Jika kau jatuh cinta padaku selama dua tahun ini, kau tidak akan mendapatkan satu sen pun saat bercerai nanti."
Demi membiayai operasi sumsum tulang belakang adiknya, Aura Dania terpaksa menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Evan Adijaya seorang CEO dingin dan kejam yang hanya memanfaatkan Aura untuk merebut takhta perusahaan keluarga.
Di atas kertas, mereka hanyalah orang asing. Tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa pesta. Tugas Aura sederhana: berpura-pura menjadi istri yang manis di depan kakek Evan yang sedang sakit.
Namun, ketika mantan kekasih Evan kembali membawa niat jahat dan rahasia besar terungkap, pernikahan rahasia mereka berubah menjadi pusaran rasa sakit dan hasrat. Bisakah Aura bertahan tanpa menyerahkan hatinya pada sang CEO berdarah dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melania-1623, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Umpan Di Balik Ruang Merawat
Selamat membaca...
____________
Pagi hari di Rumah Sakit Internasional Medika terasa jauh lebih cerah dari biasanya. Di dalam kamar rawat VIP, Laras adik kandung Aura tampak sedang duduk di tepi ranjang dengan wajah yang segar dan binar mata yang kembali hidup. Setelah berminggu-minggu melewati masa kritis dan pemulihan pascaoperasi jantung, tim dokter akhirnya menyatakan Laras sembuh dan diizinkan pulang hari ini.
Aura berdiri di samping ranjang, telaten merapikan pakaian adiknya ke dalam tas travel kecil. Senyum tak lekas pudar dari bibir cantiknya. Melihat sang adik bisa kembali tersenyum sehat adalah impian terbesar yang dulu terasa mustahil sebelum ia menerima penawaran Evan.
"Kak Aura," panggil Laras lembut, memandangi wajah kakak perempuannya yang kini terlihat jauh lebih bahagia. "Kakak kelihatan beda banget sekarang. Lebih cantik... dan matanya berbinar."
Aura menghentikan usahanya merapikan tas, lalu menoleh seraya menaikkan sebelah alisnya. "Beda bagaimana, Laras? Kakak biasa saja, kok."
"Nggak, Kak. Laras tahu bedanya," kekeh Laras pelan, menggenggam jemari Aura. "Dulu mata Kakak selalu kelihatan lelah dan cemas karena mikirin biaya berobat Laras. Tapi sekarang... Kakak kelihatan tenang. Ini pasti karena Kak Evan, kan?"
Pipi Aura mendadak merona merah mendengar nama suaminya disebut. Sebelum ia sempat membalas godaan adiknya, pintu kamar rawat VIP terbuka lebar.
Evan melangkah masuk dengan setelan jas hitamnya yang sangat rapi. Di belakangnya, Pak Bimo mengekor seraya membawa sebuket besar bunga mawar putih dan beberapa kantong hadiah mewah.
"Selamat pagi," sapa Evan dengan suara bass-nya yang hangat, langsung mengikis jarak menuju tempat tidur Laras.
"Kak Evan!" seru Laras gembira.
Evan tersenyum tipis sebuah senyuman penuh kehangatan yang hanya diperlihatkan untuk keluarga terdekatnya. Ia menyerahkan buket bunga itu kepada Laras. "Selamat atas kesembuhanmu, Laras. Dokter bilang kondisi jantungmu sudah sangat stabil."
"Terima kasih banyak, Kak Evan," jawab Laras tulus, menerima bunga harum tersebut. "Terima kasih juga sudah membiayai semua pengobatan Laras dan merawat Kak Aura selama ini."
Evan melirik Aura yang berdiri di seberang ranjang, menatap istrinya dengan pandangan dalam yang sarat akan rasa cinta. "Merawat kakakmu adalah tugas terbaik dalam hidupku, Laras."
Aura menundukkan kepalanya, menahan rasa haru yang membuncah di dadanya. Kalimat sederhana dari Evan selalu sukses membuat hatinya bergetar hebat.
"Bimo sudah mengurus seluruh administrasi kepulangan Laras," lanjut Evan seraya merengkuh pinggang Aura secara alami. "Mulai hari ini, Laras tidak akan kembali ke kontrakan lama kalian. Aku sudah menyiapkan sebuah rumah peristirahatan yang nyaman di kawasan Selatan dengan fasilitas medis dan perawat pribadi untuk memantau pemulihannya."
Aura membelalak kaget, mendongak menatap wajah Evan. "Evan... itu terlalu berlebihan. Kami tidak bisa terus-menerus—"
"Tidak ada kata berlebihan untuk keluargaku, Aura," potong Evan tegas namun lembut, menatap iris mata Aura dengan kepastian mutlak. "Laras adalah adikku juga sekarang."
Tanpa mereka sadari, di luar pintu kamar rawat yang sedikit terbuka, seorang pria berpakaian serba hitam dengan topi yang diturunkan rendah sedang mengamati seluruh interaksi hangat tersebut. Pria itu menyeringai licik, lalu memotret momen kebersamaan Evan, Aura, dan Laras dari balik celah pintu.
Pria itu segera melangkah menjauh menuju lorong rumah sakit yang sepi, lalu melakukan panggilan telepon.
"Tuan Aris," bisik pria itu pada ponselnya. "Target sudah diizinkan pulang hari ini. Evan Adijaya memindahkan adiknya ke rumah baru di kawasan Jakarta Selatan."
Di seberang sana, Aris Pratama yang sedang berdiri di dalam kantornya memandangi lanskap kota dengan senyum mematikan.
"Bagus," desis Aris dingin. "Evan berhasil menutupi dokumen kontrak itu dari media, tapi dia tidak akan pernah bisa menjaga adiknya selama dua puluh empat jam penuh. Laras adalah titik lemah terbesar Aura Dania."
"Apa perintah Anda selanjutnya, Tuan?"
"Ikuti mobil mereka. Cari tahu lokasi pasti rumah peristirahatan itu," perintah Aris dengan nada tanpa ampun. "Dan beri tahu Nyonya Siska, kita gunakan Laras sebagai umpan untuk memancing Aura keluar dari perlindungan Evan."
Satu jam kemudian.
Iring-iringan mobil sedan hitam milik Evan tiba di sebuah kompleks perumahan elite yang tenang dan asri. Mobil berhenti di depan sebuah rumah bergaya minimalis modern dengan taman hijau yang luas di halamannya.
Aura melangkah keluar dari mobil, memandangi rumah cantik di hadapannya dengan rasa tak percaya.
"Ini... rumah untuk Laras?" bisik Aura takjub saat Evan merengkuh bahunya dari samping.
"Ya. Udara di sini sangat bersih, jauh dari kebisingan kota. Sangat cocok untuk pemulihan jantung Laras," jelas Evan seraya mengusap lembut lengan Aura. "Aku juga sudah menempatkan dua tim pengawal terlatih untuk menjaga area depan dan belakang rumah ini."
Aura menatap Evan dengan mata yang berkaca-kaca. Segala bentuk kebaikan dan perlindungan yang diberikan Evan membuat rasa bersalah atas masa lalu perjanjian kontrak mereka menguap sepenuhnya, berganti menjadi cinta yang teramat dalam.
Aura memberanikan diri berjinjit, mendaratkan sebuah kecupan hangat di pipi Evan di depan Pak Bimo dan para pengawal yang berpaling canggung.
"Terima kasih, Evan... Terima kasih banyak," puji Aura tulus dengan air mata bahagia yang akhirnya menetes.
Evan tersenyum menawan, meraih tengkuk Aura lalu mendaratkan kecupan balasan di kening istrinya dengan waktu yang lama. "Apapun untuk senyumanmu, Aura."
Namun, di tengah momen manis dan bahagia itu, ponsel Evan di dalam saku jasnya bergetar hebat. Evan melepaskan pelukannya pelan, merogoh ponselnya dan melihat nama Pak Bimo yang panik mengirimkan sebuah pesan darurat dari kantor pusat.
'Tuan Presdir, terjadi pergerakan mendadak di bursa saham. Beberapa saham anak perusahaan Adijaya di bidang properti diborong secara masif oleh perusahaan cangkang milik Pratama Group. Nyonya Siska dan Raka baru saja menggelar rapat direksi darurat tanpa kehadiran Anda.'
Mata Evan seketika menyipit tajam. Serangan balasan dari Aris dan Siska rupanya telah dimulai di dua lini sekaligus arena bisnis dan kehidupan pribadinya.
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan Like & Komen...