NovelToon NovelToon
AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni Reisz

"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."

Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?

💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB EMPAT: Dua Sisi Koin (Bagian 3)

Biasanya isu akan memadam seiring berjalannya waktu. Tapi entah kenapa beritaku dan Ian makin lama malah makin santer terdengar. Tidak sedikit wanita kantor yang tanpa sungkan menunjukkan perhatiannya pada kami. Dari yang anak magang sampai para senior yang masih single. Mulai dari membelikan kopi, memberikan buah, membantu fotokopi, bahkan sampai mentraktir makan siang. Kalau Ian tentu enggan menolak itu semua. Aku juga demikian. Percaya? Bagus kalau tidak. Karena faktanya aku memang tidak menggubris mereka sama sekali. Tak jarang aku menggunakan Ian sebagai kedok. Itu lebih mudah daripada harus bersikap kasar seperti yang biasanya aku lakukan ketika SMA. Ada yang menyerah dan beralih pada Ian yang lebih ‘manusiawi’, tapi ada pula yang keukeuh berbaik hati padaku. Kubiarkan saja mereka bersikap semaunya. Selama itu tidak mengusik ketenanganku bekerja, no problem.

“Zang!” Ian memasuki bilik kerjaku dengan sedikit tergesa. Oh iya, hari ini kami berangkat survey lapangan bersama. Entah sengaja atau tidak, tapi semenjak berita ‘kembar tampan’ menyeruak di kantor, Andra dan Vanno seperti sepakat memasangkan kami berdua kemana-mana. Ada saja proyek berdalih kerja sama antar divisi yang mereka lemparkan pada kami. Padahal dulu aku bahkan tak tahu nama divisi di ruang sebelah itu apa.

“Wait a sec!” aku memasukkan berkas-berkasku ke dalam map sebelum kuberikan pada Ian. Ian mengecek sebentar sebelum memasukkannya ke dalam tas. Kubenahi dasiku sambil berjalan.

“Kalian udah mau berangkat?” Sandra menyeru kami dari belakang. Kami sama-sama menghentikan langkah.

“Yup, kenapa?” tanya Ian.

“Kita bareng kalian ya? Aku sama Dian juga survey ke sana hari ini. Kalian berdua sama-sama ada motor kan?” kudapati raut penuh harapan di wajah Sandra. Dia salah satu dari sekian gadis yang masih berusaha menarik perhatianku. Aku menarik napas panjang sebelum menjawab.

“Kalian naik mobil kantor aja, aku sama Ian yang naik motor.”

“Kenapa nggak barengan aja? Kan lebih cepet,” Sandra ngeyel.

“Aku nggak suka bonceng cewek lain selain cewekku. Ayo!” kukedikkan daguku pada Ian sebagai tanda percakapan selesai. Kudengar Ian meminta maaf pada dua gadis itu sebelum berlari menyusulku.

“Segitunya?” Ian mempertanyakan sikapku barusan. Aku tersenyum simpul.

“Cuma sebagai perlindungan diri sendiri.”

“Memangnya pacarmu sebegitu cemburuannya?” Ian menekan tombol lift menuju tempat parkir.

“Nope, dia bahkan nggak pernah cemburu sama sekali. Dia malah pernah mengusulkan padaku untuk cari pacar baru di Bandung. Wanita mana yang segila itu kalau bukan pacarku?”

“Nah, lalu kenapa kamu seperti bersikap keras sekali pada dirimu sendiri? Dia kan membebaskanmu.”

“Justru karena dia membebaskanku, aku jadi makin terikat padanya. Karena terlalu cinta, aku jadi nggak ingin melukainya. Yah, meskipun dia nggak tahu apa yang kulakukan di sini, tapi menjaga kepercayaannya sudah jadi kehormatan bagiku,” perkataanku barusan sukses membuat Ian bungkam. Hingga beberapa saat dia hanya diam mematung.

“Kapan-kapan kenalin aku ke cewekmu ya?” tiba-tiba saja kalimat itu meluncur dari mulut Ian. Aku tertawa.

“Sure, we’ll find time,” ucapku setuju tanpa ada prasangka lain dalam benakku.

...***...

“Jadian sama Sarah?” kutodong Ian yang saat itu tengah bersandar santai di kursinya. Dia seketika menegakkan badannya lurus-lurus.

“Tahu dari mana?” Ian bertanya setengah berbisik. Aku menggeleng-geleng tak percaya.

“Sialan! Kok nggak cerita sama aku?”

“Sorry!!! Aku tiap mau ngomong mesti lupa. Masih barusan juga kok jadiannya, tiga mingguan. Tahu dari mana?” Ian mengulangi lagi pertanyaannya.

“Dari Andra,” jawabku singkat. Sebenarnya aku berharap Ian menjawab ‘tidak’ dengan pertanyaanku. Sebagai teman satu divisi, aku tidak terlalu suka dengan Sarah. Feelingku mengatakan ada yang tidak beres dengannya.

“Satu divisi tahu?” Ian terkekeh. Aku melengos.

“Kalau ada laki-laki tampan yang awalnya single terus jadi double, berita jelas bakal ke mana-mana. Gimana ceritanya kok tiba-tiba sama Sarah? Anak divisimu nggak ada yang cakep apa?” Ian lagi-lagi tertawa mendengar rentetan pertanyaanku.

“Nggak tiba-tiba juga sih. Sebenernya udah lama kenal Sarah, udah beberapa kali keluar bareng juga. So far, she’s nice. Aku ngobrol juga nyambung. Lagian ini juga di luar perkiraanku karena bukan aku yang nyatain perasaan duluan. Tapi dia.”

“What?” meskipun aku sudah menduga jawaban itu, tapi aku tetap saja kaget ketika mendengarnya secara langsung.

Is he being so innocent until so close to dumb? Wanita yang bersikap baik pada laki-laki yang disukainya itu kan sudah standar dasar. Argh! Jangan sampai anakku nanti homeschooling seperti dia. Bisa celaka tiga belas dunia ini.

“Iya, Zang. Sarah yang nembak duluan. Kenapa sih? Kok kayaknya kamu jadi risih sejak tahu aku jadian sama Sarah? Sorrylah kalau telat ngabarin, tahu sendiri kan kita beberapa minggu kemarin dikejar proyek terus,” Ian berkilah. Aku hanya diam. Bukan itu masalahnya.

“Why her tho? Kamu bisa dapet yang lebih baik. Kenapa juga pacaran sama orang sekantor?” tanpa bisa kufilter, aku secara langsung menunjukkan ketidaksukaanku pada keputusan Ian. Ian menyadarinya karena mimik wajahnya seketika itu berubah serius.

“Bagiku dia udah sangat baik, Zang...”

“Tapi baik aja nggak cukup. Aku tahu dia wanita seperti apa, Ian,” aku berkacak pinggang.

“What? Kok kamu jadi terkesan ngejudge Sarah? Aku pacarnya, aku yang tahu lebih banyak soal dia. Kamu kan cuma teman satu divisi, kamu nggak tahu apa-apa,” nada bicara Ian mulai meninggi.

“Ian...”

“Zang, stop! Kalau kamu kecewa karena aku telat ngabarin, it’s okay, sorry about that. Tapi bukan berarti dengan kekecewaanmu itu kamu jadi bisa leluasa jelek-jelekin pacarku. I’m a grown up guy. I know which one is the best for me,” Ian beranjak dari kursinya dan meninggalkanku begitu saja di ruangannya. Aku melonggarkan dasiku yang tiba-tiba terasa mencekik leher. Ini pasti akan sulit.

“Fuck!”

...***...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!