5
Nama Author: whimsy quinn

menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.

Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.

Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.

Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepiring Upeti Di Atas Nakas

Beberapa waktu kemudian.

Tok! Tok! Tok!

"Apin..." panggil Silva sambil mengetuk pintu kamar Baffin.

Namun, beberapa detik berlalu dan tidak ada jawaban dari dalam.

"Apin," panggil Silva lagi dengan volume yang sedikit dinaikkan. Tetap sama, hening. Hal itu mulai membuat Silva kesal.

"APIN!" teriak Silva akhirnya, kehilangan kesabaran. Teriakan melengking itu sukses membuat pintu kamar utama di sebelah terbuka, menampilkan sosok Gilda.

"Kenapa, Silva?" tanya ibu Baffin itu heran.

"Eh, enggak, Tante. Ini... Silva cuman mau ngasih ini buat Apin, tapi dari tadi gak dibuka-bukain pintunya," terang Silva cengengesan canggung sambil mengangkat tinggi piring nasi goreng buatannya yang masih mengepulkan asap hangat.

Gilda tersenyum lembut melihat perhatian calon menantunya. Beliau kemudian melangkah maju dan membuka pintu kamar Baffin yang ternyata tidak dikunci.

Begitu daun pintu terbuka, ruangan itu tampak gelap dan kosong. "Eh, anaknya lagi gak ada di kamar ternyata."

"Kalau Silva taruh aja di dalam kamarnya gimana, Tante?" tanya Silva menawarkan diri.

"Boleh, ditaruh aja. Atau kalau kamu mau tunggu di dalam juga boleh," balas Gilda ramah.

Silva melangkah masuk ke kamar yang bernuansa maskulin itu dan meletakkan piring nasi gorengnya dengan rapi di atas nakas sebelah tempat tidur Baffin.

Sebenarnya ia cukup kecewa. Karena buatan nasi gorengnya kali ini rapih. Ia memasaknya dan menatanya dengan leluasa karena Airin sudah dikunci di kamar.

Walaupun tataannya tidak bisa dibilang indah atau menarik seperti di restoran-restoran, tapi yang jelas tidak seperti yang kemaren dimana nasinya reyot dan sayurnya hanya dijejer-jejer seperti orang jualan sayur. Timun dan tomatnya juga ia potong. Tapi, sudahlah.

"Atau... kamu telepon aja dia biar cepat pulang," ujar Gilda memberi saran sebelum melangkah pergi meninggalkan area kamar.

Silva hanya mengangguk asal sebagai jawaban. Namun, detik berikutnya, kalimat Gilda seolah menyentrum ingatannya.

Telepon. Detik itu juga Silva teringat nasib malang ponselnya yang sudah tiarap dan hancur di koridor sekolah tadi pagi akibat kecerobohannya sendiri.

Sadar akan posisinya yang terisolasi dari dunia luar, Silva segera berlari keluar dari rumah Baffin. Namun, begitu kakinya menginjak anak tangga rumahnya sendiri, langkahnya mendadak berhenti tajam.                    Tubuhnya menegang.

Ia baru ingat kalau ia baru saja mengunci kedua orang tuanya di dalam kamar. Kalau ia membukanya sekarang hanya untuk merengek minta dibelikan ponsel baru, bukankah itu terdengar sangat konyol dan cari mati?

Silva melanjutkan langkah kakinya dengan bimbang, merutuki kebodohannya sendiri.

Begitu tiba di depan kamar orang tuanya, Silva mengetuk pintu dengan ketukan pelan yang sarat akan rasa bersalah.

Tok... tok... tok... "Nda... Silva buka ya? Silva mau ngomong sesuatu..."

"Buka!" balas suara Airin ketus dan keras dari dalam, masih memendam emosi.

Begitu kunci diputar dan pintu terbuka, Airin langsung berkacak pinggang di depan Silva. Indra penciumannya menajam. "Kamu bikin nasi goreng lagi, ya?!" tebak Airin tepat sasaran, karena aroma bumbu nasi goreng buatan Silva memang sudah menyebar masuk lewat celah bawah pintu sejak tadi.

"Terus sengaja ngunciin orang tua di kamar kayak gini biar gak diomelin?! Berani banget kamu ya sekarang, Silva!" semprot Airin beruntun.

Silva tidak berani menatap bundanya. Ia menggeser pandangannya, melirik sang ayah dengan tatapan memelas.

"HP Silva rusak, yah..." ujarnya tanpa dosa, mencoba mengalihkan topik eksekusi.

Pengakuan santai itu sukses membuat tensi darah Airin semakin naik. Melihat istrinya yang bersiap mengomeli Silva lebih panjang, Baskara dengan sigap langsung menghampiri sang istri. Ia mengusap punggung Airin dengan lembut untuk menenangkannya."Sudah... sudah, Bun. Jangan dimarahin lagi, tensinya naik nanti," bujuk Baskara menenangkan sang istri.

Ia kemudian membalikkan tubuh dan menatap Silva dengan helaan napas pasrah. "Kamu sekarang balik ke kamar kamu. Dan ingat, gak boleh lagi ngunciin orang tua kayak gini, ya?"

Silva mengangguk cepat bak pajangan mobil. "Terus... HP Silva gimana, Yah? Boleh beli lagi?" tanyanya memastikan nasib masa depan digitalnya.

Tanpa bertanya bagaimana kronologi ponsel itu bisa hancur, Baskara langsung mengangguk mengiyakan. Memang tidak ada gunanya bertanya apa penyebab ponsel Silva rusak. Di keluarga ini, semua orang sudah tahu hukum alamnya: jika barang Silva rusak, pelakunya pasti adalah tingkat kecerobohan gadis itu yang sudah mencapai level dewa.

"Iya... besok kita beli yang baru. Sudah, sekarang kamu balik ke kamar, tidur," putus Baskara.

Mata Silva langsung berbinar senang. "Makasih, Ayah!" ujarnya riang, lalu buru-buru berbalik arah dan berlari menuju kamarnya sebelum sang ayah berubah pikiran karena ucapan bunda.

•••

Baffin mendorong pintu rumahnya yang sepi dengan helaan napas pendek. Begitu langkah kakinya melewati ambang pintu menuju area kamar, indra penciumannya langsung menangkap sebuah aroma yang sangat familier.

Bau gurih mentega dan bumbu yang menguar khas memenuhi lorong rumah.

Aroma nasi goreng.

Dahi Baffin berkerut tipis. Saat ia membuka pintu kamarnya, pandangannya langsung tertuju pada sebuah piring yang terletak manis di atas nakas sebelah tempat tidurnya.

Sepiring nasi goreng yang ditata dengan sangat rapi, lengkap dengan telur mata sapi di atasnya. Baffin tidak perlu menebak siapa pelakunya.

Di rumah ini, tidak ada orang lain yang akan repot-repot membuatkan makanan dengan tampilan se-kaku dan se-rapi itu selain Silva. Gadis ceroboh itu pasti baru saja menyelundup ke rumahnya lagi.

Baffin mengabaikan makanan itu sejenak. Ia melangkah mendekati lemari pakaian untuk membuka dan menggantung jaket motornya.

Namun, suara ketukan pintu di belakangnya membuat gerakan cowok itu tertahan.

"Itu ada nasi goreng dari Silva," suara Gilda, bundanya, terdengar dari ambang pintu yang terbuka. "Terus besok kamu berangkat sama dia. Jangan ditinggal kayak tadi pagi."

Baffin menghentikan gerakannya. Ia sedikit memundurkan kepalanya, menoleh ke belakang untuk menatap Gilda dengan kening berkerut. "Ditinggal?"

"Iya," sahut Gilda dengan nada menuntut penjelasan. "Tadi pagi dia mau berangkat sama kamu, tapi kamu malah pergi sendiri. Pokoknya mulai besok, kamu berangkat sekolah bareng dia. Jangan lupa."

Tanpa menunggu jawaban atau bantahan dari putranya, Gilda langsung menutup pintu kamar, meninggalkan Baffin yang masih berdiri termangu mencerna ucapan bundanya.

Baffin menghela napas, lalu berjalan mendekati nakas. Ia duduk di tepi ranjang dan meraih sendok yang tergelak di samping piring. Begitu suapan pertama masuk ke dalam mulutnya, rasa gurih yang pas langsung memanjakan lidahnya.

"Jadi, sekarang kalau habis bikin masalah upetinya nasi goreng?" gumam Baffin dengan senyuman tipis yang sangat jarang ia perlihatkan pada siapa pun.

Nasi goreng itu habis dalam waktu singkat. Setelah meletakkan piring kosong kembali ke atas nakas, Baffin menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.

Entah kenapa, tiba-tiba ada letupan aneh di dadanya yang membuat ia ingin mengucapkan terima kasih kepada gadis itu.

Bukan hanya untuk makan malam ini, tapi mungkin... juga sebagai permintaan maaf tidak langsung karena sudah meninggalkannya tadi pagi.

Baffin merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. Ia membuka aplikasi pesan singkat, lalu mengetikkan nama 'Silva' di kolom pencarian kontak.

Layar ponselnya kosong. Tidak ada hasil.

Baffin tertegun, jemarinya menggantung di atas layar saat sebuah fakta konyol menghantam kesadarannya.       

Status mereka boleh saja bertunangan, dan mereka bahkan baru saja membuat kehebohan dengan aksi suap-menyuap di kantin siang tadi.

Namun, Baffin baru sadar bahwa ia sama sekali tidak memiliki nomor ponsel Silva. Hmm, besok ia akan memintanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!